artikel ini menarik, menampilkan sisi lain dari dunia TIK (Teknologi Informasi 
dan Komunikasi).
sekaligus menjelaskan kenapa vaksin dari beberapa virus bisa dengan sangat 
cepat dikembangkan....
ini bukan karena konsipirasi, tetapi melainkan karena kecanggihan Teknologi 
Informasi & Komputasi, Bank Data Senyawa Kimia dan Genom Virus yg begitu 
lengkap dan canggih.

Best Regards and Wassalam,




Nugon
 
Kebanyakan sumber permasalahan adalah cara berkomunikasi!!!


http://nugon19.multiply.com/journal

-=-=-=-

http://anax1a.pressmart.net/mediaindonesia/PUBLICATIONS/MI/MI/2011/10/25/ArticleHtmls/ENADE-PERDANA-ISTYASTONO-MERINTIS-KOMPUTASI-MEDISINAL-25102011015008.shtml?Mode=1


 ENADE PERDANA ISTYASTONO MERINTIS KOMPUTASI MEDISINAL
 
ARDI TERISTI HARDI     
        Article Rank      View entire edition      
  0digg             
 



Seorang ahli farmasi tidak identik bekerja dalam ruangan yang dipenuhi berbagai 
zat dengan aroma obat-obatan. Bisa juga ia hanya berhadapan dengan komputer. 
Dengan metode kimia komputasi medisinal, peneliti tinggal memodelkan senyawa 
itu dan memverifikasinya."


DI sebuah laboratorium seluas 2x4 meter, Enade Istyastono ter lihat tekun 
dengan komputernya. Siang itu ia sedang melakukan penelitian di bidang kimia 
komputasi medisinal. “Inilah ruang kerja saya,“ jelas dosen Universitas Sanata 
Dharma ini ketika ditemui di rumahnya di Jalan Pogung Lor, Yogyakarta, Kamis 
(20/10).


Walau mengaku sering menghabiskan waktu di lab yang terbilang mini itu, Enade 
mengaku nyaman dan merasa tidak membuatnya terasing dengan dunia luar. Di situ 
dia ditemani dua komputer dengan server yang terkontak ke server di Belanda 
untuk menyelesaikan penelitiannya tentang obat-obatan.
Seiring dengan kemajuan dunia farmasi, tentang risetnya itu Enande menjelaskan, 
keahlian komputasi medisinal semakin diperlukan. “Dengan cara ini, faktor 
coba-coba dalam penemuan obat dapat dihindari,“ ujarnya memberi alasan.

Memang, diakui atau tidak, sedikit orang bahkan peneliti tradisional melakukan 
cara coba-coba untuk mencipta obat tertentu. Dengan metode kimia komputasi, 
menurut Enade, penemuan obat yang lebih akurat akan lebih cepat karena faktor 
coba-coba bisa dihindari.
Ia mencontohkan, ketika wabah flu burung terjadi beberapa waktu lalu, yang juga 
menyerang Indonesia, ada yang beranggapan penyakit itu merupakan konspirasi 
dari dunia Barat.

Pasalnya, beberapa saat setelah flu burung terjadi, Novasite Pharmaceuticals 
dalam waktu relatif singkat menemukan senyawa obatnya.
Tapi anggapan itu terbukti tidak benar. Penemuan senyawa obat dengan cepat bisa 
dilakukan dan itu bukan hal mustahil.
Novasite bisa melakukan itu ka rena mereka mempunyai database senyawa yang 
sangat banyak.
“Dari puluhan tahun mereka beroperasi, mereka punya banyak database senyawa 
yang telah dikumpulkan,“ ujarnya. Sehingga, Novasite dengan cepat mengetahui 
target obat yang akan mereka cari, yaitu flu burung.

Dengan metode kimia komputasi medisinal, peneliti tinggal memodelkan senyawa 
tersebut dan memverifikasinya. Setelah berhasil, langsung berani meluncurkannya.

Inilah yang diidamkan Enade; hal itu bisa dilakukan di dalam negeri. 
Menurutnya, di Amerika dan Eropa, lingkup bidang ini sudah dikenal luas. Adapun 
di Indonesia, lingkup bidang yang saat ini didalaminya belum dikenal luas. “Di 
sini penerapannya untuk penemuan obat masih jarang, seringnya untuk formulasi.“
Berkat keahliannya itu, beberapa saat yang lalu Enade terpilih sebagai salah 
satu dari tiga orang yang berhasil mendapat penghargaan Timmerman Award tahun 
ini. “Saya menerima award ini atas penelitian molekul modeling,“ ungkapnya.

