dari Rumah Ilmu, artikel bagus. bagaimana fenomena di artikel tsb dikaitkan dengan bahasa Asia/orang Timur lainnya? seperti Bhs Arab, Bhs India (Hindustan, Urdu, dsb)? apa ada yg bisa sharing?
Best Regards and Wassalam - Nugon Kebanyakan sumber permasalahan adalah cara berkomunikasi!!! -=-=-=-=- http://forum.rumahilmu.or.id/showthread.php?952-Menjinjing-Bahasa-Indonesia Menjinjing Bahasa Indonesia Oleh : Abdul Hamid M. Sastra I Kalau kita berjalan-jalan ke tempat belanja atau tempat nangkring atau nongkrong (biasa sekarang disebut hang out), tentu tidak aneh lagi jika kita melihat tulisan berkata atau beristilah bahasa Inggris. Begitu pula di jejaring sosial seperti Facebook, lebih banyak orang menggunakan istilah share daripada istilah berbagi, ditag daripada ditandai. Bahkan ada yang menuliskan hanny (yang dimaksud adalah honey). Ada apa dengan bahasa Inggris? Apakah bahasa Inggris dianggap kotaan dan bahasa Indonesia dianggap kampungan? Bagaimana hubungannya dengan butir ketiga ikrar Sumpah Pemuda hingga di sebuah perguruan tinggi terpampang tulisan besar di atas pintu LIBRARY dan pada kaca pintunya ada kertas ukuran 15 X 30cm dengan tulisan spidol PERPUSTAKAAN. Anehnya, tidak seorang pun baik dosen dan mahasiswa atau karyawannya pernah mengatakan, “Let’s go to the library.” Yang selalu saya dengar adalah “Ayo kita pergi ke perpus!” bukan perpustakaan juga. Tulisan itu berbangga-bangga dengan bahasa Inggris dan secara taklangsung melupakan butir ketiga Sumpah Pemuda, Kami putra putri Indonesia menjunjung tinggi bahasa persatuan: bahasa Indonesia. Berarti juga itu melecehkan dan mengampungankan bahasa Indonesia. Padahal bahasa Indonesia sudah kotaan, sudah modern dengan bukti sudah dijadikan ragam ilmiah untuk menuliskan skripsi, tesis, dan disertasi. Suatu hal yang boleh dikatakan menggembirakan, setelah 84 tahun menjadi bahasa persatuan dan 65 tahun menjadi bahasa negara, kini bahasa Indonesia memiliki 90.000 lebih lema yang terhimpun dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi keempat tahun 2010. Berapa lema dari jumlah sebanyak itu yang sudah kita kuasai? Belum ada penelitian yang dilakukan secara khusus. Namun, menurut beberapa ahli bahasa, orang dewasa umumnya hanya menguasai 10 – 15%. Hal ini diperkuat dengan pernyataaan yang sering muncul ke permukaan. Ketika ada istilah asing, banyak di antara kita dengan mudah dan ringan mengatakan tidak ada istilah dalam bahasa Indonesianya. Sebuah jawaban yang sangat tidak bijaksana. Tanpa mencari dulu dalam kamus, mereka langsung menyelipkan istilah asing itu dalam bahasa Indonesia, atau menyesuaikan dengan lafal Indonesia. Memang bahasa asing tidak haram untuk diserap dan disesuaikan, begitu pula bahasa daerah. Namun, penyerapan dilakukan jika prosedurnya sudah dilalui. Bahasa asing dan bahasa daerah adalah pemerkaya bahasa Indonesia. Bahasa asing dan bahasa daerah dipakai secara proporsional. Dalam menciptakan kata dan istilah, yang diutamakan sumbernya adalah bahasa Indonesia yang lazim atau taklazim. Jika tidak ditemukan, sumber kedua adalah bahasa daerah yang lazim