Dari milis sebelah tentang 
Perilaku yang tidak terhormat dari orang-orang yang terhormat.

salaMIK
--wakil rakyat seharusnya merakyat
 



----- Forwarded Message ----
From: Erfan Sofyan <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Sun, November 21, 2010 5:06:30 PM
Subject: [iagd] Kisah Rombongan DPR Bertemu TKW


Kisah Rombongan DPR Bertemu TKW (1)
 
Rombongan DPR " Telantarkan " TKW di Dubai
 
Jumat, 19 November 2010 | 08:19 WIB
 
Rombongan Tenaga kerja indonesia tengah menunggu keberangkatan pesawat menuju 
Jakarta di Bandara Dubai, Sabtu (6/11/2010).
 
 
KOMPAS.com — Cerita pilu Sumiati, tenaga kerja wanita yang disiksa majikannya 
di 
Arab Saudi, menghias halaman pemberitaan media beberapa hari ini. Sikap abai 
ternyata bukan hanya milik para majikan yang kejam di negeri orang. Para wakil 
rakyat, yang menjadi anggota parlemen karena dipilih oleh rakyat, pun 
menunjukkan sikap abai saat rakyat yang memilihnya tengah kelimpungan di negeri 
seberang.

Rombongan Anggota DPR yang tengah melakukan kunjungan kerja ke Moskwa, Rusia, 
dilaporkan ”menelantarkan” seratusan lebih tenaga kerja wanita (TKW) Indonesia 
yang tengah kebingungan di Dubai. Di antara para TKW itu ada yang kedua 
tangannya melepuh karena disiram air keras oleh majikannya di Arab Saudi. 
Sementara, satu orang TKW lainnya mengalami pendarahan di perut. 

”Mereka egois sekali. Tidak ada satu pun yang peduli dengan nasib rakyat yang 
mereka wakili yang tengah kebingungan. Mereka menelantarkan para TKW  di 
Dubai,” 
tutur Adiati Kristiarini, seorang warga Indonesia yang mendampingi para TKW, 
dalam perbincangan dengan Kompas.com beberapa waktu lalu. 

Ia menceritakan, peristiwa itu terjadi pada Sabtu (6/11/2010). Ia bersama 
suaminya transit di Bandara Dubai dalam penerbangan New York-Jakarta. Di Gate 
206 Bandara Dubai, mereka menunggu keberangkatan Pesawat Emirates dengan nomor 
penerbangan EK 358 tujuan Jakarta yang dijadwalkan berangkat pukul 10.25 waktu 
setempat. 

Di situ, menunggu pula rombongan TKW yang jumlahnya ia perkirakan sekitar 150 
orang. Adiati mengetahui kemudian, ternyata para TKW itu tidak saling kenal dan 
tidak pergi dalam satu koordinasi kelompok rombongan. Secara kebetulan saja 
mereka bertemu di bandara. Ada juga rombongan anggota DPR yang hendak pulang 
seusai melakukan studi banding ke Rusia. 

Kebingungan 

Sekitar 30 menit menunggu, tutur Adiati, ada pengumuman  bahwa penerbangan ke 
Jakarta dibatalkan karena lalu lintas udara Indonesia tidak aman akibat letusan 
Gunung Merapi. Oleh Emirates, para penumpang diarahkan menuju hotel. Dari 
sinilah kepanikan dan kericuhan dimulai. Para TKW itu bingung. Mereka tidak 
tahu 
harus berbuat apa, sementara petugas Emirates dirasa kurang informatif. 

Menurut Adiati, sebelum tiba di Hotel yang terletak di luar bandara, mereka 
harus melewati sejumlah prosedur. Inilah yang membingungkan para TKW sebab 
banyak di antara mereka tidak bisa berbahasa Inggris. ”Para TKW itu adalah 
orang-orang sederhana dan lugu. Mereka kebingungan. Saya dan beberapa orang 
Indonesia lain lalu spontan saja berinisiatif membantu mereka,” ujar Adiati. 

Inisiatif membantu para TKW yang jumlahnya seratusan ini ternyata dilakukan 
sporadis oleh sejumlah orang Indonesia yang ada di situ. Agus Safari, seorang 
peneliti yang juga transit di Dubai dari Rusia, menceritakan dalam e-mail-nya 
kepada Kompas.com, prosedur dari bandara menuju hotel memang terasa berbelit.
 
