http://groups.yahoo.com/group/warnaislam/message/11326
Pendidikan Kunci Kemajuan Bangsa

Oleh : Budi Handrianto



Tatkala Perang Dunia ke-2 usai, Jepang menderita kekalahan. Beberapa petinggi 
militer menghadap kaisar untuk melaporkan kekalahan tentaranya dan negara yang 
hancur porak poranda. Terjadilah pembicaraan di antara mereka. Kaisar bertanya, 
”Masih adakah prajurit kita?” Dijawab, ”Sudah habis, Kaisar.” Kaisar bertanya 
lagi, ”Adakah para panglima yang tersisa?” Dijawab, ”Sudah tidak ada, Kaisar. 
Sebagian terbunuh dalam perang, sebagian yang hidup melakukan harakiri.” 
Beberapa pertanyaan kaisar dijawab dengan kepesimisan karena semua potensi 
bangsa dianggap sudah hancur. Terakhir kaisar bertanya, ”Apakah guru masih ada 
?” Dijawab, ”Masih ada, Kaisar.” Kaisar pun berkata dengan penuh semangat, 
”Kalau begitu, mari kita bangun kembali negeri ini dengan para guru itu.”

Kurang dari sepuluh tahun kemudian Jepang sudah berhasil membangun ekonominya 
menjadi kekuatan dunia baru. Bahkan kemudian kita ketahui bersama Amerika 
Serikat yang dahulu mengalahkan Jepang dalam perang fisik sekarang secara 
ekonomi –terutama dalam dunia otomotif bertekuk lutut kepada Jepang. 
Mobil-mobil Jepang saat ini menguasai Amerika dan mengalahkan produsen-produsen 
mobil di sana.

Kisah lain, dituturkan Prof. Ahmad Tafsir, seorang Indonesia diajak 
berjalan-jalan di Tokyo oleh rekan Jepangnya. Ketika berada pada sebuah 
perempatan jalan, rekan Jepangnya ini menunduk dalam-dalam kurang lebih hampir 
satu menit. Penasaran dengan kejadian singkat itu orang Indonesia itupun 
bertanya mengapa. Ternyata rekan Jepang yang di sana menjabat posisi penting di 
pemerintahan, tadi sedang menunduk untuk menghormati gurunya yang tengah lewat.

Kedua kisah di atas menunjukkan bahwa dalam budaya Jepang guru dianggap mahluk 
yang mulia, setengah keturunan dewa. Guru –salah satu komponen penting dalam 
dunia pendidikan, dihargai luar biasa, termasuk diberikan kompensasi yang 
tinggi. Budaya seperti ini yang membentuk Jepang menjadi bangsa kuat yang mudah 
bangkit sepanjang guru masih ada di sana.

Keadaan serupa pula terjadi pada peradaban Islam masa lalu di mana--sekedar 
menyebutkan contoh--pada jaman Khalifah Al Makmum guru mendapatkan penghargaan 
luar biasa. Dalam acara-acara istana maupun kenegaraan, para guru duduk 
bersanding di sebelah khalifah. Bahkan buku-buku karya guru dihargai sejumlah 
emas yang ditimbang sama beratnya. Setiap perayaan ulang tahun khalifah, sang 
guru duduk di dekat khalifah, dan diumumkan di depan khalayak naskah tulisan 
terbaru sang guru. Pemerintah Al Makmum waktu itu mengeluarkan anggaran 
pendidikan untuk Madrasah Nizhamiyah di kota Baghdad, senilai hampir ekuivalen 
240 ton emas murni.

Kita dapat mengambil pelajaran bahwa bangsa yang maju pasti menunjukkan 
perhatian yang serius terhadap dunia pendidikan, wabil khusus pendidikan formal 
di sekolah. Bangsa yang mengabaikan atau kurang serius menangani masalah 
pendidikan biasanya menjadi bangsa yang tertinggal.

Pendidikan Sekolah

Posisi pendidikan sekolah menjadi sangat penting sekarang ini karena telah 
terjadi beberapa pergeseran budaya masyarakat. Teori pendidikan lama masih 
menyebutkan bahwa sistem pendidikan itu ada tiga yaitu pendidikan formal 
(sekolah), nonformal (kursus), dan informal (interaksi di luar sekolah atau 
biasa disederhanakan dengan pendidikan dalam masyarakat dan rumah tangga). 
Pendidikan sekolah bermaksud menjadikan murid pintar, pendidikan  non formal 
menjadikan murid trampil, pendidikan informal menjadikan murid berperangai baik 
(akhlakul karimah).

Namun sekarang ini telah terjadi pergeseran budaya akibat perkembangan 
teknologi dan globalisasi yang salah satu akibatnya adalah perubahan struktur 
kerja. Pendidikan informal di rumah telah kehilangan bentuknya, terutama di 
kota-kota besar. Kebanyakan orang tua, baik bapak maupun ibu di kota besar 
bekerja dalam waktu yang relatif lama. Orang tua pergi bekerja sebelum 
anak-anak bangun dan pulang ketika anak-anak sudah tidur. Pergi Senin pulang 
Sabtu, bahkan ada orang tua yang meninggalkan rumah (karena pekerjaan) awal 
bulan dan muncul lagi di rumah pada akhir bulan. Praktis pendidikan orang tua 
kepada anak sekarang ini sangat minim. Maka orang tua menyerahkan pendidikan 
anak 100% kepada lembaga pendidikan sekolah.

