endah sriredjeki <indahfa...@...>indahfairy 
http://groups.yahoo.com/group/rumahilmu/message/4946
From: "r...@..." <r...@...>
To: [email protected]
Sent: Tue, 20 April, 2010 15:52:35
Subject: [kibar] Fwd: Surat Terbuka utk Redaktur MBM Tempo dan Koran Tempo


Posted by: "anwar aris" anwara...@yahoo. com   anwararisMon Apr 19, 2010 
6:55 pm (PDT)(dikutip dari milis jurnalisme)

Menyoal Rubrik Fotografi Koran Tempo Edisi 18 April 2008
Salam sejahtera. 
Saya mulai dari foto-foto yang dipajang di rubrik fotografi Koran Tempo edisi 
18 April 2010. Tiada yang istimewa dari foto tersebut. Seorang pria tua dengan 
kaos alakadar terkesan senyum. Seorang lagi tiduran miring di kursi berbantal 
sebelah tangan, tatapannya kosong. Roman mukanya tanpa ekspresi. Entah apa 
maksud Koran Tempo hanya menampilkan foto 3 buah kursi di luar ruang nyaris 
seperempat halaman. Di sisi kanan atas halaman itu, seorang duduk di kursi roda 
menyelimuti wajahnya dengan sweater yang ia kenakan. "Pasukan Nazi datang...!"
Teriakan seperti ini terkadang masih terdengar dari mulut-mulut tua renta dari 
pusat rehabilitasi mental Shaar Menashe di Israel sebelah utara..., begitu 
Koran tempo mengawali tulisan dalam tiga paragraf pendeknya yang berjudul "Sisa 
Tragedi Di Shaar Menashe", foto-foto full colour satu halaman penuh. Seolah 
hendak menyampaikan bahasa tubuh wanita dalam foto hasil jepretan Sebastian 
Scheiner, wartawan AP: mengesankan peristiwa traumatik terdahsyat yang 
membuncah kembali dari benaknya.
Di pojok kanan halaman ini, foto Scheiner menampilkan sesosok kakek tanpa 
diperlihatkan mata dan jidatnya, tampak kempot menghisap rokok yang mengepulkan
asap di sela bibirnya. Kalimat penutupnya: Sebuah pemandangan yang 
memprihatinkan akibat kengerian masa lalu. 
Saya perhatikan, hanya memuat tiga paragraf pendek-pendek plus foto-foto 
tersebut tak sedikitpun mengesankan kesedihan, apalagi menularkan kengerian. 
Mungkin Koran Tempo edisi tersebut berniat menggambarkan penghuni Shaar Menashe 
dengan "bantuan" fotografi ecek-ecek, agar pembaca mengingat Holocaust; konon 6 
juta orang Yahudi dibantai oleh rezim Nazi di bawah komando Hitler. Meski 
validitas dan otentisitas jumlah korban yang dramatis itu tak lebih dari bualan 
semata, mengingat jumlah keseluruhan umat Yahudi pada masa itu kurang dari 3 
juta jiwa.
Disebutkan sekitar 220 ribu orang selamat dari Holocaust. 200 orang di antara 
yang selamat itu dirawat di Shaar Menashe hingga sekarang. Meski peistiwa itu 
telah 65
tahun berlalu, trauma peristiwa mengerikan itu sempat membuat sebagian penghuni
tidak mau berbicara sedikitpun, bersikap introvert, dan tak punya kemauan 
menanggapi
berbagai hal..., kalimat ini adalah paragraf kedua.
Menarik untuk mengulas sedikit isi rubrik Koran Tempo ini. Superioritas bangsa 
Yahudi terbukti mampu eksis melanglang buana selama 6 ribu tahun lebih dengan 
memberi kontribusi besar terhadap peradaban yang bergulir. Tapi akibat ulah 
segilintir orang dari sekte Zionis, kedigdayaan itu seakan habis dan pupus 
karena pemberitaan yang terus menerus oleh berbagai media tentang penghuni 
Shaar Menashe. Benarkah Koran Tempo edisi ini tidak sekedar menginformasikan 
Holocaust, namun mengesankan pembelaan. 
Beberapa tahun lalu, saya baca buku berjudul JEWS, GOD and HISTORY, karya 
seorang Yahudi Polandia bernama Max I. Dimont. Sejak awal bahasan, Dimont 
mengetengahkan keperkasaan bangsa Yahudi di pentas sejarah dunia. Melalui buku 
itu, ia menelanjangi kepongahan Barat yang secara terang-terangan menyebutkan 
berbagai peranan bangsa Yahudi dalam peradaban besar dunia. Dapat dikatakan, 
bangsa Yahudi-lah yang membuat dunia ini berputar dari berbagai segi, mulai 
dari ekonomi, sains, sastra, filsafat dan ilmu-ilmu sosial. Nama-nama seperti 
Baruch Spinoza, Albert Einstein, Niels Bohr, Felix Mendelssohn dan Gustav 
Mahler, misalnya, disebut dengan bahasa yang cukup merdu di telinga. Tak cukup 
sampai di sini, Max I. Dimont menunjukkan supremasi bangsa Yahudi karena 
berhasil lolos dari berbagai teror dan pembantaian yang mereka alami hingga era
Hitler. Bangsa Yahudi menjadi unggul berkat keberhasilan mereka melalui proses 
screening ala teori Darwin.
Max I. Dimont dalam hal ini memang terasa tidak obyektif. Juga ada bagian 
tulisannya mengakui bahwa hanya di peradaban Islam sajalah bangsa Yahudi dapat 
mencapai kemajuan luar biasa tanpa tekanan dan pencabutan nyawa secara 
tiba-tiba. Keterbukaan Islam terhadap siapapun, ras dan bangsa apapun justru 
terlihat dengan penerimaannya atas konsekwensi multikultur, termasuk terhadap 
bangsa Yahudi yang berhak berkembang sebagaimana bangsa-bangsa lain. Namun, 
patut disesali, fakta ini justru diubah drastis oleh
media massa arus utama Barat dan "anak-anaknya" , akhirnya terjadi bias yang 
memang sengaja diciptakan.
Satu hal yang pasti, tulisan pendek dan foto-foto dalam Koran Tempo edisi 
tersebut justru membuat saya meragukan kemampuan bangsa Yahudi ”tepatnya 
Yahudi Zionis”dalam menyikapi peristiwa yang katanya mengguncang mental: 
Holocoust. Jika kaum radikal Zionis mengatakan, "Bangsa Yahudi adalah bangsa 
yang sempurna dan unggul di muka Bumi,"  maka saya, setelah melihat foto dan 
sedikit tulisan tersebut menyebutnya sebagai bias informasi. Inilah yang saya 
sukai dari media: bias yang diciptakannya justru menampilkan dirinya murahan di 
mata para pembaca, apalagi di mata mereka yang mau jujur dan berpikir saat 
membacanya. 

