Pak Bapak dan Bu Ibu yang baik, Ada klarifikasi, Ternyata tulisan ini bukan tulisan Yudi Nurul Ihsan tapi tulisan Sultan Haidar Shamlan.
Yang empunya tulisan keberatan kalau tulisannya diaku punya Yudi Nurul Ihsan. Mungkin bisa di-forward ke yang lain juga. Wassalam, Morry Infra ---------- Forwarded message ---------- From: Syahrizal <[email protected]> Date: 2012/1/16 Subject: Fwd: [IATMI-ME] “Feinbild Islam – Zehn Thesen gegen Hass” (Potret Buruk Islam - Sepuluh Tesis Anti Kebencian") To: [email protected] Cc: [email protected], [email protected] Mas Morry, ini ada tanggapan dari kolega yang berkomunikasi langsung dengan yang empunya tulisan (sdr. Sultan Haidar Shamlan), yang berkeberatan klalau tulisannya di aku oleh Sdr. Yudi Nurul Ihsan. Demikian masukannya agar kita sama2 memahaminya. Wassalam Rizal ------------------------------------------------------------------ From: emryas imsak <[email protected]> Subject: Re: Potret Buruk Islam - Sepuluh Tesis Anti Kebencian To: "Syahrizal" <[email protected]> Date: Monday, January 16, 2012, 11:31 AM Salam teman-teman semua Pemilik artikel tsb bukan Yudi Nurul Ihsan, Mahasiswa Indonesia S3 di Jerman, tetapi Sultan Haidar Shamlan. Wassalam - Emryas, Note: jadi mohon beritahu Yudi Nurul Ihsan, bahwa itu perbuatan yang kurang pantas. Berikut email dia ke saya sbb : -------------------------------------------------------- assalaamu'alaykum Pak Emyras, alhamdulillah senang sekali, diizinkan berkenalan dengan Bapak. Semoga satu saat nanti kita bisa bertemu darat, insyaAllah. Benar, seperti yang dikatakan Dimas. Dari kawan-kawan saya juga mendapati kabar, bahwa artikel saya tersebut dicopy/"dibajak" oleh seseorang yang bernama Yudi Nurul Ihsan dan disebar kepada beberapa milis-milis. Saya pribadi sangat kecewa dengan prosesi pembajakan ini. Karenanya, saya akan sangat berterima kasih, sekiranya Pak Emryas juga menginformasikan dari milis atau kepada teman-teman (di mana artikel ini telah beredar), atas kejadian ini. Berikut adalah sumber aslinya: http://media.kompasiana.com/buku/2012/01/03/merobek-potret-hitam-islam-10-tesis-anti-kebencian/ yang tidak lama kemudian juga telah dimuat resmi oleh Hidayatullah: http://hidayatullah.com/read/20597/10/01/2012/barat-dan-islam:--dibutuhkan-penghargaan-tanpa-diskriminasi.html *** Buku Todenhöfer terbit di bulan November 2011 dalam bahasa Jerman. Di Amazon buku ini sudah bisa dipesan dan didapatkan. Bahkan sudah terdapat kindle edition-nya (e-book): http://www.amazon.de/Feindbild-Islam-Thesen-gegen-ebook/dp/B005JRH5LQ Saya belum mendapati buku ini dalam bahasa inggris. Sepertinya, saat ini sedang dalam proses penerjemahan. Saat ini juga sedang dalam proses penerjemahan ke dalam bahasa Indonesia. *** Sebagai informasi tambahan, buku ini adalah penyempurnaan dari buku beliau sebelumya "Warum tötest du, Zaid?", yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris ("Why do you kill, Zaid?"). Buku ini bisa juga didapatkan di amazon, dengan judul serupa. Buku ini memang sangat layak dibaca. Di dalamnya juga terdapat 10 tesis tersebut (yang secara bebas saya sebut, 10 Tesis Anti Kebencian). Banyak fakta dan data yang bisa dijadikan resensi. Di Jerman, buku ini pernah menjadi Bestseller. Wassalam - Sultan Haidar Shamlan, Saya kuliah di Darmstadt - Jerman di bidang Project Management. dan aktif di MER-C Jerman ------------------------------------------------------------------- From: Morry Infra <[email protected]> Subject: [IATMI-ME] Fwd: “Feinbild Islam – Zehn Thesen gegen Hass” (Potret Buruk Islam - Sepuluh Tesis Anti Kebencian") To: "Serba_KL Serba_KL" <[email protected]>, "muslim-kl" < [email protected]>, "im-KSA (Indonesian Moslems @ KSA)" < [email protected]>, [email protected], "ARII Drlg Milist" <[email protected]>, [email protected], "iatmi-saudi" <[email