menarik utk dibaca....bukan James Bond, tapi Intel Indonesia - Supono.
cuma saya berpikir...kalau benar intel kita pernah atau sedang/selalu dididik 
CIA dan Mossad, apa tdk mustahil ada infiltrasi, atau doktrinasi?
sehingga bisa jadi intel tsb tanpa atau dgn kesadaran melakukan tindakan yg 
merugikan kita...dan lebih terpengaruh atau pro dgn sepak-terjang CIA dan 
Mossad.
lalu apa tdk terpikir belajar Intel ke negara lain yg lebih netral, atau lebih 
menguntungkan kita? (kalau ada kali ya???)
saya juga sangat tertarik dgn statement di artikel ini, bahwa kualitas intel 
kita termasuk di atas rata-rata, bahkan bila dibandingkan dgn "guru" mereka, 
CIA dan Mossad.
saya juga ingin tahu, bagaimana praktek pembentukan dan pelatihan serta 
pengoperasian Intel di era lalu, terlebih di Asia, di kerajaan-kerajaan masa 
lalu, khususnya di Nusantara ini.
pembahasan ttg Intel, selalu menarik, dgn sejuta pembahasan, termasuk masalah 
indoktrinasi dan konspirasi.

silahkan membaca dan berimajinasi.
saya sedang menikmati imajinasi saya sendiri terkait Intel...gara-gara membaca 
artikel ini.
mohon maaf bila kurang berkenan.
Best Regards and Wassalam - Nugon
 
Kebanyakan sumber permasalahan adalah cara berkomunikasi!!!  

-=-=-=-=-


http://www.jpnn.com/read/2012/10/27/144799/Agar-Sukses,-Anggota-BIN-Harus-Dapat-Restu-Ibu-



FEATURES


Sabtu, 27 Oktober 2012 , 07:20:00

Supono Soegirman, Perekrut dan Guru Intelijen Indonesia

Agar Sukses, Anggota BIN Harus Dapat Restu Ibu





Supono Soegiran, saat ditemui di Pesona Kahyangan, Margonda, Depok, Jawa Barat, 
Senin, 22 Oktober 2012. Foto: Ridlwan/ Jawa Pos

DUNIA intelijen selalu penuh misteri dan kerahasiaan. Apakah hidup sebagai 
mata-mata seindah yang digambarkan dalam film James Bond besutan Holywood? 
Selalu dikelilingi perempuan-perempuan cantik, mobil mewah, dan alat-alat 
canggih? Inilah pengalaman senior intelijen Indonesia yang telah 32 tahun 
mengabdi sebagai telik sandi negara. 


---------


Ridlwan Habib, Jakarta 


--------


"Panjenengan (Anda, Red) jalan lurus saja ke belakang, saya sudah melihat Anda, 
pakai batik kan?"   ujar Supono Soegirman di ujung telepon. Padahal, Jawa Pos 
yang belum pernah bertemu muka sebelumnya baru saja keluar dari kompleks parkir 
mobil. Rupanya, Supono sudah mengawasi satu jam sebelum waktu yang dijanjikan 
untuk bertemu di sebuah tempat di Depok, Jawa Barat, itu. Ciri-ciri fisik koran 
ini, bahkan rekam jejak masa lalu, juga diketahui lebih awal.    


"Hehe. Kita sama-sama dari Bulaksumur (Universitas Gadjah Mada, Red). Jadi saya 
panggil Dik saja ya,"   sapanya sambil menjabat tangan. 


Untuk lelaki yang pada 7 November nanti berulang tahun ke-65 itu, fisiknya 
masih sangat bugar. Badannya tegap dan sorot matanya tajam. Supono hanya
 mengenakan kaus santai dengan satu kancing atas dibuka. 


Di depan meja terletak sebuah laptop, notes kecil, sebuah USB flashdisk warna 
merah jambu (pink) dan segelas teh hangat tanpa gula (teh pahit). Dia membawa 
satu tas jinjing kecil dan sebuah pouch di ikat pinggang. "Kalau senggang 
seperti ini, selalu saya isi waktu dengan menulis. Judul tulisan soal intelijen 
sudah antre di sini,"   katanya sembari memegang belakang kepala. 


Supono memang baru saja meluncurkan buku pada pekan ketiga Oktober lalu. 
Judulnya: Intelijen, Profesi Unik Orang-Orang Aneh. Buku setebal 310 halaman 
itu berisi aneka macam teknik, pengalaman, dan metode intelijen, baik secara 
ilmiah maupun aplikasi praktis.   "Memang hanya orang aneh yang mau jadi 
intel,"  katanya lantas tersenyum kecil. 


