http://us.sorot.news.viva.co.id/news/read/362469-idham-samawi--dari-incognito-hingga-kandang-kambing

 Idham Samawi, Dari Incognito Hingga Kandang
Kambing<http://us.sorot.news.viva.co.id/news/read/us.sorot.news.viva.co.id>

*VIVAnews -* Di Dlingo, hidup digali dari batu cadas dan tanah merah.
Lereng, tebing dan bukit tersusun dari cadas. Hanya pohon jati kluwih yang
sanggup tumbuh di situ. Tanah merah itu memang bersahabat di musim hujan.
Bisa bersawah. Bisa berkebun.

Tapi bila musim kemarau datang, semuanya menyerah. Pohon rontok, lahan
kering kerontang, tanah membelah. Hidup sulit.

Kerja keraslah yang membuat warga di sana bertahan. Bahkan sanggup
menyekolahkan anak. Suatu hari tahun 1999, di musim kemarau yang garang,
seorang pria lewat di situ. Dia menghampiri seorang petani yang sibuk
mengais di ladang. Jalan menuju ladang itu sempit. Berbatu dengan aspal
tipis seadanya.

“Bagaimana tanamannya, Pak?,”  pria itu menyapa dalam bahasa Jawa yang
santun.  “Ya beginilah, Pak.  Tanahnya tandus, giliran panen harganya
rendah, *ndak* cocok dengan tenaga dan biaya menanam,” jawab si petani itu
sembari menghela nafas  berat.

Tamu yang datang siang bolong itu kembali bertanya. “Katanya ada bupati
baru yang dilantik. Orangnya seperti apa sih, Pak?. ” Si petani menjawab
pendek.  “Katanya sih baik, tapi *nggak*  tahu ya ke depannya.” Sesudah
ngobrol sebentar, pria itu pergi.

Pak Tani yang sedang diladang itu, sungguh tak tahu bahwa lelaki yang
berlalu itu adalah Idham Samawi, Bupati Bantul yang baru dilantik. Sang
bupati memang datang  ke kecamatan Dlingo itu cuma berdua. Cuma pakai kaos
oblong dan celana jeans.

Incognito. Menyamar. Itulah yang dilakukan Idham Samawi pada masa-masa awal
menjadi Bupati Bantul. Dia keluar masuk pelosok kampung. Dari pinggir
pantai, kampung di pelerengan, hingga perbukitan tandus seperti Dlingo itu.

Dengan keluar masuk secara incognito itu, dia bisa merekam keadaan warga.
Merekam apa yang mereka perlukan. Dari situlah dia menyusun program kerja.
Dari hasil menyamar ke kampung-kampung itu, kesimpulannya jelas. Warga
butuh infrastuktur khususnya jalan. Lewat jalan itu mereka punya akses ke
sumber-sumber ekonomi.

“Saya membangun infrastruktur jalan di Kecamatan Dlingo. Ternyata hasilnya
luar biasa. Ekonomi masyarakat meningkat tajam,” kisah Idham Samawi, kepada
*VIVAnews*.

Sesudah itu sang bupati tetap memeras otak. Sebagian besar rakyat adalah
petani. Mengantung nasib pada kebaikan alam. Panen dimusim hujam. Bisa
kelaparan di musim kemarau. Saat panen berlimpah harga terjun ke titik
nadir. Petani nyaris tak pernah untung. Selalu begitu saban tahun.

Sang bupati baru itu harus memikirkan cara bagaimana menyudahi nasib itu.
Lalu muncul gagasan terobosan ini. Bila musim petik tiba, dan harga
terjungkal ke titik terendah, pemerintah harus turun tangan.

Bagaimana caranya? Borong semua hasil panen jika harga terjun bebas.

“Kalaupun rugi, biar pemerintah yang tanggung,” kata Idham. Dengan cara itu
para petani memetik untung dan kian semangat bekerja.

Birokrasi dikerahkan demi membantu warga. Dari kepala dinas, camat hingga
kepala dusun. Itu sebabnya mereka harus menguasai wilayahnya secara rinci.
Setiap camat di Bantul wajib hafal berapa jumlah siswa, berapa hektar sawah
irigasi, tegalan, dan pekarangan.

