Hemm ni posmo apa kosmo yach?
________________________________ From: ruslan wiryadi <[email protected]> To: [email protected] Sent: Tue, February 15, 2011 11:22:10 PM Subject: Re: [sma1bks] Dialog itu mencerdaskan..... Salam buat bang Toby dan juga rekan-rekan alumni, Seorang yang belum pernah ke Jogya bertanya melalui email: kearah mana sih jika saya ingin ke Jogya? Maka bang Toby yang tinggal di Jakarta dengan yakinnya akan menjawab: "Pergilah kearah Timur!!!!" sementara saya yang tinggal di Bali akan menjawab: "Pergilah kearah Barat...!!!" Dan sebagai moderator bang Komar nimbrung dengan menulis: "lha kok untuk pertanyaan yang sama bisa ada dua jawaban yang bertolak belakang ya…?!" Bang Toby yang berprinsip bahwa kebenaran adalah hak miliknyalalu menulis lagi dalam emailnya: "Bang komar, kasihan tuh si Ruslan, ud tue bangka tapi kagak tau bahwa kalo ke Jogya itu di sebelah Timur, jadi males gue jawab email die!". Sementara saya yang berprinsip bahwa kebenaran bukanlah milik pribadi sendiri, tentu akan berpendapat "pastilah bang Toby memiliki jawaban yang lain dari saya karena dia melihatnya dari sudut pandang yang berbeda…!!! Disinilah terlihat perbedaan kita bersikap karena kita menerapkan konsep yang berbeda. (sangat jelas konsep pelepasan hak milik sudah dan bisa diterapkan oleh siapapun yang mau menerapkannya sebagaimana saya bersikap menghadapi perbedaan!!!!.) Konsep "pelepasan hak milik" membuat kita lebih bijak dalam menanggapi pendapat yang berbeda. Kita menjadi tidak tinggi hati dengan menganggap bahwa lawan bicara kita tidak ngerti maksud tersurat dan tersirat dari sebuah tulisan, menganggap lawan bicara tidak bisa mencerna kata-kata Gibran… menganggap perdebatan tidak bermutu dan karenanya merasa tidak memiliki waktu untuk mengupasnya lebih lanjut. Padahal tujuan sebuah polemik tentulah agar kita mendapat cakrawala baru, yang akan memperkaya pengetahuan kita. Dan mungkin akan mengkoreksi pendapat kita masing-masing menjadi lebih argumentative. Walaupun pada akhirnya (mungkin) setiap pihak tentu akan meyakini pendapatnya masing-masing…. Marilah kita beradu argumentasi, mengolah rasa, dan pikiran kita dengan topik yang terkait dalam pembicaraan, agar kita menjadi lebih cerdas, bukan dengan mengejek pribadi si penulis, yang dikhawatirkan (mungkin) bisa melukai perasaan dan menimbulkan sikap antipati. Jika ada kata-kata yang kurang jelas dan menimbulkan salah tafsir, tolong digarisbawahi, agar tidak terjadi prasangka: bahwa saya tidak mengerti maksud tulisan anda dan anda tidak mengerti maksud tulisan saya dan pembicaraan menjadi tidak produktif…. Hormat saya Ruslan Wiryadi '86 NB: maaf jika saya sebelumnya tidak tahu mesti panggil abang ato mbak karena saya iseng intip di facebook, nama Toby Fittivaldy diisi dengan foto profil seorang wanita.... apakah itu bukan akun facebook anda? --- Pada Sel, 15/2/11, Toby Fittivaldy <[email protected]> menulis: >Dari: Toby Fittivaldy <[email protected]> >Judul: Re: [sma1bks] Dialog itu mencerdaskan..... >Kepada: "Kirim Pesan" <[email protected]> >Tanggal: Selasa, 15 Februari, 2011, 6:55 AM > > > >Salam kenal juga bang ruslan… > >Sebenarnya aku kasihan sama abang.. karena konsep pelepasan hak milik itu >begitu >akut di jiwa abang… maaf kalau saya terlalu