dari http://groups.yahoo.com/group/warnaislam/message/12014 dan http://groups.yahoo.com/group/warnaislam/message/12019

ada artikel yg merujuk 
ke http://sosbud.kompasiana.com/2011/12/24/jangan-ucapkan-%E2%80%9Cmerry-christmas%E2%80%9D-di-amerika/
di USA, orang merayakan Natal, tetapi kebanyakan salam yg diucapkan adalah 
Happy Holiday, karena ucapan utk selamat berlibur.
bukan ucapan utk merayakan perayaan agama.
hal ini pun dimaklumi oleh salah saudara saya yg Kristiani, karena memang 
faktanya di USA sendiri pun, orang Kristiani tdk sebanyak yg disangka orang. 

saya pun mengucapkan Happy Holiday kpd karib-kerabat dan sahabat yg Kristiani.
walau kadang masih dicomplain oleh beberapa orang, kenapa tdk mengucapkan Merry 
Christmas?
dan saya jawab dgn jelas dan tegas, saya tdk pernah meyakini dan mengimani Nabi 
Isa/Yesus sebagai Tuhan, makanya saya ucapkan Happy Holiday.

dan artikel dari rekan yg lain juga bagus...
kalo maksa ngucapin Merry Christmas pdhal tdk mengimani, berarti melatih orang 
utk tdj jujur.
bahkan ada artikel lain yg menantang, bgm kalau kita ucapkan Merry Christmas, 
tapi situ langsung ngucapin Syahadatain?!

ucapan kita mempunyai konsekuensi, maka ini harus dipahami oleh semua orang.
dan setiap orang harus berusaha melihat dari sisi keyakinan orang lain.
keragaman dan toleransi kita tdk luntur bila kita tdk memberikan ucapan selamat 
dlm konteks utk perayaan agama.
justru keragaman dan toleransi palsu yg muncul, bila kita menciptakan suasana 
memojokkan agar orang memberikan ucapan "selamat" atas perayaan agama lain yg 
bukan keyakinannya.

saya lebih peduli dgn membangun toleransi dan keragaman dgn cara sama-sama 
berusaha memahami keyakinan pihak lain, kaidah dasar dan batasan/larangannya..
lalu berupaya membuat sinergi, saling berinteraksi dgn baik, saling membantu, 
saling menghormat dan menghargai dgn memperhatikan batasan-batasan dari 
masing-masing keyakinan.

karena hal itu yg sekarang sangat dibutuhkan di Indonesia yg sedang didera 
banyaknya kekerasan dan kasus SARA...
membangun tradisi yg tulus dan luhur dlm bentuk kebaikan dan amal sholih nyata.
bukan terpaku pd seremoni perayaan dan simbol ucapan selamat merayakan 
peringatan agama lain.

mohon maaf bila kurang berkenan.

selamat menikmati artikel berikut.

Best Regards and Wassalam,



Nugon
 
Kebanyakan sumber permasalahan adalah cara berkomunikasi!!!


http://nugon19.multiply.com/journal


-=-=-=-


http://sosbud.kompasiana.com/2011/12/24/jangan-ucapkan-%E2%80%9Cmerry-christmas%E2%80%9D-di-amerika/

Jadikan Teman | Kirim Pesan
Api Sulistyo
Peminat tulis-menulis untuk berbagi informasi. Tinggal di Minneapolis, 
Minnesota, USA.
Jangan Ucapkan “Merry Christmas” di AmerikaHL | 24 December 2011 | 
07:461157 32  2 dari 3 Kompasianer menilai inspiratif
________________________________

Kartu ucapan yang kami terima dari teman dan keluarga

Mengucapkan ‘Merry Christmas’ ternyata tidak selalu berarti positif bagi yang 
diberi ucapan. Hal ini terjadi kalau si penerima ucapan tidak merayakan natal. 
Tetapi, bagaimana orang tahu kalau si pemerina ucapan tersebut tidak merayakan 
natal?

Orang Amerika semakin berhati-hati dalam mengucapkan selamat natal baik secara 
verbal, tertulis, atau lewat kartu ucapan supaya penerima ucapan tidak 
tersinggung. Mungkin situasinya sebanding dengan ucapan selamat ulang tahun 
kepada orang yang tidak merayakan ul-tahnya.

