Kebanyakan sumber permasalahan adalah cara berkomunikasi!!!  
http://nugon19.multiply.com/journal

-=-=-=-

http://groups.yahoo.com/group/mualafindonesia/message/17075 


 Seandainya saja bunuh diri itu halal, saya pasti lakukan dulu sebelum jenazah 
putra saya satu-satunya dan istri dikuburkan. Untuk apa lagi saya hidup ketika 
seluruh keluarga saya yang selama ini menjadi penghibur hati dan harapan saya 
telah pergi meninggalkan dunia ini untuk selama-lamanya.
Ketika saya bertanya pada Pak Haji yang membesarkan hati waktu itu, ia hanya 
diam saja. Saat histeris dan berteriak-teriak marah pada diri sendiri yang tak 
bisa mencegah musibah itu, tetap saja tak seorangpun berkata apa tujuan hidup 
saya berikutnya selain kata-kata membujuk untuk sabar. Sabar? Untuk apa?

Saya seorang suami, menikahi wanita Aceh yang baik hati. Ia tak terlalu cantik, 
tapi orangnya sangat baik dan benar-benar polos. Saat menikahinya, gadis Aceh 
itu masih sangat muda. Umurnya saja baru 17 tahun dan baru tamat SMU. Saya 
memboyongnya ke Jakarta setelah berhenti bekerja di Aceh.
Sayangnya saat bencana tsunami melanda Meulaboh, seluruh keluarga istri saya 
menghilang tanpa jejak. Waktu saya dan istri berhasil mencapai kota itu 
beberapa minggu setelah bencana, tak ada yang tersisa selain lantai keramik 
rumah yang juga terkelupas sebagian. Istri saya sempat shock hebat. Tapi 
akhirnya kami bisa melewati masa-masa itu dengan saling menguatkan.

Lama sekali kami baru dikaruniai seorang anak, karena istri saya memiliki kista 
endometrium. Kami sempat berobat di dokter, tapi harus dioperasi.
Istri saya tidak berani menjalani operasi, lalu kami pun pindah ke pengobatan 
alternatif. Setelah menjalani pengobatan lebih dari setahun, barulah istri 
hamil. Tepatnya lima tahun setelah menikah, istri saya melahirkan seorang anak 
laki-laki. Saya bangga bukan main karena anak itu terlahir dengan ukuran tubuh 
hampir 4 kg. Hebatnya lagi, istri saya melahirkan normal.

Pekerjaan saya yang baru juga sekarang benar-benar mengangkat ekonomi keluarga 
kami. Saya bisa membeli rumah dan mobil di tahun yang sama setelah Raihan 
lahir. Kebanggaan saya makin lengkap ketika Raihan terpilih sebagai pemenang 
lomba bayi sehat.

Dua tahun berlalu, Raihan tumbuh jadi anak yang aktif. Dia sudah pandai bicara, 
hanya bisa tidur kalau saya yang menidurkannya. Makanya saya pun membeli rumah 
dekat kantor, agar tiap siang bisa pulang sebentar untuk mengurus Raihan. Kata 
orang-orang, Raihan mirip sekali dengan Bapaknya.
Setali tiga uang dalam segala hal. Raihan memang manja sekali sama saya.
Kalau hanya bersama Ibunya, dia biasa-biasa saja tapi begitu saya datang, maka 
penyakit manjanya langsung kambuh. Maunya digendong saja. Saat itu Raihan suka 
sekali kalau digelitiki, tertawanya bisa kedengaran sampai ke seluruh kompleks. 
Saya sering membawanya digendong di pundak sambil berkeliling kompleks dan 
menyapa para tetangga. Semua orang bilang, duh cakepnya Raihan ini. Raihan 
memang mewarisi mata Ibunya dan rambut ikal saya yang tebal. Kulitnya putih dan 
badannya tak terlalu gemuk.

Saya pikir hidup saya sudah sangat sempurna. Istri yang manis, anak yang 
ganteng dan tambah lengkap lagi ketika istri saya memberitahu kalau ia sudah 
terlambat haid dua bulan. Waktu itu saya berniat mengajaknya ke dokter untuk 
periksa. Saya berharap, kali ini dia melahirkan anak perempuan agar melengkapi 
kebahagiaan saya. Tapi karena di kantor lagi sibuk, saya memintanya pergi 
sendiri dengan taksi.

Istri saya bilang saat itu, dia maunya saya yang mengantar. Karena itu saya pun 
mengalah dan berjanji nanti akhir minggu itu kami ke dokter.

Siapa sangka itulah awal malapetaka. Saat tidak ada orang di rumah, istri dan 
anak saya mengalami musibah. Saya tak bisa dihubungi karena saat itu berada 
dalam pesawat. Saya melakukan perjalanan dinas ke Nusa Tenggara Barat. Ketika 
sampai, saya hanya dikabari kalau istri dalam keadaan koma di rumah sakit. 
Detik itu juga saya memburu tiket untuk pulang ke Jakarta. Di bandara, saya 
menghubungi handphone istri. Tapi yang menjawab Bapak saya yang meminta saya 
pulang ke rumah. Padahal saya mau langsung ke rumah sakit melihat istri. Bapak 
hanya meminta saya pulang dulu anak saya di rumah yang katanya memerlukan saya.

Sampai di rumah, lemas lutut saya ketika melihat bendera kuning kecil sudah 
berkibar di pagar rumah saya. Ketika itu saya mengira hanyalah istri yang pergi 
meninggalkan saya untuk selamanya. Tapi ternyata ketika masuk, dua jenazah 
berjajar menanti kepulangan saya. Saya bingung, jenazah siapa ini?

