Jazakallahu atas sharingnya

Mengingatkan kita akan kondisi umat saat ini, terutama diindonesia. Umar dan 
Sophorinus saling menghormati dan toleransi, tetapi mereka bukan plurarisme. 

saat ini pluralisme di gadang2 sebagai doktrin yang paling benar padahal 
kenyataannya adalah racun bagi semua agama.

Saya suka bagian artikel ini......toleransi yes, pluralisme no.

".....Umar maupun Sophorinus tidak mungkin akan dinobatkan menjadi “Bapak 
pluralisme”. Sebab menghormati agama orang lain kini tidak memenuhi syarat 
toleransi. Toleransi kini ditambah maknanya menjadi menghormati dan mengimani 
kebenaran agama lain. Tapi “ini salah” kata Muhammad Lagenhausen. Kenneth R. 
Samples, pun sama “Ini penghinaan terhadap klaim kebenaran Kristen”. Biang 
keladinya adalah humanis sekuler yang ateis dan paham pluralisme agama (
The Challenge of Religious Pluralism, Christian Research Journal). Bagi saya 
toleransi model pluralisme ini adalah utopia keberagamaan liberal yang paling 
utopis.*....."



AriefK

Sent from my NerdBerry® freakz smartphone

-----Original Message-----
From: Nugroho Laison <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Mon, 19 Dec 2011 18:30:59 
To: Mualaf Indonesia<[email protected]>; SMA 1 
Bekasi<[email protected]>; Muhammadiyah 
Society<[email protected]>; WarnaIslam 
yahoogroups<[email protected]>; eramuslim 
yahoogroups<[email protected]>; Insistnet<[email protected]>; 
Alumni AnNabaa<[email protected]>; Alumni Majelis Taklim 
Alkhowarizmi<[email protected]>; Muslim 
Binus<[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Cc: Muhammadiyah Indonesia<[email protected]>
Subject: [sma1bks] Toleransi Umar

cerita menarik, melihat Yerusalem kini , dibandingkan dgn masa lalu.
 

Kebanyakan sumber permasalahan adalah cara berkomunikasi!!!


http://nugon19.multiply.com/journal


-=-=-=-=-


http://hidayatullah.com/read/20181/12/12/2011/toleransi-umar.html


Toleransi Umar



Senin, 12 Desember 2011 
Oleh: Dr Hamid Fahmy Zarkasyi



JIKA barometer toleransi abad 20 ini dideteksi di setiap penjuru dunia, maka 
Jerussalem mungkin adalah yang terburuk.
Pada akhir tahun 1987 saya sempat berkunjung ke kota Jerussalem lama. Kota kuno 
di atas bukit yang dikelilingi tembok raksasa itu menyimpan tempat suci utama 
tiga agama. Ketiganya adalah Masjid al-Aqsa, Wailing Wall (Dinding Ratapan) dan 
Gereja Holy Sepulchre (Kanisat al-Qiyamah). Di zaman modern tempat ini adalah 
daerah konflik yang paling menegangkan di dunia.

Ketika menapaki jalan-jalan di kota tua itu banyak perisiwa menegangkan. Saya 
menyaksikan seorang pendeta Katholik dan seorang rabbi Yahudi saling memaki dan 
sumpah serapah, nyaris saling bunuh.

Di lorong-lorong pasar saya melihat ceceran darah segar Yahudi dan Palestina. 
Di pintu masuk dinding ratapan saya bertemu seorang Yahudi Canada. Dengan 
pongah dan percaya diri dia teriak, "I come here to kill Muslims". Di pintu 
gerbang masjid Aqsa, seorang tentara Palestina menangis selamatkan masjid 
al-Aqsa! Selamatkan masjid al-Aqsa!

Namun jika deteksi toleransi itu dialihkan abad ke 7 dan seterusnya mungkin 
Jerussalem justru yang terbaik. Setidaknya sejak Muslim memimpin dan melindungi 
kota ini. Jika kita menelurusi lorong via dolorosa menuju Gereja Holy Sepulchre 
orang akan tersentak dengan bangunan masjid Umar. Masjid Umar itu terletak 
persis didepan gereja yang diyakini sebagai makam Jesus. Di situ semua sekte 
berhak melakukan kebaktian. Melihat lay-out dua bangunan tua ini orang akan 
segera berkhayal “ini pasti lambang konflik dimasa lalu”. Tapi khayalan itu 
ternyata salah. Fakta sejarah membuktikan masjid itu justru simbol toleransi.

Sejarahnya, umat Islam dibawah pimpinan Umar ibn Khattab mengambil alih 
kekuasaan Jerussalem dari penguasa Byzantium pada bulan Februari 638. Mungkin 
karena terkenal wibawa dan watak kerasnya Umar memasuki kota itu tanpa 
peperangan. Begitu Umar datang, Patriarch Sophronius, penguasa Jerussalem saat 
itu, segera “menyerahkan kunci” kota.