keras menyebutnya….Kalau secara >usia >aku sudah ga bisa ngomong apa-apa lagi… Untuk menjawab beberapa pertanyaan >yang >abang lontarkan saja aku agak malas, karena kalau aku baca secara tartil >(perlahan-lahan) pertanyaan itu sudah terjawab di email-ku sebelumnya… Mungkin >karena terburu-buru membacanya hingga abang ndak dapat memahami jawaban itu .. > > > >Bahkan bang ruslan sudah menjawab sendiri dalam email abang yang terakhir >bahwa >konsep pelepasan hak milik yang abang lontarkan itu ndak mungkin diterapkan … >dan buatku hal itu sudah menggugurkan konsep tersebut… dimana yang empunya >konsep mengakui bahwa konsepnya ndak bisa diterapkan… jadi maaf… abang seperti >ndak memahami tulisan sendiri…hehehe… kasihan aku melihatnya…Hanya saja semua >maknanya itu akan muncul…Jika email abang dibaca secara perlahan-lahan dan >berulang-ulang (tartil)… diawal abang begitu menggebu-gebu dengan konsep >abang… >hanya saja di paragraph hampir terakhir abang mengakui bahwa hal itu ndak >mungkin hehehe… > > >Aku jadi aneh dengan konsep yang jawabannya abang sendiri sudah tahu ndak >mungkin diterapkan…Kalau aku lihat dari sisi usia bang ruslan lebih senior … >dan >boleh jadi aku hanya sebagai anak baru lahir kemarin sore… > > >Sedangkan untuk pertanyaan-pertanyaan lain, aku pikir timbul karena konsep >awalnya tadi, jadi ndak perlu aku jawab juga. Kenapa? Karena konsepnya sudah >digugurkan oleh yang empunya konsep. Dan sebenarnya ga ada >pertanyaaan-pertanyaan itu kalau konsepnya sudah gugur (ndak ada)… > > > >Jadi sementara demikianlah jawabanku >Andaikata forum menginginkan hal tersebut di kupas secara detil… >Aku akan coba cari waktu untuk mengupasnya… > >Terima Kasih dan Salam hormat untuk semua… > > >Wassalam, > >TFI ‘94 (laki-laki tulen) > > >--- On Mon, 2/14/11, ruslan wiryadi <[email protected]> wrote: >From: ruslan wiryadi <[email protected]> >Subject: Re: [sma1bks] Dialog itu mencerdaskan..... >To: [email protected] >Date: Monday, February 14, 2011, 3:37 PM > >Salam kenal buat mas (mbak?) Toby… > >Lahirnya ide dasar dari konsep pelepasan hak milik yang saya lontarkan adalah >lebih merupakan untuk memberikan alternative jawaban ketika masing-masing >kelompok mempertahankan kebenaran menurut versinya masing-masing. Lebih >merupakan konsep untuk diterapkan kedalam diri sendiri agar output pemikiran >keluar lebih "lunak" dan tidak memonopoli bahwa kelompok lain harus memiliki >kebenaran yang sama dengan yang kita yakini. Karena diluar, ada >pemikiran-pemikiran yang berbeda. Dan tidak seorangpun berhak memagari suatu >kebenaran dan mengklaim sebagai miliknya. Untuk keyakinan akan kebenaran yang >kita anut, silahkan saja meyakininya masing-masing, toh orang lain yang >memiliki >keyakinan kebenaran berbeda tentu tidak akan ambil pusing selama kita >memakainya untuk diri sendiri. Dan seperti kata bang Komar (lagi-lagi bang >Komar neh… maklum sesepuhnya milis ini…hehehe…) “Toh di akherat nanti masing2 >orang ditanya dengan substansi atau ruhiyahnya sendiri-sendiri”… > > >Mungkin, karena cara berpikir saya yang weleh-weleh, sehingga sehingga mas >(mbak) Toby melihat saya tidak mencerna kata-kata Gibran. Kemampuan dan >pengetahuan saya tentulah tidak akan pernah dapat memahami dengan pasti apa >makna kata-kata puitis