Penghargaan itu diberikan kepada peneliti muda yang bergerak di dunia kimia 
medisinal pada 15 Oktober di Universitas Airlangga, Surabaya. Menurutnya, ilmu 
yang tengah digelutinya ini sangat multidisipliner.

Bantuan komputer Dalam melakukan penelitian tak jarang Enade lebih banyak 
dibantu oleh komputer yang ia sebut computer-aided drug discovery and 
development (CADDD).

Melalui komputer itu ia bisa memodelkan berbagai molekul sebagai cikal bakal 
obat-obatan.

Dengan komputerisasi ini, seorang peneliti bisa tahu proses suatu senyawa bisa 
berinteraksi dengan tubuh. Misal dalam mengidentifikasi aktivitas tanam an 
obat, seperti kunir, peneliti bisa mengidentifikasi aktivitas senyawa tanaman 
tersebut dengan komputer.

Setelah mengetahui senyawasenyawa yang ada, kemudian difilter di komputer. 
Proses selanjutnya, tinggal dicocokkan dengan enzim-enzimnya yang kemudian 
menimbulkan aksi farmakologi untuk menjadi target obat. “Dengan cara ini, kita 
bisa tahu betul proses senyawa tersebut berinteraksi,“ ujarnya.
Penelitian dengan cara ini, yang terpenting adalah kelengkapan database 
senyawa. Sekarang lebih mudah melakukan penelitian ini karena sudah adanya 
human genome project. Proyek ini, terangnya, telah berhasil memetakan sebagian 
besar gen yang ada di manusia. “Berdasarkan protein data bank sudah ada sekitar 
76.500 struktur protein dalam tubuh kita yang sudah dikristalkan,“ ungkapnya.

Untuk struktur-struktur yang belum dikristalkan, seorang peneliti kimia 
komputasi medisinal bisa bereksperimen dengan komputer. Tentu saja, ia juga 
perlu berkolaborasi dengan farmakolog agar lebih valid soal struktur-struktur 
yang akan diprediksi.

Pernah suatu ketika, Enade meneliti estamin H4. Saat itu, ia berkolaborasi 
dengan farmakolog untuk memodelkan estamin H4. Setelah percaya dengan pemodelan 
senyawa tersebut, ia kemudian mengujinya dengan 6 senyawa yang ada dalam 
database yang dimiliki oleh zinc yang jumlahnya mencapai 13 juta senyawa.
Dari 13 juta senyawa, dilakukan proses penyeleksian dengan komputer dan 
akhirnya mengambil 23 senyawa yang cocok dengan protein tersebut.
Setelah diuji, dari 23 senyawa tersebut, ditemukan 6 yang aktif.

Dengan cara ini, seorang peneliti tidak perlu menguji 13 juta senyawa yang ada 
karena komputer telah membantunya dalam menyeleksi ke-13 juta senyawa yang ada. 
“Bisa dibayangkan betapa efektifnya cara ini,“ ungkap Enade memberi contoh.
Masih baru Di Indonesia, bidang yang digelutinya saat ini masih terbilang baru. 
Bahkan, perusahaan yang bergerak di bidang penemuan obat di negeri ini masih 
sangat sedikit.

Enade mengaku telah menawarkan hasil penelitiannya kepada salah satu perusahaan 
yang ada di sini. Namun, hingga sekarang, belum ada jawaban yang memuaskan dari 
perusahaan tersebut.

“Saya tidak tahu alasan mereka. Mungkin tidak menarik secara komersial,“ 
akunya. Menurutnya, komputasi medisinal ini masih baru sehingga yang skeptis 
pun masih banyak.

Untuk itu, ia bertekad akan terus memperkenalkan komputasi medisinal ini secara 
lebih luas. Di sela-sela menyelesaikan studi S-3, ia menyempatkan diri terus 
memperbarui informasi tentang komputasi medisinal yang ditulisnya dalam laman 
http://www.molmod.org.

Walau di dalam negeri sulit untuk mengembangkan ilmu ini, ia yakin dengan 
penelitian itu seorang peneliti bisa berperan di kancah internasional.
Enade mengaku ketertarikannya terhadap komputasi medisinal tidak lepas dari 
hobinya yang suka mengotak-atik komputer.
“Saya beruntung sejak kecil sudah mengenal komputer.“

Dalam dunia yang digeluti nya sekarang, ia mengungkapkan batasnya ialah 
kreativitas.

Alasannya, setiap orang mempunyai cara tersendiri dalam menyelesaikan masalah 
yang dihadapi, terutama dalam kimia komputasi medisinal.(M-1)

 [email protected] EMAIL
[email protected] 

  
 
 TOP Powered by Pressmart Media Ltd        

Kirim email ke