---------- Forwarded message ----------
From: ganis supriadi <>
Date: 2012/5/25
Subject:  Kata-kata Bijak yang Koplak

http://muda.kompasiana.com/2012/05/17/kata-kata-bijak-yang-koplak/

*Hal yang paling sulit dari banjir informasi di abad informasi, adalah
menyaringnya…*


Kemampuan yang paling hebat, dan juga paling mengerikan dari para filsuf,
sastrawan, dan penulis amatiran (seperti saya), adalah merangkai
kata-kata.. Kemampuan persuasi, yang bisa membuat hal-hal yang sebenarnya
koplak, terlihat bijak.. Suatu hal-hal yang jelas salah pun, akan bisa
terlihat luar biasa benar, luar biasa masuk akal lengkap dengan argumen
yang indah dan berbunga-bunga, yang kedengarannya muncul dari seorang bijak
berjanggut yang sedang bersemedi di bawah pohon, lengkap dengan kicauan
burung di latar belakang..


Kata-kata bijak berikut ini, saat pertama anda membacanya, anda mungkin
akan manggut-manggut setuju, hati anda tersentuh, bahkan mata anda akan
berkaca-kaca sambil menghela napas panjang sambil membatin: ‘iya juga
yaa..’ Benarkah itu bijak? Yuk kita kritisi..

*
*

*“Kita tidak perlu menghakimi keburukan orang lain.. Biarlah itu urusan dia
dengan Tuhannya.. Hanya Tuhan yang tahu mana yang paling benar. Hanya Tuhan
lah yang berhak menghakimi, di akhirat kelak..”*


Wow, wow, wow, tunggu dulu.. Jika saja hanya Tuhan yang berhak menghakimi,
mari kita bubarkan semua lembaga peradilan, karena manusia tidak berhak
menghakimi bukan? Mau orang korupsi, mencuri, menjadi gay dan lesbian,
menghina agama, bahkan membunuh orang lain, biarkan saja.. Toh kita tidak
berhak menghakimi orang lain kan? Hanya Tuhan yang berhak. Jadi jika ada
polisi yang coba mendenda kita karena buang sampah atau merokok sembarangan
di Singapura, tampar saja si sok tahu itu, dan katakan: “hanya Tuhan yang
berhak menghakimi saya!!” Jika kita hanya membiarkan Tuhan yang mengadili
semua keburukan-keburukan manusia di dunia, kita tidak perlu hukum lagi,
dan mari kita kembali ke zaman batu (bahkan manusia zaman batu pun punya
peraturan). Atau kita ikuti saja kata-kata teman saya: “Lemah teles, Gusti
Alloh seng mbales..”

*
*

*“Kenapa kita ribut-ribut masalah yang sepele sih? Pornografi diributin,
penulis buku yang mempromosikan lesbi dihalangin.. Lady Gaga diributin..
Mendingan urusin tuh koruptor, mereka yang lebih berbahaya bagi bangsa kita
ini..”*


Weks.. Ini sih sama saja dengan: “Ngapain kita tangkap orang yang nyolong
sandal, tuh yang maling motor aja dikejar..”. Lha perbuatan buruk, besar
atau kecil, tetap harus dihalangi.. Jika orang tersebut menentang
pornografi, bukan berarti dia diam saja terhadap koruptor kan? Bukankah
lebih baik kita menjaga dari keduanya.. Katakan: say no to pornografi dan
korupsi! Dua-duanya, menurut saya, cepat atau lambat, akan menghancurkan
negara ini.. bahkan masyarakat barat sendiri pun cukup resah dengan
pornografi, koq malah kita mendukungnya?

*
*

*“Tuhan itu maha kuasa, maha agung, maha besar. Jadi ga perlu dibela. Jika
kalian membentuk gerakan untuk membela agama, itu sama saja dengan kalian
melecehkan kekuasaan dan kekuatan Tuhan. Tuhan ga perlu dibela..”*


Weleh, tunggu sebentar.. Organisasi-organisasi agama yang dibentuk selama
ini, dari agama manapun, didirikan untuk membela Tuhan, atau untuk
kepentingan para pemeluk agama? Organisasi tersebut dibentuk untuk
mengurusi, menyuarakan, dan mengakomodasi kepentingan para penganutnya..
Jika organisasi tersebut bertujuan melindungi kepentingan para anggotanya,
kenapa dituduh sedang berusaha membela Tuhan? Saya koq tidak ingat ada
organisasi agama yang visi dan misi organisasinya adalah: “untuk membela
Tuhan di muka bumi..”

