http://groups.yahoo.com/group/insistnet/message/20371
nuim hidayat <nuimhida...@...>nuimhida...@... 
 Send Email 
Fwd: Prof Nik Anuar Nik Mahmud : “Melayu Islam tidak Boleh Dizalim

---------- Forwarded message ----------
From: nuim hidayat <nuimhida...@...>
Date: 2010/8/27
Subject: Prof Nik Anuar Nik Mahmud : “Melayu Islam tidak Boleh Dizalimi”
To: skretaris suara islam <redaksi...@...>, eman mulyatman <
e_mulyat...@...>, nuimhidayat <nuimhida...@...>



Prof Nik Anuar Nik Mahmud : “Melayu Islam tidak Boleh Dizalimi”



Prof Nik adalah profesor yang pemberani. Bukan hanya dimana-mana ia lantang
menyuarakan satu rumpun Melayu dan Melayu Raya, tapi juga menyuarakan Melayu
Islam tidak boleh dizalimi. Bukunya tentang Sejarah Islam di Pattani
dilarang pemerintah Thailand. Tapi ia tidak takut, ia terus menulis buku
dan berbicara dimana-mana tentang sejarah Melayu sebenarnya.



Kepakarannya dan keberaniannya dalam mengungkapkan sejarah Islam Melayu,
sukar dicari tandingannya. Ia bila berbicara terbuka dan tidak mau
berpura-pura. Berikut petikan wawancaranya di kantornya, ATMA-UKM (Institut
Alam dan Tamadun Melayu-Universiti Kebangsaan Malaysia), dengan Dosen STID M
Natsir, Nuim Hidayat:



*Bagaimana Anda melihat hubungan Malaysia Indonesia ini dari perspektif
sejarah?*



Ya, saya akan melihat hubungan Indonesia Malaysia ini dari perspektif
sejarah, dari perspektif Malaysia. Kalau kita baca buku-buku sejarah,
khususnya buku-buku sejarah Melayu yang ditulis sebelum perang dunia ke-2,
seperti sejarah Melayu yang ditulis oleh Abdul Hadi dan Munir Adil, maka
wilayah Semenanjung dan Indonesia ini dianggap sebagai alam Melayu Raya.
Mereka menamakan tanah Melayu ini, Sumatera, Jawa, Sulawesi, Kalimantan,
Sumatra, Johor, Kelantan, Pattani dll ini alam Melayu atau di Indonesia
dikenal Nusantara. Yaitu wilayah Semenanjung tanah Melayu dan gugusan tanah
Melayu.



*Sejarah ini apakah diajarkan kepada murid-murid di Malaysia?*



Ya, pelajaran sejarah ini diajarkan kepada pelajar-pelajar Melayu sebelum
perang dunia ke-2. Orang Melayu semenanjung ini bagian dari pada alam Melayu
yang merangkumi pulau-pulau tadi itu. Jadi walaupun ini satu alam Melayu,
tapi alam Melayu ini telah dipecah dua oleh penjajah, yaitu pada tahun 1824
oleh British (Inggris) dan Belanda. Mana-mana wilayah dibawah semenanjung
di bawah naungan Belanda. Mana-mana wilayah di atas Sumatra atau Riau, di
bawah naungan British.



Sebelum ini tidak ada perpecahan itu. Sampai hari ini pemecahan itu berlaku.
Sebelum Perang Dunia ke-2, ada semangat mau bersatu semula.. Ibrahim Haji
Yakub dari Melayu, mau melihat negeri-negeri Melayu yang telah pecah ini
bersatu atas nama Melayu Raya,.di Indonesia juga ada gerakan seperti ini.
Mereka mau melihat alam Melayu ini disatukan atas nama Indonesia raya. Ada
hasrat untuk menjadi bersatu. Tapi rencana ini tidak berjaya karena dihalang
oleh kuasa-kuasa besar. Mereka tidak mau melihat bangsa Melayu ini mempunyai
satu Negara. Mereka mau melihat perpecahan. Kalau bangsa Melayu ini dibawah
satu negara, maka akan jaya. Potensi baik dari segi jumlah penduduknya yang
besar maupun hasil buminya,



