From: [email protected] [mailto:[email protected]] On Behalf Of Hery 
Latu
Sent: Wednesday, January 19, 2011 5:32 PM
To: STA 87
Subject: [STA-87] TERPILIHLAH PRESIDEN YANG PERNAH MISKIN  Cakep bener ni 
cerpen :) hehehe

Hery | coach
http://improconsult.biz
http://billionairez.bizTERPILIHLAH PRESIDEN YANG PERNAH 
MISKINhttp://posmasiahaan.com/cerpen/105-posma.html Saturday, 23 October 2010 
11:04 Posma            “Ya, sudah. Cukuplah sudah kita punya presiden yang tak 
pernah miskin. Bicara peduli wong cilik-wong cilik tapi program kerja negara 
dari tahun ke tahun peduli wong kayo melulu.” Kata pak Nowan, yang paling 
cerdas diantara para pemulung itu.            ”Jadi menurut pak nowan, gimana, 
toh?” Si Ipul si pengamen penasaran bertanya.            ”Jumlah kita wong 
miskin di negeri ini 35 juta orang. Itu yang sudah bisa memilih di pemilu 
kira-kira 20-25 juta orang. Itu di parlemen bisa dapat minimal 40-50 
perwakilan. Dengan menguasai 10% parlemen kita bisa atur anggaran negara yang 
selama ini menguntungkan wong kayo untuk berorientasi ke wong miskin..”Kata pak 
Nowan semangat, disambut tepuk tangan teman-temannya sesama pemulung pengamen, 
anak jalanan, pedagang
 asongan. Pengemis, tukang bakso, tukang parkir dan satpam pasar.            
Akhirnya di 17 Agustus 2012, di sebuah kampung kumuh pinggiran ibu kota, partai 
besar itu berdiri : PARTAI MISKIN! Seorang notaris yang bapaknya dulu petani 
miskin, secara sukarela mencatatkan nama partai itu, lalu 7 hari kemudian 
diuruskan ke Kementrian Hukum negeri Opini.            ”Ada-ada saja nih 
orang-orang. PARTAI MISKIN? Hahahahahaha. Berapa anggota partai anda?” 
tersenyum sinis si petugas menerima pendaftaran.            ” 53 juta orang 
diseluruh propinsi, seluruh kabupaten, seluruh kecamatan, seluruh desa!” Jawab 
pak nowan mantap.            Bukan hanya si petugas Kementerian Hukum yang 
terbelalak, segera setelah pencatatan itu dan dilakukan verifikasi, maka memang 
partai itu benar-benar punya kepengurusan di semua desa/kelurahan seluruh 
negeri. Semua rakyat yang masih merasa kurang makan, sandang dan perumahan
 mendaftar ke partai pimpinan pak Nowan ini. Dan ada 53 juta yang menyatakan 
siap mengubah negeri opini di 2014 menjadi negeri yang berpikir secara orang 
miskin.            Cara penyampaian informasinya pun tidak perlu muluk-muluk 
dan mahal. Dari mulut-ke mulut ide partai disampaikan, antar propinsi pakai 
surat, sms atau email. Lalu dengan uang iuran yang Cuma seribu per anggota, 
didapat modal awal 53 milyar. Ini digunakan untuk melengkapi perlengkapan 
partai dan biaya konsolidasi pengurus yang jalan ke sana-sini naik bus umum, 
becak, ojek, tetapi kalau mau ke pulau lain tetap harus naik 
pesawat.            Di 17 agustus tahun 2013, Partai Miskin makin menakutkan 
bagi partai-partai lama, karena semua kota, semua desa ada rumah yang memasang 
lambang partai miskin, yaitu baju compang-camping. 3 lembaga survey di negeri 
opini menunjukkan, kalau pemilu diadakan saat itu maka suara untuk Partai 
Miskin berkisar antara 32-35%. Dan ini
 semakin mengejutkan karena orang-orang kelas menengah yang kebanyakan golput 
di pemilu sebelumnya, lebih memutuskan memilih partai miskin daripada 
golput.            ”Saya senang dengan slogan dan program serta visi dan misi 
partai ini: Mari membangun negeri opini dengan pola pikir orang miskin. 
Pilihlah pemimpin yang pernah miskin. Jangan pilih orang kaya yang ngaku peduli 
orang miskin.” kata Indri, mahasiswi simpatisan Partai Miskin.            Dan 
akhirnya, tahun 2014, Juli pun tiba. Pemilu negeri opini pun akan dilakukan. 
