http://pmlseaepaper.pressmart.com/mediaindonesia/PUBLICATIONS/MI/MI/2011/11/07/PagePrint/07_11_2011_006.pdf Lapak Tambal Ban pun Berkurang BERBEKAL magnet besar yang diikat ke sebuah tongkat kayu, tujuh warga Jakarta yang tergabung dalam Komunitas Saber (singkatan dari sapu bersih),setiap hari menyusuri jalan dari daerah rumah mereka di Green Garden, Jakarta Barat, hingga Cempaka Putih, Jakarta Pusat. Hal yang mereka lakukansangatlah sederhana, yakni secara sukarela memunguti paku-paku yang ditebar sindikat penebar paku. Dan hasilnya, sejak komunitas itu didirikan tiga bulan lalu, jumlah paku terus berkurang di jalan-jalan yang selama ini dikenal rawan ranjau paku. “Sepertinya para penebar paku jadi jengah dengan kehadiran kami. Buktinya satu per satu tukang tambal ban menutup lapak mereka dan jumlah paku jadi berkurang,” papar Siswanto, 37, Ketua Komunitas Saber, dalam perbincangan dengan Media Indonesia, pekan lalu. Ketika hari beranjak gelap, sambungnya, ia dan anggota Saber lainnya, Abdul Rohim, 42, Abu Rizal, 37, Rochman, 50, Sanawi Aliwinoto, 41, Kwee Dolie, 36, dan Irwan Christianto, 32, mulai bergerak dengan menyusuri beberapa ruas jalan di wilayah Jakarta Barat dan Jakarta Pusat. Mereka memulai dari GreenGarden menuju ke Grogol, Roxy, Monumen Nasional, Istana Negara, Pasar Senen, Galur, hingga Cempaka Putih. Aktivitas pun berhenti menjelang subuh. Danhasilnya, rata-rata 1,5 kg paku per hari mereka bawa pulang. "Hahaha...Ini sihj sudah lumayan berkurang. Dulu waktu komunitas ini baru terbentuk, kami bisa dapat sampai 17 kg,” ujar Siswanto. Jika kondisinya masih bagus, paku-paku yang rata-rata berukuran 4-5 cm itu mereka jual ke toko bahan bangunan dengan harga Rp7.000 per kg. Namun, paku yang sudah bengkok, mereka kumpulkan saja tanpa tahu harus diapakan. Sejak didirikan pada 5 Agustus 2011, sedikitnya sudah 2 kuintal paku yang dikumpulkan Komunitas Saber. Dari kerja mereka hingga larut malam itu, pelan-pelan para relawan itu sudah dapat menebak siapa yang suka menebar paku dan kapan melakukan aksinya. “Biasanya para pelaku menebar paku di malam hari karena sedikit orang yang ada di jalan raya. Saya tidak perlu menyebut siapa pelakunya, tapi lihat saja, mulai dari kawasan Grogol, Roxy, sampai dengan Harmoni, yang hanya sepanjang 2 km, ada lebih dari 25 lapak tambal ban. Menurut saya itu tidak wajar,” ungkapnya. Aktivitas mereka pun mulai mendapat simpati, termasuk polisi yang sebelumnya hanya mendiamkan upaya mereka itu. Biasanya polisi cuek dengan kegiatan kami, ada paku di depan mata juga dibiarkan saja. Namun, sekarang polisi membantu mengamankan jalanan ketika kami sedang beroperasi. Mereka jugamemungut paku seperti kami. Di sini masyarakat dan aparat bahu-membahu.” (*/T-1)