*Bagaimana kuasa-kuasa besar itu bermain?*

* *

Jadi akibat halangan kuasa-kuasa besar itu, usaha mewujudkan Melayu Raya
gagal, Malaysia dengan Malaysianya, Indonesia tetap dengan Indonesianya.
Tapi bagaimanapun apabila tanah Melayu menggapai kemerdekaan tahun 1963,
pemimpin-pemimpin Indonesia mengharapkan adanya kerjasama yang erat.



Tahun 1958 atau atau 1959 itu Tun Razak, PM Malaysia, melakukan lawatan ke
Jakarta dan PM Juanda melawat ke Kuala Lumpur. Mereka melakukan perjanjian
kerjasama, kebudayaan dan bahasa. Walaupun berbeda Negara, atas nama satu
rumpun pemimpin Indonesia ingin kerjasama.



Sebelum merdeka semasa rakyat Indonesia lepas dari Perang Dunia ke-2, semasa
Indonesia membebaskan tanah airnya dari kekuasaan Belanda, ramai juga
anak-anak muda Melayu yang jadi sukarelawan menyertai anak-anak Indonesia
yang berjuang untuk menentang Belanda. Sehingga Belanda akhirnya mengiktiraf
kemerdekaan Indonesia tahun 1949. Tahun 1945 Belanda belum mengiktiraf
Indonesia. Juga ketika Indonesia membebaskan Irian Barat banyak anak-anak
muda Semenanjung yang ikut serta.



Itu menunjukkan semangat satu rumpun. Pada masa itu Malaysia belum merdeka
masih dijajah Inggris. Mereka berhijrah ke Indonesia, berjuang bersama
Indonesia memperjuangkan kemerdekaan dari Belanda. Sejarah ini perlu kita
fahamkan. Walaupun Malaysia Indonesia dipisahkan oleh Belanda dan Inggris
pada tahun 1824. Jadi semangat satu rumpun masih kuat. Kesatuan Muda
Malaysia pimpinan Ibrahim Yakub bergabung dengan pemuda Indonesia dalam
melawan Belanda, untuk mewujudkan Melayu Raya.



*Bagaimana kemudian hubungan Indonesia Malaysia tahun 60-an itu?*



Tokoh-tokoh Indonesia Malaysia itu sebenarnya mau mengukuhkan hubungan
perjanjian persahabatan. Tahun 1961, hubungan Malaysia Indonesia lebih
dingin berkaitan dengan cadangan Tengku untuk membentuk Malaysia. Tengku
mengumunkan bahwa beliau akan membebaskan Sabah, Serawak, Brunei, Singapura
daripada penjajahan British dan menyatukan negeri ini dengan tanah
Melayu. Jadi
pengistiharan (Pengumuman) Tengku ini disalahartikan oleh presiden Soekarno.
Ia menganggap rencana Tengku ini bertujuan untuk melemahkan atau melumpuhkan
Indonesia.



Dia kata rencana tengku itu adalah konspirasi British dan Amerika untuk
mengukuhkan dirinya. Gagasan itu kemudian ditentang. Ini sebenarnya tidak
pas. Bila saya buat kajian, tiadak ada satu kalimatpun yang menyatakan bahwa
tujuan Tengku itu untuk melemahkan Indonesia. Tidak ada. Tujuan Tengku
adalah untuk memerdekakan sisa-sia penjajahan British di Asia Tengah. Bukan
bertujuan untuk mengepung Indonesia. Bukan bermufakat dengan Barat untuk
memecahkan wilayah Indonesia. Ini adalah salah paham.



*Mengapa Presiden Soekarno bereaksi seperti itu?*



Saya tak boleh salahkan Presiden Soekarno juga. Karena semenjak beliau
menjadi presiden, Amerika dan British berusaha untuk menjatuhkan beliau.
Sebagai contoh Amerika pernah memberikan senjata pada beberapa pergolakan di
Indonesia. Karena latar belakang tadi, jadi apabila Tengku merencanakan
kemerdekaan Malaysia, maka ia dengan cepat mengatakan bahwa ini adalah
usaha-usaha kuasa besar untuk melemahkan Indonesia. Padahal tidak ada usaha
itu.