*
*

*“Kenapa sih anti banget dengan seks bebas? Anti banget dengan rok mini?
Padahal diam-diam toh suka nonton film porno, doyan seks juga, suka
melototin paha juga.. Dasar otaknya aja yang kotor.. Bersihin tuh otaknya,
jangan urusin pakaian orang lain.. Kalau otaknya bersih dan imannya kuat,
mau ada yang telanjang di depannya juga ga akan tergoda.. Gak usah munafik
dan sok suci deh..”*


Lhaaa… Sebentar… Kelompok yang anti seks bebas bukan berarti mereka ga
doyan seks ya.. Yang menjadi penentu adalah bagaimana cara kami menyalurkan
hasrat kami.. Kami tentu saja suka seks, menikmati seks, tapi dengan
pasangan kami, dengan cara yang bertanggung jawab.. Seks merupakan rahmat
Tuhan, tapi nikmatilah secara bertanggung jawab.. Jika kami memang maniak
seks yang suka meniduri semua makhluk yang berkaki dua, tentu saja kami
dengan senang hati mendukung seks bebas.. Itu berarti kami makin bebas
meniduri berbagai macam wanita tanpa harus pusing mikirin pampers dan susu,
karena, dengan menyebarnya paham seks bebas, makin banyak wanita yang
bersedia kami manfaatkan (dan kami tiduri), kemudian kami tinggalkan
setelah puas..


Otak kami yang kotor? Ayolah, jika saja para lelaki diciptakan tanpa nafsu,
maka sudah lama manusia punah.. Sudah kodratnya laki-laki akan tergerak
nafsunya jika melihat paha wanita.. Jika ada lelaki yang dengan gagah
berani bilang tidak tergerak nafsunya saat melihat paha wanita cantik, itu
hanya omong kosong agar semakin banyak wanita yang memamerkan pahanya
dengan senang hati.. Rok mini, memang diciptakan untuk memancing perhatian
(dan nafsu) para lelaki.. Jika kami memang berfikiran kotor dan tak bisa
menahan iman, tentu kami akan turun ke jalan untuk mendukung semua wanita
memakai rok mini.. Makin banyak wanita yang bisa memuaskan nafsu kotor
kami.. Jadi, siapakah yang berfikiran kotor dan tidak bisa menahan iman?
Para lelaki yang menentang rok mini, atau pendukungnya? Para penentang seks
bebas, atau pendukungnya?


http://muda.kompasiana.com/2012/05/19/kata-kata-bijak-yang-koplak-2/

*Propaganda, seringkali seperti pelacur, menggunakan riasan tebal dan indah
untuk menutupi kebusukan di baliknya..*

* *

*Saya pernah tinggal di kos-kosan di Yogya, yang anak-anaknya terdiri dari
berbagai macam aliran: agnostik, atheis, kejawen, liberal, penyembah keris,
bahkan ada begitu bingung, sehingga akhirnya mengaku sebagai komunis
relijius…*

* *

Dengan beragamnya fikiran yang pernah kami perdebatkan, diiringi menyeruput
kopi dan menghisap rokok, fikiran saya dijejali dengan berbagai macam
aliran lengkap dengan argumen yang luar biasa indah.. Mungkin itu yang
membuat saya jadi terlatih mengasah logika, sambil garuk-garuk kepala, dan
selalu mencoba melihat jauh ke balik kata-kata nan indah itu.. Nih,
kata-kata bijak yang lagi trend saat ini:

*
*

*“Lady Gaga koq diributin.. Apa bedanya dengan yang sudah ada di Indonesia?
Penyanyi Indonesia juga banyak tuh yang seronok. Tuh penyanyi dangdut
seronok masuk sampai ke kampung-kampung, ditonton anak-anak. Jika mau adil,
yang seperti itu juga dilarang dong..”*


Lha para pendukung kebebasan itu memangnya selama ini mendukung pelarangan
pornografi sampai ke kampung-kampung? Dulu saat Inul banyak yang menentang,
kaum liberalis juga menggunakan dalil yang sama: ‘yang lain juga dilarang
doong’. Protes soal chef Sarah Quin (betul ga ya namanya?), juga ditentang
dengan alasan: ‘dia ga sengaja tampil seronok koq’. Jika tempat-tempat
maksiat digerebek, katanya menghalangi orang cari nafkah. Jika penyanyi
dangdut seronok itu diprotes masyarakat sekitar, dijawab: urus dosa
masing-masing, kalau ga suka ya ga usah nonton.. Bahkan di saat semua itu
berusaha dikurangi dengan UU Anti Pornografi dan Pornoaksi, banyak yang
menjerit-jerit: “jangan memasung kebebasan berekspresi!” Intinya kan
sebenarnya: “Jangan larang kami melakukan pornografi dan pornoaksi, di
tingkat manapun! Mau kami menari bugil sambil mutar-mutarin baju di atas
kepala di genteng rumah kami, yo jangan protes!” Jadi, kenapa
membanding-bandingkan Lady Gaga ama Keyboard Mak Lampir? (julukan para
pedangdut seronok di daerah kami..). Toh dua-duanya sebenarnya kalian
dukung, atas nama kebebasan berekspresi? Kami, malah sedang berusaha
menentang dua-duanya..