Bintang David di Intermezo
MBM (Majalah Berita Mingguan) Tempo Sebenarnya saya malas menulis ini. Tapi 
melihat
Koran Tempo edisi 18 April 2009, nurani kemanusiaan memerintah jemari saya 
untuk menindih-nindih tuts keyboard laptop yang setia menemani saya. Sebelum 
Koran Tempo edisi itu memuat berita berjudul "Sisa Tragedi di Shar Menashe", 
MBM Tempo edisi 29 Maret-4 April 2010 memuat Intermezo 8 halaman dengan judul 
"Kings of Lion di Gurun Yudea" lengkap dengan bintang David berwarna biru, 
dipungkasi wawancara dengan Shimon Peres. Meski liputan itu terkesan obyektif, 
tapi usungan materinya sangat mengiklankan Israel dan jauh dari fakta yang 
sebenarnya terjadi.
Jurnalis Purwanto Setiadi yang mendapat kesempatan meliput secara langsung ke 
Israel dengan fasilitas dari mereka yang menggulirkan program Australia-Israel 
& Jewish Affairs Council. Semua foto yang ditampilkan menyertai tulisan yang 
sangat apik itu tidak satupun hasil jepretan sang wartawan MBM Tempo: semua 
foto adalah copyright AP PHOTO. Padahal, sosok kuli tinta yang bersangkutan 
juga dikenal unggul dalam memotret oleh kalangan jurnalis, setidaknya di 
Jakarta. Saya tahu, tentara IDF Israel di setiap penjuru Israel siaga 24 jam 
dengan M16 yang penuh amunisi. Cool, isn't it?
Saya jadi teringat Fadhel Shana, kameraman Reuters yang mati mengenaskan pada 
minggu kedua bulan Januari 2008. Meski jelas menggantung di lehernya ID.CARD 
bertuliskan Press, tetap saja lehernya brodol akibat diterjang peluru M16. Tapi 
sayang, Shana mati akibat peluru tentara IDF Israel, andai dia mati akibat 
peluru HAMAS, pasti Reuters tak akan mendiamkannya.

