Renungan bersama pagi ini,

Salam,
Morry Infra
---------- Forwarded message ----------
From: ganis supriadi <[email protected]>
Date: 2011/12/12
Subject:  Fwd: Kisah Penjual Amplop di Depan Mesjid Salman ITB


---------- Forwarded message ----------
From: daengrusle <>
Date: 2011/12/12
Subject:  Kisah Penjual Amplop di Depan Mesjid Salman ITB


Share

http://m.facebook.com/photo.php?fbid=285016938201924&id=103134439723509&set=a.285016851535266.58504.103134439723509&refid=13



Kisah Penjual Amplop di Depan Mesjid Salman ITB

Setiap menuju ke Masjid Salman ITB untuk shalat Jumat, saya selalu melihat
seorang bapak tua yang duduk terpekur di depan dagangannya. Dia menjual
kertas amplop yang sudah dibungkus di dalam plastik. Sepintas barang
jualannya itu terasa “aneh” di antara pedagang lain yang memenuhi pasar
kaget di seputaran Jalan Ganesha setiap hari Jumat. Pedagang di pasar kaget
umumnya berjualan makanan, pakaian, DVD bajakan, barang mainan anak, sepatu
dan barang-barang asesori lainnya. Tentu agak aneh dia “nyempil” sendiri
menjual amplop, barang yang tidak terlalu dibutuhkan pada zaman yang serba
elektronis seperti saat ini. Masa kejayaan pengiriman surat secara
konvensional sudah berlalu, namun bapak itu tetap menjual amplop. Mungkin
bapak itu tidak mengikuti perkembangan zaman, apalagi perkembangan
teknologi informasi yang serba cepat dan instan, sehingga dia pikir masih
ada orang yang membutuhkan amplop untuk berkirim surat.

Kehadiran bapak tua dengan dagangannya yang tidak laku-laku itu menimbulkan
rasa iba. Siapa sih yang mau membeli amplopnya itu? Tidak satupun orang
yang lewat menuju masjid tertarik untuk membelinya. Lalu lalang orang yang
bergegas menuju masjid Salman seolah tidak mempedulikan kehadiran bapak tua
itu.

Kemarin ketika hendak shalat Jumat di Salman saya melihat bapak tua itu
lagi sedang duduk terpekur. Saya sudah berjanji akan membeli amplopnya itu
usai shalat, meskipun sebenarnya saya tidak terlalu membutuhkan benda
tersebut. Yach, sekedar ingin membantu bapak itu melariskan dagangannya.
Seusai shalat Jumat dan hendak kembali ke kantor, saya menghampiri bapak
tadi. Saya tanya berapa harga amplopnya dalam satu bungkusa plastik itu.
“Seribu”, jawabnya dengan suara lirih. Oh Tuhan, harga sebungkus amplop
yang isinnya sepuluh lembar itu hanya seribu rupiah? Uang sebesar itu hanya
cukup untuk membeli dua gorengan bala-bala pada pedagang gorengan di
dekatnya. Uang seribu rupiah yang tidak terlalu berarti bagi kita, tetapi
bagi bapak tua itu sangatlah berarti. Saya tercekat dan berusaha menahan
air mata keharuan mendengar harga yang sangat murah itu. “Saya beli ya pak,
sepuluh bungkus”, kata saya.

Bapak itu terlihat gembira karena saya membeli amplopnya dalam jumlah
banyak. Dia memasukkan sepuluh bungkus amplop yang isinya sepuluh lembar
per bungkusnya ke dalam bekas kotak amplop. Tangannya terlihat bergetar
ketika memasukkan bungkusan amplop ke dalam kotak.

Saya bertanya kembali kenapa dia menjual amplop semurah itu. Padahal kalau
kita membeli amplop di warung tidak mungkin dapat seratus rupiah satu.
Dengan uang seribu mungkin hanya dapat lima buah amplop. Bapak itu
menunjukkan kepada saya lembar kwitansi pembelian amplop di toko grosir.
Tertulis di kwitansi itu nota pembelian 10 bungkus amplop surat senilai
Rp7500. “Bapak cuma ambil sedikit”, lirihnya. Jadi, dia hanya mengambil
keuntungan Rp250 untuk satu bungkus amplop yang isinya 10 lembar itu. Saya
jadi terharu mendengar jawaban jujur si bapak tua. Jika pedagang nakal
‘menipu’ harga dengan menaikkan harga jual sehingga keuntungan
berlipat-lipat, bapak tua itu hanya mengambil keuntungan yang tidak
seberapa. Andaipun terjual sepuluh bungkus amplop saja keuntungannya tidak
sampai untuk membeli nasi bungkus di pinggir jalan. Siapalah orang yang mau
membeli amplop banyak-banyak pada zaman sekarang? Dalam sehari belum tentu
laku sepuluh bungkus saja, apalagi untuk dua puluh bungkus amplop agar
dapat membeli nasi.


Setelah selesai saya bayar Rp10.000 untuk sepuluh bungkus amplop, saya
kembali menuju kantor. Tidak lupa saya selipkan sedikit uang lebih buat
bapak tua itu untuk membeli makan siang. Si bapak tua menerima uang itu
dengan tangan bergetar sambil mengucapkan terima kasih dengan suara hampir
menangis. Saya segera bergegas pergi meninggalkannya karena mata ini sudah
tidak tahan untuk meluruhkan air mata. Sambil berjalan saya teringat status
seorang teman di facebook yang bunyinya begini: “bapak-bapak tua menjajakan
barang dagangan yang tak laku-laku, ibu-ibu tua yang duduk tepekur di depan
warungnya yang selalu sepi. Carilah alasan-alasan untuk membeli
barang-barang dari mereka, meski kita tidak membutuhkannya saat ini. Jangan
selalu beli barang di mal-mal dan toko-toko yang nyaman dan lengkap..”.



Si bapak tua penjual amplop adalah salah satu dari mereka, yaitu para
pedagang kaki lima yang barangnya tidak laku-laku. Cara paling mudah dan
sederhana untuk membantu mereka adalah bukan memberi mereka uang, tetapi
belilah jualan mereka atau pakailah jasa mereka. Meskipun barang-barang
yang dijual oleh mereka sedikit lebih mahal daripada harga di mal dan toko,
tetapi dengan membeli dagangan mereka insya Allah lebih banyak barokahnya,
karena secara tidak langsung kita telah membantu kelangsungan usaha dan
hidup mereka.

Dalam pandangan saya bapak tua itu lebih terhormat daripada pengemis yang
berkeliaran di masjid Salman, meminta-minta kepada orang yang lewat. Para
pengemis itu mengerahkan anak-anak untuk memancing iba para pejalan kaki.
Tetapi si bapak tua tidak mau mengemis, ia tetap kukuh berjualan amplop
yang keuntungannya tidak seberapa itu.

Di kantor saya amati lagi bungkusan amplop yang saya beli dari si bapak tua
tadi. Mungkin benar saya tidak terlalu membutuhkan amplop surat itu saat
ini, tetapi uang sepuluh ribu yang saya keluarkan tadi sangat dibutuhkan si
bapak tua.


Kotak amplop yang berisi 10 bungkus amplop tadi saya simpan di sudut meja
kerja. Siapa tahu nanti saya akan memerlukannya. Mungkin pada hari Jumat
pekan-pekan selanjutnya saya akan melihat si bapak tua berjualan kembali di
sana, duduk melamun di depan dagangannya yang tak laku-laku.


Oleh: Rinaldi Munir, Bandung

Kirim email ke