masih dari blognya Bro Gene....
membuka mata ane, bahwa banyak hal di sekitar kita, yg punya nilai lebih dari 
yg kita ketahui.
jangan disia-siakan.

Best Regards and Wassalam - Nugon
 
Kebanyakan sumber permasalahan adalah cara berkomunikasi!!!  


http://genenetto.blogspot.com/2012/11/bakar-sabut-kelapa-rp-13-triliun-menguap.html


SUNDAY, NOVEMBER 11, 2012


Bakar Sabut Kelapa, Rp 13 Triliun Menguap




Ini bagian yang paling menarik bagi saya:
"Sabut kelapa pada sebagian masyarakat pesisir Indonesia adalah sampah yang 
harus dimusnahkan, dibuang dan dibakar pada saat musim kemarau. Namun demikian, 
di tangan orang-orang kreatif, sabut kelapa yang tidak berguna tersebut dapat 
diolah menjadi bahan industri yang bernilai ekonomi tinggi." 



Artinya: orang Indonesia tidak kreatif? Ada 13 Trilun di depan mata, tapi 
dibakar begitu saja karena…?
Gene



Bakar Sabut Kelapa, Rp 13 Triliun Menguap

Penulis : Nasrullah Nara | Minggu, 11 November 2012 | 04:33 WIB


JAKARTA, KOMPAS.com - Asosiasi Industri Sabut Kelapa Indonesia (AISKI) 
memperkirakan, Indonesia kehilangan potensi pendapatan dari sabut kelapa 
mencapai Rp13 triliun per tahun.

Angka ini diperoleh dari perhitungan jumlah produksi buah kelapa Indonesai yang 
mencapai 15 miliar butir per tahun, dan baru dapat diolah sekitar 480 juta 
butir atau 3,2 persen per tahun. 

Setiap butir sabut kelapa rata-rata menghasilkan serat sabut kelapa atau dalam 
perdagangan internasional disebut coco fiber sebanyak 0,15 kilogram, dan serbuk 
sabut kelapa atau coco peat sebanyak 0,39 kilogram.


 Harga penjualan coco fiber di pasar dalam negeri berkisar Rp 2.000 - Rp 2.500 
per kilogram, dan coco peat berkisar Rp 1.000 - Rp 1.500 per kilogram.  
Demikian diungkapkan Ketua Bidang Penelitian dan Pengembangan AISKI, Ady Indra 
Pawennari, usai melakukan pertemuan dengan beberapa importir coco fiber dan 
coco peat asal China, Singapura, dan Malaysia di Sungai Guntung, Kecamatan 
Kateman, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau, Sabtu (10/11/2012).  


"Ini fakta yang sangat memprihatinkan. Kita kehilangan potensi pendapatan 
sekitar Rp13 triliun per tahun dari sabut kelapa yang dibakar dan dibuang oleh 
masyarakt. Semua ini terjadi karena ketidakberdayaan dan kurangnya pengetahuan 
mereka, akan manfaat sabut kelapa. Karena itu, pemerintah harus bergerak dan 
AISKI siap diajak kerjasama," ujarnya.  

Menurut Ady, sabut kelapa pada sebagian masyarakat pesisir Indonesia adalah 
sampah yang harus dimusnahkan, dibuang dan dibakar pada saat musim kemarau. 
Namun demikian, di tangan orang-orang kreatif, sabut kelapa yang tidak berguna 
tersebut dapat diolah menjadi bahan industri yang bernilai ekonomi tinggi.  


"Di negara-negara maju, coco fiber banyak digunakan sebagai pengganti busa dan 
bahan sintetis lainnya. Misalnya, untuk bahan baku industri spring bed, matras, 
sofa, bantal, jok mobil, karpet dan tali. Sementara coco peat lebih banyak 
digunakan sebagai media tanam pengganti tanah dan pupuk organik," jelasnya.  

Dengan jumlah penduduk 250 juta jiwa, Indonesia sebetulnya merupakan pasar 
potensial untuk penjualan produk berbahan baku sabut kelapa, seperti penggunaan 
coco fiber pada spring bed, kasur, bantal, sofa, jok motor, dan tali. Sedangkan 
coco peat dapat digunakan sebagai pupuk organik untuk meningkatkan 
produktivitas tanaman holtikultura.  


Berdasarkan catatan AISKI, Indonesia walaupun merupakan negara penghasil buah 
kelapa terbesar di dunia, namun belum banyak berperan dalam pangsa pasar ekspor 
raw material sabut kelapa untuk kebutuhan dunia. Indonesia hanya mampu memasok 
sabut kelapa sekitar 10 persen dari kebutuhan dunia. Sementara Srilanka dan 
India memasok di atas 40 persen.


Editor : Agus Mulyadi

http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2012/11/11/04331576/Bakar.Sabut.Kelapa.Rp.13.Triliun.Menguap


Posted by Gene Netto at Sunday, November 11, 2012 

Kirim email ke