http://groups.yahoo.com/group/Muhammadiyah_Society/message/34430

Medali Olimpiade Sains, Budaya Apresiasi dan Sistem Ranking di Sekolah


Assalaamu'alaikum, wr, wb.







Kita sering bangga mengetahui berita keberhasilan siswa Indonesia 
mendapatkan

medali di event olimpiade sains internasional. Kebanggaan itu menjadi 
penyejuk

dan pemberi asa akan masa depan bangsa kita, terutama di tengah tengah 
berita

berita buruk yang terjadi di masyarakat kita yang kadang membuat kita 
seperti

putus asa atas masa depan bangsa Indonesia.







Tetapi, tahukah anda bahwa sistem pemberian medali emas, perak dan 
perunggu di

olimpiade sains tidak seperti di olimpiade olahraga yang biasa kita kita
 kenal ?







Berbeda dari olimpiade olahraga yang hanya memberikan satu emas, satu 
perak dan

satu perunggu untuk setiap perlombaan, Olimpiade sains memberikan 
penghargaan

medali emas, perak, dan perunggu kepada lebih dari tiga peserta. 10 % 
siswa

dengan nilai tertinggi berhak mendapatkan medali emas. 20% siswa 
berikutnya

mendapatkan medali perak, dan 30% berikutnya mendapatkan medali 
perunggu. Dengan

demikian, 60% peserta pasti akan mendapatkan medali emas, perak atau 
perunggu.

Di luar top 60% itu, ada para peserta yang akan mendapatkan sertifikat

penghargaan semacam "juara harapan"; dan sisanya akan mendapatkan piagam

penghargaan sebagai "peserta".







http://en.wikipedia.org/wiki/International_Chemistry_Olympiad







So, what gitu loh ?! :)







Sebagian besar di antara kita tentu akan bergumam, "ooo, ternyata 
begitu, tho."

dan sejurus kemudian, sisi negatif thinking kita akan berkata, "wah, 
ternyata

tidak sulit untuk mendapatkan medali di olimpiade sains internasional." 
Dan tiba

tiba, kita tidak lagi bangga dengan medali medali yang diraih anak anak 
kita di

olimpiade sains internasional tsb.







Negatif thinking itu menurut saya adalah buah dari sistem ranking yang

diterapkan di sekolah sekolah di negeri kita. Sejak kecil, anak selalu 
diranking

terhadap anak yang lain. Perankingan itu selalu menghasilkan n posisi 
juara

nomor x, dimana x adalah bilangan bulat positif dan n adalah jumlah 
siswa.

Dengan demikian, hanya ada satu orang juara satu, satu orang juara dua, 
dan

seterusnya, hingga pasti ada satu orang juru kunci juara ke-n.







Dengan sistem seperti ini, maka hanya segelintir siswa saja yang 
mendapatkan

apresiasi. Mayoritas siswa tidak mendapatkan apresiasi; tidak peduli 
betapapun

keras usaha mereka, betapapun tinggi nilai mereka. Mereka tidak 
mendapatkan

apresiasi dari guru, dan dari masyarakat atas apapun yang mereka capai, 
kecuali

juara 1, 2 atau 3. Apresiasi menjadi barang langka bagi siswa. 
Celakanya, orang

tua pun juga memiliki pandangan yang sama. Mereka ikut ikutan pelit 
memberikan

apresiasi thd anak mereka karena anak mereka "tidak mendapat ranking". 
Mayoritas

anak Indonesia tumbuh dalam suasana miskin apresiasi karena guru, orang 
tua, dan

masyarakat sangat pelit dalam memberikan apresiasi.







Kelak, ketika dewasa, anak anak itu juga akan pelit memberikan 
apresiasi. Anak

anak itu adalah kita kita sekarang ini. Kita yang tiba tiba turun -atau 
bahkan

hilang seketika- respek dan apresiasi kita untuk anak kita yang berhasil
 meraih

medali perunggu, perak, bahkan emas sekalipun di olimpiade 
internasional; semata

mata karena sekarang kita menjadi tahu bahwa bisa jadi anak peraih 
medali

perunggu itu adalah ranking 60 dari 100 peserta, bisa jadi peraih medali
 perak

itu adalah ranking 30 dari 100 peserta, dan bisa jadi peraih medali emas
 itu

"hanya" ranking 10 dari 100 peserta. Sungguh celakalah diri kita !







Hari ini, 4 anak saya mengenyam pendidikan sekolah dasar dan menengah di
 Kanada.

Negara yang masuk dalam kategori negara maju. Maukah saya beritahukan 
kepada

Anda rangking berapa anak saya di sekolah mereka? Tidak ada satupun anak
 saya

yang "mendapatkan ranking". Apakah saya kecewa dengan prestasi mereka? 
Tidak.

Mengapa? Karena sistem pendidikan di Kanada sini tidak mengenal ranking.
 Tidak

ada ujian kenaikan kelas. Tidak ada ujian akhir semacam EBTANAS atau 
UAN.







Semua siswa diapresisasi sesuai dengan attitude mereka, kemauan mereka 
untuk

terus belajar, mencintai dan peduli kepada teman, guru, orang tua dan 
lingkungan

mereka. Kemampuan akademik siswa tidak diranking thd sesama siswa, 
tetapi thd

pencapaian standar kurikulum. Ketika semua siswa telah mencapai standar

kurikulum yang disesuaikan dengan kemampuan "alami" individu siswa, maka
 semua

siswa adalah sang juara.





Mereka menjadi juara bukan karena bisa mengalahkan teman mereka; karena 
teman

memang bukan untuk dikalahkan. Mereka menjadi juara karena mereka mampu

menyelesaikan tugas yang diberikan kepada mereka dengan baik dan benar. 
Mereka

menjadi juara karena mereka bisa mengalahkan unsur unsur negatif dari 
diri

mereka: kemalasan, selfishness, akhlak yang buruk, dan lain lain. Mereka
 menjadi

juara karena mereka mau belajar untuk menjadi manusia yang baik.







Apakah hanya Kanada yang tidak menerapkan sistem ranking? Tidak. Konon

kebanyakan negara maju memang tidak meranking siswa thd siswa lainnya. 
Dan

buktinya, olimpiade sains internasional memberikan penghargaan kepada 
semua

peserta olimpiade. Bukan karena fakta bhw mereka adalah siswa terbaik 
dari

negerinya masing masing, tetapi karena tujuan dari pendidikan dan acara

olimpiade itu sendiri adalah mendorong kecintaan para siswa kepada 
sains. Bukan

untuk saling mengalahkan, tetapi untuk bersama sama menjadi sang juara, 
yaitu

mereka yang gemar berfikir, mau meninggalkan kemalasan dan mau 
bersilaturahmi

dengan teman teman mereka dari seluruh penjuru dunia.







Mudah mudahan sistem ranking di sekolah sekolah di Indonesia segera 
lenyap.



Setujukah anda dengan do'a saya ini?







Wassalam,

Rois Fatoni

Dosen Teknik Kimia Universitas Muhammadiyah Surakarta



Graduate Student (atas biaya DIKTI)

Department of Chemical Engineering

University of Waterloo

200 University Avenue West

Waterloo, ON, Canada N2L 3G1

519 888 4567 ext 35675



      

Kirim email ke