 
Saya heran, kok mereka tidak tergerak ya mengatasi rakyat yang memilih mereka 
sedang panik dan bingung. 

-- Riny Konig
 
 
Pertama, para penumpang harus antre untuk mendapatkan visa sponsorship. Setelah 
itu, mereka harus menjalani cek imigrasi. Seusai urusan imigrasi, mereka harus 
datang ke satu loket untuk mencap kartu visa. Kemudian, harus antre lagi untuk 
scan mata di satu sudut yang jaraknya cukup jauh dari counter cap. 

Sejumlah orang Indonesia, tutur Agus, secara spontan pontang-panting mencoba 
mengarahkan para TKW yang kebingungan. Suasananya sangat riuh. Di tengah 
keriuhan, menurut Agus, rombongan anggota Dewan terlihat duduk berkelompok di 
sudut ruang tunggu, sementara kartu visa mereka dikerjakan oleh agen tur 
mereka. 
Agus mengenali mereka sebagai anggota DPR sebab ia satu pesawat dalam 
penerbangan dari Rusia. Temannya di Kedutaan Besar Rusia memberi tahu Agus soal 
rombongan ini.

Tidak tergerak 

”Saya heran, kok mereka tidak tergerak ya mengatasi rakyat yang memilih mereka 
sedang  panik dan bingung. Mereka hanya tertawa-tawa dan ngobrol, dan saya 
sempat mendengar celetukan mereka saat saya sedang mengarahkan para TKW ini, 
’ya, kita bermalam di Dubai ini sekalian saja untuk menghabiskan sisa rubel 
(mata uang Rusia)’. Masya Allah...,” cerita Agus. 

Di antara orang Indonesia yang spontan membantu para TKW ada juga Riny Konig. 
Ia 
juga transit di Dubai dalam penerbangan dari Swiss. Menurut Riny, karena 
kesulitan komunikasi, para TKW ini banyak yang dibentak-bentak oleh petugas 
bandara. 

”Di sebelah saya ada orang-orang Indonesia dengan paspor biru. Mereka diam saja 
melihat para TKW dibentak-bentak. Kok, ya enggak ada hati orang-orang ini,” 
tutur Riny saat berbincang dengan Kompas.com, beberapa waktu lalu, dengan nada 
jengkel. 

Adiati, Agus, dan Riny mulanya tidak saling kenal. Mereka dipertemukan oleh 
spontanitas menolong para TKW yang kebingungan. Ada sejumlah orang  Indonesia 
lainnya yang juga spontan membantu secara sporadis. ”Hanya faktor rasa 
kebangsaan dan kemanusiaanlah yang membuat kami berbuat,” kata Agus. 

================================================================
 
Kisah Rombongan DPR Bertemu TKW (2) 
 
" Saya dari Moskow, Tugas Negara "
 
Jumat, 19 November 2010 | 08:34 WIB
 
Foto sejumlah TKW dan anggota DPR di Dubai. Kiri, seorang anggota DPR tengah 
berjalan dengan tangan dimasukkan ke dalam saku celana di Hotel Holiday Inn, 
Dubai, Minggu (7/11/2010). Tengah, perempuan yang mengenakan jaket kuning dan 
berjilbab adalah tenaga kerja wanita Indonesia yang kedua tangannya melepuh 
disiram air keras. Matanya pun memerah karena di colok majikannya. Ia baru 
bekerja satu minggu di Madinah dan dipulangkan. Kanan, rombongan anggota DPR 
tampak berkerumun di pinggir jendela di Hotel Holiday Inn, Dubai, Minggu 
(7/11/2010).
 
 
KOMPAS.com — Seusai keruwetan berurusan dengan administrasi Bandara Dubai 
(baca: 
Rombongan DPR ”Telantarkan” TKW di Dubai), rombongan penumpang pesawat Emirates 
dengan nomor penerbangan EK 358 yang batal terbang menuju Jakarta akhirnya tiba 
di Hotel Holiday Inn, tidak jauh dari bandara, Sabtu (6/11/2010). 

Di sini, para TKW kembali gaduh. Lagi-lagi mereka bingung dengan urusan 
pembagian kamar. Riny Konig, Adiati Kristiarini, Agus Safari, dan sejumlah 
orang 
Indonesia kembali turun tangan mengatur mereka yang  kebingungan. 

Dalam perbincangan dengan Kompas.com, beberapa waktu lalu, Riny Konig 
menuturkan, saat mereka tengah sibuk mengoordinasi seratusan TKW, tiba-tiba 
seorang perempuan menegurnya. 

