waduuh....
baca artikel ini, jadi waswas, ane ini termasuk yg kena neurosis, atau tidak 
ya???
 
Kebanyakan sumber permasalahan adalah cara berkomunikasi!!!  
http://nugon19.multiply.com/journal

-=-=-=-=-

http://health.detik.com/read/2012/06/13/083020/1939875/763/banyak-uang-bukan-berarti-lebih-bahagia 


Rabu, 13/06/2012 08:30 WIB 

Banyak Uang Bukan Berarti Lebih Bahagia
Rahma Lillahi Sativa - detikHealth

Jakarta, Salah satu ambisi manusia adalah menjadi kaya dan memiliki banyak 
uang. Manusia pun rela menghalalkan segala cara untuk mendapatkan alat tukar 
utama itu. Namun sebuah penelitian baru di Inggris menunjukkan bahwa memiliki 
lebih banyak uang mungkin tidak selalu membuat Anda bahagia, terutama jika Anda 
neurotik atau mengidap gangguan saraf.

Dalam penelitiannya, ekonom Dr. Eugenio Proto dari University of Warwick 
melihat bagaimana ciri-ciri kepribadian dapat mempengaruhi perasaan Anda 
tentang pendapatan dalam hal tingkat kepuasan hidup.

Proto pun menemukan bahwa pengidap neurotik bisa melihat kenaikan gaji sebagai 
kegagalan jika jumlahnya tidak sebanyak yang diharapkan.

Neurosis atau gangguan saraf sendiri ditandai dengan kecemasan yang berlebihan 
dan gangguan emosional, sedangkan neurotisisme adalah kecenderungan untuk 
mengalami emosi negatif seperti kecemasan, rasa bersalah, kemarahan dan depresi.

Proto, yang melakukan penelitian bersama Aldo Rustichini, Ph.D. dari University 
of Minnesota mengatakan bahwa orang-orang yang gajinya tinggi namun memiliki 
tingkat neurotisisme yang juga tinggi lebih cenderung melihat kenaikan gaji 
sebagai kegagalan.

"Seseorang yang memiliki tingkat neurotisisme tinggi akan melihat peningkatan 
pendapatan sebagai ukuran keberhasilan. Saat berpenghasilan rendah, kenaikan 
gaji tidak terasa begitu memuaskan bagi mereka karena mereka melihat hal itu 
sebagai prestasi.

"Namun jika penghasilannya sudah lebih tinggi, mereka mungkin tidak berpikir 
kenaikan gaji sebanyak yang mereka harapkan. Jadi mereka melihat hal ini 
sebagai kegagalan parsial dan menurunkan kepuasan hidup mereka," terang Dr. 
Proto seperti dilansir dari psychcentral, Rabu (13/6/2012).

Dalam studi ini, Dr. Proto menggunakan data dari British Household Panel Survey 
dan German Socioeconomic Panel.

"Hasil ini menunjukkan bahwa kita melihat uang hanya sebagai alat untuk 
mengukur keberhasilan atau kegagalan, bukan sebagai sarana untuk mencapai 
kondisi yang lebih nyaman," ujar Dr Proto.

(ir/ir)   

Kirim email ke