protected]> Date: Thursday, January 5, 2012, 3:26 PM ---------- Forwarded message ---------- From: *dudi mulyadi* <> Date: 2012/1/5 Subject: “Feinbild Islam – Zehn Thesen gegen Hass” (Potret Buruk Islam - Sepuluh Tesis Anti Kebencian") Buat pengetahuan kita, terutama untuk muslimin/muslimat. Saya merasa perlu untuk copas postingan ini, bukan untuk provokasi. Tetapi buat sekedar menambah pengetahuan. Mudah mudahan ada gunanya buat kita semua, terutama bagi yang belum sempat baca Semua berpulang atas kuasa dan kewenangan Allah semata. Kita hanya diperintahkan ikhtiar dan berfikir. Terimakasih Salam damai Dudi ----- Pesan yang Diteruskan ----- *Dari:* "Y@di" <> ** Alhamdulillah, aya oge nu ngumbah mutiara tina leutak. Nuhun Mang... Best Regards, -Yadi Supriadi Wendy- .: -----Original Message----- From: "mang jamal" <[email protected]<http://us.mc387.mail.yahoo.com/mc/[email protected]> > Kopas ti fb batur: Seorang politikus dari partai CDU (Kristen-Demokrat) yang pernah 18 tahun duduk di parlemen Jerman, Jürgen Todenhöfer, telah membaca Quran. Setelah membaca, mengamati dan berpikir, Todenhöfer menulis. Hasilnya: sebuah buku “Feinbild Islam – Zehn Thesen gegen Hass” (Potret Buruk Islam - Sepuluh Tesis Anti Kebencian"), yang terbit di akhir tahun 2011. Berikut ringkasannya: 1. Barat Lebih „Brutal“ dari Dunia Islam Todenhöfer, dalam tesis pertama, mengingatkan fakta sejarah yang sering terlupa di dua abad terakhir. Barat jauh lebih brutal daripada dunia Muslim. Jutaan warga sipil Arab tewas sejak kolonialisme dimulai. Atas nama kolonialisasi, Prancis pernah membunuh lebih dari dua juta penduduk sipil di Aljazair, dalam kurun waktu 130 tahun. Atas nama kolonialisasi, Italia pernah menggunakan phosphor dan gas mustard untuk menghabisi penduduk sipil di Libya. Atas nama kolonialisasi, Spanyol juga pernah menggunakan senajata kimia di Marokko. Tidak berbeda di era setelah perang dunia kedua. Dalam invansi perang Teluk kedua, semenjak tahun 2003, UNICEF menyebutkan, 1,5 juta penduduk sipil Irak terbunuh. Sepertiganya anak-anak. Tidak sedikit dari korban terkontaminasi amunisi uranium. Di Baghdad, hampir setiap rumah kehilangan satu anggota keluarganya. Sebaliknya, di dua abad terakhir, tidak satu pun negara islam menyerang, mengintervensi, mengkolonialisasi Barat. Perbandingan jumlah korban mati (dunia Islam: dunia Barat) adalah 10:1. Problema besar dunia, di dua abad belakangan ini, bukan kebrutalan Islam, tapi kebrutalan beberapa negara-negara Barat. 2. Mempromosikan Anti-Terorisme, Melahirkan Terorisme Terorisme jelas tidak dibenarkan. Menilik secara objektiv, terorisme justru lahir dari politik anti-terorisme Barat yang keliru. "Seorang pemuda muslim," tulis Todenhöfer, "yang secara rutin memantau berita di televisi, hari demi hari, tahun demi tahun, akan situasi di Irak, Afghanistan, Pakistan, Palestina dan di tempat lain, di mana perempuan, anak-anak dan penduduk sipil, dihabisi oleh Barat dengan brutal, justru diprovokasi untuk menjadi seorang teroris." Beruntung saja, sebagian besar pemuda islam tidak terpancing. Mereka memilih jalan yang berbeda. Di Tunisia, Mesir, Libya, Marokko, dan negara-negara muslim lainnya, mereka menjawab ketidak-adilan yang menimpa mereka melalui jalan demokrasi dan teriakan kebebasan, bukan teror dan kekerasan. 3. Terorisme: Fenomena Dunia, Bukan Fenomena Islam Pemeo favorit di setiap diskursi bertemakan terorisme: “Tidak setiap muslim teroris, tapi seluruh teroris adalah muslim.” Selain jauh dari benar, dengan data dan fakta, propaganda ini mudah dipatahkan. Data resmi Badan Kepolisian Eropa, Europol, menyebutkan: Dari 249 aksi teror di tahun 2010, hanya tiga yang pelakunya berlatar belakang Islam. Bukan 200, bukan 100 – tapi tiga! Data di tahun-tahun sebelumnya, juga tidak kalah mengejutkan: Dari 294 aksi terror di tahun 2009, hanya satu yang berlatar belakang Islam. Hanya satu dari 515 aksi teror di tahun 2008. Hanya empat dari 583 di tahun 2007. 