Data Pribadi dan Privacy
("Kodok Marui" - Jepang)

Hai Zev, saya selalu baca KOKI dan kali ini jadi ingin share soal privasi data 
pribadi (terutama nomor HP) di Jepang.

Saya ingat sewaktu masuk kuliah di salah satu universitas di Jakarta, ada 
semacam ospek. Oleh kakak2 senior, saya dan rekan2 seangkatan diharuskan saling 
mengenal rekan2 seangkatan, dan kami harus mengumpulkan profil dari masing2 
rekan dari nama, tempat tanggal lahir, alamat, telpon, hobi, motto, tanda 
tangan dll. Wah masih ingat saya ketika rekan2 satu angkatan heboh mencari2 
mahasiswa yang tidak pernah nongol sejak hari kedua hehehe..

Ketika HP mulai menjamur, kelihatannya enak2 saja saya (mungkin rekan2 lain 
juga?) memberi nomor HP, dan menyimpan nomor HP si rekan. Atau ada kalanya 
seorang teman bertanya, eh kamu tau nomor HPnya si X ngga? Kemudian saya 
langsung mencari nomor si X dr list phone book dan tanpa banyak mikir memberi 
nomor HP si X kepada rekan tersebut.

Ternyata issue seperti alamat, nomor telpon, imel, tanggal lahir serta data 
pribadi lain merupakan unsur yang sangat private di Jepang, terutama akhir2 
ini. Melalui internet, telah terjadi kejadian bocornya data2 pelanggan ke 
tangan ketiga dan dikhawatirkan bisa disalahgunakan ke kejahatan. Untuk 
memproteksi hal ini, dibuatlah hukum perlindungan data pribadi.

Masalah keamanan data pribadi kelihatannya sangat penting di sini. Saya ingat 
dulu ada mini market di sini yang kebocoran data2 pelanggan, dan akhirnya 
memberi kompensasi sebesar 500 yen pada masing2 pelanggan yang bocor datanya. 
Kalau dilihat sih 500 yen kelihatannya sepele, namun kalau jumlah pelanggan 
mencapai ribuan, bahkan puluhan atau ratusan ribu, jumlah uang kompensasi juga 
bukanlah jumlah yang sedikit. Atau sms di sini kelihatannya disetting untuk 
memblock sms yang berisi deretan angka saja. Misal waktu saya mengirim no 
telpon saya lewat sms, maka akan diblok. Mungkin sistem ini dibuat untuk 
memproteksi bocornya no telp atau kode2 spt PIN dll. Atau sampai sekarang saya 
belum pernah mendapat buku telpon yang berisi nama dan alamat rumah serta nomor 
telpon, seperti buku telpon di Jakarta dulu.

Itu adalah masalah dalam skala publik, bagaimana dengan yang private? Salah 
satu hal menarik di sini adalah mengetahui nomor HP dan alamat imel HP (di 
Jepang sms biasanya hanya bisa dipakai utk sesama prvider, dg beda provider 
pakai imel) merupakan salah satu pertanda kedekatan seseorang. Jadi walaupun 
tiap hari ketemu, tiap hari ngobrol tapi kalau ngga tahu nomor HP dan alamat 
imelnya bisa dikatakan bahwa hubungan mereka tidak terlalu dekat atau sebatas 
permukaan saja.

Sewaktu saya masuk universitas di sini, tidak ada yang namanya ospek hehehe... 
Namun biasanya ada pesta minum2 untuk menyambut mahasiswa baru. Di event ini 
biasanya mahasiswa baru akan ngobrol dan kalau cocok biasanya akan memberitahu 
nomor HP dan alamat imelnya. Jadi biasanya event ini akan menjadi salah satu 
event yang penting untuk kontak pertama dengan mahasiswa2 lain dan biasanya 
berpengaruh ke pergaulan di kampus selanjutnya. Walaupun ngga minum alkohol ya 
saya nimbrung saja.

Sebagai info, saya jurusan IPS dan seangkatan ada 140 orang, jadi agak susah 
untuk mendapat nomor telpon teman2 angkatan scr keseluruhan. Namun, seperti 
teman saya di jurusan IPA yang punya kelas relatif kecil, mereka biasanya 
membuat buku jaringan dan berisi nomor HP dan imel.

