Powered by Telkomsel BlackBerry®

-----Original Message-----
From: Morry Infra <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Sun, 30 May 2010 08:56:52 
To: muslim-kl<[email protected]>; <[email protected]>; 
Tauziyah<[email protected]>; Dapu<[email protected]>; 
'sma1bks'<[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Subject: [sma1bks] Fwd: Penyumbat Rezeki

Renungan bersama....

Walau dah lama, tapi masih cocok buat sekarang ini...

Wassalam,
Morry Infra
---------- Forwarded message ----------
From: Morry Infra <>
Date: 2007/6/18
Subject: FW: Penyumbat Rezeki


==========================================================

 *Penyumbat Rezeki*


Oleh Bayu Gawtama


Hardi, seorang pedagang kelontong yang cukup berhasil di kotanya. Namun
jangan lihat keberhasilannya sekarang sebelum tahu faktor apa yang menjadi
penyebab usahanya maju dan lancar.


Setahun yang lalu, Hardi mengadukan nasibnya kepada guru ngajinya. Ia
mengaku sudah lebih sebelas tahun mencoba berbagai usaha namun selalu kandas
di tengah jalan. Usaha pertamanya sudah dimulai saat ia baru memasuki kuliah
tingkat dua, sekitar tahun 1994. Saat itu, ia mendapat pembagian warisan
dari orangtuanya yang belum lama meninggal dunia. Jiwa bisnisnya memang
sudah terlihat semenjak kecil, jadi wajar jika kemudian ia mendapatkan uang
warisan dalam jumlah yang cukup banyak, maka yang terbersit di kepalanya
adalah bisnis.


Maka, beberapa bulan kemudian ia membuka sebuah warung makan. Mulanya,
warung makannya berjalan normal, bahkan bisa dibilang sangat laku keras.
Mungkin karena ia melakukan promosi sangat gencar, selain karena ia termasuk
anak muda yang memiliki cukup banyak relasi meski pun usianya masih sangat
muda. Jadi sangat mudah baginya untuk mengundang sahabat, kerabat dan
relasinya untuk sekadar mencicipi warung makan miliknya.


Entah kenapa, selang tiga bulan kemudian satu persatu pelanggan
meninggalkannya. Tak banyak lagi yang makan di warungnya, sehingga dalam
waktu tak berapa lama ia terpaksa menutup usahanya dan gulung tikar. Ia pun
berganti usaha yang lain dengan sisa modal yang ada.


Usaha barunya, tak jauh berbeda dengan sebelumnya. Masih seputar makanan.
Kali ini ia membuka usaha catering yang melayani makan untuk kantor-kantor
di kota tinggalnya. Alhamdulillah ia dipercaya seorang rekannya yang bekerja
di sebuah perusahaan untuk memasukkan catering untuk makan siang beberapa
karyawan. Untuk sebuah awalan, catering untuk sekitar 20 karyawan
dianggapnya bagus. "Mulanya 20, insya Allah menjadi 200, 2000 dan
seterusnya…" semangat Hardi berapi-api.


Alih-alih bertambah pelanggan, rupanya Allah berkehendak lain. Yang 20 pun
menyetop langganan catering kepada Hardi, sementara selama satu bulan penuh
itu ia belum mendapatkan pelanggan baru. Akhirnya, ia pun kembali mengalami
kebangkrutan. Demikian seterusnya hingga lebih sepuluh tahun kemudian ia
berganti jenis usaha selalu menemui kegagalan.


Pada satu kesempatan ia mengadukan perihal kegagalan demi kegagalan usahanya
kepaada guru mengajinya. Ia menceritakan secara detil semua jenis usaha yang
pernah dicobanya dan bagaimana sampai akhirnya semua usahanya gagal. "Saya
harus usaha apalagi guru, saya sudah kehabisan modal. Bahkan saat ini saya
memiliki hutang yang tidak sedikit…" keluhnya.


Guru tersebut tak lantas memberikan jawaban dengan menyebut satu bentuk
usaha baru yang patut dicoba Hardi, melainkan meminta Hardi mengingat-ingat
sesuatu di masa lalu. "Coba ingat, pernah punya hutang atau tidak di masa
lalu? Atau pernah punya sangkutan berkenaan dengan rezeki orang lain atau
tidak di masa lalu…?" tanya sang guru.


Dahi Hardi mengerenyit, mencoba mengingat-ingat masa lampaunya. Rasa-rasanya
ia tak pernah punya hutang kepada siapa pun, justru sebaliknya ia malah
mengingat kembali daftar nama-nama yang pernah berhutang kepadanya. "Coba
lebih keras mengingat, mungkin nilainya kecil, tapi boleh jadi itu yang
menjadi penyumbat rezekimu…"


"Astaghfirullah…. " Hardi teringat sesuatu. Ia pun segera menyalami sang
guru dan mohon pamit seraya berucap terima kasih. Pria itu segera memacu
kencang kendaraannya menuju suatu tempat. Dalam hati ia berharap cemas,
"Semoga masih ada warung itu…"


Tidak kurang dari tiga belas jam waktu yang ditempuh Hardi menuju Semarang,
mencari satu tempat yang pernah ia singgahi hampir dua belas tahun yang
lalu. Tiba di tempat yang dituju, ia tidak menemukan lagi warung mie ayam
tempatnya makan dahulu. Kemudian ia mencoba bertanya kepada orang-orang di
sekitar perihal tukang mie yang pernah berjualan di situ.


"Ya, tukang mie itu bapak saya. Sekarang sudah tidak berjualan lagi.
Sekarang bapak sedang sakit parah…" seorang anak menceritakan ciri-ciri
fisik penjual mie ayam itu, dan Hardi yakin sekali itu orang yang dicarinya.
Tanpa pikir panjang, ia minta diantarkan ke rumah penjual mie untuk bertemu
langsung.


Ketika melihat kondisi penjual mie, Hardi menitikkan air mata. Ia langsung
meminta beberapa anggota keluara membopong penjual mie itu ke mobilnya dan
segera membawanya ke rumah sakit. Alhamdulillah, jika tidak segera dibawa ke
rumah sakit, mungkin penjual mie itu tidak akan tertolong. Seluruh biaya
rumah sakit tercatat mencapai lima belas juta rupiah, dan semuanya
ditanggung oleh Hardi.


Beberapa hari kemudian, setelah kembali ke rumah, bapak penjual mie itu
mengucapkan terima kasih kepada Hardi. "Bapak tidak tahu harus bagaimana
mengembalikan uang biaya berobat itu kepada nak Hardi. Usaha dagang bapak
sedang susah…" Hardi berkali-kali mencium tangan Pak Atmo, penjual mie itu.
Matanya tak henti menitikkan air mata, ia sedang berusaha menyatakan
sesuatu, namun bibirnya terasa sangat berat.


Akhirnya, "… semua sudah terbayar lunas pak. Saya hanya minta bapak
mengikhlaskan semangkuk mie ayam yang pernah saya makan tanpa membayar dua
belas tahun silam", Hardi terus menangis berharap keikhlasan itu didapatnya.
Saat itu, sehabis makan ia langsung kabur memacu sepeda motornya dan tak
membayar semangkuk mie seharga 1.500 rupiah.


Pak Atmo memeluk erat tubuh Hardi dan mengusap-usap kepala pria muda itu
seraya berucap, "Allah Maha Pemaaf, begitu pun semestinya kita…".


***


Perlancar dulu rezeki orang lain, agar tidak menyumbat rezeki kita. Wallaahu
'a'lam bishshowaab (Gaw)

Kirim email ke