Alumnus Jurusan Ilmu Pemerintahan UGM itu tak sekadar mengarang indah dalam 
bukunya, tapi hasil dari pengalamannya bergabung
 dengan Badan Intelijen Negara (BIN). Berbagai penugasan sudah dia jalani. Dia 
hitung sudah 35 negara disinggahi dalam baktinya sebagai intelijen. 


Supono juga alumnus pelatihan CIA (Central Intelligence Agency) dan Mossad ( 
lengkapnya Ha-Mossad le-Modiin ule-Tafkidim Meyuhadim, dalam bahasa Ibrani 
berarti Institut Intelijen dan Operasi Khusus, Israel).  "Saya di CIA berlatih 
advance collection atau metode tingkat mahir untuk pengumpulan data di 
lapangan,"   katanya.


Collection dalam artian intelijen termasuk teknik menyamar, teknik menyadap, 
teknik menyusup, meniru, dan sebagainya. "Kalau di Mossad, dua kali; advance 
analysis dan training for trainer,"   katanya. Baik di CIA maupun Mossad, 
Supono lulus kursus dengan nilai memuaskan.   


"Sebenarnya kita tidak boleh minder. Kualitas  intel kita sama baik, bahkan 
lebih baik daripada Mossad dan CIA. Hanya kalah di fasilitas,"  
 tambahnya. 


Supono muda sebenarnya sama sekali tak ada bayangan akan berkarir di dunia 
mata-mata hingga tua. Dulu dia hanya berkeinginan menjadi PNS atau pegawai agar 
orang tuanya di Blora, Jateng, bahagia.  "Saya lulus Fisipol tahun 72 nekat 
bawa ijazah ke Jakarta,"   ujarnya. 


Awalnya dia melamar di Badan Urusan Logistik (Bulog).   Baru masuk, sudah 
disodori naskah bahasa Inggris. "Waktu itu saya masih pating grathul (tidak 
lancar, Red) bahasa Ingrisnya,"  katanya. Tentu saja dia ditolak.


Beberapa kantor lain dicoba dimasuki, tapi juga nihil. Hampir putus asa, Supono 
termenung di terminal bus Lapangan Banteng. "Tiba-tiba ada kakak angkatan di 
HMI menyapa, dia alumnus fakultas hukum. Dia bilang, Bakin (Badan Koordinasi 
Intelijen Negara) ada lowongan," katanya.


Saat itu, era Orde Baru, Bakin menjadi lembaga yang sangat sangar. Supono pun 
nekat mendatangi markas Bakin yang dulu berada di
 Jalan Senopati Raya (sekarang Kantor Kementerian Pendayagunaan Aparatur 
Negara).   "Satpamnya gagah tinggi besar, kumisnya tebal. Saya berpikir spontan 
saja. Saya bilang punya informasi penting untuk pimpinan Bakin," tuturnya. 


Mujur, satpam itu percaya. Supono malah diantar langsung bertemu dengan kepala 
personalia Bakin.  "Saya langsung sodorkan ijazah. Kepala personalia itu bilang 
saya beruntung karena siang itu hari terakhir pendaftaran untuk masyarakat 
umum,"   katanya. 


Pendaftarnya 70 orang, sebagian besar adalah agen-agen honorer Bakin yang 
memang direkrut sebelumnya. Rupanya, di antara jumlah tersebut, hanya delapan 
orang yang dinyatakan lolos tes dan bisa resmi menjadi pegawai negeri Bakin.  
"Di antara delapan itu, empat orang, termasuk saya, dari kalangan orang awam. 
Alhamdulillah, semuanya pensiun dalam level eselon I (setingkat Dirjen, Red),"  
katanya. 


Selesai
 pendidikan, Supono mendapat tugas awal sebagai LO (liaison officer, petugas 
penghubung) antara DPR dan Bakin. "Jadi sehari-hari saya nongkrong bareng 
wartawan-wartawan DPR dan staf-staf lain,"   katanya. Tak seperti sekarang, 
hasil rapat-rapat DPR zaman itu tak bisa dengan mudah diakses publik. Nah, 
Supono mengambil data-data itu, lalu dilaporkan ke pimpinan di Bakin. 


Karena dinilai berprestasi, Supono lantas promosi jabatan.  "Saya lama di 
bagian analisis. Bahkan, sebelum di Sekolah Tinggi Intelijen Negara, jabatan 
eselon I saya adalah deputi analisis (deputi III),"  katanya. 


Berbagai cover (kedok) profesi Supono sebagai intel sudah dijalani. "Saya 
beberapa kali berkedok sebagai diplomat. Ini cover yang memang paling lazim 
digunakan semua petugas intelijen di dunia," ungkapnya. 