4. Hukum Internasional untuk Semua Di hadapan hukum internasional, dunia Barat selalu mentematisir, dan merekam dengan baik, 3500 korban terorisme yang jatuh atas nama „teror-Islam“ semenjak pertengahan 1990-an (termasuk korban WTC, pada 11/9). Tapi mengapa ratusan-ribu warga sipil yang terbunuh dalam intervensi di Irak tidak pernah ditematisir? Lebih jauh, Todenhöfer bertanya kritis: “mengapa elite Barat, tidak pernah sekalipun menimbang; membawa George W. Bush dan Tony Blair ke hadapan mahkamah internasional, atas serangan sepihaknya ke Irak? Apakah hukum internasional hanya berlaku untuk orang-orang non-Barat?“ Perang, bukan jawaban untuk aksi-aksi terorisme. Perang, hanya manis untuk mereka yang tidak mengenalnya. Teroris yang membunuh orang-orang tidak berdosa, bukanlah pejuang kebebasan, bukan pahlawan, bukan pula syuhada. Mereka mengkhianati agama mereka. Mereka adalah pembunuh. 5. Muslim, Toleransi dan „Perang Suci“ Bukan Muslim, yang atas nama kolonialisasi membunuh 50 juta nyawa di seantero Afrika dan Asia. Bukan Muslim, yang atas nama perang dunia pertama dan kedua menghabiskan 70 juta nyawa. Bukan pula Muslim, yang menggencarkan genosida terhadap 6 juta orang-orang Yahudi. Islam tidak mengenal kata suci dalam kaitannya dengan perang. Jihad bermakna sungguh-sungguh di jalan Tuhan. Tidak ada satu tempat pun di Quran yang memaknakan jihad dengan perang suci. Karena perang tidak pernah suci, dan kesucian hanya ada di jalan perdamaian. 6. Kontekstual Quran dan Islam-Teroris Permasalahan besar dalam perdebatan Quran di dunia Barat, adalah setiap orang bernafsu membicarakannya, sangat-sangat sedikit yang pernah membacanya. Sebagian besar mereka tidak lagi rasional dan ilmiah. Hanya mengutip beberapa tekstual yang mengesankan islam pro “perang” tanpa pernah mau tahu konteksnya. Padahal pesan-pesan Quran yang dikesankan seperti itu, spesifik diterima Muhammad, dalam konteks perlawanan antara penduduk Mekkah dan Madinah, waktu itu. Seperti Musa dan Isa, Muhammad tidak dilahirkan pada situasi dunia yang sedang vakum, apalagi damai. Mereka hadir pada saat moralitas dunia bobrok, penuh perang, perjuangan dan perlawanan. Adalah sangat lumrah beberapa tekstual yang terkesan pro “perang” itu bisa ditemukan di Quran, semudah bisa ditemukan di kitab Perjanjian Lama dan kitab Perjanjian Baru. Secara semantis, diksi “islam-teroris”, “kristen-teroris” atau “yahudi-teroris” adalah sebuah penyesatan bahasa. Terorisme, menurut Todenhöfer, berdiri di atas instrumen setan, tidak boleh dikaitkan dengan kesucian Tuhan dan keagamaan. Memang benar, di dalam Islam, Kristen, atau Yahudi ada ideologi teror - tapi bukan ajaran agamanya. Ideologi ini tidak mengantarkan mereka ke surga, tapi ke neraka. 7. Fakta atau fake ? Kalimat andalan kritikus anti-Islam di barat: „siapa yang menginginkan panggilan azan terdengar di kota-kota kami, harus membiarkan juga lonceng gereja berbunyi di kota-kota mereka!" Padahal nyatanya: Di Teheran, semisal, berdiri banyak gereja. Loncengnya berbunyi tidak jarang, dan tidak pelan. Lebih jauh, anak-anak kristen memiliki pelajaran agamanya sendiri (sesuatu yang luxus untuk anak-anak muslim di Barat). Barat megidentifikasi jilbab sebagai simbol pengekangan dan ketertindasan. Dari survey resmi, wanita-wanita pemakai jilbab, yang begitu dipedulikan barat itu, justru berkata bukan (atas kesadaran pribadi). Sinisme jilbab, sebagian besar justru datang dari mereka yang tidak berjilbab dan anti-jilbab. Memaksa seseorang berjilbab, jelas menyalahi hak asasi. Tidak jauh berbeda, dari prosesi pemaksaan untuk melepasnya. Barat menuduh perempuan-perempuan islam tidak berpendidikan. Fakta dari dunia islam menjawab lain. Secara statistis, perempuan di negara-negara mayoritas islam, justru lebih berpendidikan dibanding Barat: 30% Profesor di Mesir perempuan, padahal di Jerman jumlahnya hanya sekitar 20%. Lebih dari 60% mahasiswa di Iran adalah perempuan. Di Uni Emirat Arab, sudah semenjak tahun 2007, mahasiswa perempuan menginjak angka yang sulit dipercaya: 77%. 