Partai penguasa yang putus asa, karena orang miskin yang selama ini biasa 
disogok dengan sembako mulai cerdas, sembako diterima, tetapi tetap milihnya 
mau Partai Miskin. Akhirnya diaturlah bagaimana supaya kebanyakan orang miskin 
ini tidak dapat undangan atau tak terdata, seperti yang mereka lakukan selama 
ini dan memang mempengaruhi hasil pemilu, karena diduga sekirat 5 jutaan mata 
pilih orang miskin tak
 dapat undangan pemilu.            Tetapi dimanipulasi sedemikian rupa pun, 
Partai Miskin tetap menang dengan perolehan 65 juta suara dari 183 juta mata 
pilih, sekitar 36% kursi parlemen. Dan mereka menduduki 178 kursi dari 500 
parlemen.            Oktober 2014, Pada saat pemilihan presiden, Pak Nowan 
diusulkan Partai Miskin jadi presiden, tapi dia menolak.            ”Tujuan 
Partai Miskin didirikan tidak muluk-muluk. Kita ingin negara ini dibangun 
berorientasi ke rakyat miskin dan karena jumlah kemiskinan banyak itu tak 
pernah mau di hilangkan oleh partai-partai lama, malah hanya dimanfaatkan untuk 
dapat suara, makanya kita bikin Partai Miskin supaya suaranya satu. Untuk jadi 
presiden, lain lagi, perlu orang yang pintar diplomasi dan berwibawah. Kalau 
saya jujur aja belum bisa, kita di parlemen dulu saja. Kita pake batik saja pun 
batik murah, makan masih pake tangan, bahasa inggris gak bisa, mau ngobrol 
dengan tentera
 gak bisa. Kita perannya di pengawasan saja. Setuju?” Kata Pak Nowan 
menjelaskan ke rakyatnya.            Maka, walau parleman dikuasai orang-orang 
katrok bermuka hitam kumuh, telapak tangan kasar dan bersendal butut, tetapi 
presiden tetap dari orang kaya.            Anggota parlemen 178 orang dari 
Partai Miskin benar-benar dipilih partai dari yang berkepribadian sederhana. 
Mereka semua sepakat tetap hidup sederhana.  Gaji dan tunjangan anggota 
parlemen yang 100 jutaan/bulan, mereka pakai sendiri paling 10 jutaan, 90 
jutaan mereka bagi-bagi ke orang miskin di daerahnya.            Yang paling 
mencolok di negeri opini sejak sepertiga parlemen dikuasai Partai Miskin adalah 
anggaran belanja yang lebih ramping dan dominan ke pengentasan kemiskinan dan 
anti fasilitas. Program mercusuar pembangunan gedung ini-itu, even ini-itu 
tidak lolos. Study banding pejabat/parlemen ke luar negeri ditiadakan. Kalau 
mau belajar,
 disarankan lewat internet atau orang dari luar negeri datang ke negeri itu 
ngasih ceramah. Fasilitas mobil dinas, rumah dinas ditiadakan. Anggota parlemen 
dari Partai Miskin tetap tinggal di rumahnya, walau direhab dikit-dikit, dan 
kalau yang dari luar ibu kota, mereka ngontrak rumah susun tipe 36, atas biaya 
sendiri.            Yang membuat frustasi anggota parlemen partai lain adalah 
kegemaran orang Partai miskin melaporkan gratifikasi ke badan anti korupsi. 
Setiap ada rapat undang-undang atau fit and prover test yang biasanya dikasih 
amplop dari orang-orang yang berkepentingan, dengan lugunya mereka 
melaporkannya ke badan anti korup, sehingga anggota parlemen lainpun jadi 
diperiksa dengan lie detector dan yang tidak ngaku ditahan, lalu 
dipecat.            ”Kurang ajar benar orang-orang miskin itu. Kalau Cuma 
mengandalkan 100 juta sebulan, rugi aku jadi anggota parlemen. Ngarap uang-uang 
amplop inilah aku keluar 1 M kampanye.
 Gara-gara rombongan katrok itu lugu sekali melapor-laporkan amplop, aku gak 
bisa dapat apa-apa lagi. Enakan tetap jadi boss preman di kampungku, bisa 
kudapat 200 juta sebulan. Dasar sial jadi parlemen periode ini.” gerutuh si 
Oye, Boss preman yang menyogok 1 M ke partai pemenang tahun kemaren supaya 
masuk caleg jadi.             Dia pernah dikasih tau pengurus partai bahwa 
anggota parlemen itu penghasilannya tidak cuma gaji, tapi bisa jalan-jalan ke 
luar negeri, bisa minta jatah proyek, bisa dapat amplop untuk memuluskan 
undang-undang dan memilih orang-orang yang di fit prover test, bisa dapat uang 
terima kasih kalo bisa jadi calo anggaran daerah-daerah pemilihannya, dll. Jadi 
dengan menyogok 1 M ke partai, dan 1 M biaya kampanye bagi-bagi kaus-sembako, 
dia perkirakan bisa dapat 10-15 milyar setahun atau 50-75 milyar dalam 5 tahun. 