Kedua, waktu ada pergolakan PRRI di Sumatera, ada pemimpin-pemimpin PRRI itu
yang berlari ke Melayu. Mereka memohon suaka politik. Tengku mengizinkan,
tapi dengan syarat bahwa jangan jadikan tanah Melayu ini sebagai bekalan
untuk menentang Indonesia. Jadi itu mengapa kemudian Tengku memberikan
perlindungan kepada Des Alwi, Dr Sutino, dll. Presiden Soekarno menuntut
agar dua orang itu dikembalikan ke Indonesia. Tengku kata bahwa dua orang
tokoh itu bukan penjenayah (tahanan) biasa, tapi mereka tahanan politik.
Mereka menuntut hak untuk suaka politik, ini membuat Indonesia mencurigai
Melayu. Tahun 1963-1966 terjadi konfrontasi Indonesia Malaysia. Beberapa
perundingan dijalankan tapi gagal. Tahun 1963, ketika Malaysia diiktiraf
kemerdekaannya oleh dunia internasional, Indoensia tidak mengiktiraf
Malaysia dan memutuskan hubungan diplomatik.



Dalam pandangan Malaysia, ini karena desakan PKI (Partai Komunis Indonesia).
Dengan konfrontasi ini, maka pihak tentara memberi tumpuan kepada pertahanan
dan keamanan. Maka ini memberi peluang kepada PKI untuk melebarkan
pengaruhnya di Indonesia, karena tentara beralih perhatiannya (tentara RI
adalah anti PKI). Dan Soekarno saat itu sudah uzur, dipercayai lambat laun
Soekarno akan melepaskan jabatan presiden apakah sakit, umur tua atau
meninggal. Malaysia dianggap Soekarno sebagai neo kolonialisme.



Jadi Soekarno saat itu uzur, kalau turun dari jabatan presiden saat itu,
maka siapa yang akan mengisi? Dipercayai yang akan mengisi adalah Aidit,
tokoh PKI. Pihak pimpinan tentara RI tidak mau melihat Aidit menjadi
presiden Indonesia, seperti Ahmad Yani, Soeharto dll. Jadi pihak tentara
mencari jalan bagaimana memastikan bahwa Aidit tidak menjadi persiden. Maka
kemudian berlaku gestapu. Jendral-jendral anti komunis ini kan menumbuhkan
dewan jendral, penubuhan dewan jendral ini diketahui oleh kolonel Untung
yang pro komunis. Maka Soekarno dan komunis mengarahkan untuk menangkap
jendral-jenderal itu. Tapi jendral itu ternyata bukan dtangkap PKI, tapi
dibunuh. Mengapa dibunuh itu jadi misteri. Kemudian Soeharto bangkit dan
mengambil kuasa dari Soekarno.



*Bagaimana setelah Soeharto memimpin?*



Jadi apabila Soeharto mengambil alih tahun 1966, hubungan Malaysia Indonesia
menjadi pulih. Setelah itu hubungan Indo-Malay zaman Tun Razak Soeharto
cukup bagus, cukup erat. Kalau konfrontasi diteruskan maka yang mendapat
manfaat adalah Partai Komunis Indonesia.



Salah satu syarat yang membolehkan Indonesia untuk mengiktiraf Malaysia
adalah dengan mengadakan semula pemungutan semula Sabah dan Serawak. Lewat
Adam Malik, akhirnya Malaysia setujui syarat itu. Pemungutan suara itu
diadakan lewat pilihan raya. Itu untuk memenuhi syarat Indonesia. Tahun 1967
diadakan pilihan raya dan partai yang pro Malaysia menang. Jadi Sabah
Serawak secara sukarela memilih untuk bergabung dengan Malaysia. Pilihannya
dua. Apakah kemasukan Sabah Serawak waktu itu dipaksa masuk ke Malaysia atau
secara sukarela? Indonesia saat itu melihat bahwa Sabah Serawak dipaksa
masuk ke Malaysia, untuk melumpuhkan Indonesia.