Suatu saat saya pernah kesulitan ketika harus menghubungi rekan seangkatan Y 
(jarang bertemu dan ngobrol) dan saya tidak tahu nomornya. Oleh karena itu saya 
cari rekan Z yang kira2 punya paling banyak nomer HP dan suka ngobrol dengan si 
Y. Ketika saya imel Z, dia reply dengan menanyakan tujuan saya ingin tahu nomor 
HP si Y. So, saya bilang tujuan saya, dan si Z menyampaikan ke Y. Ketika si Y 
setuju, si Z mengirimkan data si Y ke saya. Wah ribet ya... Padahal saya sih 
dulu di Indo saya tenang2 aja waktu ngasih no HP teman. Wong namanya rekan 
seangkatan, masak mau macem2 sih....

Di sebuah acara tv variety tentang hukum di sini, beberapa pengacara memberi 
pendapat bahwa jika memberi no HP seseorang dan ternyata no tsb disalahgunakan, 
si pemberi bisa divonis bersalah. Contoh kasus di acara tersebut adalah seorang 
mahasiswa cowok menanyakan nomor HP cewek yang dia suka (rekan seangkatan) pada 
teman si cewek, dan si teman memberikannya. Ternyata si cewek menolak cowok 
tsb, dan si cowok berubah jadi stalker dan meneror si cewek lewat HP. Si cewek 
kemudian berkonsultasi ttg kasus ini dan beberapa pengacara memberi pendapat 
seperti di atas.

Kejadian lain adalah waktu saya ikut seminar (kelas kecil dan isinya membaca 
jurnal dan presentasi) tapi di jurusan lain. Seminar ini biasanya dikepalai 
oleh profesor dan yang ikut seminar juga biasanya anak2 bimbingan profesor tsb. 
Saya bukan bimbingan profesor tsb, tp karena ada minat saya ikut seminar 
profesor tsb. Suatu hari, ada perubahan jadwal kuliah dan ada seorang anak 
bimbingan profesor yang tidak datang. Semua orang mencari2 dia. Dan waktu itu 
si profesor bertanya apa tidak ada yg tahu nomor HP atau imelnya. Ternyata 
asisten profesor, mahasiswa S2, serta anak2 S1 bimbingan profesor tidak ada 
yang tahu sama sekali. Saya baru ingat bahwa saya punya nomor HP si anak tsb. 
Profesor akhirnya bilang "Bukannya orang lab saya tapi malah orang luar lab 
saya yang tahu nomor dia, ternyata kita ngga terlalu akrab ya," sambil 
tersenyum getir. Anak2 bimbingannya cuma bisa melirik satu sama lain.

Ya, tapi ngga selamanya di Jepang seperti itu. Di restoran tempat saya bekerja 
sambilan, no HP masing2 rekan staf sampai bos dan owner dipajang di dinding 
ruang staf. Namun antara no HP yang didapat lewat public dan yg didapat dg 
langsung bertanya ke orangnya sepertinya punya nuance yg berbeda. Yang satu 
bernuance sebatas kerja yang lain bernuance untuk pribadi. Mungkin agak ngga 
enak untuk mengajak jalan (yg private bukan urusan kerja) orang yg no HP atau 
imelnya didapat dr publik dan bukan ditanya langsung. Untuk urusan pribadi 
biasanya imel HP lebih berperan, dan mungkin karena alasan itulah imel HP tidak 
dipajang di dinding ruang staf.

Ya begitulah kira2 keadaannya di sini. Mungkin orang cukup berhati2 di sini 
tapi kadang2 suka jadi ribet juga di saat kita butuh info segera. Di lain pihak 
di Indo mungkin praktis tapi mungkin perlu lebih hati2 waktu menangani hal2 
yang berkaitan dengan data pribadi seseorang. Salam Hangat dari Jepang.

Pembaca KCM silakan berbagi pengalaman. Kirimkan via email: [EMAIL PROTECTED]
Penulis: Zeverina
Copyright 2006 Kompas Group



------------------------------------------------------
Baca berita-2 terbaru seputar seluler via WAP:
http://tagtag.com/SMSMania

Untuk keluar dari milis, silahkan kirim email kosong ke:
[EMAIL PROTECTED]
------------------------------------------------------ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/SMSMania/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/SMSMania/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke