percaya nggak percaya, mungkinkah? ============================== Penipuan Kabar Bohong Polisi Palsu
HATI-hati jika Anda mendapat kabar mengagetkan dari penelepon yang tidak Anda kenal. Aksi telepon tipu-tipu kian marak seiring dengan pesatnya pertambahan pengguna handphone (HP) alias telepon seluler. Modus yang paling jamak adalah mengabarkan berita bohong melalui pesan singkat (SMS) seolah Anda memenangkan undian dengan hadiah besar. Banyak pengguna HP tertipu mentah-mentah dengan menyetor uang untuk administrasi pengiriman "hadiah" itu. Modus lain yang terbilang canggih dan sedang jadi pembicaraan adalah pemblokiran sambungan telepon seluler sehingga tak bisa dihubungi. Para penjahat juga mampu mengambil alih jalur telepon kabel, sehingga nomor berapa pun yang dihubungi oleh telepon korbannya itu akan tersambung dengan mereka. Belum paham? Simaklah berita yang dikirim seorang perempuan dari alamat e-mail [EMAIL PROTECTED] ke sebuah milis. Wanita yang tinggal di kawasan Setiabudi, Jakarta Pusat, itu --sebut saja namanya Bella-- meminta agar identitasnya dirahasiakan. Ia berhasil menghindari upaya penipuan, awal bulan lalu, dan merasa harus menyebarkan pengalamannya supaya masyarakat mewaspadai aksi penipuan canggih itu. Bella memaparkan bahwa suatu hari sekitar pukul 11.00, ia mendapat telepon dari nomor 0815135312xx. Si penelepon, seorang pria, mengaku bernama Sumantri, anggota reserse dari bagian narkotika Polda Metro Jaya, dengan pangkat inspektur satu (iptu). "Begini Bu, nomor HP Ibu ini sudah digunakan sindikat narkoba," kata Sumantri. "Tapi Ibu sendiri tidak terlibat." Sumantri lalu meminta Bella mematikan HP-nya hingga pukul 01.00. Dalihnya, ia bersama anak buahnya sedang melakukan pelacakan jaringan narkoba. "Saya minta kerja samanya," kata Sumantri memohon. Bella sempat bertanya bagaimana mungkin nomor ponsel dia digunakan orang lain, apalagi sindikat narkoba. "Saya mohon kerja samanya, Bu. Silakan matikan HP Ibu sekarang juga!" kata Sumantri, keukeuh. Bella masih terpana ketika Sumantri menutup pembicaraan. Tapi ia tidak segera mematikan HP-nya. Semenit kemudian Sumantri menelepon lagi, tapi Bella tak mengangkatnya. Bella kemudian menghubungi Polda Metro Jaya, dan ia mendapat jawaban bahwa di sana tak ada yang bernama Iptu Sumantri. Pihak Polda juga menyatakan tidak ada kegiatan penyidikan yang mengharuskan seseorang mematikan telepon. Bela makin yakin, penelepon yang mengaku polisi itu bermaksud menipu. Panggilan dari HP Sumantri terus berdering, tapi Bella tak pernah mengangkatnya. Kira-kira selang dua jam, Bella ditelepon mertuanya yang tinggal di luar kota. "Kamu baik-baik saja?" kata mertua perempuan Bella itu dengan suara panik. Setelah Bella menjawab sehat walafiat, mertuanya tampak keheranan. Ia mengatakan, ayahanda Bella baru saja mengabarkan bahwa Bella mendapat kecelakaan lalu lintas. Bella langsung terkesiap. Ia mulai tersadar bahwa pria yang mengaku polisi itu telah menipu keluarganya. Modus penipuan dengan cara mengabarkan kecelakaan, dan kemudian meminta uang, sudah lama didengarnya. Bella langsung menelepon orangtuanya yang juga tinggal di luar kota. Mereka pun kaget mendapat telepon dari putrinya. "Kamu tidak apa-apa?" kata ibunda Bella. Ia bercerita bahwa mereka baru saja menerima telepon dari Jakarta, dari orang yang mengaku polisi. Penipu itu mengabarkan, mobil Bella ditabrak mobil tangki, dan sekarang Bella dirawat di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta, karena terluka parah. Ibu dan ayahanda Bella tentu saja panik. Mereka segera menelepon ke ponsel Bella bernomor Satelindo, 0815 xxx xxxx. Tapi, anehnya, yang menerima telepon adalah seorang pria bernama Agus, yang mengaku sebagai teman suami Bella dan sedang diminta menjaga rumah Bella. Si Agus bilang, banyak polisi datang mengabarkan ihwal kecelakaan mobil yang dialami Bella, dan suami Bella sudah berada di RSCM. Ayahanda Bella lalu menghubungi RSCM, dan diterima orang yang mengaku bernama Dokter Listyo, yang katanya sedang merawat Bella. Dokter itu menjelaskan bahwa Bella mengalami luka serius dan membutuhkan obat yang tak bisa dibeli di Jakarta. Obat-obatan itu, katanya, hanya ada di Apotek Singapore, dan perlu biaya Rp 21 juta untuk mendapatkannya. Keluarga Bella diminta mentransfer uang itu ke rekening Dokter Listyo. Keruan saja, orangtua Bella segera menyiapkannya. Tapi, untunglah, sebelum mentransfer uang, ayahanda Bella menghubungi besannya menggunakan pesawat telepon yang lain. Sebab telepon rumahnya berdering terus dikontak Dokter Listyo yang mendesak agar segera dikirimi uang. Mertua Bella yang mendapat kabar buruk itu lalu menghubungi Bella melalui ponselnya, dan ternyata tersambung. Uang pun urung ditransfer. Ketika orang yang mengaku Dokter Listyo itu menelepon lagi, keluarga Bella menjawab seolah-olah semua biaya perawatan Bella sudah ditanggung asuransi. Sejak itu, komplotan penipu tak menelepon lagi. Komunikasi telepon dengan ponsel Bella pun lancar lagi. Bella tak habis pikir. "Mengapa HP saya tak bisa menerima panggilan dari telepon rumah orangtua?" katanya. Dan, mengapa telepon orangtuanya tersambung dengan orang lain ketika menelepon HP-nya? Menurut Bella, sejumlah kerabatnya juga berusaha menghubungi dia lewat ponselnya, tapi tak pernah tersambung. Padahal, Bella tak pernah mematikan HP-nya. Bella yang lulusan perguruan tinggi itu bertanya-tanya, bagaimana komplotan penipu bisa memblokir nomor telepon orangtuanya dan mematikan ponselnya. Ia juga heran, dari mana para penipu mengetahui nomor telepon dia dan keluarganya. Bella mengaku biasa memperbaiki ponselnya di sebuah bengkel di Mampang, Jakarta Selatan. "HP saya pernah beberapa kali 'dirawat inap' di sana," tutur Bella. Mungkinkah di bengkel itu ponselnya dikerjai? Gatra mencoba menghubungi nomor ponsel 0815135312xx milik "Iptu Sumantri" itu. Penerimanya adalah seorang pria. Ketika ditanya apakah ia anggota polisi, pria itu membenarkannya. Ia memperkenalkan diri sebagai Kapten Yanto Gunawan. Tapi pria itu langsung mematikan teleponnya ketika pertanyaan Gatra mulai menelisik ke kasus penipuan yang menimpa Bella. Polisi gadungan itu ternyata juga tak mengenal sejumlah pejabat penting di Polda Metro Jaya. Kasus yang menimpa Bella itu belum sampai ke polisi. Setidaknya, Bella belum melaporkannya. Ia hanya pernah melapor ke Satelindo, operator seluler yang digunakannya. Pihak Satelindo menyatakan sedang melakukan investigasi. "Menurut Satelindo, kasus saya dialami juga oleh sejumlah pelanggan lain," kata Bella. Modus penipuan yang menimpa Bella dialami juga oleh Koesworo Setiawan, seorang karyawan perusahaan swasta di bilangan Kalibata, Jakarta Selatan. Peristiwanya terjadi sekitar lima bulan lalu. Suatu hari, istri Koesworo, Nyonya Ekman, yang tinggal di kawasan Citayam, Depok, menerima telepon dari pria yang mengaku polisi. Pria itu mengabarkan bahwa Koesworo tengah dirawat di RSCM akibat kecelakaan hebat. Ia dan kawan-kawannya mengalami tabrakan ketika naik Toyota Kijang kantor. Tentu saja Ekman panik. Ia segera menelepon ke HP suaminya yang menggunakan operator Telkomsel. Tapi yang menerima ternyata seorang pria yang juga mengaku anggota polisi. "HP Bapak dan barang bawaannya saya amankan. Silakah Ibu hubungi RSCM," kata pria itu. Sebelum berangkat ke RSCM, Ekman mencoba menghubungi