Assalammu'alaykum WR.WB.,

Hari ini.... 9 Dulhijah....
Waktu yang mustajab untuk berdo'a...

Wassalam,
Morry Infra

---------- Forwarded message ----------
From: Muhammad Rizal D. Yusuf <[email protected]>
Date: 2012/10/25
Subject:  Mustajabnya Do’a pada Hari Arafah

Mustajabnya Do’a pada Hari Arafah


 Sebaik-baik do’a adalah *do’a hari Arafah* -9 Dzulhijjah-. Maksudnya, do’a
ini paling cepat diijabahi. Sehingga kita diperintahkan untuk konsen
melakukan ibadah yang satu ini di pada hari Arafah, apalagi untuk orang
yang sedang wukuf di Arafah.

Dari ‘Aisyah, ia berkata bahwa Rasulullah *shallallahu ‘alaihi wa sallam *
bersabda,

مَا مِنْ يَوْمٍ أَكْثَرَ مِنْ أَنْ يُعْتِقَ اللَّهُ فِيهِ عَبْدًا مِنَ
النَّارِ مِنْ يَوْمِ عَرَفَةَ وَإِنَّهُ لَيَدْنُو ثُمَّ يُبَاهِى بِهِمُ
الْمَلاَئِكَةَ فَيَقُولُ مَا أَرَادَ هَؤُلاَءِ

“*Di antara hari yang Allah banyak membebaskan seseorang dari neraka adalah
hari Arafah. Dia akan mendekati mereka lalu akan menampakkan keutamaan
mereka pada para malaikat. Kemudian Allah berfirman: Apa yang diinginkan
oleh mereka?”* (HR. Muslim no. 1348).

Dari ‘Amr bin Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya, Nabi *shallallahu ‘alaihi
wa sallam* bersabda,

خَيْرُ الدُّعَاءِ دُعَاءُ يَوْمِ عَرَفَةَ

“*Sebaik-baik do’a adalah do’a pada hari Arafah*.” (HR. Tirmidzi no. 3585.
Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan). Maksudnya, inilah doa
yang paling cepat dipenuhi atau terkabulkan (Lihat Tuhfatul Ahwadzi, 10:
33).

*Apakah keutamaan do’a ini hanya khusus bagi yang wukuf di Arafah? Apakah
berlaku juga keutamaan ini bagi orang yang tidak menunaikan ibadah haji?*

Yang tepat, mustajabnya do’a tersebut adalah umum, baik bagi yang berhaji
maupun yang tidak berhaji karena keutamaan yang ada adalah keutamaan pada
hari. Sedangkan yang berada di Arafah (yang sedang wukuf pada tanggal 9
Dzulhijjah), ia berarti menggabungkan antara keutamaan waktu dan tempat.
Demikian kata Syaikh Sholih Al Munajjid dalam fatawanya *no.
70282<http://islamqa.info/ar/ref/70282>
*.

Tanda bahwasanya do’a pada hari Arafah karena dilihat dari kemuliaan hari
tersebut dapat kita lihat dari sebagian salaf yang membolehkan *ta’rif*.
Ta’rif adalah berkumpul di masjid untuk berdo’a dan dzikir pada hari
Arafah. Yang melakukan seperti ini adalah sahabat Ibnu ‘Abbas *radhiyallahu
‘anhuma*. Imam Ahmad masih membolehkannya walau beliau sendiri tidak
melakukannya.

Syaikh Sholih Al Munajjid *-semoga Allah berkahi umur beliau-* menerangkan,
“Hal ini menunjukkan bahwa mereka menilai keutamaan hari Arafah tidaklah
khusus bagi orang yang berhaji saja. Walau memang berkumpul-kumpul seperti
ini untuk dzikir dan do’a pada hari Arafah tidaklah pernah ada dasarnya
dari Nabi *shallallahu ‘alaihi wa sallam*. Oleh karena itu Imam Ahmad tidak
melakukannya. Namun beliau beri keringanan dan tidak melarang karena ada
sebagian sahabat yang melakukannya seperti Ibnu ‘Abbas dan ‘Amr bin
Harits *radhiyallahu
‘anhum*.” (*Fatawa Al Islam Sual wal Jawab* *no.
70282<http://islamqa.info/ar/ref/70282>
*)

Para salaf dahulu saling memperingatkan pada hari Arafah untuk sibuk dengan
ibadah dan memperbanyak do’a serta tidak banyak bergaul dengan manusia.
‘Atho’ bin Abi Robbah mengatakan pada ‘Umar bin Al Warod,  “*Jika engkau
mampu mengasingkan diri di siang hari Arafah, maka lakukanlah*.” (*Ahwalus
Salaf fil Hajj*, hal. 44)

Do’a ini bagi yang wukuf dimulai dari siang hari selepas matahari
tergelincir ke barat (masuk shalat Zhuhur) hingga terbenamnya matahari.

*Semoga Allah memudahkan kita untuk menyibukkan diri dengan do’a pada hari
Arafah.*


Artikel Muslim.Or.Id <http://muslim.or.id/>

Kirim email ke