Tapi sejak Partai Miskin mendominasi parlemen, dalam 6 bulan pertama dia jadi 
anggota parlemen, dia Cuma
 makan dari gaji saja, Cuma dapat 600 juta, itupun sepertiga harus stor ke 
partai, tinggal 300 juta. Bisa dibayangkan geramnya dia betapa jauh panggang 
dari api.Dan perubahan besar pun terjadi, dalam 5 tahun negeri opini lebih 
berkembang pesat. Kapal perang dan alat pertahanan dibeli menghabiskan 50 
trilyun, dana yang selama ini dipakai untuk plesiran dijadikan membeli itu 
semua, membuat negara tetangga jadi segan dan tidak berani memprovokasi negeri 
opini lagi. Gaji tentara dan polisi dinaikkan, supaya negeri tambah aman. 
Program kerja yang banyak memerlukan tenaga kerja digalakkan. Pemberian 
beasiswa pada pemuda miskin yang pintar menggantikan anggaran untuk membeli 
mobil dinas pejabat. 50 trilyun yang biasa dipakai untuk acara seremonial 
ini-itu, untuk bikin baju-baju pejabat pun dipakai untuk bangun 100 rumah sakit 
Type A gratis untuk rakyat miskin.Bahkan peringatan 17 Agustus 2015, pertama 
kalinya pengibaran bendera dilakukan oleh 3 orang dari
 militer, tidak lagi oleh pasukan anak SMA yang dilatih 3 bulanan.”Milyaran 
dana keluar untuk hanya mengibarkan bendera. Bagus, tapi boros. Belum lagi 
mark-up dananya, belum lagi pelecehan-pelecehan anak-anak itu di camp oleh 
seniornya. Stop pasukan-pasukanan. Kibarkan biasa saja. Uang milyaran rupiah 
itu belikan krupuk biar dibagikan ke kampung-kampung untuk lomba makan krupuk. 
Setuju?”Kata pak Nowan. Anggota partai lain gak berani bantah. Udah habis suara 
mereka di parlemen karena dongkol.”Saya hanya mau bicara kalau ada uangnya. 
Kalau Cuma dapat segini di parlemen, mendingan aku diam saja, atau tidur..” 
Kata mereka.Tanpa terasa, 17 Agustus 2025, 10 tahun setelah Partai Miskin 
menguasai parlemen dan berhasil membuat pembangunan yang berorientasi ke rakyat 
miskin, maka jumlah orang miskin pun berkurang drastis tinggal 8 juta orang, 
tetapi pemilih Partai Miskin terus bertambah, dimana pemilu 2024 mereka 
memenangkan 52% parlemen. Dan pak Nowan,
 yang sudah 10 tahun di parlemen dan sudah mengerti bertatanegara yang baik pun 
terpilih jadi presiden.Di peringatan kemerdekaan negeri opini tahun ini pun pak 
Nowan memutuskan ikut mengibarkan bendera sendiri di dampingi ketua DPR Ipul si 
mantan pengamen dan Oye, mantan boss preman yang insyaf sebagai ketua MPR. 
Selesai mengibarkan bendera  si pemimpin besar, pak Nowan pun berpidato 
kenegaraan di tahun pertamanya.”Gaji saya sebagai presiden 120 juta, kebutuhan 
hidup saya sekeluarga cuma 30 an juta, itu pun karena saya terlanjur jadi 
pejabat. Masih ada 8 juta manusia di negeri ini yang untuk makan dan berpakaian 
setiap hari pun kekurangan. 90 juta sisa gaji saya sebulan akan saya kasih ke 8 
juta orang itu, minimal untuk beli beras. Lalu 5 tahun ke depan saya mau semua 
anggaran belanja negeri ini berorientasi supaya 8 juta orang miskin itu tidak 
miskin lagi. Dan kalau toh masih ada yang miskin, itu pun karena salah mereka 
sendiri, karena judi, karena
 boros, dan bukan karena tidak ada yang dimakan. Partai Miskin, walaupun tidak 
ada orang miskin lagi di negeri ini, tidak harus berganti nama dan visi-misi. 
Tetaplah berpikir secara orang miskin dan kenanglah, bahwa partai ini muncul 
karena pernah ada 30 an juta rakyat miskin di negeri opini yang sudah bosan 
janji-janji orang kaya, sehingga kita merasa perlu punya suara sendiri yang 
mewakili kita. Negeri opini sekarang sudah disegani dan kaya raya, tapi marilah 
kita semua tetap berpikir sebagai orang miskin, supaya kita tidak mau lagi 
miskin. MISKIN JANGAN DIPELIHARA!MERDEKA!” Tepuk riuh rendah bergemah di negeri 
itu, sebuah negeri yang sudah menjadi kekuatan ekonomi dunia, tetapi dipimpin 
oleh presiden yang pernah jadi orang miskin.


      

Kirim email ke