Menarik. Masalahnya klasik. Jadi ingat ada seloroh dikalangan pedagang 
biasanya. Kalo untung ngakunya kecil atau tipis, ngomongnya juga sambil 
bisik-bisik. Sebaliknya jika rugi ngakunya besar-besaran. Sambil teriak kalo 
bisa. Malah ada yang hiperbola, seakan dulu belum pernah merasakan keuntungan 
sama sekali.
 Begitulah perusahaan yang ada kebanyakan disini, terlebih pabrik. Perusahaan 
kalau untung tidak pernah cerita seberapa besar untung yang didapat, dan berapa 
besar bonus yang dibagikan ke karyawan/buruh (saya tulis pake garing supaya 
yang merasa karyawan itu juga sadar kalau masih termasuk buruh, terutama 
mengingatkan diri saya sendiri :D).
Jika ada gejolak untuk minta kenaikan upah, alasannya juga kuno, perusahaan 
tidak sanggup. Sementara buruh terus diperas untuk produksi dengan lot/target 
yang sudah ditentukan. Biasanya lot naik terus (dulu saya juga pernah jadi 
buruh pabrik) Kalau tidak selesai dipaksa lembur, kalau tidak mau lembur bisa 
kena sanksi. Shift satu sambung ke shift dua sudah jadi hal wajar. Itulah 
kenyataannya.
 Pengusaha atau perusahaan tidak mau transparan dalam hal kondisi perusahaan 
kecuali dalam kondisi rugi. Jika untung, sebagian besar keuntungan dibawa ke 
negeri para investor pabrik tersebut berasal. Di lain pihak, hingga pada suatu 
saat seperti demo kemarin, akhirnya buruh juga tidak mau tahu, apakah 
perusahaan sanggup membayar kenaikan upah atau tidak. Toh, kalau untung 
perusahaan juga diam-diam saja. Kenaikan gaji kalau belum keluar surat dari 
pemerintah tentang upah minimum, ya ga bakalan naik, meskipun tidak semuanya 
seperti itu, tapi umumnya demikian.
 Barangkali sekedar berbagi pemikiran, kalau ingin karyawan memahami kondisi 
perusahaan, tentunya share keuntungan pertahun itu perlu. Karyawan juga jadi 
sadar kondisi perusahaan. Ga cuma dibohong-bohongi kalau ekonomi sulit, untung 
tipis dan sebagainya. Katanya ga punya uang tapi kok bisa nambah gedung pabrik 
lagi disebelah.
Tentunya bakal ada pertanyaan, adakah contohnya? Sebuah role model. Perusahaan 
yang melaporkan keuntungan perusahaan kepada karyawan, pencapaian target dan 
akhirnya berpengaruh ke kenaikan status, termasuk kenaikan gaji dan bonus 
tahunan? Jawabnya ada. Malah milik anak bangsa sendiri dan cukup kuat. Dan 
usahanya terus berkembang. Karyawan/buruhnya juga ikutan peduli jika target 
tidak terpenuhi, karena akan juga berimbas ke kantong mereka. Mereka dengan 
seksama men check posisi agar bisa menjaga kualitas dan kuantitas produk yang 
dihasilkan. 
Contoh yang lumayan adil' kan?
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

-----Original Message-----
From: "Arief Kurniawan" <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Fri, 3 Feb 2012 22:23:42 
To: Milis SMA 1 Bekasi<[email protected]>; Milis Smunsasi 
99<[email protected]>; Milis Elektro Undip<[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Subject: [sma1bks] Fw: [Panther-Mania] OOT: Mendoakan Bangkrut

Dari kamar sebelah, semoga dapat menjadi cermin kita, sudahkah kita bersyukur 
dan adil terhadap orang lain?



