http://groups.yahoo.com/group/Muhammadiyah_Society/message/36489
Dear All,Berikut ini cerita ttg kegagalan RSBI versi Malaysia. Bangsa yang 
justru bahasa keduanya adalah bahasa Inggris. Nah…. Bisa anda bayangkan betapa 
RSBI akan segera menyusul kegagalan tetangga kita. Buat yang mau masukin 
anaknya ke RSBI…. Waspadalah … waspadalah (Bang Napi mode on ;))Cerita ini 
ditulis oleh seorang WNI yang jadi TKI sebagai Dosen di UTM. URL dari artikel 
saya sertakan di bawah.Nah silakan disimak.JR sta87Cerita Pengajaran MIPA 
dengan English di MalaysiaPosted on 11/08/2010 by decengBerdasarkan keputusan 
rapat kabinet pemerintah Malaysia pada bulan Juli 2002, diputuskan suatu 
langkah drastis dalam dunia pendidikan di Malaysia, yaitu penggunaan bahasa 
Inggris sebagai bahasa pengantar untuk pelajaran Matematika dan Sains pada 
semua tingkatan di pendidikan dasar dan menengah yang disebut PPSMI. Keputusan 
yang diumumkan oleh menteri pendidikan Musa Muhammad saat itu, menyatakan bahwa 
PPSMI mulai diterapkan pada tahun ajaran
 2003 (kalender pendidikan di Malaysia di mulai Januari tiap tahunnya). Artinya 
persiapan untuk pelaksanaan kebijakan ini sangat singkat, sekitar enam bulan 
saja.Salah satu alasan yang sering dikemukakan dalam kebijakan PPSMI ini adalah 
sedini mungkin generasi muda Malaysia memahami bahasa yang digunakan dalam 
bidang ilmu yang mendukung perkembangan teknologi (matematika dan sains). Empat 
tahun sebelumnya pemerintahan Mahathir ini sudah melakukan ujicoba model PPSMI 
ini dalam sekala kecil yang disebut dengan program Smart School (dalam bahasa 
Melayu disebut Sekolah Bestari) dimana sekitar 80 sekolah terlibat (pendidikan 
dasar dan menengah tersebar di berbagai pelosok Malaysia), dimana salah satu 
platform-nya adalah pengajaran MIPA dan English dengan bahasa Inggris.Menjelang 
pelaksanaan di awal 2003, terjadi kesibukan yang luar biasa di berbagai tempat 
untuk menyiapkan PPSMI ini. Pelatihan guru menjadi menu utama mengenai 
bagaimana mengajarkan sains dan
 matematika dalam Bahasa Inggris; yang dimulai secara bertahap di kelas 1, dan 
7. Proyek penerbitan buku teks pun tidak kalah seru, yang pada akhirnya model 
kompromi dijalani, yaitu digunakannya dua bahasa dalam buku teks siswa.  Untuk 
membuat guru semangat mengajar dalam bahasa Inggris, disiapkan juga insetif 
berupa honor tambahan bagi guru IPA dan Matematika yang diberikan langsung oleh 
pemerintah pusat.Pada awal kebijakan PPSMI dilaksanakan, para penentangnya 
sudah ramai-ramai menunjukkan berbagai dampak yang bakalan terjadi (tergerusnya 
identitas bahasa dan bangsa, penurunan pemahaman pelajaran sains dan matematik, 
menurunya prestasi pendidikan, ketidaksiapan guru dll). Namun memang tidak ada 
bukti empiris dan riset yang bisa menunjukkan hal itu pada tahapan ini. 