”Bu, tolong, dong, dibilangin rombongannya jangan ribut, malu-maluin negara 
aja, 
kan enggak enak ribut begitu,” tegur perempuan itu kepada Riny. 

”Rombongan mana, Bu?” tanya Rini. 
”Itu, rombongan TKW,” kata perempuan itu. 
”Lha, saya bukan TKW, Bu. Saya ini ingin pulang ke Indonesia, berlibur, 
kebetulan bertemu dengan mereka. Mereka ribut karena bingung Bu, banyak yang 
bertahun-tahun enggak pulang, kasihan. Ibu mau liburan juga?” tanya Rinny. 

”O enggak, saya baru pulang dari Moskow, tugas negara,” kata perempuan itu yang 
menurut Rinny hanya tetap berdiri tanpa ikut membantu para TKW yang gaduh 
karena 
bingung. Belakangan, Riny tahu perempuan itu adalah anggota DPR  yang habis 
melakukan studi banding di Moskwa, Rusia. 

Mereka menginap di hotel itu satu malam. Selama satu malam itu pula Riny, Atik, 
Agus, dan kawan-kawan Indonesia lainnya mendata satu-satu kamar para TKW yang 
jumlahnya sekitar 150 orang. ”Hampir setiap jam kami berhubungan dengan 
informasi hotel, apa itu untuk membantu mereka urusan kamar, urusan telepon, 
urusan makan, shuttle bus ke Dubai City untuk menukar uang dan belanja minuman 
dan snack karena di hotel mahal,” terang Riny. 


Tangan melepuh dan pendarahan 

Sementara, Adiati menceritakan, di antara para TKW itu ada seorang TKW yang 
kedua tangannya melepuh disiram air keras oleh majikannya di Arab Saudi. 
Matanya 
pun merah karena dicolok oleh majikannya. 

”Saya lupa namanya. Dia dari Karawang. Baru satu minggu kerja sudah mendapat 
kekerasan dan dipulangkan. Ia tidak punya bekal uang sama sekali. Cuma bawa tas 
kecil berisi dua potong pakaian. Ia diam terus, tidak banyak bicara. Kasihan 
sekali,” tutur Adiati. 

Selain itu, ada pula seorang TKW yang perutnya mengalami pendarahan. Namanya 
Ipah. Ia sebenarnya sudah memiliki janji dengan seorang dokter di Jakarta untuk 
operasi pengambilan kista di perutnya pada hari Senin (8/11/2010). Adiati yang 
mendampingi Ipah selama bermalam di hotel menceritakan, Ipah  terus berbaring 
selama menunggu kepastian terbang.

”Tidak ada satu pun anggota  Dewan yang terhormat itu menaruh perhatian pada 
nasib dua TKW ini. Mereka pasti tidak tahu karena memang tidak pernah mau 
tahu,” 
ucap Adiati kesal. 
 
 
Di mata orang DPR, TKW itu enggak ada harganya. Ya, memang beginilah nasib 
kami, 
selalu dianggap menyusahkan di negeri sendiri. 

-- Diah, TKW di Madinah
 
 
 
 
Bapak, kan anggota DPR 

Esoknya, Minggu (7/11/2010), ”relawan” Indonesia dan para TKW melakukan 
”konsolidasi” di lobi hotel. ”Kami mendata kembali satu per satu teman-teman 
TKW. Kami mengingatkan agar masing-masing jangan bergerak sendiri dan 
memisahkan 
diri supaya mudah melakukan koordinasi jika ada pengumuman kapan pesawat ke 
Jakarta akan terbang," ungkap Riny. 

Ia menuturkan, saat para ”relawan” sibuk mendata para TKW, seorang lelaki 
tampak 
berdiri menonton. ”Spontan saya bilang ke dia, Pak, mestinya Bapak yang 
ngurusin 
para pahlawan devisa ini, kan Bapak anggota DPR. Ini di depan mata Bapak 
jelas-jelas ada rakyat Bapak yang kesusahan, kasihan, kan,” kata Riny. 

”Maaf, Bu. Saya bukan anggota DPR, tetapi terima kasih banyak ya, Ibu dan 
teman-teman sudah menolong mereka,” kata lelaki itu seperti ditirukan Riny. Ia 
mengetahui kemudian, lelaki itu adalah petugas agen travel yang mengurus 
perjalanan rombongan anggota DPR. 

