http://www.muhammadiyah.or.id/id/news-164-detail-kearifan-lokal-tunjang-pendidikan-karakter.html
Kearifan Lokal Tunjang Pendidikan KarakterKamis, 05-05-2011Dibaca: 
266Malang- Seminar Pendidikan Karakter di UMM, Sabtu (30/04), mendapatkan 
perhatian dari berbagai pihak. Perbincangan dengan tema serupa nampaknya tak 
pernah berhenti. Apalagi paradoks-paradoks yang timbul akhir-akhir ini semakin 
kuat menggejala akibat kebijakan dan perilaku pemerintah yang justru kontra 
produktif dengan pendidikan karakter.

Lembaga Kebudayaan (LK) UMM, penyelenggara seminar tersebut, meyakini urgensi 
pendidikan karakter harus selalu disuarakan. Fenomena-fenomena kekerasan, 
kecurangan, korupsi, gaya hidup instan, merupakan gejala yang harus dijawab 
dengan membentuk karakter anak bangsa yang berahlak mulia. Pendidikan, tak 
hanya berhenti sebatas UN, pengajaran ilmu pengetahuan, lebih dari itu 
pendidikan adalah penanman nilai-nilai.

Demikian salah satu kesimpulan seminar yang menghadirkan tiga nara sumber 
utama, yakni Prof. Dr. Syafiq A Mughny, Prof. Dr. Tobroni, dan Prof. Dr. 
Suminto A Sayuti.

Ketua LK UMM, Dr. Sugiarti menjelaskan, seminar kali ini bertema pengembangan 
pendidikan karakter bangsa berbasis kearifan lokal. Tujuannya untuk menggali 
nilai-nilai lokal yang bisa dijadikan sebagai muatan pendidikan karakter.

Syafiq membeberkan keringnya budaya lokal akibat terlalu derasnya moderinme dan 
ketatnya memahami puritanisme. Modernisme mengikis budaya lokal menjadi 
kebarat-baratan, sedangkan puritanisme sering menganggap budaya sebagai praktik 
sinkretis yang harus dihindari. Padahal, menrurutnya, sepanjang tidak 
bertentangan dengan agama, budaya lokal harus selalu dibangun untuk 
membangkitkan karakter anak bangsa.

Ketua PP Muhammadiyah ini menyontohkan, ziarah kubur, merupakan praktik 
pendidikan karakter. Bukan untuk mengkultuskan kuburan atau menyembah makam, 
tetapi untuk mengingatkan akan kematian. “Itu artinya, semua hidup itu akan 
berakhir sehingga kita perlu mempersiapkan diri dengan ahlak yang baik,” kata 
mantan ketua PWM Jawa Timur ini.

Sementara itu, Tobroni menyoroti minimnya orang pintar yang baik. “Orang pintar 
banyak, tetapi sedikit yang baik,” katanya. Pendidikan, kata guru besar FAI 
UMM, ini tak hanya memenuhi tugas formalistis, pragmatisme, dan 
transaksionalisme saja. Sebab, jika demikian maka akan melupakan nilai-nilai 
moral, ahlak, budaya. “Etiket, sopan santun sudah banyak dilupakan,” ujarnya.

Di sisi lain, guru besar Universitas Negeri Jogjakarta, Suminto mengritik 
sistem pendidikan kita yang menjadikan UN sebagai pintu penentuan lulusan 
paling besar. Ini mengabaikan proses interaksi antara guru dan murid selama 
proses pembelajaran. “Ironisnya, gurupun ikut-ikutan mengajari kecurangan 
kepada murid dengan memberi jawaban ujian dengan berbagai cara. Bukankah ini 
merupakan pengingkaran terhadap pendidikan karakter,” tegasnya.

Lebih-lebih lagi, guru-guru saat ini lebih bangga dengan mengajar dengan gaya 
kebarat-baratan. Budaya lokal dilupakan, bahkan ajaran-ajaran Ki Hajar 
Dewantoro mulai tidak dikenal lagi.(umm.ac.id) 

Kirim email ke