http://groups.yahoo.com/group/warnaislam/message/7679
Jay Teroris <jaytero...@...>jayteroris
SIGIT
Dia akrab dipanggil Sigit. Belasan tahun lalu, dengan susah payah ia lulus dari
sebuah perguruan tinggi negeri di Jawa Tengah. Bayangkan saja. Masa kuliah yang
normal 4 tahun, ia selesaikan dalam waktu 8 tahun. Indeks Prestasi, yang
menjadi ukuran kelulusannya, maaf – cuma 2,1 dari maksimal 4.
Dia akrab dipanggil Sigit. Dia adik kelas saya di Fakultas Peternakan. Dalam
bahasa matematika, kami beririsan di satu nama, Joko Santoso. Ketika itu,
beliau adalah Pembantu Dekan I. Kami berdua bisa lulus dari Fakultas Peternakan
atas campur tangan beliau. Bedanya, saya relatif cepat, Sigit lulus di injury
time ...
Dia akrab dipanggil Sigit. Ia memulai aktivitas sebagai pemulia kedelai sejak
masih kuliah. Awalnya hanya ikut-ikutan, karena kakaknya adalah peneliti
kedelai. Witing tresno jalaran soko kulino, kata pepatah Jawa. Seringnya
berinteraksi, membuatnya jatuh cinta pada kedelai. Ia tidak lagi asal kerja.
Aktivitasnya mulai diikat oleh satu visi besar. Menemukan bibit kedelai unggul.
Dia akrab dipanggil Sigit. Ia menyeleksi ratusan jenis bibit kedelai di tanah
air. Dapat sekitar 70 varietas, yang memiliki keunggulan masing-masing.
Mulailah ia melakukan pekerjaan gila!
Gila? Ya. Pekerjaan yang dilakukan memang pekerjaan gila. Di lapang, pembuahan
kedelai umumnya terjadi secara alami, atas bantuan serangga atau angin. Tapi
untuk mendapatkan varietas jenis baru, Sigit harus mengawin-silangkan satu
varietas dengan varietas lain secara manual. Mengantarkan serbuk sari dari satu
varietas ke putik varietas lain, dengan tangannya sendiri. Tanpa alat bantu!
Dunia pemuliaan (tanaman maupun hewan) bergerak di antara harapan dan
ketidak-pastian. Tidak ada satu pun pakar yang berani memastikan, kapan satu
bibit unggul didapatkan. Bisa lima tahun. Bisa sepuluh tahun. Bahkan bisa jadi,
si peneliti sudah meningggal, si bibit unggul belum ditemukan. Sungguh
pekerjaan ’gila’. Tidak semua orang bersedia melakukannya ...
Lebih gila lagi, karena untuk melakukan itu, tidak ada seorang pun yang
membayarnya. Bahkan ia harus merogoh koceknya sendiri dalam-dalam. Total
jenderal, ia sudah menghabiskan dana sekitar 300 juta, untuk mengembangkan satu
varietas yang diberinya nama Mulyowillis. Ia temukan varietas ini, dalam waktu
lebih dari 5 tahun. Inilah satu-satunya varietas kedelai yang sudah dipatenkan
di negeri ini. Dan ia masih menyimpan beberapa varietas kedelai unggul lain di
kepalanya.
Mulyowillis adalah bukti bahwa ketekunan bisa mengalahkan ketidak-cerdasan.
Sigit tahu persis, sulit baginya bersaing di dunia kerja, karena IP yang
pas-pasan. Senjata ketekunan, yang jarang dimiliki oleh orang-orang cerdas di
negeri ini, digunakannya secara efektif.
(Sudah dimuat di Harian Semarang Edisi Sabtu, 8 Mei 2010, halaman 2, rubrik
Inspirasi)
---tambahan: juga sudah pernah diulas di Majalah Tarbawi beberapa edisi yg
lalu, di bagian Kearifan Komunitas