Kebanyakan sumber permasalahan adalah cara berkomunikasi!!!

http://nugon19.multiply.com/journal


-=-=-=-=-
http://www.vatih.com/efek-google-terhadap-daya-ingat-seseorang/


Efek Google Terhadap Daya Ingat Seseorang
Written by Vatih on his Opinion at 22 August 2011 - (146 views)
"..Cukup dengan membuka Google, dan semua yang dicari akan terlihat dengan 
rapi. Tidak perlu lagi mengeluarkan banyak biaya, tenaga, dan pikiran untuk 
menemukan hal-hal yang kita inginkan..."
Sebenarnya disini tidak hanya fokus membahas tentang efek dari sebuah teknologi 
bernama Google. Namun lebih luas terhadap Internet secara keseluruhan, tapi 
sepertinya kurang tepat juga kalau saya katakan “keseluruhan”. Ya, intinya 
kalau Anda berkenan membaca artikel ini, maka Anda akan tahu apa yang akan saya 
bahas di sini. Judul di atas hanya salah satu trik saya untuk meningkatkan SEO 
terhadap blog ini :peace: dengan mendompleng nama besar seperti Google, tentu 
sedikit banyak berpengaruh terhadap blog saya. CMIIW.
* * *
Well, cukup dengan membuka Google, kita bisa mencari informasi teman lama, 
menemukan artikel online, data buat menyusun makalah, bahkan skripsi, atau 
mencari informasi-informasi lainnya. Yang saya ketahui, kebanyakan orang 
(teman-teman saya) akan membuka Internet ketika dihadapkan pada 
pertanyaan-pertanyaan sulit. Berdasarkan beberapa sumber yang saya baca, mereka 
yang sudah ketergantungan dengan mesin pencari memiliki tingkat yang lebih 
rendah dalam mengingat informasi itu sendiri dan yang lebih diingat adalah di 
halaman mana ia mendapatkan informasi tersebut.
Contoh, ketika saya mencari informasi tentang “Optimasi kode PHP” misalnya, 
maka yang paling saya ingat adalah di website mana saya mendapatkan informasi 
tersebut. Jadi ketika saya lupa dengan beberapa poin penting yang ada dalam 
artikel dari suatu website, maka dengan otomatis memori otak akan bekerja 
dengan perintah “Dimana saya mendapatkan informasi ini?”. Kurang lebih seperti 
itu.
Internet telah menjadi memori eksternal atau transaktif, di mana informasi 
disimpan secara kolektif di luar diri kita. Efek horisontal dari aktifitas 
candu ini adalah menyusutnya ukuran otak yang disebabkan oleh jarang 
terpakainya otak dalam aktifitas normal sehari-hari (mengingat, berfikir, 
merumuskan masalah, dll). Adictive, kecanduan akan sebuah mesin pencari telah 
mengakibatkan seseorang untuk tidak menghargai sebuah ilmu.
Tentu hal ini sangat nyambung dengan latah manusia yang selalu merespon kata 
“gratis” atau “free”. Manusia era modern lebih menyukai hal-hal yang instant. 
Jadi, ketika Internet menawarkan yang gratis plus instant, dengan tanpa 
ba-bi-bu manusia akan menerima hal itu seutuhnya.
Teknologi diciptakan memang bertujuan untuk memudahkan, tapi bukan untuk 
membuat candu ataupun ketergantungan. Masalahnya adalah, kita tidak pernah 
sadar sepenuhnya ketika perlahan-lahan kita dibawa dalam garis kecanduan 
tersebut. Yang kita tahu tiba-tiba kita sudah berada dalam kubangan candu.
Mungkin, kecanduan Internet belum menjadi sebuah isu masalah besar tentang 
kesehatan untuk saat ini. Tapi, (menurut saya pribadi) suatu saat akan menjadi 
suatu hal yang bisa dijadikan alasan bagi seorang dokter untuk memberikan 
nasihatnya pada pasien yang datang pada mereka, untuk sekedar konsultasi 
(pencegahan) ataupun berobat (penyembuhan).