Saya kutip penggalan paragraf 4 hal. 56 di Intermezo MBM Tempo edisi itu: ... 
tak ada penjagaan ketat (paling tidak yang terlihat berseragam), tiada 
ketegangan, serta orang dari berbagai kalangan dan kelompok bisa berbaur tanpa 
hambatan apapun. Lalu diikuti pragraf selanjutnya yang memberi sugesti bahwa 
sesungguhnya “kelonggaran� itu bisa dirasakan di banyak tempat di 
Israel dan sungguh saya sempat mual membaca
kalimat itu. Apakah MBM Tempo sengaja menutup fakta sebenarnya yang terjadi di
sana?
Meski Israel sudah menghentikan agresi militernya, namun nestapa kemanusiaan 
masih diharuskan ditanggung bangsa Paletina hingga detik ini dan entah sampai 
kapan. Sebut saja Jalur Gaza yang semakin kritis akibat blokade dari segala 
arah oleh Israel. Bahan-bahan bangunan yang diperlukan untuk rekonstruksi Gaza 
akibat serangan milter Israel selama 22 hari sejak 27 Desember 2008 juga 
peralatan untuk penunjang pendidikan dilarang-keras masuk lahan gersang yang 
penghuninya adalah pengungsi itu. Blokade dengan alasan keamanan yang 
didalihkan pemerintah Israel itu basi. Apakah MBM Tempo juga mengamini 
"hukuman" kolektif yang dijatuhkan Israel terhadap rakyat Palestina itu?
Banyak segmen yang disuguhkan renyah di Intermezo berbintang David MBM Tempo 
dalam edisi itu. Apakah itu semua adalah propaganda atau "kepanjangan tangan" 
Zionisme semata? Saya hanya ingin mengulas dua segmen di antaranya. Pertama 
tentang Aliyah,
kedua tentang isi wawancara dengan Shimon Peres. 

Doktrin Aliyah Unsur Utama Pembentuk Negara Israel
Dalam Intermezo itu, diakhiri dengan kalimat yang saya penggal: ...apa boleh 
buat berkaitan dengan isu permukiman. Dan, dengan begitu, juga kompleksitas isu 
mengenai aliyah satu hal yang, sejak awal, substansial bagi
eksistensi Israel., apakah MBM Tempo membenarkan pengusiran dan pembunuhan
massal penduduk Palestina yang dilakukan tentara Israel sejak negara ini 
dideklarasikan
hingga detik ini?
Aliyah atau migrasi yang dilakukan kaum Zionis secara besar-besaran ke bumi 
Palestina, terbesar ketika Unisoviet runtuh pada tahun 1993 telah memaksa 
bangsa Palestina terbunuh secara biadab, paling ringan terusir dari tanah 
airnya dan kini, selama puluhan tahun terlunta-lunta menjadi pengungsi.
Kemarahan dunia? Israel tak pernah ambil pusing, ini "bisnis propaganda" yang 
dilakukan Amerika dan Inggris, kemudian mengekor pula Negara-negara Eropa. 
Tujuan yang diidamkan adalah terbentuknya Timur Tengah Baru, agar minyak dan 
seluruh sumber daya alam dapat mereka eksploitasi dan Negara di Kawasan yang 
tidak terima pasti dipaksa kacau dan kemudian dimiskinkan. Coba tanya AIPAC dan 
konco-konconya.
Duh...hukum apa yang membenarkan para turis
mendirikan sebuah negara di negeri orang! Kalau ada, pasti itu hukum penjajah.
Jika dibiarkan, perlahan Israel juga seperti pendirian Amerika; Apache, Cheroke
dan suku lainnya dibantai lalu namanya diabadikan dalam seri Helikopter tempur
dan merek mobil. Seperti Australia juga, suku aslinya dinamakan Aborigin (baca:
tidak asli), sementara para pendatang dari Eropa disebut pemilik sah benua itu.
Pada halaman 59 Intermezo MBM Tempo edisi 4 April 2010, maktub tulisan:
Sebagai Negara kecil tanpa sumber daya alam, hanya dalam setengah abad Israel 
bisa berdiri sejajar dengan sebagian besar Negara maju pendiri Organization for 
Economic Co-operation and Development. Sederhana saja, bisa dipastika Israel 
memelihara tuyul bernama AIPAC yang mengendalikan nyaris seluruh media besar 
dunia.

