Betul

Kalau pak mardjoko saya melihat manfaatnya, rumah sakit orthopedy juga dibangun 
di banyumas, yg sebelumnya di jateng hanya ada di solo.

Kemudian, pendirian rumah sakit pendidikan untuk program kedokteran unsoed.

Dulu, kalau mau berobat yg lengkap di jateng harus ke jogja, solo, atau 
semarang. Dengan adanya RS lengkap di daerah barat nya jateng, menunjang 
kesehatan masyarakat di daerah tsb semakin meningkat.

Yg di kebumen, cilacap, banyumas, brebes, dskt. Bisa menikmati fasilitas 
kesehatan tersebut.

Imbasnya tidak hanya di banyumas, namun kabupaten sekitarnya pun ikut menikmati 
hail.

Kebetulan paman saya di dinas kesehatan banyumas, dan pak mardjoko itu info 
paman saya, sangat membantu peningkatan fasilitas kesehatan di banyumas.



AriefK

Sent from my NerdBerry® freakz smartphone

-----Original Message-----
From: Morry Infra <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Fri, 2 Nov 2012 10:39:37 
To: Serba_KL Serba_KL<[email protected]>; 
ex-cii<[email protected]>; ARII Drlg 
Milist<[email protected]>; Ahlan 
Riyadh<[email protected]>; <[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Subject: [sma1bks] Orang2 baik di Indonesia SOROT 211 ==> (4) Mardjoko, Ambisi 
Investasi
 Bupati Ngapak

http://us.sorot.news.viva.co.id/news/read/362470-mardjoko--ambisi-investasi-bupati-ngapak

 Mardjoko, Ambisi Investasi Bupati
Ngapak<http://us.sorot.news.viva.co.id/news/read/us.sorot.news.viva.co.id>

*VIVAnews –* Ada yang cukup dikenang oleh Bupati Banyumas Mardjoko ketika
baru dua bulan menjabat,  pada 2008 silam. Puluhan wartawan berdemo di
depan kantornya. Mereka menentang kebijakan bahwa hanya bupati yang boleh
berbicara ke media. Terutama soal pengelolaan keuangan daerah, dan
pembinaan pegawai.

Meski didesak wartawan, Mardjoko tak berubah. Dia malah mencopot kepala
humas. Alasannya, sang jubir itu tak bisa menyampaikan kebijakan itu ke
wartawan. “Saya bukan menghalang-halangi wartawan mendapat informasi,” kata
Mardjoko kepada *VIVAnews*.

Soal surat itu, Dewan Pers memang sempat turun tangan. Namun, Marjoko tak
gentar. Dia merasa kebijakan itu benar. “Saya juga dapat surat dari Dewan
Pers,” ujarnya. Tapi Mardjoko menjelaskan alasannya kepada Dewan Pers, dan
menurutnya Dewan Pers menerima. “Sampai sekarang tidak apa-apa,” kata
Bupati yang diusung Partai Kebangkitan Bangsa, dan menang satu putaran di
pemilu Banyumas.

Sebagai pejabat baru, Mardjoko ingin informasi ke masyarakat jelas. Tak ada
bias. “Jadi nanti apa yang disampaikan ke publik harus dikomunikasikan
dengan pimpinan,” ujar dia.

*Rombak alun-alun
*Ada hal kontroversial lain saat awal dia menjabat. Belum genap tiga bulan
berkuasa, Mardjoko berniat membongkar alun-alun di Kota Purwokerto, ibukota
Banyumas. Alun-alun itu dipisahkan dua jalan. Saat itu kondisinya kumuh.
Banyak pedagang kaki lima, sampai menjorok ke tengah alun-alun.

Sekitar Juli 2008, para pedagang kaki lima itu dipindah ke Jalan
Rajasemangsang, sekitar 30 meter dari alun-alun. Mardjoko mendatangkan
buldoser. Jalanan yang memisahkan alun-alun dibongkar. Begitu juga pohon
beringin yang tumbuh di tengahnya.

Sontak, rencana itu dikecam puluhan seniman Banyumas. Mereka berdemo.
Perombakan alun-alun dinilai melanggar hukum. Mardjoko dituding merusak
benda cagar budaya. Dia juga dilaporkan ke polisi.

Mardjoko tak mundur. Dia ngotot membedah alun-alun kumuh itu. Alasannya,
ingin mendatangkan investor.  Perombakan pun dilanjutkan. Berbagai sudut
dipoles. Rumput berkualitas bagus ditanam di atasnya. Dalam waktu singkat,
alun-alun terlihat cantik.

“Saya kampanye membangun Banyuwas dengan investasi. Kalau kumuh mana ada
investor mau datang.  Toh saat ini berubah jadi bagus. Banyak investor
masuk,” ujar Mardjoko dengan logat *ngapak*.

Dia terus mendandani Banyumas. Ruang terbuka hijau dalam kota diperluas.
Jalan-jalan di Kota Purwokerto dilebarkan. Para pedagang kaki lima yang
semula berjubel di alun-alun dibuatkan tempat khusus, Prathista Hasta. Di
tempat itu, para pedagang bebas berjualan. Jika di alun-alun hanya dagang
dari siang sampai malam, di tempat khusus ini mereka bisa berjualan 24 jam.

Keberanian Marjdoko menata Banyumas berbuah. Sejumlah investor mulai masuk.
Di sektor jasa, dua hotel kelas nasional dibangun di Purwokerto. Ratusan
restoran dan rumah makan berkembang pesat. Bak jamur di musim hujan.

Investasi juga masuk di sektor industri. Pabrik semen Panasia dibangun di
Desa Tipar Kidul, Ajibarang. Nilai investasinya Rp2,9 triliun. Di Gunung
Slamet, Baturaden, muncul pembangkit listrik tenaga panas bumi atau
geothermal. Nilai investasinya mencapai Rp7,9 triliun.

*Tak sendiri*
Mardjoko tak bekerja sendiri. Dia mengajak rekannya, para bupati di sekitar
Banyumas. Bupati Purbalingga, Banjarnegara, Wonosobo, dan Kebumen, pun
digandeng. Mereka diajak merintis operasional lapangan udara Wirasaba milik
TNI Angkatan Udara. Lapangan itu disulap menjadi bandara komersial. Proses
ini masih berjalan.

Lapangan udara itu memang berada di Kabupaten Purbalingga. Namun, Mardjoko
ingin lapangan udara itu berkembang. Prinsipnya, jika lapangan itu
berkembang, maka daerah sekitarnya ikut tumbuh. Jika bandara dibuka,
ekonomi berputar lebih cepat. Banyumas, kata Mardjoko, pasti ikut menikmati
hasilnya.

Hasilnya kini mulai tampak. Pendapatan asli daerah (PAD) Banyumas,  sebelum
era Mardjoko, hanya Rp40 miliar per tahun. Setelah gebrakan Mardjoko, PAD
Banyumas meroket jadi Rp200 miliar per tahun. Naik lima kali lipat. Selama
menjabat, dia juga menyabet 132 penghargaan di berbagai bidang.

Laporan keuangan kabupaten dengan 27 kecamatan ini pun termasuk oke. Badan
Pemeriksa Keuangan (BPK) memberikan predikat “wajar tanpa pengecualian”
untuk Banyumas,  pada laporan 2009, 2010, dan 2011. Sebelumnya, Banyumas
dapat stempel disklaimer dari badan pemeriksa itu.(np)

Kirim email ke