atau taklazim. Jika calon kata atau istlah ditemukan, lalu ditimbang-timbang apakah cocok ditinjau dari makna dan konotasi. Lalu, jika dalam bahasa Indonesia dan daerah masih juga tidak ditemukan, barulah kita menyerap bahasa asing dengan penyesuaian lafal atau ejaan. Sayangnya, aturan yang dikeluarkan Pusat Bahasa bersifat mendua: berdasarkan lafal atau ejaan. Dalam hal penerjemahan istilah, kita bisa mencontoh bahasa Tionghoa. Demi kemajuan bangsa, orang Tionghoa berani memaksakan istilah bahasa Tionghoa untuk sesuatu yang datang dari luar. Kita lihat contoh di bawah ini. Bahasa InggrisBahasa Tionghoa Arti Harfiahnya computer dian4 nao3 (电脑) otak elektronik laptop bi3 ji4 ben3 (笔记本) buku catat airconditioner kong1 tiao2(空调) mesin pengendali udara mobile (HP) shou3 ji1 (手机)mesin tangan battery dian4 chi2 (电池) kolam listrik telephone dian4 hua4 (电话)bicara listrik photo xiang4 pian4 (相片) kertas penampilan camera xiang4 ji1 (相机) mesin penampilan film dian4 ying3 (电影) bayangan listrik calculator ji4 suan4 qi4 (计算器)mesin hitung TV dian4 shi4 (电视)lihat listrik telescope wang4 yuan3 jing4(望远镜) cermin yang melihat jauh cosmetic hua4 zhuang1 pin3 (化妆品)barang berdandan perfume xiang1 shui3 (香水) air wangi terrorist kong3 bu4 fen4 zi3 (恐怖分子) orang yang menakutkan billiard tai2 qiu2 (台球) bola meja rocket huo3 jian4 (火箭) panah api antenna tian1 xian4 (天线) tali langit college xue2 yuan4 (学院) halaman belajar radio shou1 yin1 ji1 (收音机) mesin yang menerima suara menu cai4 dan1 (菜单) daftar masakan shampoo xi3 fa4 shui3 (洗发水) air yang mencuci rambut harddisk ying4 pan2 (硬盘) piring keras software ruan3 jian4 (软件) barang lunak elevator dian4 ti1 (电梯) tangga listrik Jika diperhatikan, terjemahan harfiah dari bahasa Tionghoa itu lucu-lucu. Namun, itulah mereka. Demi kepentingan bangsanya, mereka junjung bahasa Tionghoa sambil tetap “menyuruh” warganya untuk mempelajari bahasa asing. Sebagai contoh, seluruh nama jalan di kota Shanghai memakai bahasa Tionghoa dan bahasa Inggris. Contoh lain, di tempat saya pernah mengajarkan bahasa Indonesia selama satu semester, Shanghai International Studies University (Shanghai Waî Guo Yu Da Xué), ada delapan belas program studi bahasa asing, termasuk di dalamnya program studi bahasa Indonesia. Tanpa ada ikrar Sumpah Pemuda, orang Tionghoa sudah berani menjunjung tinggi bahasanya sendiri. Mereka berpikir dengan fanatik memakai bahasa sendiri, ilmu pengetahuan dapat dengan mudah disebarkan. Masyarakat cukup berpikir satu kali dalam bahasanya sendiri. Berbeda dengan kita yang harus tahu dulu bahasa Inggris. Memang ilmu pengetahuan kita sebarkan dalam bahasa Indonesia, namun di dalamnya bertaburan kata dan istilah bahasa Inggris. Bahkan, demi gengsi semu, banyak di antara kita, termasuk para pendidik, merasa “pandai” jika menyelipkan kata dan istilah atau bahkan kalimat berbahasa Inggris. Mereka hanya menjunjung tinggi bahasa Inggris dan menjinjing bahasa Indonesia. Hasilnya? Ilmu pengetahuan susah disebarkan kepada kita yang tidak mahir bahasa Inggris dan kita masih berada dalam ketertinggalan dalam berbagai bidang.