Tun Razak itu menganggap Indonesia itu sebagai abang. Tapi yang berlaku hari
ini, adalah sejarah ini dilupakan, baik oleh generasi di Indonesia maupun di
Malaysia. Lupa bahwa Malaysia Indonesia ini adalah alam Melayu, satu rumpun,
Melayu johor, Melayu Jawa, Kalimanatan, satu rumpun. Sejarah ini tidak
diajarkan kepada generasi baru baik di Malaysia maupun di Indonesia.
Akibatnya generasi baru di Indonesia Malaysia menganggap bahwa kita ini
berbeda. Generasi kami menganggap bahwa Indonesia adalah adik beradik saja.



*Jadi harus bagaimana menyikapi sejarah ini?*



Karena kita tidak masukkan dalam pelajaran sejarah, baik di Indonesia maupun
Malaysia bahwa kita ini satu rumpun. Tidak diajarkan di sekolah. Kita
berpisah karena penjajahan. Di ATMA (Institut Alam dan Tamadun Melayu) kita
mau bangkitkan semangat satu rumpun Melayu ini.



Paman saya saja ikut pada tahun 1946 ke Jakarta dengan Ibrahaim Yakub
berjuang menentang Belanda. Kembali ke Malaysia tahun 80-an. Dia sudah
kawin dengan orang Indonesia.



Tapi, sekarang ini telah berlaku kekeliruan, karena generasi baru telah
dipisah dengan sejarah lama. Dulu kita diajar kita satu rumpun. Kata itu
kini sudah tidak ada. Tidak disebut dalam buku sejarah baik tingkat dasar
maupun tingkat universitas, kecuali mungkin di ATMA.



Kita perlu didik anak-anak kita baik di Semenanjung atau di Indonesia bahwa
asalnya kita ini adalah satu, tapi dipisah-pisah oleh penjajah. Mereka tidak
mau Malaysia Indonesia bersatu. Semenanjung Melayu ini sebenarnya mewakili
Indonesia Raya. Semua suku Indonesia ada di sini. Jawa, Bugis, Aceh, Minang.
Aslinya penduduk semenanjung ini kan sebenarnya Kelantan, Trengganu dan
Kedah. Kini banyak orang Jawa di Johor, Selangor juga Jawa, Aceh pun banyak
disini.



Mengapa berlaku perpecahan ini? Ini salah paham saja. Negeri sembilan
sebagian penduduknya dari Minangkabau, sultan Selangor dari Bugis. Jadi
sepatutnya kita dengan semangat stau rumpun bekerjasama untuk bangunkan alam
melayu ini. Kita tak boleh lagi menjadi bangsa kelas dua, harus bangsa kelas
satu yang bisa mempengaruhi dunia. Tapi kalau masing-masing kita berpecah,
ashabiyah, kita terus akan menjadi mainan kuasa-kuasa besar yang tidak mau
melihat bangsa Melayu tumbuh menjadi bangsa yang besar. Kita mesti tanamkan
kembali sejarah. Dari segi agama, bahasa, melayu sama.



*Bagaimana dengan isu-isu akhir ini. Isu tenaga kerja, budaya dan
perbatasan?*



Isu-isu ini tak patut dibesar-besarkan. Kalau dibesar-besarkan pihak ketiga
akan mengeksploitir isu-isu ini untuk melemahkan semangat persaudaraan antar
bangsa serumpun ini. Jadi msalah-masalah yang disebut tadi boleh
diselesaikan dengan perundingan antar pimpinan negara. Tak perlu dibesarkan
di media massa. Mereka akan terus esploitir kasus Ambalat, kebudayaan dll.
Untuk melihat Indonesia Malaysia kembali konfrontasi. Kalau konfrontasi,
semua pihak tidak akan untung, pihak ketiga akan untung. Kita tahu pihak
ketiga itu siapa.