Tapi yang jelas, kecanduan Internet adalah perilaku berulang yang dilakukan 
untuk memuaskan keingintahuan. Bisa berupa informasi, notifikasi FB, respon 
atau tanggapan dari sebuah aktifitas (menulis) yang kita lakukan dalam sebuah 
komunitas di Internet (bisa blog, jejaring sosial, dll). Yang mana, ini dapat 
merusak kesehatan otak dan kehidupan seseorang secara perlahan. Terkadang untuk 
menghentikannya sangatlah sulit. Mungkin untuk sebagian besar orang, apa yang 
saya katakan dalam bentuk tulisan ini bukanlah suatu hal yang rasional. Saya 
mencoba maklum dengan Anda yang tidak sepakat dengan apa yang saya jabarkan. 
Tapi ada beberapa hal yang sepertinya perlu untuk pembaca ketahui, simak lebih 
lanjut tulisan ini.
Kemenciutan otak menurut beberapa sumber (yang Insya Allah terpercaya, 
referensi saya cantumkan dibagian bawah catatan ini) yang saya baca bisa 
berimbas pada berkurangnya daya pikir dan daya ingat manusia. Tiga orang 
ilmuwan dari Columbia University dan Harvard University mengungkap rahasia 
pengaruh Google terhadap kemampuan otak manusia untuk mengingat informasi.
Penetrasi internet yang sangat tinggi di negara-negara maju, dan populernya 
mesin pencari seperti Google dan Yahoo! menyebabkan informasi menjadi milik 
siapa saja. Siapapun, tak peduli umur dan tingkat pendidikannya, bisa 
mendapatkan informasi tak terbatas yang tersedia di dunia maya dan dihidangkan 
kepada kita melalui mesin-mesin pencari.
Untuk apa bersusah payah mengingat Informasi yang (katanya) ‘penting’ itu, jika 
suatu saat ketika dibutuhkan maka tinggal panggil Google? Alih-alih menyibukkan 
otak untuk mengingat sebuah informasi, lebih baik menyibukkan otak untuk 
aktifitas lain. Padahal kita tahu, bahwa salah satu olahraga untuk menstimulus 
otak adalah dengan meningkatkan daya ingat, menyerap informasi baik permanen 
ataupun semi-permanen. Dan apa yang terjadi ketika otak tidak dimanfaatkan 
untuk menyimpan informasi? Menciut.
Tiga orang peneliti dari Amerika yaitu Betsy Sparrow, Jenny Liu, dan Daniel 
Wegner melakukan eksperimen sederhana untuk melihat efek Google terhadap 
kemampuan mengingat otak manusia. Ada empat seri eksperimen yang dilakukan 
untuk menguji apakah otak manusia masih bisa menjalankan fungsinya untuk 
mengingat informasi jika otak kita tahu Google bisa menolongnya untuk mencari 
informasi yang dibutuhkan.
Dari serangkaian eksperimen tersebut mereka menjumpai indikasi bahwa otak 
manusia cenderung untuk melupakan informasi yang didapat jika mereka tahu 
internet akan dapat menolongnya untuk menemukan informasi itu di kemudian hari.
Para ilmuwan itu juga menemukan indikasi bahwa otak manusia akan mengingat 
lebih baik jika menyadari bahwa suatu informasi akan dihapus dan tidak disimpan 
di suatu tempat. Sebaliknya, otak akan mudah melupakan suatu informasi jika 
tahu bahwa informasi tadi tidak dihapus dan disimpan di suatu tempat. Dalam hal 
ini adalah Google, seperti yang sudah saya tulis di atas, sebagai alat 
penyimpanan informasi secara transaktif.
Dan akhirnya, juga ditemukan indikasi bahwa otak manusia kini lebih suka 
mengingat bagaimana mencari informasi yang dibutuhkan ketimbang mengingat 
informasi itu sendiri. Misalnya jika Anda ditanya “apakah negara yang memiliki 
hanya satu warna pada benderanya?”, saya yakin Anda akan segera mengetik di 
Google “country one color flag”. Jawabannya: Libya. Jika pertanyaan yang sama 
ditanyakan 5 tahun lagi, Anda mungkin sudah lupa jawabannya tetapi tidak lupa 
kata kunci yang digunakan untuk mencari informasi tersebut melalui Google.