dari orang sekaliber Gibran. Apalagi kata-kata >tersebut >sudah merupakan terjemahan yang juga luar biasa putisnya. Penafsiran saya >akan >makna kata-kata tersebut ialah bahwa tulisan anakmu bukanlah milikmu, tentulah >terkait dengan eksistensi sang anak yang merupakan individu tersendiri yang >juga >merupakan ciptaan sang maha kuasa, sama seperti kita sang orang tua, dengan >posisi yang sejajar dihadapan sang pencipta, sehingga kita tidaklah boleh >merasa >"berhak" dan “memiliki” sang anak tersebut. Jika saya menafsirkan bahwa anak >adalah titipan Tuhan, saya khawatir tidak dapat menjawab pertanyaan mengapa >ada >pasutri yang memiliki anak dan mengapa ada yang tidak? Apakah yang memiliki >anak >berarti lebih dipercaya sementara yg tidak memiliki anak diragukan tanggung >jawabnya sehingga tidak layak dihadapan Tuhan untuk diberi anak? > > >Dan ketika saya mendidik, membesarkan dan menjadikan anak saya berprestasi di >sekolah, berguna bagi nusa bangsa, dsb… apakah itu karena saya sungguh-sungguh >demi menjaga titipan-Nya ataukah sesungguhnya semua saya lakukan demi >kebanggaan >ego saya sebagai orang tuanya? karena yang akan menikmati pujian dari prestasi >anak saya tentulah termasuk saya juga. > > >Demikian juga istrimu bukanlah milikmu, tentulah saya tidak bermaksud >memaknainya sebatas urusan tanggung-jawab lahiriah. Sama seperti memaknai >anakmu bukanlah milikmu, kata "bukanlah milikmu" lebih mengacu kepada hal yang >terkait dengan keberadaan istri sebagai individu yang sejajar dihadapan sang >pencipta, “istri itu bukan milik gue yang boleh gue apain aja”. Istri juga >bukan barang titipan yang seolah derajatnya lebih rendah dari yang dititipi. >(contoh soal yang ekstrim yang (maaf) mungkin kurang tepat, ini hanya sekedar >illustrasi saja: rasanya tidak masuk logika kalo saya menitipkan kucing kepada >kucing yang jelas-jelas sama derajatnya). > > >Lalu kalo semua melepaskan konsep hak milik jadi siapa yang benar? Dimana >pagarnya? Yang paling tepat menurut saya ya masing-masing memagari dirinya >sendiri karena semua sudah diberi tanggungjawab masing-masing oleh Sang >Pencipta. Ukurannya? Seperti yang bang toby bilang: ukurannya sudah jelas >ndak >ngambang… yaitu apa yang diturunkan oleh Pemilik Sebenarnya (Tuhan)… dsb…dsb… > > >Jadi terkait dengan kebenaran tidak perlu saya memagari istri, toh dia sudah >mengerti akan batas-batasnya, jika dia belum tahu ya diberitahu, tapi bukan >dipagari seolah dia adalah milik saya…. > > >NB: Bang Komar nanti saya kirimkan nomor hp saya via email pribadi, terima >kasih >ud menanggapi email saya dengan senyam senyum, itu jauh lebih baik ketimbang >ditanggapi dengan hati yang panas… hehehe… buat temen-temnen yang lain >ditunggu >juga komen dan pendapatnya biar saya dapat pencerahan karena mendapat >pandangan >dari sudut yang berbeda… > > >Ruslan Wiryadi > > >Toby Fittivaldy >Fis2 '94 > > > ________________________________ 8:00? 8:25? 8:40? Find a flick in no time >with theYahoo! Search movie showtime shortcut. ____________________________________________________________________________________ Finding fabulous fares is fun. Let Yahoo! FareChase search your favorite travel sites to find flight and hotel bargains. http://farechase.yahoo.com/promo-generic-14795097
