sesekali kita mengkaji fenomena sosial....
yuk baca artikel jadul (ane reposting ya):

-=-=-=-=-

Kagak tahu benar atau tidak, tapi bisa dicek di link
aslinya di:
http://rgardino.multiply.com/journal/item/28

Yg jelas, baik benaran atau tdk, memang tragis cerita
seperti ini, semoga dapat mengambil hikmah.

Wassalam,


Nugon

-----Original Message-----
From: Murti Widyasanti
Sent: Wednesday, May 02, 2007 2:53 PM
Subject: Ada pembunuh lari dari penjara menggunakan
tape uli...








kalau menurut Anda, cerita ini bikin geli, bikin haru,
atau malah bikin
miris ?

salam, ari ams

---------- Forwarded message ----------
From: Gatot Adhi Wibowo
Date: May 1, 2007 4:38 PM
Subject: Ada pembunuh lari dari penjara menggunakan
tape uli...

------------ --------- ---------

*From:* Ayu Dwi Lesmana
*Sent:* 01 Mei 2007 15:20
*Subject:* Ada pembunuh lari dari penjara menggunakan
tape uli...
*Importance: * High

Ceritanya bikin terharu deh.... < http://www.postsmil/
e.com/ >

*Ada pembunuh lari dari penjara menggunakan tape
uli...*< http://rgardino./ multiply. com/journal/
item/28 >
Posted by Reza < http://rgardino. multiply. com/ > on
Apr 23, '07 10:10 PM for
everyone

Terus terang, meski sudah beberapa kali mengadakan
penelitian Kriminal di
LP, pengalaman kali ini adalah pengalaman pertama saya
ngobrol langsung
dengan seseorang yang didakwa kasus pembunuhan
berencana. Dengan jantung dag
dig dug, pikiran saya melayang-layang mengira-ngira
gambaran orang yang akan
saya temui. Sudah terbayang muka keji hanibal lecter,
juga penjahat-penjahat
berjenggot palsu ala sinetron, dan gambaran-gambaran
pembunuh berdarah
dingin lain yang sering saya temui di cerita TV.

Well, akhirnya setelah menunggu sekian lama
berharap-harap cemas, salah satu
sipir membawa seorang anak kehadapan saya.Yup, benar
seorang anak berumur 8
tahun. Tingginya tidak lebih dari pinggang orang
dewasa dengan wajah yang
diliputi senyum malu-malu. Matanya teduh dengan
gerak-gerik yang sopan.

Saya pun membaca berkas kasusnya yang diserahkan oleh
sipir itu. Sebelum
masuk penjara ternyata ia adalah juara kelas di
sekolahnya, juara
menggambar, jago bermain suling, juara mengaji dan
azan di tingkat
kanak-kanak. Kemampuan berhitungnya lumayan menonjol.
Bahkan dari balik
sekolah di dalam penjara pun nilai sekolahnya tercatat
kedua terbesar
tingkat provinsi. Lantas kenapa ia sampai membunuh?
Dengan rencana pula?

Kasus ini terjadi ketika Arif sebut saja nama anak ini
begitu, belum genap
berusia tujuh tahun. Ayahnya yang berdagang di sebuah
pasar di daerah
bekasi, dihabisi kepala preman yang menguasai daerah
itu. Latar belakangnya
karena si ayah enggan membayar uang 'keamanan' yang
begitu tinggi. Berita
ini rupanya sampai di telinga Arif. Malam esok harinya
setelah ayahnya
dikebumikan ia mendatangi tempat mangkal preman
tersebut. Bermodalkan pisau
dapur ia menantang orang yang membunuh ayahnya.

"siapa yang bunuh ayah saya!" teriaknya kepada orang
yang ada di tempat itu.

"Gue terus kenapa?" ujar kepala preman yang membunuh
ayahnya sambil
disambut gelak tawa di belakangnya.

Tanpa banyak bicara anak kecil itu sambil melompat
menghunuskan pisau ke
perut si preman. Dan tepat mengenai ulu hatinya, pria
berbadan besar itu
jatuh tersungkur ke tanah. Arif pun langsung lari
pulang ke rumah
setelahnya. Akhirnya selesai sholat subuh esok paginya
ia digelandang ke
kantor polisi.

