Tahun 1950 RI ngerubah dari 6 zona waktu ke 3 zona waktu...
Dan tahun 1997... RI ngerubah sebagian daerah yang di WITA jadi WIB...

Tahun ini mungkin  WIB, WITA dan WIT bersatu dalam satu waktu... *GMT+8*

Wah, jadi juga ngikutin waktunya Malaysia dan Singapore...
Jadi secara resmi *GMT+7* memang cuma punya *Bangkok*...  setelah terus
bersaing bertahun2 lamanya dengan Jakarta...he..he.e.e.e.

Singapore begitu memisahkan diri dengan Malaysia langsung pakai waktu yang
sama dengan Hongkong *GMT+8*
Malaysia tahun 1982 juga menyatukan Peninsular dengan Malaysia bagian Timur
(Sabah dan Sarawak) jadi satu waktu *GMT+8*... ya niru Singapore.....
Alasannya persatuan dan...... business oriented.... miriplah dengan alasan
RI saat ini....

Mudah2-an memang untuk kebaikan dan jadi lebih baik... amien....


Salam,
Morry Infra*


*
http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2012/03/10/16064769/Wilayah.Waktu.Indonesia.Akan.Disatukan
*
*
*Wilayah Waktu Indonesia Akan Disatukan*
 Ester Meryana | I Made Asdhiana | Sabtu, 10 Maret 2012 | 16:06 WIB

  Peta Indonesia

*BOGOR, KOMPAS.com* — Pemerintah berencana menyatukan wilayah waktu
Indonesia yang sekarang ini dibagi menjadi tiga zona waktu, yaitu Waktu
Indonesia bagian Barat (WIB), Tengah (Wita), dan Timur (WIT). Rencananya,
pemerintah akan memakai Wita sebagai patokan. Hal ini dilakukan, di
antaranya, demi efisiensi birokrasi dan peningkatan daya saing ekonomi.

"(Penyatuan waktu) untuk (peningkatan)* national productivity* yang tadinya
kita hanya 190 juta penduduk yang jamnya sama (dalam zona WIB) sekarang 240
juta penduduk," sebut Edib Muslim, Kadiv Humas dan Promosi KP3EI (Komite
Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia), dalam workshop
internalisasi MP3EI kepada insan pers, di Bogor, Sabtu (10/3/2012).

Sekarang ini, Indonesia terbagi dalam tiga zona waktu. Selisih antara zona
waktu yakni satu jam. Ini dinilai pemerintah tidak efektif, misalnya, dalam
waktu dagang antara dunia usaha di zona WIT dan WIB. Perhitungan KP3EI,
jika jam transaksi perdagangan umum di Jakarta dimulai pukul 09.00 WIB dan
berakhir pukul 17.00 WIB, maka waktu efektif berdagang antara dunia usaha
di WIT dan WIB hanya 4 jam.

Oleh karena itu, kata Edib Muslim, penyatuan waktu dilakukan demi mendorong
peningkatan kinerja birokrasi dari Sabang hingga Merauke. Hal yang menjadi
bagian dalam kerangka kerja KP3EI ini juga dimaksudkan untuk mendorong daya
saing bangsa dalam hal sosial-politik, ekonomi, hingga ekologi.

Perhitungan KP3EI, dengan samanya ruang waktu yang berpatokan pada GMT+8
(Wita) maka masyarakat yang berada di kawasan tengah dan timur Indonesia
bisa mempunyai ruang transaksi yang lebih banyak untuk bertransaksi dengan
masyarakat di kawasan barat Indonesia.
Edib menambahkan, GMT+8 dipilih pemerintah dengan alasan sebagai
tengah-tengah antara WIB dan WIT. Namun, mengenai hal ini, pemerintah masih
akan membicarakannya lebih lanjut. "GMT+8 adalah menyampaikan Indonesia
menjadi satu waktu," pungkas Edib.


JP: New Proposal Could Put Indonesia on Same
Time<http://wisat.multiply.com/journal/item/9/JP_New_Proposal_Could_Put_Indonesia_on_Same_Time>May
10, '06 5:07 AM
for everyone
*New proposal could put Indonesia on same time *

*The Jakarta Post*, Jakarta

A proposed merged time zone would put an end to residents of the eastern
part of the country showing up red-eyed for work after watching prime-time
television shows broadcast from Jakarta.

The advantages for businesses -- operating in the same work hours instead
of dealing with a one or two-hour difference -- also could be considerable.

"We have proposed a common time zone, which merges West Indonesia time and
East Indonesia time into a central Indonesian time zone," said Moh. Nur
Hidayat, an expert from the State Ministry for Research and Technology.

Hidayat told *The Jakarta Post* the basis for the current proposal was
ASEAN Common Time, suggested in 1996 to create a single time zone for the
capitals of Southeast Asian countries.

Indonesia's current three time zones, Western (Sumatra, Java, West and
Central Kalimantan), Central (East and South Kalimantan, Bali, Sulawesi)
and Eastern (Papua, Maluku), each separated by an hour, were created by a
presidential instruction in 1987.

"In September 2005, the ministers from each country met and decided that it
was up to each individual country to determine whether to adopt the idea,"
Hidayat said.

Hidayat said the positive aspects of a single time zone outweighed the
negatives.

"A big country like China uses a single time zone. The U.S., with its vast
stretches of land, is also thinking of adopting a common time zone," he
said.

Hidayat said many government institutions and communities in Ambon in
Maluku, Ternate in North Maluku, Jayapura in Papua, Medan in North Sumatra
and Nanggroe Aceh Darussalam were ready for the time synchronization.

The idea could also bring more foreign currency into Indonesia, especially
in relation to tourists coming from Singapore and Malaysia.

He said local institutions might need to adjust, adding he had not yet
figured out the total cost of implementing the zone.

As for the negatives, Hidayat said his team was still conducting a study to
get a clearer picture.

He said they would soon submit a proposal to President Susilo Bambang
Yudhoyono.

Indonesia has changed its time zones twice, from six zones to three in the
1950s, and once to shift the boundaries of the zones in 1997. "We had no
problems then, and we won't have any problems with it now," Hidayat said. *
(03)*

Kirim email ke