Dia juga pernah berkedok sebagai staf Kantor Dagang Indonesia di Taipei 
(Taiwan).  "Seolah-olah saya pegawai
 Departemen Perdagangan. Saya dibekali SK, kartu pengenal, semua dari 
Departemen Perdagangan," tuturnya. 


Setiap operasi, baik di dalam maupun luar negeri, Supono memberi tahu istrinya, 
Sri Rahayuningsih.  "Tidak perlu detail, yang penting cukup tahu di kota mana, 
berapa hari. Itu saja agar hatinya tenang, " katanya. Kakek delapan cucu itu 
berpegang pada sifat pokok yang wajib dimiliki seorang intelijen, yakni 
kejujuran. "Kalau intel berbohong, bagaimana datanya bisa dipercaya pimpinan 
atau user-nya," katanya. 


Tentu saja kehidupan asli seorang agen intelijen, terutama di luar negeri, tak 
seperti James Bond. "Kita tidak boleh menimbulkan perhatian, apalagi minum 
minuman keras di kafe-kafe bersama wanita-wanita cantik. Wah, itu sangat 
berbahaya," ungkapnya. 


Sekali seorang diplomat salah langkah, bisa digunakan pihak lain untuk 
memerasnya sebagai agen ganda. "Misalnya, diplomat ketahuan bermain wanita. 
Dipotret,
 lalu diancam akan dibuka ke istri, keluarga, atau masyarakat umum kalau tidak 
mau jadi agen mereka," katanya.  


Karena itu, Supono yang sering menjadi pemateri kursus anti 
penggalangan/kontraintelijen untuk diplomat muda Kementerian Luar Negeri itu 
selalu menekankan dua hal: bertindak jujur dan bertanggung jawab."Selalu eling 
lan waspodo. Eling itu artinya ingat kepada Tuhan, bersyukur. Waspodo ya 
waspada. Apalagi, insan intelijen harus selalu merasa diawasi lawan," ujarnya.  


Saat hendak mencari data rahasia di negara lain, kedok Supono pernah nyaris 
terbongkar. Rupanya, informannya  seorang warga negara setempat  diikuti oleh 
badan intelijen negara itu. "Saya amati dia dari jauh. Kok seperti gelisah, 
orang-orang di sekitarnya juga bergelagat meragukan. Sense (perasaan) saya 
langsung tahu, ini bisa blow up (terbongkar)," katanya. 


Karena itu, Supono memilih segera pergi dan tidak jadi menemui
 kontaknya itu.  "Dalam intelijen, operasi selalu pegang prinsip RAE. Yakni, 
reguler, alternatif, emergency,"  katanya.


Reguler adalah rencana awal seperti biasa, alternatif adalah skenario cadangan 
jika rencana awal terdeteksi. Sedangkan, emergency adalah the worst scenario 
atau skenario terakhir jika hal paling buruk terjadi. 


Pulang dari penugasan luar negeri, menjelang pensiun (2007), Supono mendapat 
tugas memperbaiki sistem perekrutan dan kurikulum pendidikan calon-calon agen 
muda intelijen di Sekolah Tinggi Intelijen Negara.  "Saya bilang ke adik 
angkatan saya, Dik As"ad (mantan Wakil Kepala BIN As ad Ali, Red) terima kasih 
sekali. Ilmu yang bermanfaat itu amal yang tidak terputus meskipun kita sudah 
mati," katanya.     


Dia lantas menjabat ketua 1 STIN yang membawahkan kurikulum. Dia lalu 
berkonsultasi dengan berbagai pakar dan akademisi. Di antaranya, dosen-dosen 
program S-2 Kajian
 Strategik Intelijen Universitas Indonesia yang memang bekerja sama dengan BIN. 
"Saya juga turun langsung ke daerah-daerah merekrut calon intel yang 
potensial,"    ujarnya. 


Awalnya, BIN hanya mengambil input anak-anak cerdas dari sekolah unggulan yang 
semi militeristis seperti SMA Taruna Nusantara di Magelang, atau SMA Krida 
Nusantara di Bandung. Namun, belakangan BIN mulai merambah ke sekolah-sekolah 
unggulan yang lain di seluruh Indonesia. Misalnya, Makassar, Ambon, dan Aceh.


"Syaratnya harus cerdas. IQ minimal 120. Intelijen itu bukan modal otot, tapi 
otak. Karena itu, Pak Zulkifli Lubis, pendiri badan intelijen pertama republik, 
menyebutnya sebagai prajurit perang pikiran," katanya. 


Syarat lain, berbadan sehat dengan tinggi maksimal 175 cm untuk pria dan 167 cm 
untuk wanita. "Intel tidak boleh terlalu jangkung. Nanti ketahuan, sangat 
mencolok. Harus kelihatan biasa-biasa saja, tapi supercerdas," 
 kata Supono. 