------Original Message------
From: Ki Umbara
Sender: Milis PM
To: Milis PM
ReplyTo: Milis PM
Subject: [Panther-Mania] OOT: Mendoakan Bangkrut
Sent: Feb 3, 2012 11:09

  Beberapa hari lalu saya membaca sepotong kalimat yang diucapkan seorang 
menteri yang mendoakan agar para wirausaha cepat bangkrut.Padahal,dari 
Cikampek, Jawa Barat, kita mendengar sekitar 100 perusahaan anggota Apindo Jawa 
Barat dikabarkan menolak kenaikan upah buruh dengan alasan takut bangkrut.
 
Beberapa meter dari garis terdepan demo para buruh yang membuat jalan tol macet 
sejauh 30 km Jakarta–Cikampek, seorang teman terhimpit di antrean keempat. Ia 
baru saja pulang dari kegiatan memberi pelatihan kepada para dosen pengajar 
kewirausahaan di NTB bersama saya. Nahas, ia tiba hanya beberapa menit di garis 
depan sebelum jalan ditutup polisi dan ribuan buruh turun ke jalan. Ia tertahan 
10 jam kepanasan dan kelaparan. Tapi dari situ ia dapat wisdom. Di garis depan 
itu ia bisa menyaksikan sendiri bagaimana para buruh bergejolak. Sebagai 
wirausaha yang mempekerjakan lebih dari 100 orang di Bandung, tentu ia ingin 
mengetahuinya.
 
“Berapa sih kenaikan yang mereka minta,” ujarnya. “Tidak banyak,“ ucap seorang 
buruh.“Kami hanya minta naik seratus dua ratus ribu rupiah, tetapi susahnya 
minta ampun.” Dengan uang sebesar UMR banyak buruh yang merasa hidupnya serba 
pas-pasan. Di bawah itu, bangkrutlah. “Padahal di televisi setiap hari kami 
melihat orang-orang berbicara ‘em-em-an’,” katanya. Apalagi yang dimaksud kalau 
bukan renovasi ruang Banggar DPR, penggantian toilet para wakil rakyat, 
besarnya nilai cek pelawat, uang yang dicuri para koruptor, fasilitas yang 
dinikmati wakil-wakilnya di gedung parlemen, dan seterusnya.
 
Saya jadi teringat dengan tulisan rekan saya, Prof Sarlito Wirawan Sarwono, 
yang dimuat di harian ini beberapa hari lalu. “Rakyat Indonesia butuh keadilan, 
bukan hukum,” katanya. Psikolog sosial senior ini sangat benar. Masalah 
keadilan atau fairness kini mulai merembet ke mana-mana. Kalau para hakim, 
jaksa, polisi, wakil rakyat, dan pengacara argumentasinya hanya hukum positif 
saja, maka rakyat kecil yang tak punya uang selalu akan kalah dan dikalahkan 
oleh ketidakadilan. Karena ketidakadilan yang dirasakan itulah masyarakat akan 
melawan. Melawan dengan apa? Ya apa lagi kalau bukan dengan kekuatan massa, 
sebab hanya itu yang dimiliki rakyat kecil.
 
Bukan soal Hitungan
 
Di belakang para pengusaha ada seorang rekan lain yang turut menghitung angka 
kenaikan upah. Sebagai seorang ekonom ia melihat angka-angka secara rasional 
dan menyimpulkan besarnya kenaikan upah yang dituntut para buruh sudah tidak 
rasional. Secara teori tis sudah terlalu membebani. “Pengusaha bisa bangkrut 
kalau setiap tahun naiknya seperti ini,”ujarnya.
 
Teori ekonomi yang dilihat secara kuantitatif bisa jadi benar adanya, 
pendekatannya adalah rasional-ekonomi, hitung- hitungan yang logis. Tapi dari 
apa yang didengar rekan saya di garis depan di jalan tol saat ribuan buruh 
turun ke jalan, the bottom line is not about the logic. It’s the fairness. Rasa 
keadilan! Dan berbicara tentang keadilan, harus diakui, telah terjadi 
ketidakadilan yang sangat besar yang dialami oleh the lower class. Dan ini 
menurut saya sangat berbahaya bagi negara kesatuan yang kita cintai. Mereka 
yang telah berbuat tidak adil telah melepaskan rekatan-rekatan yang menyatukan, 
yang membuat hidup damai hilang sekejap.
 