Bapak mencegah saya melihat kedua jenazah, tapi saya terus memaksa. Dan ketika 
melihat jenazah anak saya juga terbaring di samping jenazah istri saya, rasanya 
hati saya hancur bukan main menyaksikan dua orang yang paling saya sayangi 
sudah tiada. Bapak pun menceritakan apa yang terjadi sesungguhnya, kalau Istri 
saya mengalami pendarahan hebat, lalu ia meminta tolong tetangga kami untuk 
dibawa ke rumah sakit. Karena terburu-buru, mereka melewati lintasan kereta api 
tanpa mendengar sinyal kereta mau lewat.
Dan ketiganya tewas di tempat, tertabrak kereta.

Saya marah sekali. Menyesali diri sendiri karena tak bisa mencegah musibah 
terberat dalam hidup saya. Minggu-minggu pertama itu, saya seperti orang gila 
dan terus berteriak-teriak marah. Bapak dan Ibu berkali-kali menyuruh saya 
untuk sholat. Tapi saya malah marah pada mereka dan menyalahkan mereka karena 
tak mau menemani istri saya saat saya tinggal keluar kota. Ibu dan Bapak sampai 
menangis mendengar kata-kata saya.

Setelah empat puluh hari lewat, Bapak tetap tak mengizinkan saya hidup 
sendirian di rumah. Dia masih tinggal bersama ibu. Bedanya ibu di kamarnya yang 
biasa kalau menginap di rumah saya, sementara saya dan Bapak selalu tidur di 
kamar tempat Raihan biasa bermain. Saya memang tidur melingkar terus di kasur 
tipis tempat Raihan biasa bergulingan sendiri. Beberapa kali timbul keinginan 
untuk mati menyusul mereka. Tapi Bapak terus mendampingi saya. Dia sholat di 
samping saya, berzikir kalau sedang duduk menemani bahkan sesekali dia mencoba 
berbicara dengan saya. Tapi pikiran saya benar-benar kosong melompong, hati dan 
jiwa saya seperti ikut mati bersama keluarga saya.

Suatu subuh, saya terbangun dan sayup-sayup mendengar Bapak berzikir di dekat 
saya yang lagi tidur. Saya mendengar Bapak juga berdoa lama sekali, entah apa 
isi doanya tapi Bapak sampai terisak-isak menangis. Saya juga ikut meneteskan 
airmata dan baru menyadari kalau Raihan juga adalah cucu satu-satunya Bapak. 
Saya memang punya tiga orang adik, tapi baru saya yang sudah menikah dan punya 
anak.

Saya duduk dan menyentuh bahu Bapak. Bapak menoleh, tapi berusaha keras 
tersenyum. "Sholat, nak. Doakan anak dan istrimu, ya!"

Saat itulah, saya seperti disadarkan dari kesedihan. Saya pun bangkit dan untuk 
pertama kalinya setelah musibah saya sholat kembali. Saya menangis ketika 
berdoa, menyesal dan memohon ampun.

Bapak duduk di samping saya menunggu saya selesai sholat. Ketika selesai, Bapak 
dan saya duduk berdampingan seperti saya masih kecil dulu. Pelan-pelan Bapak 
menasehati saya.

"Kehilangan anak dan istrimu memang musibah besar dalam hidupmu, Nak. Tapi 
terus menerus menangisi mereka, itu perbuatan yang sia-sia. Di dunia ini kita 
hanya bersentuhan dengan dua hal, perbuatan baik atau perbuatan buruk.
Itu saja. Karena Allah lebih mencintai anak dan istrimu, agar mereka berdua tak 
berbuat buruk dan berdosa lebih banyak itu sebabnya Allah mengambil dan menjaga 
mereka berdua. Ini juga sebagai ujian untukmu dan untuk kita sekeluarga. Apakah 
kita bisa bersama-sama keluar dari ujian kesabaran ini dan menjadi semakin 
beriman, atau malah jatuh menjadi hambaNya yang berputus asa?"

"Kalau mau jujur, Bang. Andaikata Bapak ini bisa menangis darah, maka darahlah 
yang keluar dari mata ini, Nak. Bapak juga sakit di dalam hati sini karena 
Bapak juga sayang pada menantu Bapak yang soleha dan anakmu yang gagah itu. 
Tapi seluruh kebahagiaan dunia itu fana. Kebahagiaan sesungguhnya nanti di 
surga, anakku. Almarhumah istri dan anakmu sudah menantimu di pintu surga. 
Maukah kau bertahan tetap hidup di dunia dan menjalani hidup yang lebih baik 
agar nanti bisa bertemu mereka lagi? Dengan mendekatkan diri pada Illahi, insya 
Allah kau juga bisa melewati ujian ini dengan mudah. Jangan sia-siakan 
penantian mereka di sana dengan membuat dirimu terjerumus dosa, Bang."

Saya menangis, kali ini bukan karena kehilangan tapi menyesali perbuatan saya 
selama ditinggalkan orang-orang tercinta. Saya bukannya mendekatkan diri dengan 
mereka, tapi malah semakin menjauhi mereka. Mereka menanti saya di pintu surga, 
saya malah berjalan menuju neraka. Saya pun berjanji pada Bapak untuk berubah. 
Dan sekarang sudah berbulan-bulan berlalu dari hari yang malang itu, saya masih 
belum bisa melupakan kenangan indah keluarga saya itu, hanya sekarang saya 
terus berupaya tetap berada di jalan yang lurus, jalan di mana kelak berujung 
dengan surga tempat kedua orang yang saya cintai menunggu.

Tunggu saya di pintu surga, sayangku dan kebanggaanku! Nanti kita berjalan 
bersama menuju kebahagiaan sejati itu.

http://bundaiin.blogdetik.com/2012/07/28/tunggu-saya-di-pintu-surga/ 
wassalam,
~ y b s ~

The little things make a difference 

Kirim email ke