*
*

*“Kita hidup dlm masyarakat yg sangat plural, sehingga setiap individu
hendaknya bebas memilih & menjalankan apapun prinsip hidupnya (termasuk
mendukung Irshad Manji atau Lady Gaga), lalu semuanya saling menghormati
dlm segala perbedaan pilihan tsb”*


Hmm.. Bijak dalam teori, kacau balau dalam praktek. Jika saja semua
individu bebas menjalankan prinsip hidupnya, maka kita ga perlu nunggu suku
Maya meramalkan akhir dunia. Bisa dibayangkan, jika banyak orang yang
mendukung Sumanto, lalu menjalankan prinsip hidupnya sebagai kanibal, maka
ayam goreng Kentucky ga bakal laris lagi, dan banyak orang yang
nenteng-nenteng pisau daging dan botol merica di jalanan.. Atau, jika
banyak orang yang mendukung Amrozi, kemudian menjalankan prinsip hidupnya
sebagai pelaku bom bunuh diri, maka terminal bus way yang paling sesak pun
akan bubar dalam 5 detik (termasuk penjaga tiketnya) begitu ada lelaki
menyandang ransel datang mendekat..

Ya, ya saya tahu.. Argumen saya di atas pasti akan berusaha dimentahkan
dengan argumen: “yang penting kan ga merugikan kalian” dalam bentuk
kata-kata bijak nan koplak berikut:

*
*

*“Apa salahnya dengan pornografi? Atau lesbi? Atau perbuatan-perbuatan
maksiat lainnya? Toh ga merugikan anda. Jika anda tidak suka, ya ga usah
ditonton, ga usah diikuti. Jika takut anak anda terpengaruh, ya perkuat
pendidikan iman anak-anak anda. Kalau iman sudah kuat, mau 1000 Lady Gaga
datang ke Indonesia, iman kita (dan anak-anak kita) tidak akan
terpengaruh..”*


Hellooo.. Kita memang makhluk individu, tapi kita juga makhluk sosial.
Setiap tindakan kita, sekecil apapun, akan berpengaruh terhadap lingkungan
kita. Contoh gampangnya, kenapa kita protes sama tetangga kita yang buang
sampah ke kali? “Toh sampahnya sampah dia sendiri (ya mana mungkin dia
dengan ikhlas buangin sampahnya ente), kalinya bukan milik mbahmu, lantas
kenapa ente yang sewot?” Lha memangnya kalo banjir, banjirnya muter-muter
dulu cari siapa bajingan yang membuang sampah, lalu terus menyerbu
menggenangi rumah tetangga anda saja sampai setinggi kepala?


Ok kita tidak suka perbuatan-perbuatan maksiat, dan kita berhasil
menghindarinya. Lalu kita juga menanamkan iman yang kuat ke anak-anak kita,
dan juga berhasil. Dan kita teriak ke luar sana: “Maree seneee Lady Gaga,
Freddy Mercury, Jhon Kei dan Mak Lampir jadi satu!! Iman saya dan keluarga
saya dah kuat koq!” Tapi sekian tahun ke depan, tiba-tiba ada anak tetangga
kita yang kecanduan pornografi, lalu tidak tahan, dan akhirnya memperkosa
anak perempuan kita.. Atau ada orang yang mabuk karena alkohol dan narkoba,
lalu menabrak seluruh keluarga kita yang sedang jalan-jalan di trotoar..
Atau anak perempuan kita hilang, diculik sindikat yang menjualnya ke
prostitusi.. Atau anak lelaki anda disodomi keluarga jauh anda.. Atau
seorang pecandu merampok dan membunuh anda karena butuh uang untuk beli
sabu.. Sama seperti banjir, ekses negatif dari perbuatan maksiat, tidak
akan pernah pilih-pilih siapa korbannya, baik anda berbuat maksiat atau
tidak..


Benar, bahwa kita tidak salah 100%, tapi, sebenarnya, kita tetap punya
andil dalam hal itu. Kita sukses memperkuat iman keluarga kita, tapi kita
abai dengan lingkungan kita. Itulah kenapa dalam Islam ada seruan: “amar
makruf, nahi munkar”. Menyeru kepada kebajikan, mencegah kemungkaran. Jika
kita mengabaikan kemunkaran di lingkungan kita, dengan prinsip: “urus dosa
masing-masing”, yakinlah, cepat atau lambat, kita akan memetik hasilnya…

Masih enggan untuk amar makruf nahi munkar?

Kirim email ke