Kayaknya forward-an juga... Kan ada link-nya: http://abisabila.blogspot.com
Salam, Morry Infra 2010/12/31 <[email protected]> > > > Bang morry, ini tulisannya kang budi abdul muiz alumni itb yg lg di kl? > > Sent from my BlackBerry® > powered by Sinyal Kuat INDOSAT > ------------------------------ > *From: * Morry Infra <[email protected]> > *Sender: * [email protected] > *Date: *Fri, 31 Dec 2010 08:16:27 +0300 > *To: *im-KSA (Indonesian Moslems @ KSA)<[email protected]>; < > [email protected]>; ARII Drlg Milist< > [email protected]>; ngaji-khobar< > [email protected]>; ex-cii<[email protected]>; 'sma1bks'< > [email protected]>; <[email protected]> > *ReplyTo: * [email protected] > *Subject: *[sma1bks] Fwd: Belajar Kesederhanaan ... > > > > ---------- Forwarded message ---------- > From: Budi Abdul Muiz <> > Date: 2010/12/30 > > > > http://www.eramuslim.com/oase-iman/abi-sabila-belajar-kesederhanaan-pada-sang-juara.htm > Belajar Kesederhanaan Pada Sang Juara > > *Oleh* *Abi Sabila* > > “ Coba tebak, hadiah apa yang aku minta?” tanya gadis kecil itu pada dua > sahabatnya. > > Seperti berlomba, keduanyapun berebut menebak hadiah apa yang diminta > sahabat kentalnya itu. > > “ Sepatu baru, tas, baju, boneka, sepeda, hp, blackberry, laptop?” tanya > mereka bersemangat. > > Setiap mereka menyebutkan, setiap itu pula si gadis menggelengkan > kepalanya. Tak ada yang bisa menebak dengan benar, akhirnya merekapun > menyerah. > > “ Kalian menyerah? “ si gadis tersenyum menggoda. > > “ Ya! “ jawab keduanya kompak. > > Si gadis kecil tak langsung memberikan jawaban. Ia tahu bahwa kedua > sahabatnya pasti akan kaget, bahkan menertawakannya. Tapi ia tak mau curang, > apapun tanggapan mereka, ia akan mengatakan yang sebenarnya. > > “ Aku minta dibelikan es kelapa “ jawab si gadis apa adanya. > > Sesuai dugaan, tanpa dikomando kedua sahabatnyapun tertawa. Mereka sama > sekali tak menyangka kalau sahabatnya yang sejak kelas satu selalu jadi > juara, ternyata hanya minta dibelikan es kelapa sebagai hadiahnya. Bagi > mereka ini bukan saja lucu, tapi juga aneh bahkan keterlaluan. Dalam hal > memilih hadiah, rupanya si gadis tak secerdas ketika sedang menangkap > pelajaran di sekolah, pikir mereka. > > Cukup lama mereka tertawa terpingkal-pingkal. Setiap ingat es kelapa, > setiap itu pula mereka tertawa. Begitupun si gadis, ia ikut tertawa ceria. > Tak ada yang salah dengan permintaannya, meskipun itu kini membuat kedua > sahabatnya tertawa. > > Puas tertawa, kedua sahabat si gadis pun ganti bercerita. Masing-masing > menceritakan hadiah apa yang mereka dapat dari kedua orang tuanya. > > “ Aku dibelikan sepeda baru sama bapakku. Malah sebelum rapot dibagikan, > aku sudah lebih dulu dibelikan sepeda. Kata mamaku, bapak sudah punya > firasat kalau semester ini aku bakal masuk sepuluh besar “ cerita salah satu > sahabatnya bangga. Dia tidak berbohong, tadi pagi waktu ambil raport di > sekolah, si gadis memang melihat sahabatnya itu naik sepeda baru. > > Sahabatnya yang satu lagi tak mau kalah. Dengan semangat, dia yang semester > ini berada di peringkat tiga bercerita bahwa ibunya akan membelikan dia hp > multimedia keluaran terbaru. Sebenarnya kalau ia bisa mendapat ranking dua, > Blackberry akan menjadi miliknya. Bahkan seandainya ia bisa ranking satu, > sang ibu berjanji akan menghadiahkan sepeda motor baru. > > ** > > Lelaki itu tak jua bisa memejamkan matanya. Hampir satu jam dia berbaring, > rasa kantuk belum juga datang, justru semakin menghilang. Percakapan si > gadis bersama dua orang sahabatnya tadi siang memenuhi pikirannya, > menyesakkan dadanya. > > Apa yang dikatakan si gadis memang benar adanya. Es kelapa muda di kios > ujung