Dalam memoir buku Thomas Raffles, disebut: bahwa Barat mesti pastikan bahwa
alam Melayu ini lemah. Jadi dia usulkan untuk melemahkan itu dua strategi:
Pertama, bawa imigran-imigran asing masuk ke Melayu supaya kawasan ini tidak
menjadi kawasan Melayu. Supaya menjadi majemuk (dibawa orang-orang Cina dan
India).



Kedua, pastikan bahwa raja-raja Melayu ini apakah di Semenanjung, Sumatera,
Jawa dan sebagainya, tidak mengambil para ulama Arab menjadi penasehat
mereka. Jadi tujuannya untuk memisahkan Arab dengan Melayu. Jadi sebelum ini
hubungan antara kerajaan Islam di Melayu dengan Daulah Utsmaniyah cukup
rapat. Sebab penasehat raja-raja Melayu adalah ulama dari Timur Tengah. Ganti
dengan penasehat dari Belanda atau British, kata Raffles (seperti Nuruddin
ar Raniri, dll.yang menjadi penasehat raja) Maka mengapa kemudian pangeran
Diponegroo ditangkap? Karena mereka membawa semangat Islam dan membina
hubungan rapat dengan Utsmaniyah.



Dalam sejarah, kita lihat setelah Barat meruntuhkan Utsmainyah barulah
muncul Saudi, Kuwait, dll. Yang angkat mereka Bitish, Perancis. Jadi nggak
ada Turki Utsmaniyah Timur Tengah hancur, alam Melayu kemudian juga hancur.
Umat tidak ada pemimpin. Kuasa Barat tidak mau khalifah atau Melayu Raya.



*Jadi bagaimana sebaiknya sekarang?*

* *

Kini pemimpin generasi baru tidak ada semangat satu rumpun.. Tun Razak
semasa berunding dengan Adam Malik, ada perjanjian tidak tertulis bahwa akan
ada kerjasama erat. Malaysia akan bantu Indonesia dari segi ekonomi,
Indonesia bantu Malaysia dari segi penduduk. Malaysia impor penduduk
Indonesia, untuk meramaikan orang Melayu. Malaysia bantu dengan memberi
pekerjaan orang Indonesia.



Tapi kerjasama ini dilupakan, dan mungkin ada pihak yang ingin melihat
jangan sampai bersatu. Mau porak porandakan. Isu pekerja ini kan satu dua
dan bisa diselesaikan. Yang menjadi masalah seringkali bukan orang Melayu
yang buat. Tapi dibesar-besarkan. Pada umumnya mereka kerja senang disini.
Tapi kenapa ribut masalah? Orang Kelantan buat batik dan Indonesia juga
punya batik, karena batik ini tradisi Melayu. Jadi kadang-kadang ada orang
Bugis Sulawesi ke sini dengan kebudayaanya, mereka memperkenalkan budaya
disini apakah suatu kesalahan? Atau orang Jawa ke sini pakai bahasa Jawa
apakah tak boleh? Kenapa harus bertengkar dalam masalah seperti ini.



Jadi kita perlu kerjasama, baik di bidang ekonomi, pendidikan dan lain-lain.
Sekarang banyak pelajar perguruan tinggi yang dikirim dari Malaysia ke
Indonesia atau sebaliknya.* (edisi yang lebih ringkas pernah dimuat di
majalah Hidayatullah).



--
www.nuimhidayat.blogspot.com
"berbuat adil lah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa."
"(ulil albab) yang mendengarkan perkataan, lalu mengikuti yang terbaik."



--
www.nuimhidayat.blogspot.com
"berbuat adil lah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa."
"(ulil albab) yang mendengarkan perkataan, lalu mengikuti yang terbaik."

Kebanyakan sumber permasalahan adalah cara berkomunikasi!!!



http://nugon19.blogs.friendster.com/my_blog/

http://nugon19.multiply.com/journal


      

Kirim email ke