"Arif nih sering bikin repot petugas di Lapas!" ujar
kepala lapas yang ikut
menemani saya mewawancarai arif sambil tersenyum.
Ternyata sejak di penjara
dua tahun lalu. Anak ini sudah tiga kali melarikan
diri dari selnya. Dan
caranya pun menurut saya tergolong ajaib.

Pelarian pertama dilakukannya dengan cara yang tak
terpikirkan siapapun.
Setiap pagi sampah-sampah dari Lapas itu di jemput
oleh mobil kebersihan.
Sadar akan hal ini, diam-diam Arif menyelinap ke dalam
salah satu kantung
sampah. Hasilnya 1-0 untuk Arif. Ia berhasil keluar
dari penjara.

Pelarian kedua lebih kreatif lagi. Anak yang doyan
baca ini pernah membaca
artikel tentang fermentasi makanan tape (ingat loh
waktu wawancara usianya
baru 8 tahun). Dari situ ia mendapat informasi bahwa
tape mengandung hawa
panas yang bersifat destruktif terhadap benda keras.
Kebetulan pula di Lapas
anak ini disediakan tape uli dua kali dalam seminggu.
Setiap disediakan
tape, arif selalu berpuasa karena jatah tape itu
dibalurkannya ke dinding
tembok sel tahanannya. Hasilnya setelah empat bulan,
tembok penjara itu
menjadi lunak seperti tanah liat. Satu buah lubang
berhasil dibuatnya. 2-0
untuk arif. Ia keluar penjara ke dua kalinya.

Pelarian ke tiganya dilakukan ala Mission Imposible.
Arif yang ditugasi
membersihkan kamar mandi melihat ember sebagai sebuah
solusi. Besi yang
berfungsi sebagai pegangan ember itu di simpannya di
dalam kamarnya. Tahu
bahwa dirinya sudah diawasi sangat ketat, Arif memilih
tempat persembunyian
paling aman sebelum memutuskan untuk kabur. Ruang
kepala Lapas menjadi
pilihannya. Alasannya jelas, karena tidak pernah satu
pun penjaga berani
memeriksa ruangan ini. Ketika tengah malam ia
menyelinap keluar dengan
menggunakan besi pegangan ember untuk membuka pintu
dan gembok. Jangan tanya
saya bagaimana caranya, pokoknya tahu-tahu ia sudah di
luar. 3-0 untuk Arif.

Lantas kenapa ia bisa tertangkap lagi? Rupanya
kepintaran itu masih berada
di sebuah kepala bocah. Pelarian-pelarianny a didorong
dari rasa kangennya
terhadap ibunya. Anak ini keluar dari penjara hanya
untuk ke rumah sang
ibunda tercinta. Jadi dari Lapas tanggerang ia
menumpang-numpang mobil
omprengan dan juga berjalan kaki sekian kilometer
dengan satu tujuan,
pulang!

Karena itu pula pada pelarian Arif yang ketiga, kepala
Lapas yang juga
seorang ibu ini meminta anak buahnya untuk tidak
segera menjemput Arif.
Hasilnya dua hari kemudian Arif kembali lagi ke lapas
sambil membawa surat
untuk kepala Lapas yang ditulisnya sendiri.

*Ibu kepala Arif minta maaf, tapi Arif kangen sama ibu
Arif.* Tulisnya
singkat.

Seorang anak cerdas yang harus terkurung dipenjara.
Tapi, saya tidak lantas
berpikir bahwa ia tidak benar-benar bersalah dan harus
dibebaskan.
Bagaimanapun juga ia telah menghilangkan nyawa
seseorang. Tapi saya hanya
berandai-andai jika saja, polisi bertindak cepat
menangkap pembunuh si ayah
(secepat polisi menangkap si Arif) pastinya saat ini
anak pintar dan rajin
itu tidak akan berada di tempat seperti ini. Dan
kreativitasnya yang tinggi
itu bisa berguna untuk hal yang lain. Sayangnya si
Arif itu cuma anak
pedagang sayur miskin sementara si preman yang
dibunuhnya selalu setia
menyetor kepada pihak berwajib setempat. Itulah yang
namanya keadilan!


Fajar Wisesa

"It is precious to love someone... and more precious
to be loved.
But the most precious is... to love and to be loved
in return..."

Kirim email ke