Paradoks Kebangkrutan
 
Apa sih kata ekonomi yang paling ditakuti buruh dan pengusaha? Anda benar: 
“bangkrut”. Semua orang yang terlibat dalam kegiatan ekonomi hanya takut dengan 
kata ini. Seseorang yang bangkrut akan memiliki catatan hitam di Bank Indonesia 
dan namanya muncul setiap saat berurusan dengan perbankan. Ia tak akan bisa 
mengurus kartu kredit, menjadi pimpinan bank, atau melakukan 
transaksi-transaksi tertentu. Buruh juga takut bangkrut, tak bisa bekerja dan 
memberi makan keluarga.
 
Perusahaan lebih senang mempekerjakan tenaga-tenaga yang lebih muda dan tak 
pernah terlibat masalah dengan tempatnya bekerja. Kalau pernah di-PHK, meski 
dapat pesangon besar, selalu ada pertanyaan dari HRD dan bisa jadi 
dinomorduakan dalam rekrutmen. Namun di balik itu semua, kesulitan yang 
dihadapi seseorang dalam kegiatan ekonomi ternyata bisa menjadi modal penting 
untuk bangkit kembali. Barry Griswell dan Bob Jennings yang mengkaji 200 
biografi orang-orang yang berhasil menemukan ternyata orang-orang itu pernah 
mengalami kebangkrutan.
 
Maka saya jadi tersenyum saat membaca berita bagaimana Menteri Dahlan Iskan 
mengocok komunitas TDA minggu lalu dengan mendoakan agar wirausaha- wirausaha 
muda cepat bangkrut atau tidak takut dengan bangkrut. Bangkrut adalah titik 
terendah dan paling menakutkan. Namun kalau tidak pernah menyentuh the rock 
bottom, bagaimana Anda bisa naik kembali? Sebuah bola tenis yang jatuh tak akan 
bounce (membal) hanya karena menyentuh angin.
 
Ia harus menyentuh dasar yang keras untuk melenting naik ke atas. Itu yang 
disebut adversity paradox. Dengan bekal itu,Walt Disney bangkit. Juga Dale 
Carnegy yang bukunya kini menjadi pedoman orang-orang yang mau bangkit. Anda 
juga bisa melihat pada Susi Pujiastuti, mantan bakul ikan di Cilacap yang kini 
armada Susi Air-nya ada di hampir semua bandara di pelosok Nusantara. Atau 
Chris Gardner yang kisah kebangkrutan dan kebangkitannya dapat dilihat dalam 
film The Pursuit of Happiness yang dibintangi oleh Will Smith (2006). Di 
Harvard, lima tahun lalu, Prof Michael Porter mengingatkan Indonesia.
 
“Upah murah bukanlah industrial policy yang sehat.Setiap negara harus berjuang 
agar buruh dan bangsanya menjadi kaya,bukan berupah rendah,”ujarnya. Itu 
sebabnya Indonesia masih harus bekerja lebih keras dan lebih kreatif lagi. 
Kalau cuma main pungut atau tebang, itu bukan kreatif namanya. Kita baru cuma 
bisa mengeruk isi perut bumi atau menebang pohon. Supaya menjadi bangsa yang 
sejahtera, kita harus berani jadi bangsa yang kaya. Dan untuk itu tak ada 
substitusi bagi kerja keras dan bertindak adil. Ayo,jangan takut bangkrut!
 
RHENALD KASALI
Guru Besar Universitas Indonesia
http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/465933/34/
 
 
Ki Umbara PM134 - Spesialis Panther 18 Penumpang Siap Wushhh To JAMNAS 2012 Euy!
 
AriefK

Sent from my NerdBerry® freakz smartphone

Kirim email ke