Internet telah mengubah cara otak manusia berpikir. Informasi kini telah 
menjadi milik bersama secara kolektif dan bisa diakses kapanpun. Tidak ada lagi 
gambaran orang berpengetahuan seperti cerita-cerita klasik. Orang tua duduk di 
kursi dalam ruangan perpustakaan berdinding kayu dan dikelilingi ribuan buku.
Kini siapapun bisa menjadi orang berpengetahuan. Tidak perlu ribuan buku. Cukup 
seperangkat komputer (yang ukurannya semakin mengecil) yang terhubung dengan 
internet.
Konsekuensinya tentu saja manusia akan semakin pintar dari segi tereksposnya ia 
dengan pengetahuan (knowledge). Tetapi dari segi mengingat (memorizing), 
Internet telah mengubah cara otak bekerja. Manusia zaman kini semakin sedikit 
mengingat. Selain karena arus informasi yang semakin deras sehingga semakin 
susah untuk mengingat kesemua informasi itu, juga karena ketersediaan informasi 
secara instan melalui mesin pencari seperti Google.
Salah satu fungsi penting otak manusia adalah untuk mengingat. Jika manusia di 
masa kini dan masa depan semakin jarang mengingat informasi dan menyerahkan 
sepenuhnya pada Paman Google, apakah itu berarti di masa depan anak-cucu kita 
akan memiliki otak yang lebih kecil?
* * *
Internet mulai populer di Indonesia, baru beberapa tahun belakangan ini. 
Kisaran kuartal ke dua tahun 2008. Dan semakin membooming setelah Facebook 
membombardir Indonesia di awal tahun 2009.
Dulu, perpustakaan merupakan tempat yang populer bagi orang yang haus akan 
pengetahuan. Beberapa juga karena tuntutan dari pihak lain agar yang 
bersangkutan bergegas ke perpustakaan. Tetapi kini berbeda, orang tidak lagi 
perlu bersusah payah berjalan (atau mengendara) menuju perpustakaan. Cukup one 
click away, maka apa yang kita cari bisa tersaji tanpa perlu repot gono-gini.
Internet buka 24 jam nonstop. Tak perlu beranjak pergi. Internet seperti pasar 
bebas. Informasi apa saja yang kita cari, di Internet ada. Tak perlu repot 
menghampiri katalog buku di Gramedia ataupun Togamas dan merogoh koceg jika 
hanya sekedar mencari sejarah sebuah Negara, atau tentang biografi tokoh 
tertentu, atau tips kesehatan, dan lain-lain. Jangankan informasi bermanfaat, 
bahkan informasi ‘sampah’ pun banyak bertebaran di Internet. Berita hoax, 
konten pornografi, kalimat umpatan, konten kekerasan, menyerang pihak tertentu, 
dan lain-lain.
Apa solusi terbaiknya?
Hingga saat tulisan ini saya tulis pun, saya belum bisa menyimpulkan rumusan 
terbaik untuk sebuah solusi yang solutif terhadap permasalahan pelik (yang 
terlihat sederhana) ini. Namun yang pasti, kesadaran untuk mengubah pola 
mencari informasi perlu sedikit dirubah. Mindset bahwa “Segala informasi bisa 
didapatkan di Google” harus sedikit dirubah. Bukan hanya untuk mendapatkannya, 
tapi bagaimana caranya supaya informasi itu juga bisa masuk ke dalam memori 
otak kita, bukan sekedar sebagai angin lalu.
Kalau saya pribadi, saya memanfaatkan kebiasaan saya dalam menghafal Hadits dan 
Qur’an, setidaknya ini sedikit membantu saya dalam mengimbangi aktifitas saya 
dalam dunia Internet. Mempertahankan supaya otak saya tidak menciut, hehe.
Mungkin ini saja sedikit pengetahuan yang bisa saya bagikan. Semoga bermanfaat 
dan memberikan kita kesadaran dalam batas-batas dalam berfikir dan beramal. 
Bukan hanya untuk kita, tapi juga untuk generasi setelah kita.
Referensi yang pernah saya baca:
- http://www.sciencemag.org/content/333/6043/776.abstracthttp://www.psychologytoday.com/blog/therapy-matters/201107/the-google-effecthttp://www.ibtimes.com/articles/181620/20110716/google-effect-changes-to-our-brains.htm

Kirim email ke