8. Seorang Muslim = Seorang Yahudi = Seorang Kristen Tidak ada seorang bayi pun terlahir sebagai seorang teroris. Barat harus memperlakukan seorang Muslim, persis seperti seperti mereka memperlakukan seorang Kristen atau Yahudi. Tidak jarang kita dengar politikus dan aktivis Barat, demonstratif, mengumbar kalimat penuh kebencian terhadap Islam. Frank Graham, penasehat George W. Bush, menyebut Islam sebagai „agama iblis dan sihir”. Politikus kanan Belanda, Geert Wilders, menyebut Islam sebagai “agama fasis”. Thilo Sarrazin, politikus Jerman memberikan thesis: „secara genetis, anak-anak dari keluarga Islam, dilahirkan di bawah tingkat kecerdasan rata-rata.” Bayangkan sejenak, jika Frank Graham, Greet Wilders, dan Thilo Sarrazin mengganti objek tesis-nya bukan kepada "Islam", tetapi menjadi "Yahudi" atau “Kristen”. Tidakkah ucapan seperti itu akan menjadi badai kemarahan yang dahsyat? Mengapa Barat boleh mengatakan hal-hal penuh fasistik dan rassist terhadap Islam, yang justru di kalangan orang-orang Kristen dan Yahudi sesuatu yang tabu? Barat harus mengakhiri demonisasi Islam dan Muslim. 9. Muslim Melawan Teror Di tesis kesembilan, Todenhöfer mengajak umat Islam, melalui sebuah reformasi sosial, menjejak Nabi Muhammad yang berjuang untuk sebuah Islam yang beradab dan toleran. Untuk tatanan ekonomi dan politik yang dinamis, bukan statis – sambil mempertahankan identitas keagamaannya. Untuk persamaan yang penuh, pria dan wanita. Untuk kebebasan beragama yang nyata. Tidak seperti politikus umumnya, Muhammad, bukan seorang reaksioner. Dia adalah seorang revolusioner, berani berpikir dan berani mematahkan belenggu tradisi. Islam di masa Muhammad bukanlah agama stagnan, apalagi regresif, tetapi pembaruan dan perubahan. Muhammad berjuang untuk perubahan sosial, ia pahlawan orang miskin dan orang lemah. Dia mengangkat hak-hak kaum perempuan, yang di periode sebelumnya nyaris tidak ada. Muhammad bukan seorang fanatik atau seorang ekstrimis. Dia hanya ingin membawa orang-orang Arab, yang kala itu terjebak pada belenggu politeistik, untuk kembali ke sumber aslinya yang murni, agama Ibrahim, persis seperti yang disuarakan Musa dan Isa. Terorisme, yang berada di sekelumit dunia Islam pada hari ini adalah distorsi ajaran Muhammad. Ini adalah kejahatan melawan Islam. Dunia Islam tidak boleh membiarkan citra baik Islam, yang dibangun Muhammad 14 abad yang lalu, dihancurkan seketika oleh ideologi kriminal ini. Dunia Islam perlu memerangi ideologi terorisme ini, persis seperti Muhammad memerangi berhala-berhala dari periode pra-Islam. 10. Politik Bukan Perang Kalimat bijak pernah mengajarkan: "ketika kamu tidak bisa menaklukan musuhmu, peluk dia!" Masalah kompleks di Timur tengah, hanya bisa diselesaikan dengan jalur politik, bukan dengan perang. Barat harus membuka pintu diskusi yang lebih lebar untuk dunia Islam. Barat harus membuka ruang bilateral dan unilateral lebih besar untuk negara-negara Arab. Kesatuan dan stabilitas yang perah terjadi di Uni Eropa, nyatanya, tidak berdiri di atas invansi senjata, tapi di atas politik diplomatisasi yang penuh visi. Sebuah visi akan sebuah dunia, yang setiap negara di dalamnya dihargai. Sebuah penghargaan yang tanpa diskriminasi. Politik anti-diskriminasi yang dibangun di atas keadilan dan kebebasan, bukan perang, apalagi penindasan. ditulis Yudi Nurul Ihsan, Mahasiswa Indonesia S3 di Jerman (Powered by du'a indung bapa :)