Oleh karena itu, pemerintah harus lebih serius dalam membangun sistem 
pendidikan sekolah. Sekolah harus mampu menampung pendidikan formal, non formal 
dan informal sekaligus. Tanggung jawab agar siswa menjadi pintar, juga trampil 
sekaligus berperangai bagus menjadi milik sekolah. Oleh karena itu perlu 
dikembangkan sistem pendidikan sekolah yang mampu melaksanakan tanggung jawab 
tersebut dan itu –tentunya, memakan biaya yang tidak sedikit.

Saat ini pemerintah baru (berniat) mengalokasikan sekitar 20% anggaran 
belanjanya untuk pendidikan. Sementara di Malaysia sudah sekitar 40%. 
Sarjana-sarjana di sana telah berhasil meyakinkan pemerintahnya bahwa investasi 
di bidang pendidikan sangat besar manfaatnya seperti meningkatkan kualitas SDM, 
menjaga keamanan bangsa, menjamin program pemerintah berjalan lancar dan 
sebagainya. Hal itulah yang menyebabkan Indonesia mempunyai daya saing yang 
rendah atau menempati urutan ke-40, jauh di bawah Malaysia yang menempati 
urutan ke-17.

Kenyataan di masyarakat sekarang ini kita dapati suatu adegium bahwa sekolah 
yang bagus adalah sekolah yang mahal. Atau sekolah yang mahal pasti bagus. 
Sebaliknya, sekolah murah pasti kurang bagus atau sekolah yang kurang bagus 
biasanya murah. Ketika berhadapan dengan pemikiran bahwa setiap warga negara 
harus mendapatkan pendidikan yang bagus, maka sebagai sintesis terhadap kedua 
hal di atas (setiap anak harus sekolah dan sekolah yang bagus pasti mahal) 
adalah dengan melakukan subsidi silang. Murid yang kaya mensubsidi murid yang 
miskin. Katakanlah, satu orang tua murid yang kaya membiayai tiga orang murid 
miskin sehingga semua bisa sekolah. Selain itu perlu dibuat badan-badan wakaf 
untuk membangun sekolah –tidak sekedar membangun masjid. Kondisi masyarakat 
selama ini akan sulit mendirikan sekolah ketimbang mendirikan masjid karena 
sebagian besar paradigma masyarakat beranggapan bahwa hanya membangun masjid 
yang mendapatkan pahala besar di akhirat.
 Padahal membangun sekolah, lab komputer, lab bahasa, perpustakaan dan 
sebagainya mendapatkan pahala yang besar juga jika diniatkan sebagaimana di 
atas.

Cara praktis yang lain adalah pemerintah turun tangan untuk menangani dan 
menghasilkan sebanyak mungkin sekolah bagus. Beban biaya yang dibutuhkan untuk 
menghasilkan sekolah bagus ditanggung oleh negara. Untuk itu alokasi APBN/APBD 
untuk pendidikan harus ditambah.

Pendidikan Karakter

Pendidikan yang menyebabkan suatu bangsa maju adalah pendidikan yang berbasis 
karakter bangsa. Tujuan pendidikan nasional haruslah mengacu pada karakter 
tersebut.  Dari undang-undang yang pernah dibuat selama ini yaitu UU tahun 
1947, 1950, 1954, 1967 (Tap MPR), UU No. 2/1989 dan terakhir UU No. 20/2003 
belum ada yang menyebut secara eksplisit pendidikan karakter atau nilai di 
dalamnya. Upaya dan beberapa kegiatan nasional berkaitan dengan pendidikan 
karakter sudah mulai banyak dilakukan, termasuk oleh Mendiknas baru-baru ini, 
namun hasilnya belum kelihatan. Perlu ada gerakan nasional yang masif dan 
didukung oleh instrumen perundang-undangan yang memadai.

Selama ini pendidikan karakter, nilai atau akhlak diserahkan hanya kepada guru 
agama. Tentu saja hal ini sangat kurang dan tidak efektif. Guru-guru lain 
kurang bisa memasukkan unsur nilai dalam pelajaran yang diajarkannya. Seperti 
ketika guru Biologi menjelaskan tentang tanaman dan tumbuhan, semestinya masuk 
di dalamnya pelajaran cinta dan bagaimana menjaga lingkungan hidup. Guru pun 
semestinya memberikan contoh langsung dari pelajarannya. Pendidikan karakter 
menghendaki adanya keteladanan dan pembiasaan. Kedua hal tersebut apabila 
diterapkan sudah membuat keberhasilan sekitar 60% dari proses pendidikan. 
Keteladanan, pembiasaan, dan motivasi harus sering diberikan oleh semua guru 
sehingga murid mendapatkan karakter atau akhlak seperti yang diinginkan.

Tentu masih banyak hal lain dalam dunia pendidikan yang perlu dibenahi dan 
dijadikan penekanan (stressing) dalam prosesnya. Namun jika pemerintah 
menseriusi salah satu saja untuk melangkah kepada perbaikan selanjutnya, itu 
sudah lebih dari cukup. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar. Kegagalan 
dalam pengelolaan pendidikanlah yang membuat bangsa ini tertinggal dan tidak 
mampu bersaing dengan dunia internasional.

Wallahu a'lam.

Kirim email ke