ponsel kakak iparnya. Lagi-lagi yang menerima orang lain, yang juga mengaku polisi, tapi suaranya berbeda dengan suara dua pria tadi. Pria itu mengatakan bahwa kakak kandung Koesworo sedang di RSCM, dan ia hanya mengamankan ponselnya yang tertinggal. Tergopoh-gopoh, Ekman segera berangkat ke RSCM membopong dua anaknya yang masih kecil. Tapi, di rumah sakit terbesar di Jakarta itu, ia tak menemukan suaminya. Penasaran, Ekman mencoba menghubungi lagi ponsel Koesworo menggunakan HP-nya. Eh, tersambung. Alangkah kagetnya ia ketika mengetahui sang suami yang dikabarkan sedang koma itu ternyata segar bugar. Komplotan penipu akhirnya kecele. Mereka out dari udara sebelum sempat memeras. Seandainya Ekman mencoba menelepon RSCM, saat itulah tampaknya ia akan diminta mentransfer uang oleh dokter jadi-jadian. "Ini penipuan kerah putih," kata Koesworo. Ia mencurigai, ada komplotan yang bermain di jalur telekomunikasi dengan penguasaan teknologi yang lumayan. Keluarga Bella dan Koesworo lolos dari jebakan para penjahat. Tapi Yusuf Dahlan, warga Genteng Kulon, Banyuwangi, Jawa Timur, telanjur masuk perangkap. Peristiwanya terjadi Desember lalu. Kala itu, ia dihubungi penelepon yang mengaku bernama Dokter Fahmi Ahmad dari Rumah Sakit Saiful Anwar, Malang, Jawa Timur. Fahmi mengabarkan bahwa Daniel Ahmad, putra Yusuf yang sedang kuliah di Universitas Brawijaya, Malang, mengalami kecelakaan. Ia meminta Yusuf mentransfer uang Rp 16 juta untuk biaya operasi yang tak bisa ditunda. Yusuf buru-buru menelepon HP anaknya, tapi tak tersambung. Lalu ia menghubungi pondok mahasiswa yang ditempati Daniel di Malang. Tak tersambung juga. Begitu pun waktu menelepon ke Rumah Sakit Saiful Anwar. "Aneh, telepon saya tiba-tiba terblokir," kata Yusuf. Dalam keadaan panik, Yusuf terpaksa mentransfer Rp 16 juta ke rekening orang yang mengaku Dokter Fahmi di Bank Mandiri. Anehnya, setelah uang ditransfer, telepon rumah Yusuf berfungsi lagi. Ia bisa mengecek ke Rumah Sakit Saiful Anwar, yang ternyata mengabarkan tak ada dokter bernama Fahmi Ahmad. Ia juga berhasil menghubungi ponsel anaknya, yang ternyata sehat walafiat. Yusuf segera menghubungi Bank Mandiri untuk mengecek uang yang baru saja ditransfernya ke rekening para penipu. "Ternyata penipu sudah mengambil Rp 2 juta dari semua uang yang saya setor," kata Yusuf kepada Aditya Akbar dari Gatra. Penjahat itu mungkin mengambil duit hanya menggunakan kartu ATM yang jumlah transaksinya terbatas, sehingga gagal meraup semua setoran Yusuf. Aksi kejahatan dengan memanfaatkan saluran telepon itu memang memunculkan banyak pertanyaan. Apakah para penjahat membajak saluran telepon kabel Telkom yang tersambung ke rumah, atau menyabot sambungan telepon seluler dari berbagai operator? Atau kedua-duanya? Mungkinkah SIM card telepon seluler bisa dikloning alias digandakan? Beberapa perusahaan operator seluler kini mengaku sedang melakukan penelitian, sambil memperketat pengamanannya. Mereka mengakui, ada sejumlah pelanggan yang melaporkan kasus penipuan seperti yang dialami tiga pelanggan tadi. Menurut mereka, pemblokiran sambungan telepon dan penggandaan SIM card memang bisa dilakukan, tapi sejauh ini mereka belum menemukan pelakunya. Endang Sukendar [Kriminalitas, Gatra Nomor 27 Beredar 15 Mei 2005] ------------------------------------------------------ Baca berita-2 terbaru seputar seluler via WAP: http://tagtag.com/SMSMania Untuk keluar dari milis, silahkan kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] ------------------------------------------------------ Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/SMSMania/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