Kalau ucapan ini disampaikan secara umum, orang yang tidak merayakannya bisa 
merasa terabaikan. Seorang pembicara yang mengucapkan selamat natal kepada para 
hadirin akan dianggap tidak ‘inclusive’ atau merangkul semuanya kalau hannya 
menyampaikan, “Selamat natal”.

Latar belakang seperti menjadi salah satu alasan munculnya inisiatif 
dilakukannya ‘diversity inclusion’, suatu usaha oleh masyarakat, pemerintah, 
perusahaan, serta organisasi sosial, yang bertujuan untuk merangkul semua 
anggotanya yang berasal dari berbagai latar belakang budaya yang majemuk. 

Termasuk di dalam kemajemukan ini antara lain: ras, gender, warna kulit, agama, 
umur, dan orientasi seksual.

Kepekaan dalam mengucapkan selamat natal menjadi penting karena di sekitar 
natal dan tahun baru di Amerika ada dua perayaan lain yang perlu mendapatkan 
perhatian. Kedua perayaan ini adalah Hanukkah dan Kwanza.


Hanukkah
Rabu (12/21) saya menghadiri perayaan Hanukkah (Festival of Lights) di rumah 
Roger Hawkinson, paman istri saya. Salah satu anaknya, Olivia, punya darah 
campuran antara Jerman dan Yahudi. Olivia menikah dengan Sean Herstein dan 
mereka dikaruniai dua anak putri, Miriam dan Nava. Mereka tinggal di California 
dan saat ini berkunjung ke Minnesota untuk liburan dengan keluarga.

Ketika saya memasuki rumah Roger, saya mendengar nyanyian dalam bahasa Hibrani. 
Tentu saja saya tidak mengerti. Upacara ini tidak mempunyai struktur yang kaku. 
Para tamu datang, makan, dan mengobrol. Lebih terasa sebagai pertemuan keluarga.

Latkes, sajian perayaan Hanukkah
“Apa makanan utama untuk Hanukkah?” tanyaku kepada Sean setelah beberapa menit 
bertegur sapa. “Ini namanya Latkes.” Saya pernah makan latkes dan memang enak 
sekali. Latkes terbuat dari kentang yang diparut dan setelah dikasih bumbu, 
digoreng sampai matang. “Saya tidak membuatnya, tapi saya yang belanja” kata 
guru SMP di sekolah Yahudi ini.

Terhidang juga beberapa jenis makanan, buah-buahan, serta minuman segar. Tetapi 
saya tidak melihat daging, telur, dan minuman berlakohol di atas meja.

Pria yang selalu memakai yarmulke/kippah/kipa (topi kecil identitas orang 
Yahudi) ini juga menunjukkan menorah yang terletak di pojok ruangan dengan tiga 
lilin menyala. Menorah adalah tempat lilin (sinar) bercabang delapan. Setiap 
hari satu lilin dinyalakan. Cabang di tengah (kesembilan) disebut ‘lilin 
pembantu’ dan dipakai untuk menyalakan lilin lainnya.

Menorah dengan delapan cabang lilin.
Perayaan ini sebetulnya berlangsung selama delapan hari untuk menghormati 
keberhasilan rakyat Yahudi merebut kembali kuil (temple) mereka yang dirampas 
oleh penjajah di Syria pada abda 2 BCE (Before Common Era) atau yang kita kenal 
sebagai sebelum Masehi.
Menorah bercabang delapan ini merupakan lambang turun temurun masyarakat 
Yahudi, seperti halnya bintang raja Dawud (David). Bangunan yang dipakai untuk 
kegiatan masyarakat ini biasanya memiliki menorah di tembok depan dekat pintu 
masuk.

Di pojok ruang tamu saya melihat beberapa kartu ucapan yang dibuat oleh 
anak-anak. Kartu ini bertuliskan “Happy Hanukkah” dengan huruf warna-warni.


Kwanza
Diciptakan pada tahun 1966 Kwanza adalah upacara dengan tujuan memberikan 
pilihan lain kepada masyarakat kulit hitam di Amerika dan memberi kesempatan 
untuk merayakan sejarah serta diri mereka sendiri. Upacara yang dalam bahasa 
Swahili berarti buah yang pertama ini didirikan oleh Dr. Maulana Karenga. Ini 
salah satu website yang berbicara tentang 
Kwanza.http://www.officialkwanzaawebsite.org/index.shtml

Dr. Maulana Karenga, pencipta perayaan Kwanza. Foto dari internet.
Kwanza pada mulanya memang kurang inklusif karena banyak orang kulit hitam yang 
beragama Kristen. Kelompok ini merasa tidak ‘disapa’ oleh perayaan Kwanza. Pada 
tahun 1977 Dr. Maulana mengubah batasannya menjadi “Perayaan keluarga, 
masyarakat dan budaya.”

