kereen ...


________________________________
 Dari: Morry Infra <[email protected]>
Kepada: Ahlan Riyadh <[email protected]>; 
[email protected]; ex-cii <[email protected]>; ARII Drlg Milist 
<[email protected]>; Moderator MMIT <[email protected]> 
Dikirim: Jumat, 31 Agustus 2012 7:54
Judul: [sma1bks] Fwd: Problem Gila-gilaan itu Terpecahkan (Traveling Salesman 
Problem)
 

  
---------- Forwarded message ----------
From: Rusdi <>
Date: 2012/8/31
Subject:  Problem Gila-gilaan itu Terpecahkan (Traveling Salesman Problem)

Dari milist sebelah ,,,, 

Sent from my iPad

Begin forwarded message:


From: "syarwani" <[email protected]>
>Date: August 31, 2012 12:19:17 AM GMT+08:00
>To: [email protected]
>Subject: IPOMS-APICS Problem Gila-gilaan itu Terpecahkan (Traveling Salesman 
>Problem)
>Reply-To: [email protected]
>
>
  
>Catatan: sudah dilakukan pengujian untuk problem2 TSP sekala international yg 
>dikenal sukar dan berhasil dipecahkan dengan solusi yg optimal.
>
>MSY
>====
>Problem Gila-gilaan itu Terpecahkan
>
>Seorang matematikawan ITB menemukan teori baru yang bisa memecahkan
>misteri matematika yang selama 200 tahun tak terungkap. Masih perlu
>pengujian secara internasional.
>
>Suatu kali, Anda mendapat tugas mengunjungi emapat kota dengan pesawat
>carteran. Anda berangkat dari Jakarta. Kota-kota yang harus anda kunjungi,
>katakanlah, Surabaya, Denpasar, Ujungpandang, serta Pontianak. Jika Anda
>mendapat instruksi untuk menempuh jalur terpendek rute mana yang harus
>Anda
>lewati?
>
>Kening Anda harus berkerut-kerut lebih dahulu, sebelum jawaban yang pasti
>bisa ketemu. Syukur kalau Anda hafal di luar kepala jarak antara satu dan
>lain kota. Kalau tidak, Anda harus encari jawaban di buku panduan wisata
>atau mengukur skla jarak di peta. Itu baru langkah pertama. Selanjutnya,
>Anda mesti menyusun beberapa alternative lintasan dan memilih jalur yang
>paling hemat bahan bakar dan murah.
>
>Jika Anda berhasil menemukan jawaban yang tepat dalam waktu singkat, Anda
>termasuk kategori manusia cerdas. Betapa tidak, untuk mengunjungi 4
>kota itu
>ada 12 alternatif lintasan. Dan semua alternative itu harus dijajaki satu
>persatu dengan menjumlahkan panjang lintasannya dan membandingkan satu
>dengan yang lain.
>
>Problem mencari lintasan semacam itu akan lebih memusingkan jika kota yang
>harus disinggahi makin banyak. Ambil contoh, umpamanya trip itu ditambah
>dengan Medan .Alternatif lintasan pada enam kota itu, termasuk Jakarta,
>jumlahnya menjadi 60. Jika ditambah Padang, misalnya, alternatifnya
>menjadi
>360 lintasan. Kalau 16 kota?
>
>Konon, problem matematis seperti itu telah ramai diperdebatkan sejak dua
>abad silam. Selama ini, "teka-teki" tersebut tak pernah memperoleh jawaban
>tuntas. Menghitung jumlah kombinasinya pun sudah pusing, apalagi kalau
>harus
>menentukan misalnya, lintasan terpendek atau terjauh. Kasus pelik, seperti
>mencari lintasan terpendek pada trip ke sejumlah kota, adalah sebuah
>contoh
>kasus, dari gugus problem sejenis, yang oleh pakar matematika disebut
>(nonpolynomial)-complete problem.
>
>Kasus-kasus NP-complete problem ini mempunyai cirri yang khas: sebuah
>problem matematik yang jika variabelnya bertambah sedikit saja akan
>menyebabkan pertambahan waktu computer yang sangat besar untuk
>memcahkannya. Pertambahan waktu yang berlipat-lipat itu tak lain
>disebabkan
>tidak tersedianya kunci praktis untuk menerobos inti persoalan.
>
>Namun, problem tua itu agaknya kini mulai terkuak. Dr. Anang Zaini
>Gani, matematikawan ITB, mengemukakan sebuah teori yang disebut "teori
>interaksi", sebagai kunci pemecah NP-complete problem. Bahkan kasus-kasus
>paling rumit dalam gugus itu, yang disebut The Trveling Salesman Problem
>(TSP), oleh Anang Zaini dikatakan bisa ditembus oleh teori temuannya.
>"Teori saya ini mampu memecahkan problem TSP sampai jumlah variable 57
>atau lebih,"
>
>TSP memang boleh disebut problem matematik yang gila-gilaan. Sepintas,
>seperti problem mencari lintasan tadi, persoalan tampak sederhana. Tapi
>program konvensional pada supercomputer pun bisa dibikin menyerah.
>Bayangkan, untuk lima buah variable, supercomputer - dengan kemampuan satu
>juta operasi per detik - hanya memerlukan 0,02 detik untuk memcahkan TSP.
>
>Jika peubah bebas itu ditambah menjadi sepuluh, waktu yang diperlukan
>untuk
>memecahkannya berlipat hingga sepuluh menit. Namun, jika variable itu
>digandakan menjadi 50, "Waktu yang diperlukan sampai tahunan,"
>kata
>Anang Zaini. Maklum, komputer itu harus membandingkan kombinasi-kombinasi
>yang jumlahnya mencapai sebuah bilangan yang terdiri atas 65 angka!
>
>Anang Zaini mengembangkan teorinya berdasarkan sebuah gagasan unik: sebuah
>angka tidaklah mutlak adanya. "Nilai suatu elemen dalam sistem itu
>sesungguhnya relative, tidak absolute," kata Zaini. Kenisbian nilai elemen
>sistem itu, kata ayah empat anak ini, tergantung lingkungannya. Maka,
>dalam
>membangun teorinya, Zaini mengaitkan satu elemen dengan elemen lain
>disekelilingnya, sehingga memperoleh koefisien interaksi. Komponen inilah
>yang memungkinkan ahli desain industri itu memperoleh nilai-nilai nisbi.
>
>Dalam memecahkan persolan TSP, Zaini tak melakukan pendekatan dengan
>matematika tinggi."Cukup dengan aritmatika (ilmu hitung) biasa, " ujarnya.
>Elemen TSP biasanya disusun dalam matriks. Ukuran matriks itu tentu
>tergantung variable yang ada. Jika peubah bebasnya 50, matriksnya pun
>berukuran 50 x50.
>
>Anggota matriks kemudian ditransformasikan dengan mengalikan terhadap
>koefisien interaksi. Indeks koefisien itu diperoleh dari penguadratan
>anggota matriks terhadap besaran tertentu. Tahap berikutnya, setelah
>transformasi, adalah penggarapan terhadap nilai-nilai nisbi dalam tubuh
>matriks itu. Dan yang paling penting pada metode interaksi itu, "Hasil
>yang
>diperoleh dijamin optimal dan eksak," kata Zaini.
>
>Sumber : Tempo
>
>
 

Kirim email ke