Bukan cuma itu. Pak camat juga harus bersedia menjadi “camat siaga.” Siap
mengantarkan ibu hamil yang segera melahirkan dengan mobil dinas ke rumah
sakit. “Ini adalah salah satu cara untuk menekan jumlah ibu dan bayi
meninggal saat melahirkan,” kata Idham. Mereka yang malas memikul kewajiban
itu, sanksinya tegas. Jabatan dicopot.

Selain sektor pertanian dan kesehatan, Idham juga memacu sektor pendidikan.
Semua guru sekolah dasar di Bantul wajib bertitel sarjana . Yang belum
harus melanjutkan kuliah. Biaya kuliah disubsidi Pemerintah Kabupaten
Bantul.  “Hingga akhir masa jabatan saya, guru SD yang tidak berijazah S1
dapat dihitung dengan jari,” katanya.

*Kisah dari kandang kambing *

Suatu hari Idham kembali mengunjungi Dlingo. Di jalan ia bertemu dengan
seorang ibu yang baru pulang dari pasar. Ibu tua itu menggendong bakul
berisi hasil panen yang tidak laku terjual. Dengan tubuh membungkuk menahan
beban, perempuan desa itu mendaki perbukitan.

Idham menyuruh sopirnya menghentikan mobil dan menepi. Ia mengajak ibu itu
untuk ikut serta. Diantar hingga dekat rumahnya. Hingga turun dari mobil,
ibu itu tak tahu bahwa yang memberi tumpangan adalah Pak Bupati.

Sopir pribadi Idham, Gunadi, masih merekam dengan jelas hari-hari pertama
majikannya menjadi bupati. Kerap menyamar  turun ke lapangan menemui
langsung masyarakat. Memakai jeans dan baju kaos.

Sang sopir berkali-kali salah tingkah. Dan itu karena “kelakuan” si bupati
ini. Suatu hari, Gunadi tidak sadar bahwa acara yang dihadiri oleh bupati
sudah selesai. Dia asyik menikmati panganan di sebuah angkringan. Merasa
terlambat, Gunadi buru-buru membayar.

Tapi terlambat. Sang majikan sudah di depan mata. Ia selonong seenaknya ke
angkringan itu, duduk di bangku kayu, lalu sibuk menyomot tahu dan tempe.
Gunadi yang terkejut, plus salah tingkah kembali duduk. “Kami jadi minum
teh bersama di angkringan.”

Di lain kesempatan, Gun, nama panggilan sopir berusia 56 tahun itu,
mengantar Idham ke Semarang. Mereka menginap di hotel bintang lima.
Lantaran cuma sewa satu kamar, si sopir berniat selonjor di mobil untuk
beristirahat.

Tapi Idham memaksanya tidur di kamar. Jadilah mereka seranjang berdua. Pak
Bupati dan sopirnya. Tapi Gun salah tingkah sampai di ranjang itu. Dia tak
bisa tidur nyenyak. ”*Mosok* saya tidur satu ranjang dengan juragan," kata
Gun.

Kisah unik seperti ini,  bertaburan di masa kepemimpinan Idham Samawi di
Bantul. Dikisahkan rakyatnya sendiri, sopir dan orang-orang dekatnya.
Dengarlah kisah dari Beni Sasongko, mantan ajudan pribadi Idham.

Jika sangat mendesak, katanya, Idham Samawi bisa menerbitkan keputusan di
mana saja. Termasuk di kandang kambing, ketika dia bercelana pendek dan
sedang asyik memberi pakan kepada hewan bertanduk itu.

“Dulu Pak Idham itu suka memelihara kambing etawa. Suatu hari, ketika
sedang memberi pakan, ada kepala dinas yang meminta tanda tangan dan juga
arahan terkait program. Karena sedang memberi pakan, pengarahan pun
dilakukan di kandang kambing itu,”kata Beni.

Kepala Dinas Sumber Daya Air Pemkab Bantul, Yulianta membenarkan cerita
itu. “Tidak harus di kantor atau rumah dinas. Di empang pun, saat kami
datang akan ditanggapi,” kata Yulianta.

*Diguncang gempa besar*

Tanah di Bantul hebat berguncang  27 Mei 2006. Pukul lima lebih 53 menit.
Saat itu Idham sedang di rumah dinas. Merasakan guncangan itu dia terkejut.
Seperti warga lain, dia cepat lari keluar rumah. Di luar matanya terbelalak.

Keadaan sangat kacau. Banyak rumah dan pohon roboh. Laporan pertama yang
datang ke bupati menyebutkan bahwa ada satu korban jiwa. Meski sedih, ia
masih bisa bernafas lega. Tapi itu hanya sesaat.