Setiap sekolah unggulan akan menyodorkan lima besar lulusannya. Nanti dites 
khusus oleh BIN. "Juga ada tes kesehatan jiwa secara khusus karena intelijen 
itu pekerjaan yang tingkat stresnya sangat tinggi. Dia harus bisa menekan 
egonya ke titik nol,"   tuturnya. 


Setelah lulus, mereka tak langsung diasramakan di STIN, Sentul, Bogor. "Harus 
ada dua surat izin. Satu ditandatangani ayah, satu ditandatangani ibu. Intel 
harus direstui ibunya agar berhasil dalam tugas,"   kata Supono. 


Jika itu beres, siswa-siswa tersebut akan dididik di kawah candradimuka 
intelijen di STIN, Sentul, Bogor, selama empat tahun. Mereka dilatih berbagai 
macam skill intelijen, baik kemampuan operasi maupun kemampuan menganalisis 
data hasil operasi. Kemampuan operasi itu, misalnya, penguasaan bahasa asing, 
ilmu fotografi, dasar persandian, teknik penyamaran, teknik pembuntutan, teknik 
manipulasi, menembak, dan
 menyelam. 


"Sebenarnya dukungan fasilitas untuk agen-agen kita juga sudah baik. Penyadapan 
misalnya. Kita punya alat yang bisa merekam pembicaraan orang di mana pun di 
Indonesia ini cukup hanya dari Pejaten (Kantor BIN, Red),"  katanya. 


Setelah lulus, agen-agen muda tersebut tentu harus mempunyai kedok (cover) 
untuk bertugas." Ada yang dipilihkan pimpinan. Tapi, sebagian besar harus 
mencari kedok sendiri sesuai lingkup penugasannya," jelasnya. Beberapa yang 
paling sering dipilih adalah kedok sebagai wartawan, peneliti, dosen, atau 
aktivis LSM. 


"Kalau dari sisi menyamar, sebenarnya kemampuan intel kita di atas rata-rata. 
Di buku, saya ceritakan seorang mayor yang pura-pura jadi orang gila 
berhari-hari untuk mengintai sasaran,"  katanya. 


Supono menegaskan, jika ada yang sok berlagak intel, sesungguhnya dia justru 
bukan intel alias intel bodong. "Ada yang mengaku-aku anggota BIN, pakai kartu
 anggota segala, tujuannya jahat, memeras orang. Ini harus dilaporkan polisi," 
ujarnya. 


Dia juga meluruskan persepsi orang bahwa intelijen selalu identik dengan dunia 
hitam, jahat, licik, dan curang."Itu karena di Indonesia masih terbayang-bayang 
intel di masa Orde Lama maupun Orde Baru yang dimanfaatkan user-nya, yakni 
kepala negara, untuk tujuan pribadi,"   katanya. 


Padahal, lanjut dia, intelijen seharusnya mengabdi pada satu prinsip, yakni 
kepentingan nasional. "Karena pimpinan tertinggi yang idealnya bisa menjamin 
kepentingan nasional adalah presiden, kami hanya patuh kepada dan melayani 
presiden sebagai single user,"   katanya. 


Intelijen juga harus legawa jika selalu disalahkan dalam setiap peristiwa 
besar. "Kita tidak boleh membela diri walaupun data dan analisis sudah 
disetorkan ke user sebelum kejadian, tapi tidak ditindaklanjuti. Istilahnya, 
gupak pulut ora mangan nangkane (kena getah,
 tapi tak mencicipi buahnya, Red),"   katanya. 


Sejarah ilmu dan metode intelijen sudah ribuan tahun. Di Indonesia bahkan 
dipakai sejak zaman Ken Arok dalam meruntuhkan takhta Tunggul Ametung pada masa 
Kerajaan Singasari. Begitu juga saat Sultan Agung Hanyokrokusumo menyerang 
Batavia. Saat itu Sultan memanfaatkan telik sandi beretnis Tionghoa bernama 
Tjong Ling. 



Di era cyber sekarang ini, intelijen ditantang untuk terus berinovasi. Mampu 
beradaptasi dengan hal-hal yang baru dan terus memperbaiki diri. "Itu salah 
satu motif saya menulis, memberikan sumbangan pengalaman untuk adik-adik 
seperti Anda ini,"   tuturnya. 


Penggemar wayang kulit itu optimistis bahwa intelijen di Indonesia semakin baik 
dan berguna untuk masyarakat. Syaratnya, para pelakunya tidak pamrih (berharap 
balas jasa). "Jargon intelijen itu berhasil tidak dipuji, gagal dicaci maki, 
hilang tidak dicari, mati tidak diakui. Ketika
 itu diresapi, pasti profesional,"   katanya. (c4/nw)

Kirim email ke