Syahdan diceritakan ketika Umar bersama Sophronius menginspeksi gereja tua itu 
ia ditawari shalat di dalam gereja. Tapi ia menolak dan berkata: “jika saya 
shalat di dalam, orang Islam sesudah saya akan menganggap ini milik mereka, 
hanya karena saya pernah shalat disitu”.

Umar kemudian mengambil batu dan melemparkannya keluar gereja. Ditempat batu 
itu jatuh ia kemudian melakukan shalat. Umar kemudian menjamin bahwa 
Gereja Holy Sepulchre tidak akan diambil atau dirusak pengikutnya, sampai 
kapanpun dan tetap terbuka untuk peribadatan umat Kristiani. Itulah toleransi 
Umar.
Toleransi ini kemudian diabadikan Umar dalam bentuk Piagam Perdamaian. Piagam 
yang dinamakan al-‘Uhda al-Umariyyah itu mirip dengan piagam Madinah. Dibawah 
kepemimpinan Umar non-Muslim dilindungi dan diatur hak serta kewajiban mereka.

Piagam itu di antaranya berisi sbb: Umar amir al-mu’minin memberi jaminan 
perlindungan bagi nyawa, keturunan, kekayaan, gereja dan salib, dan juga bagi 
orang-orang yang sakit dan sehat dari semua penganut agama.  Gereja mereka 
tidak akan diduduki, dirusak atau dirampas. Penduduk Ilia (maksudnya 
Jerussalem) harus membayar pajak (jizya) sebagaimana penduduk lainnya; dan 
seterusnya.

Sebagai ganti perlindungan terhadap diri, anak cucu, harta kekayaan, dan 
pengikutnya Sophorinus juga menyatakan jaminannya. “kami tidak akan mendirikan 
monastery, gereja, atau tempat pertapaan baru dikota dan pinggiran kota 
kami;..Kami juga akan menerima musafir Muslim kerumah kami dan memberi mereka 
makan dan tempat tinggal untuk tiga malam… kami tidak akan menggunakan ucapan 
selamat yang digunakan Muslim; kami tidak akan menjual minuman keras; kami 
tidak akan memasang salib … di jalan-jalan atau di pasar-pasar milik umat 
Islam”.  (lihat al-Tabari, Tarikh al-Umam wa al-Muluk; juga History of 
al-Tabari: The Caliphate of Umar b. al-Khattab Trans. Yohanan Fiedmann, Albany, 
1992, p. 191)

Bukan hanya itu. Salah satu poin dalam Piagam itu melarang Yahudi masuk ke 
wilayah Jerussalem. Ini atas usulan Sophorinus. Namun Umar meminta ini dihapus 
dan  Sophorinus pun setuju. Umar lalu mengundang 70 keluarga Yahudi dari 
Tiberias untuk tinggal di Jerussalam dan mendirikan synagogue. Konon Umar 
bahkan mengajak Sophorinus membersihkan synagog yang penuh dengan sampah. 
Itulah toleransi Umar.

Piagam Umar ternyata terus dilaksanakan dari sau khalifah ke khalifah lainnya. 
Umat Islam tetap menjadi juru damai antara Yahudi  dan Kristen serta antara 
sekte-sekte dalam Kristen. Ceritanya, karena sering terjadi perselisihan antar 
sekte di gereja Holy Sepulchre tentara Islam diminta berjaga-jaga di dalam 
gereja. Sama seperti Umar, para tentara juru damai itu pun ditawari shalat 
dalam gereja dan juga menolak. Untuk praktisnya mereka shalat dimana Umar dulu 
shalat.

Di tempat itulah kemudian Salahuddin al-Ayyubi pada tahun 1193, membangun 
masjid permanen. Jadi masjid Umar inilah saksi toleransi Islam di Jerussalem.
Namun, kini Jerussalem yang damai tinggal cerita lama. Belum ada jalan kembali 
menjadi kota toleransi. Lebih-lebih makna toleransi seperti dulu sudah mati 
oleh liberalisasi. Umar maupun Sophorinus tidak mungkin akan dinobatkan menjadi 
“Bapak pluralisme”. Sebab menghormati agama orang lain kini tidak memenuhi 
syarat toleransi. Toleransi kini ditambah maknanya menjadi menghormati dan 
mengimani kebenaran agama lain. Tapi “ini salah” kata Muhammad Lagenhausen. 
Kenneth R. Samples, pun sama “Ini penghinaan terhadap klaim kebenaran Kristen”. 
Biang keladinya adalah humanis sekuler yang ateis dan paham pluralisme agama 
(The Challenge of Religious Pluralism, Christian Research Journal). Bagi saya 
toleransi model pluralisme ini adalah utopia keberagamaan liberal yang paling 
utopis.*

Penulis adalah Direktur Program PKU ISID
Rep: Administrator
Red: Cholis Akbar

Kirim email ke