http://dasmandjamaluddin.multiply.com/journal/item/91 


 HARI SASTRA INDONESIA (NASIONAL), SEBUAH GAGASAN Apr 3, '12 4:55 AM
untuk semuanya 


Menyaksikan sastrawan dari negara-negara serumpun di acara Temu Sastrawan 
Nusantara Melayu Raya (Numera) yang telah berlangsung dari tanggal 16 hingga 18 
Maret 2012 di Padang, Sumatera Barat, membawa kita ke sebuah pemikiran 
konstruktif agar bagaimana bangsa Indonesia lebih memikirkan 
sastrawan-sastrawannya dan menghargai hasil-hasil karya dalam sebuah forum 
terhormat, dihadiri para petinggi negara, sebagaimana di Malaysia.



Kita akui  bangsa kita serba terdepan mempelopori berbagai kegiatan, berbagai 
penemuan istilah dan berbagai karya besar. Hanya kita kurang menghargainya, 
kurang memeliharanya dan bahkan melupakannya. Sementara kalau kita jujur pada 
sejarah, dari tanah air yang namanya Indonesia  inilah muncul 
sastrawan-sastrawan terkenal yang hingga negara-negara lain ikut mengaguminya.



Lihatlah misalnya novel-novel karya sastrawan bangsa, Siti Nurbaya, Salah 
Asuhan, Tenggelamnya Kapal Van der Wijk, Layar Terkembang dan  Robohnya Surau 
Kami telah menjadi bahan bacaan wajib bagi siswa sekolah di Indonesia dan 
Malaysia. Begitu pula novel-novel bangsa kita lainnya yang sudah merambah manca 
negara. Tidak pula bisa dilupakan hasil karya anak muda bangsa Indonesia 
sekarang ini, yang boleh dikatakan sebagai generasi penerus. Kita merasa bangga.



Saya sependapat tidak ada niat mereka (sastrawan-sastrawan) ini minta dihargai. 
Mereka bekerja di jalurnya sebagai seorang sastrawan. Sebagai seorang 
profesional. Tetapi bagi mereka yang telah menghasilkan karya-karya  terbaik, 
berhasil mengharumkan nama bangsa, sebaiknya ada acara khusus dari 
pejabat-pejabat pemerintahan seperti di Malaysia. Semangat memang perlu 
dihidupkan terus menerus. Disegarkan di setiap pertemuan khusus setiap 
tahunnya. Disegarkan di setiap pertemuan khusus setiap tahunnya. Semangat 
jangan sampai padam. Ya, kalau bukan dari semangat generasi penerus muda-muda 
ini yang kita harapkan, dari siapa lagi?



Apalagi hanya dengan budaya kita mempersatukan bangsa-bangsa di seluruh dunia 
ini. Kadangkala permasalahan sebuah bangsa tidak bisa diselesaikan dengan 
politik. Harus ada solusi baru. Solusi itu adalah budaya. Bagaimana pun 
pengungkapan tesis melalui pendekatan budaya tentu jauh lebih baik dari 
pendekatan politik. Pendekatan budaya membuat sekat-sekat etnis, agama dan 
aliran-aliran politik terlampaui. Budaya memiliki kemampuan untuk menerobos 
struktur dan melintasi batas-batas wilayah, agama, politik, etnis dan 
anasir-anasir, pembentuk keberagaman lainnya. Karena budaya selalu memiliki 
rasa universalisme, tentang nilai-nilai kemanusiaan yang dipahami secara 
bersama—meskipun dalam diam-diam—oleh seluruh ummat manusia, budaya dengan 
akar-akarnya yang luhur. Budaya diharapkan mampu berfungsi sebagai perekat 
masyarakat Nusantara, memperkuat solidaritas bangsa yang serumpun.



Akan hal ini, saya ingin mengutip sebagian Pidato Presiden Soekarno tanggal 17 
Agustus 1961 di Istana Negara:



“sumber kekuatan kita bukan hanya kekayaan alam yang berlimpah-limpah di tanah 
air kita ini. Sumber kekuatan kita bukan hanya letak geografis negeri kita yang 
strategis di antara dua benua dan dua samudera. Sumber kekuatan kita bukan 
hanya ilmu teknik yang sedang kita tumbuhkan. Sumber kekuatan kita adalah di 
dalam semangat dan jiwa bangsa. Sumber kekuatan kita tertimbun dalam sejarah 
perjuangan bangsa dan semangat Proklamasi, bahkan juga dalam sejarah nasional 
yang kita warisi dari nenek moyang yang telah mangkat.Segala kebijaksanaan yang 
ditinggalkan oleh sejarah, segala tekad, segala semangat yang menjadi 
api-pembakar perjuangan kita yang telah lampau, ini semua harus dijadikan 
tulang punggung dari pada kepribadian nasional.”

Kirim email ke