Di tengah kekacauan itu, ia menyaksikan orang-orang hilir-mudik. Menangis,
meraung histeris. Banyak orang digotong ke rumah sakit. Dari yang terluka
hingga yang remuk tubuhnya dan tewas. Ia segera menyusul ke Rumah Sakit
Panembahan Senopati, yang tak berapa jauh dari rumah dinas.

Tiba di sana dia terperangah. Tubuhnya gemetar menyaksikan tubuh-tubuh
bergelimpangan. Pada hari kedua, Idham kemudian mengetahui 5.000 warganya
tewas. Rumah-rumah dan bangunan rata dengan tanah. Gempa 5,9 Skala Richter
itu melumpuhkan Bantul.

Kepada *VIVAnews*, Idham mengaku sempat frustasi berat dan pesimistis.
“Waktu itu saya pernah berdoa kenapa Tuhan tidak menyabut nyawa saya
sekalian. Saya melihat bagaimana sengsaranya rakyat Bantul. Mayat-mayat
dimakamkan seadanya. Rumah sakit penuh dengan korban gempa dan orang-orang
terus panik dengan gempa susulan yang terus berulang.”

Tapi jika seorang pemimpin jatuh, bisa jadi rakyatnya kian terpuruk. Itu
sebabnya Idham Samawi berusaha tegar. Selama sebulan dia keliling daerah
untuk membangkitkan semangat warga. Meski susah melupakan petaka itu, warga
Bantul perlahan bangkit.

Tapi  setelah trauma gempa berlalu, Idham justru berurusan dengan kasus
hukum, dugaan korupsi dana rekonstruksi gempa. Ia memang tidak pernah
menjadi tersangka seperti sejumlah kepala desa.

Namun, pernyataannya bahwa kehadiran Komisi Pemberantasaan Korupsi dipicu
segelintir orang yang ingin merusak Bantul dan upayanya mengajak warga
untuk melawan pelapor dugaan korupsi di daerahnya, menuai kritik tajam.
Bahkan dari Sri Sultan Hamengkubuwono X menganggapnya mengintimidasi para
pegiat antikorupsi.

Soal kasus itu, Idham menjelaskan bahwa ia sendiri sangat anti korupsi.
Marah jika bantuan gempa diselewengkan.“Tetapi kalau saya lihat angkanya,
itu kecil banget. Apalagi kalau dibandingkan dengan Rp 2,6 triliun (dana
dari pusat),” katanya.

Idham menegaskan bahwa kasus penyelewengan itu hanya terjadi di tingkat
kecamatan ke bawah. “Level kecamatan keatas, *Insya Allah clear*.”

Idham sendiri sudah berusaha agar bantuan yang datang ke sana tidak
diselewengkan. Enam hari pasca gempa, Idham meminta pendampingan Badan
Pemerika Keuangan karena bantuan terus mengalir.

Meski dalam setiap rapat koordinasi selalu ditekankan kepada seluruh lurah
agar tidak menyunat jatah korban bencana, Idham menyadari bahwa besarnya
dana tanpa didahului perencanaan dapat mengubah perangai seseorang. “APBD
itu perencanaannya sudah sangat panjang. Itu saja masih ada yang nyangkut
di jalan,” katanya.

*Dilanjutkan istri*

Sesudah dua periode menjabat, pengaruh Idham di Bantul tak lantas surut.
Lantaran Idham tak bisa maju lagi, warga di sana memaksa istrinya yang
maju. Meski tidak disokong partai yang mendukung Idham, sang istri Sri
Suryawidati malah terpilih sebagai bupati.

Sejumlah orang menganggap, fenomena istri menggantikan suami di tampuk
kekuasaan sebagai sesuatu yang tak pantas dan mencederai  demokrasi. Namun,
Ida—begitu sang istri disapa-- menyebutnya sebagai sebuah “kecelakaan”.
“Saya menjadi bupati karena kecelakaan politik. Modal saya jadi bupati kan
hanya dari ketua PKK Kabupaten Bantul,” katanya.

Bahkan hingga saat ini, setiap kebijakan yang akan diputuskan Ida kadang
harus mendapat “restu” dari Idham. “Saya berkonsultasi dengan suami dalam
mengambil kebijakan. Pak Idham staf ahli saya yang tak perlu dibayar,” ujar
Ida.

Kirim email ke