Kebijakan PPSMI di taraf awal ini kritikan yang datang adalah dijalankan tanpa 
mempertimbangkan perubahan berbagai regulasi yang berhubungan dengan politik 
bahasa nasional seperti mengenai
 bahasa pengantar di sekolah, buku teks dan ujian dll.Setelah dijalankan 
beberapa tahun, berbagai riset tentang pelaksanaan PPSMI ini menunjukkan hal 
yang kurang menguntungkan. Riset teranyaryang dilakukan dalam skala besar 
(melibatkan pakar dari sembilan universitas negeri disini dengan responden 
lebih dari 15 ribu siswa dan ratusan guru) PPSMI ini memang tidak menghasilkan 
apa yang diharapkan pencetusnya. Yang bisa ‘survive’ hanya siswa yang 
bersekolah yang berada di kota besar dan sekolah berasrama di kota (di Malaysia 
sekolah berasrama adalah sekolah elit dan selektif); jenis sekolah lainnya 
nyaris tanpa ampun terjadi degradasi penurunan mutu. Misalnya disebutkan jumlah 
siswa yang mendapatkan nilai tertinggi dalam ujian nasional Malaysia (UPSR di 
tingkat SD dan SPM di tingkat SMA) populasinya menurun [yang mendapat nilai A, 
yaitu sekitar 80% jawaban benar]; yang meningkat hanya populasi yang mendapat 
nilai C. Jurang prestasi antara siswa di kota
 besar dan daerah lain (kota kecil, desa dan pedalaman) pun makin besar. Yang 
mencemaskan bagi puak Melayu adalah, populasi siswa di kota besar yang 
berprestasi bagus itu mayoritas justru keturunan Cina dan bukannya 
bumiputera.Praktek yang terjadi di kelas pun, menurut riset tersebut, bukan 
menggunakan Inggris sebagai bahasa komunikasi, namun lebih pada menggunakan 
kata-kata Inggris dalam kalimat dan konteks ber-Bahasa Melayu. Hal yang wajar 
berhubung ketidakpahaman semantik memang berlanjut pada kegagalan syntax. Tidak 
aneh bahwa ini disimpulkan sebagai model kebijakan kontoversial yang sekaligus 
membasmi kemampuan berbahasa ibu (bahasa Melayu), Bahasa Inggris dan juga 
pemahaman siswa dalam sains dan matematik. Dijelaskan juga fakta yang bahwa 
guru-guru di Malaysia pada saat program ini dimulai, tahun 2003, memang tidak 
didisain untuk mengajarkan sains dan matematik dalam English, sehingga 
‘akrobat’ penggunaan English setiap hari terjadi di kelas
 sains dan matematik; yang tentunya membawa dampak membekas bagi siswa bahwa 
sains dan matematik sebagai pelajaran menakutkan dan susah dipahami.Pengalaman 
pribadi saya mengajar di universitas di Malaysia selama hampir dua tahun ini 
sebetulnya menunjukkan hal yang berbeda. Mahasiswa yang saya ajar adalah calon 
guru (S1) dan guru yang sedang bertugas (mahasiswa S2), kebanyakan mereka tidak 
kesulitan dalam hal memahami materi kuliah yang disampaikan dalam Bahasa 
Inggris (mendengarkan), membaca bahan kuliah, bahkan menulis  makalah dan 
laporan yang juga dalam English. Sesuatu yang mungkin berbeda jauh bila hal 
sama diterapkan di fakultas pendidikan di berbagai universitas di tanah air. 
Namun kemampuan English tersebut bila digunakan di kelas dalam menerangkan MIPA 
pada siswa membawa hasil yang berbeda; sepertinya memang bekal pendidikan dan 
latihan yang diberikan ke mereka tidak berdampak banyak dalam hal PPSMI 
ini.Data tambahan lain yang sulit dibantah
 dalam hal ‘kegagalan’ PPSMI ini adalah keikutsertaan Malaysia dalam TIMSS, 
yaitu test yang mengukur pencapaian prestasi siswa satu negara dalam Matematika 
dan Sains dibandingkan dengan negara peserta lain secara internasional. 
Malaysian mengikuti TIMSS pada tahun 2003 (pra-PPSMI) dan 2007 (setelah 
penerapan PPSMI); ternyata hasil prestasi siswa Malaysia menunjukkan penurunan 
yang paling drastis dibanding negara lain. Standar prestasi secara total 
menurun dari 6% (TIMSS 2003) ke 2% (TIMSS 2007); dalam pencapaian matematika 
menunjukkan hasil yang sangat kontras, dari ranking 10 (di tahun 2o03) yang 
menurun menjadi ranking 20 (tahun 2007).Di tengah berbagai gempuran kritik dan 
bukti empiris hasil riset, pemerintah Malaysia pada tahun 2009 akhirnya setuju 
untuk tidak melanjutkan PPSMI ini yang akan secara resmi berakhir pada tahun 
2012. Masa dua tahun lebih digunakan untuk mempersiapkan buku teks, revisi 
kurikulum maupun peningkatan profesionalisme
 guru-guru MIPA. Bahasa Inggris tetap wajib tapi hanya untuk tingkatan 
pra-univeristas ke atas. Penarikan kebijakan PPSMI ini menunjukkan akhir dari 
eksperimentasi sosial di Malaysia yang sangat mahal, mengubah secara drastis 
dunia pendidikan ternyata bukan urusan enteng.Gejala yang ada di Indonesia 
adalah justru sedang ke arah yang sebaliknya, khususnya
dalam program RSBI; dimana guru MIPA diarahkan untuk berkomunikasi dalam
English di kelas, menyiapkan administrasi pelajaran dalam English dan bahkan 
mengevalusi belajar siswanya pun dengan English. Kalau dibandingkan dengan 
persiapan implementasi PPSMI yang dilakukan di Malaysia, sangat terlihat 
bedanya; dimana tidak ada model penyiapan kebijakan yang lebih baik (training 
guru, buku teks, insetif khusus dll). Bahkan untuk mengukur kemampuan English 
guru pun di kita dilakukan tanpa riset memadai, yang langsung comot menggunakan 
TOEFL sebagai 
‘standar’.http://deceng2.wordpress.com/2010/08/11/cerita-pengajaran-mipa-dengan-english-di-malaysia/

Kirim email ke