Mirip dengan Hanukkah, upacara bernafaskan Afrika ini dilakukan dengan 
menyalakan lilin Kinara bercabang tujuh. Setiap lilin menjadi simbol suatu 
prinsip hidup yaitu: Kesatuan, Keteguhan Hati, Gotong Royong dan 
Tanggung-jawab, Koperasi Ekonomi, Tujuan, dan Kreativitas.

Beberapa tahun yang lalu saya bekerja di sebuah perusahaan asuransi dalam 
bidang valueing differences (menghargai perbedaan). Khusus pada bulan Desember 
di bagian lobby kantor yang luas, kami pajang pohon natal, menorah, dan kinara 
dengan maksud semua karyawan terwakili dalam perayaan akhir tahun. Kami memang 
mendapatkan feedback yang positip dari karyawan kami.

Walaupun Kwanza berlatar kebudayaan Afrika, banyak orang Afrika tidak mengenal 
Kwanza. “Saya tidak mengenal kwanza” kata Onenee Saloka, teman kerja saya yang 
asli dari Nigeria Selatan. Teman yang bertanggung-jawab mengurus kartu 
identitas ini juga mengatakan ”Orang Afrika juga banyak tidak tahu kwanza. Saya 
mendengar tentang kwanza pertama kali di Amerika.”

Menyalakan lilin Kwanza. Foto dari internet.
Tentu saja masih ada bagian masyarakat Amerika lainnya yang tidak merayakan 
natal. Tetapi tidak semua dari mereka ini yang tersinggung atau merasa 
diabaikan oleh adanya ucapan ‘Merry Christmas.” Sebagai ganti dari “Merry 
Christmas” banyak orang Amerika merasa aman kalau mengucapkan “Happy Holidays” 
atau “Seasons Greeting”.

Setelah perayaan natal di gereja tentu saja adalah saat yang tepat untung 
mengucapkan “Merry Christmas” karena semua merayakannya. Pada situasi lain 
biasanya orang akan bertanya sebelum memberikan ucapan. Sering saya ditanya, 
“Anda merayakan natal?” Setelah tahu bahwa saya merayakan natal, penanya ini 
mengucapkan ‘Selamat natal”.

Era globalisasi telah merambah seluruh bumi. Kemajemukan masyarakat terjadi 
dimana-mana termasuk bangsa kita Indoneisa. Sudah selayaknya kemajemukan 
dimengerti dan syukur diterima. Sudah saatnya yang minoritas ‘diayomi’ untuk 
bisa mandiri dan yang tersisih dirangkul dan dihargai.

Kebesaran dan kedewasaan suatu bangsa bisa dilihat dari kemampuannya dalam 
menerima perbedaan, melindungi yang minoritas, dan merangkul serta melibatkan 
kaum marginal.

Semoga berguna dan “Happy Holidays” kepada para pembaca.


-=-=-=-

http://groups.yahoo.com/group/warnaislam/message/12019



Re: [warnaislam] Ucapan "Merry Christmas" di USA ... Re: [eramuslim] Re: Kenapa 
umat Nasrani haram mengunjungi kota Mekkah?

Muslim : bagaimana natalmu ?
David : baik, kau tidak mengucapkan selamat natal padaku ?
Muslim : tidak, agama kami menghargai toleransi antar agama, termasuk agamamu, 
tapi masalah ini, agama saya melarangnya..
David : tapi kenapa, bukankah hanya sekedar kata2 ? Teman muslimku yg lain, 
mengucapkannya padaku ?
Muslim : mungkin mereka belum mengetahuinya... David, kau bisa mengucapkan dua 
kalimat syahadat ?
David : oh tidak, saya tidak bisa mengucapkannya... Itu akan mengganggu 
kepercayaan saya...
Muslim : kenapa ? Bukankah hanya kata2 ? Ayo, ucapkanlah ;)...
David : sekarang, saya mengerti.. ;)

copas dari @zain pembebas

Kirim email ke