Menurut Rini, lelaki itu kemudian membalikkan punggung, bergabung dengan 
rombongan anggota DPR yang duduk tidak jauh dari situ. Beberapa orang dari 
mereka, kata Rini, sempat menoleh saat ia berbicara dengan lelaki dari agen 
travel  tersebut karena berbicara dengan suara lantang. ”Mereka, ya enggak ikut 
membantu tuh, habis itu malah keluar menuju mobil sewaan,” ungkap Rini. 


"Ngapain" cari duit ke luar negeri 

Sementara itu, salah seorang TKW, Diah, punya pengalaman yang menurutnya tidak 
mengenakkan saat ia mencoba menyapa satu-satunya perempuan anggota Dewan dalam 
rombongan tersebut. Ia bertanya kepada perempuan itu apakah sudah ada informasi 
kapan pesawat akan terbang menuju Jakarta. 

”Eh, bukannya menjawab, ibu itu malah balik bertanya ke saya dengan ketus, 
ngapain cari duit ke luar negeri, di dalam aja banyak kok. Saya kaget, kok 
ditanya baik-baik malah ngomong ketus banget. Saya bilang aja kalo saya emang 
orang miskin, cari duit ke mana aja yang penting halal,” terang Diah saat 
dihubungi Kompas.com, Kamis (18/11/2010). 

Diah pun langsung melengos pergi. ”Di mata orang DPR, TKW itu enggak ada 
harganya. Ya, memang beginilah nasib kami, selalu dianggap menyusahkan di 
negeri 
sendiri,”  katanya. 

Diah sudah empat tahun bekerja untuk sebuah keluarga di Madinah, Arab Saudi. Ia 
bersyukur mendapat majikan yang baik. ”Saya cuti pulang kampung selama dua 
bulan 
untuk nengok anak. Majikan saya sayang sama saya. Dia malah nangis nganter saya 
pulang, minta saya cepet balik lagi ke Madinah,” katanya. 


Mereka pulang duluan 

Selanjutnya, Minggu sore, seperti diceritakan Agus Safari, mereka mendapat 
kabar 
bahwa pesawat akan berangkat pada pukul 01.00 waktu Dubai (Senin, 8/11/2010). 
Kembali terjadi kegaduhan. 

”Tidak mudah mengatur seratusan orang. Para TKW itu tersebar. Pelan-pelan kami 
mengumpulkan mereka di lobi. Tidak semua dapat terangkut oleh bus yang 
disediakan. Jadi kami berangkat secara bertahap menuju bandara,” ujar Agus. 

Saat itu, Agus merasa heran sebab hingga di bandara ia tidak melihat seorang 
pun 
rombongan DPR. ”Rupanya mereka sudah pulang duluan naik penerbangan pukul 
20.00. 
Luar biasa tuan-tuan yang terhormat itu, mereka ngeloyor pergi duluan tanpa 
sedikit pun mengindahkan rakyatnya yang kelabakan ini,” kata dia. 


Studi banding rumah susun 

Menurut catatan Kompas.com, anggota DPR yang pergi ke Rusia adalah rombongan 
Komisi V yang tengah melakukan studi banding terkait RUU Rumah Susun. Selain ke 
Rusia, Komisi V juga melakukan studi banding yang sama ke Italia. 

Informasi yang dihimpun Kompas.com, anggota rombongan studi banding rumah susun 
adalah Yasti Soepredjo Mokoagow dari Fraksi Partai Amanat Nasional (F-PAN), 
Muhidin Mohamad Said (Fraksi Partai Golkar), Roestanto Wahid (Fraksi Partai 
Demokrat), Usmawarnie Peter (Fraksi Partai Demokrat), Sutarip Tulis Widodo 
(Fraksi Partai Demokrat), Zulkifli Anwar (Fraksi Partai Demokrat), Riswan Tony 
(Fraksi Partai Golkar), Eko Sarjono Putro (Fraksi Partai Golkar), Roem Kono 
(Fraksi Partai Golkar), Irvansyah (Fraksi PDI-P), Sadarestuwati (Fraksi PDI-P), 
Chairul Anwar (Fraksi PKS), Ahmad Bakri (Fraksi PAN), Epyardi Asda (Fraksi 
PPP), 
Imam Nahrawi (Fraksi  PKB), dan Gunadi Ibrahim (Fraksi Partai Gerindra).
 
 
(Selesai)
 
 
Salam hangat,
 
Bae


      

Kirim email ke