dari Mas Cepi Al Hakim di
http://groups.yahoo.com/group/Muhammadiyah_Society/message/44623 


-=-=-=-=-

Tulisan DAHLAN ISKAN tentang Sorghum dan Kedaulatan Pangan 


Manufacturing Hope 35 : Abah Sorgum yang Mendorong Tepung Antiautis16 Juli 2012


Abah Sorgum yang Mendorong Tepung Antiautis
 
Oleh Dahlan Iskan
Menteri Negara BUMN
 
Sejumlah ahli sorgum berkumpul di Kementerian Riset dan Teknologi. Saya dan 
Menristek Dr Gusti M Hatta ikut hadir. Mereka bukan saja yang ahli dalam hal 
keilmuan seperti Prof  Dr Sungkono dari Universitas Lampung (dan IPB), tapi 
juga para praktisi yang sudah mempraktikkan menanam sorgum di berbagai wilayah.
 
Kita memang punya problem yang kelihatannya sulit dipecahkan seumur hidup kita: 
 kita ini akan terus impor gandum besar-besaran setiap tahun. Sejak lebih 40 
tahun lalu dan sampai entah berapa ratus tahun lagi.
 
Kebiasaan kita makan mie dan roti tidak akan bisa dibendung lagi. Berarti 
pemakaian gandum akan terus meningkat. Padahal kita tidak bisa menanam gandum 
di Indonesia. Tanah kita dan iklim kita tidak cocok untuk tanaman gandum.
 
Kecuali ahli-ahli pertanian kita menemukan cara baru kelak. Yakni cara 
memanfaatkan lahan yang tidak subur untuk gandum. Kita tidak mungkin 
menggunakan sawah-sawah subur kita karena akan mengancam tanaman padi.
 
Itulah sebabnya, setelah belajar dari apa yang dilakukan BUMN PT Hijau Lestari 
di Jabar, saya terpikir untuk mengembangkan sorgum. Tanaman ini tidak asing 
bagi saya. Waktu kecil saya pernah menanam sorgum di desa saya. Waktu itu 
disebut jagung cantel. Bisa untuk nasi, bubur, camilan ataupun tepung. Bisa 
juga untuk marning (popcorn dalam bentuk yang lebih kecil).
 
Menristek, Pak Gusti M Hatta menginformasikan di lingkungannya banyak ahli yang 
bisa digali ilmunya. Tidak hanya tentang menanam sorgum, tapi juga industri 
hilirnya. Termasuk yang dari IPB, Unpad, dan Unila. Mereka itulah yang 
berkumpul pekan lalu. Pertemuan pun berlangsung dengan dinamisnya.
 
Bahkan mata Prof Sungkono sampai berlinang-linang. Saking terharu dan 
semangatnya. “Saya ini ahli sorgum yang baru sekarang didengar pendapat saya. 
Inilah mimpi saya. Sorgum diperhatikan,” ujarnya.
 
Putusan pun dibuat hari itu. BUMN akan mencari 15.000 ha tanah tidak subur 
untuk ditanami sorgum secara besar-besaran. Selama ini di Jabar BUMN memang 
sudah membina petani untuk menanam sorgum, tapi kecil-kecilan. Ini karena 
lahannya milik petani yang luasannya memang terbatas.
 
Tapi banyak petani lahan kering yang jatuh cinta. Sampai-sampai ada seorang 
petani yang aslinya bernama Supardi yang tinggal di Soreang, Kabupaten Bandung, 
mendapat panggilan baru: Abah Sorgum. Itu karena dia sangat gigih meyakinkan 
petani lain untuk menanam sorgum. Juga karena Abah Sorgum terus menciptakan 
makanan berbasis tepung sorgum.
 
Pengalaman Jabar itulah yang memberikan keyakinan untuk pengembangan 
besar-besaran. Lahan-lahannya siap didapat: Jatim (Banyuwangi Timur Laut yang 
kurang subur), Sulsel, Sultra, dan Sumba. Di lokasi-lokasi tersebut BUMN memang 
memiliki tanah tandus yang sangat luas yang kurang produktif. Akhir tahun ini 
lahan-lahan tersebut sudah harus berubah menjadi kawasan sorgum.
 
Tentu dalam waktu yang dekat  diperlukan benih sorgum dalam jumlah besar. 
Sampai 50 ton. Tapi tidak akan sulit. Bisa disiapkan lahan 100 ha yang akan 
ditanami sorgum khusus untuk benih.
 
Kelebihan sorgum ini, saat untaian buahnya siap dipanen, batang dan daunnya 
masih hijau. Ini sangat seksi untuk makanan ternak. Tiap hektar bisa 
menghasilkan batang/daun sampai 50 ton. Karena itu tanam sorgum dalam skala 
besar akan dikaitkan dengan program peternakan sapi skala besar pula. Baik yang 
di Sumba, Sulsel, Sultra, maupun Jatim.
 
Memang tepung sorgum memiliki kelemahan: tepungnya tidak bisa mengembang. Tidak 
seperti terigu. Karena itu tepung sorgum tidak bisa untuk membuat roti. Harus 
dicampur gandum. Kalau dicampur gandum rotinya justru akan lebih baik. Dengan 
demikian impor gandum bisa berkurang 30 persen. Satu jumlah yang sangat besar.
 
Tapi sorgum memiliki kelebihan yang luar biasa. Di samping harganya lebih 
murah, tepung sorgum tidak mengandung unsur gluten, zat yang bisa membuat anak 
menjadi autis. Karena itu untuk makanan seperti kue dan biskuit yang tidak 
memerlukan proses mengembang, sorgum adalah jawabnya.
 
Walhasil sorgum akan menjadi unggulan BUMN di samping program pangan lainnya 
seperti Proberas, Yarnen, pencetakan sawah baru, pengadaan beras Bulog, 
peningkatan produksi gula, garam, pabrik sagu, dan ternak sapi.
 
Semuanya berat tapi bukan tidak mungkin terwujud.
 (Visited 29 times, 29 visits today)



http://www.bumn.go.id/89328/catatan-menteri/manaufacturing-hope-35-abah-sorgum-yang-mendorong-tepung-antiautis/
 


Programe Coordinator
NECTAR Indonesia
Indonesia Nature Conservation and Ecotourisme
Head Office :

Jl. Utan Kayu 20A, East Jakarta, 13120, Indonesia
Telp.  +62 21 8500259
Faks.  +62 21 8500259

Kirim email ke