pasar, memang itu yang dia minta. Ia juga percaya bahwa kedua sahabat > si gadis tidak mengada-ada. Ia pernah mendengar cerita salah satu teman > kerjanya. Jika sang anak bisa masuk tiga besar, ia akan membelikan hp edisi > terbaru sebagai hadiahnya. Bahkan salah satu kakaknya berjanji akan > membelikan laptop jika sang anak bisa meraih peringkat pertama. Wajar saja, > selain dianggap baik oleh mereka, juga mereka mampu untuk membeli semua itu. > > Lelaki itu mengulang doa tidurnya. Ia berharap bisa segera tidur malam > itu.Tapi untuk kesekian kalinya, lelaki itu gagal memejamkan matanya. Ia > pandangi wajah lugu si gadis yang tertidur pulas di sampingnya. Dia betulkan > guling yang terlepas dari pelukan buah hatinya. Dia rapihkan rambut yang > menutupi wajah mungilnya. Sebuah rasa menyesaki rongga dadanya. Ia teringat > seraut wajah yang mirip sekali dengan gadis kecil di hadapannya. > > Biasanya, saat-saat bahagia seperti ini selalu mereka nikmati bertiga. Tapi > kini hanya berdua, ia dan gadis kecilnya. Lelaki itu berusaha keras > menghibur hatinya. Ia panjatkan doa untuk orang yang sangat dicintainya. > > Lelaki itu pandangi wajah polos itu dalam-dalam. Banyak pelajaran yang ia > dapatkan dari gadis kecilnya. Kesabaran, ketegaran, ketabahan, keikhlasan > dan juga kesederhanaan. *Kesederhanaan seorang juara*. Kesederhanaan yang > pernah ditunjukan oleh almarhumah, juara yang sesungguhnya. Tak pernah > mengeluh menghadapi ujian, juga tak menjadi tinggi hati kala berprestasi. > > Bagi anak seusianya, pada umumnya mendapatkan nilai terbaik adalah > kesempatan emas untuk memperoleh apapun yang ia inginkan dari kedua orang > tuanya. Tapi tidak dengannya. Ia tak meminta sepatu, tas atau baju baru. > Juga bukan boneka, sepeda ataupun hp multimedia seperti yang diminta > sahabatnya. Dia hanya minta dibelikan es kelapa, sesuatu yang bisa dia > dapatkan kapanpun tanpa harus menunggu menjadi juara. > > Lelaki itu tersenyum haru. Ada butiran hangat meleleh di ujung matanya. Dia > tahu persis kesederhanaan gadis kecilnya. Bukan kali ini saja, berkali-kali > ia belajar kesederhanaan padanya. Saat kenaikan kelas kemarin misalnya. > Meski kembali menjadi juara, si gadis hanya minta dibelikan sepuluh buku > tulis yang berisi 58 lembar. Ada beberapa mata pelajaran yang tak cukup lagi > jika masih menggunakan buku yang lebih tipis, itu alasannya. Juga ketika > ujian tengah semester beberapa waktu lalu. Meski dinyatakan sebagai siswa > berprestasi terbaik, si gadis hanya minta dibelikan sebuah bingkai photo > berukuran 10 R untuk memajang piagam yang diperolehnya. > > *Subhanallah, walhamdulillah!* Bibir lelaki itu bergetar. Tenggorokannya > terasa sakit untuk mengucapkan tasbih dan tahmid secara jelas. Rasa haru, > pilu, bahagia sekaligus bangga bercampur menjadi satu, memenuhi rongga > dadanya. Serangkai doa dia panjatkan untuk gadis kecilnya. Juga untuk > sesorang yang sangat dekat di hatinya. > > “ *Sayang, aku bangga padamu. Aku berterima kasih atas kesederhanaan yang > kau contohkan padaku. Tetaplah kau menjadi kebangganku, kebanggaan > almarhumah ibumu. Meski kita tak bisa melihatnya, di alam sana ibumu > tersenyum bahagia dan bangga padamu….*.” > > Penuh kasih sayang, lelaki itu mencium kening si gadis kecil yang sedang > terlelap. Wajahnya terlihat berseri, barangkali ia sedang bermimpi bertemu > orang yang sangat ia rindukan. Lelaki itu berharap bisa mendapatkan mimpi > yang sama. Sekali lagi ia ulangi doa tidurnya. Dia berbaring miring ke > kanan. Dalam hatinya, dia berharap malam itu Allah berkenan menganugerahinya > sebuah mimpi. Mimpi indah, seperti dulu ketika mereka masih utuh bersama. > > http://abisabila.blogspot.com > > -- > > >