Shimon Peres, MBM Tempo dan Senggama Propaganda Media Arus Utama BaratIsrael 
merupakan Negara yang paling dibenci atau disalahpahami oleh rakyat Indonesia.
Bagaimana Anda bisa mendapatkan kepercayaan mereka? Kalimat itu adalah 
pertanyaan terakhir sang wartawan yang memungkasi Intermezo MBM Tempo edisi 29 
Maret-4 April 2009. Dan, jawaban sesepuh Israel yang sudah menggelambir kulit 
lehernya, Shimon Peres, "Itu pertanyaan yang harus saya ajukan kepada kalian... 
masalahnya adalah kebencian mudah berkelana di dunia media ketimbang tanggung 
jawab dan harapan. Tapi media bukan segalanya."
Bukan "disalahpahami" , bung! Tepatnya, Israel tak memiliki syarat untuk 
menjadi Negara. Kami, bangsa Indonesia tak terlalu bodoh untuk memahaminya, 
maka jangan men-generalisir, tepatnya memastikan kami "salah-paham" .
Konsepsi Deer Judenstaat atau Negara Yahudi, tepatnya Negara Zionis adalah 
doktrin yang bertentangan dengan ajaran Taurat yang disucikan dan ditaati oleh 
kaum Yahudi. Sementara kaum Zionis lebih mentaati Talmud (tafsir Taurat) yang 
disebut oleh Rabbi Aaharon Cohen sebagai kitab iblis. Apa alasan tepat untuk 
membenarkan pendirian Negara oleh ras khusus (baca: Zionis) untuk dihuni kaum 
spesifik yang hanya menganut satu sekte, yaitu Zionisme?
Saya merasa Israel dan pendukungnya yang berkepentingan membentuk Timur Tengah 
Baru mengalami kegagalan propaganda. Saya sebut demikian karena strategi 
branding dan marketing di Indonesia itu salah guna, karena kami tidak pernah 
membenarkan tindakan sadis kaum Zionis terhadap bangsa Palestina. Dana 
trilyunan dollar yang dikucurkan oleh AIPAC dan konco-konconya habis tanpa 
dampak yang memberikan keuntungan signifikan
terhadap Zionisme. Karena kami yakin, Israel segera runtuh dan penduduknya 
segera kembali ke Negara asalnya.
Penguasaan kaum Zionis, semacam Shimon Peres terhadap media besar seperti 
Reuters, TIME, AFP dan VoA dan sejenisnya seakan sia-sia meski selalu melakukan 
senggama dalam hal propaganda. Jadi, siapakah yang menebar kebencian? Bangsa 
Indonesia atau para pemilik media-media itu? Saya rasa dewan redaksi MBM Tempo 
dan siapapun pemerhati masalah ini tahu jawabannya.
Tulisan dan Foto-foto yang ditampilkan dalam Intermezo MBM Tempo edisi 4 April 
2010 dan Koran Tempo edisi 18 April 2010 justru seakan berbicara, "Dear, Mr. 
Zionist, you need
to change your strategy."
Bulan April 2010 adalah bulan yang "bersejarah"  bagi kalangan jurnalis 
Indonesia. Bagaimana tidak, secara berangsur-angsur namun pasti, salah satu 
media terbesar di Indonesia tak lagi independen, benarkah demikian?

Terimakasih. Salam.


      

Kirim email ke