Kebersamaan dalam keta'atan*. Saya perhatikan, setiap sore menjelang berbuka, banyak mahasiswa di kampus membawa gelas plastik, kemungkinan berisi kolak atau es buah, ada yang membawa beberapa dalam wadah dan tampaknya dia menjajakan kepada teman-temannya, ada yang membawa satu gelas saja, tampaknya dia membeli dari orang yang menjajakannya itu. Menjelang berbuka itu, wajah-wajah mereka tampak ceria, sambil bercengkerama dengan teman-temannya. Beberapa kuliah memang usai menjelang jam enam sore pas maghrib, tetapi dosen yang penuh pengertian biasanya di bulan Ramadhan ini akan menghentikan kuliah lebih awal, paling lambat pukul setengah enam, selain karena dosennya capek juga bicara terus saat puasa. Keceriaan menjelang saat berbuka pastinya juga merebak di rumah apalagi bila sekeluarga kumpul semua. Sambil menunggu azan maghrib, biasanya klita saling berbagi cerita dengan keluarga. Kebersamaan dalam beribadah dibulan Ramadhan inilah yang saya kira telah menebarkan kesemarakan dan semangat dalam menunaikan kewajiban shaum ini. Kendati shaum ini sangat bernuansa personal, tetapi melaksanakannya secara besama-sama menjadikan ibadah ini kental dengan atmosfer komunal. Ramadhan menjadi momentum kebersamaan dalam ibadah, sama-sama menahan diri dari makan-minum dan hal-hal yang dapat membatalkan ibadah shaum, berbuka serentak ketika azan maghrib dikumandangkan, dan kita lihat di kampus, di pinggir jalan, didalam kendaraan, di rumah makan atau di rumah sendiri, orang-orang penuh bahagia minum segelas air bening, secangkir teh manis, semangkuk kolak pisang plus kolangkaling atau es shanghai, beberapa gigitan bala-bala, cireng, comro, kurma dll. Tentu saja kebersamaan itu menjadi sangat indah ketika kita hiasi dengan semangat saling berbagi. Saya terharu melihat di pinggir jalan, seorang pemilik kedai menyediakan sekotak minuman dalam kemasan wadah plastik yang diatasnya ditulis "Silakan ambil GRATIS untuk berbuka", juga melihat di jalan ada orang yang membagi-bagikan makanan. Inilah syi'ar Ramadhan, atmosfer yang penuh dengan kebersamaan dalam ketaatan dan penuh dengan keberkahan. Kebahagiaan terpancar saat berbuka karena kita berhasil menunaikan ibadah shaum hari itu dengan baik, persis sebagiamana yang disampaikan Rasululah saw dalam hadistnya bahwa ada dua kebahagiaan bagi orang-orang yang shaum, yang pertama saat berbuka, dan yang kedua nanti saat bejumpa dengan Allah SWT. Kebahagiaan yang kedua itu adalah sebuah pengharapan besar di yaumul akhir nanti untuk mendapatkan maghfiroh dan surga-Nya. Kesanalah, ke kampung akherat yang abadi, para shaimin yang ikhlas akan kembali, dan kita semua mudah-mudahan akan diperkenankan ALlah SWT memasuki surga-Nya melalui pintu gerbang VIP Ar Rayyan, amien ya Robbal 'alamien.
*dari notes fb: Taura Taufikurahman: "Catatan Ramadhan (9)" http://taufikurahman.wordpress.com
