Bravo Irfan...!..Nyan ka ku pateeh..:)..Uraian Irfan cukup membari wawasan bagi 
saya tentang perminyakan Indonesia. Melihat uraian tersebut saya diyakinkan 
bahwa memang kinerja perusahaan nasional memang kurang efisien, sehingga 
perusahaan asing masih cukup layak untuk beroperasi di Indonesia. Hanya seperti 
uraian Irfan beberapa item masih perlu dikaji ulang.
  Sejak beberapa decade terakhir minyak komoditas paling vital dunia. Bicara 
tentang minyak dalam perekonomian dan perpolitikan dunia. Bicara tentang minyak 
tidak hanya bicara tentang ekonomi. Bicara tentang minyak tidak hanya bicara 
tentang sekaleng beras atau sebungkus indomie. Berbicara tentang minyak berarti 
juga bicara tentang geopolitik dan keamanan global sekaligus bicara tentang 
freedom serta intergritas bangsa. 
  Melihat hal tersebut adalah sangat pantas jika pemerintah meminta dukungan 
kawan2 yang ahli dibidang perminyakan untuk meningkatkan rasa nasionalismenya. 
Sama halnya dengan himbauan para founding fathers untuk meningkat rasa 
pratriotisme para leluhur kita saat perang kemerdekaan dulu. Tentu hal ini juga 
mesti dibarengi dengan kompensasi yang layak. Saya sangat yakin ide-ide yang 
Irfan serta kawan2 lontarkan menyangkut situasi perminyakan nasional akan 
sangat bermanfaat. Tulisan Irfan seharusnya bisa lebih dielaborasi dan 
dipublikasi di media nasional..(seriusssss)
  Artikel berikut mengulas cerita kecil tentang pentingnya minyak dalam 
geoeconomipolitik saat ini serta bagaimana Amerika dan China saling 
memperjuangkan kepentingan yang berlawanan dengan mengorbankan darah dan air 
mata jutaan rakyat di negara lain. Kawan2 juga bisa memahami nilai strategis 
dari letak geografis Aceh dalam kancah geoekonomupolitik dunia; 
http://www.atimes.com/atimes/Southeast_Asia/IJ17Ae01.html. 
   
  Tabeq,
  Fatur
  
Irfan Samalanga <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
              
Dear Bang Fathur,

Teurimeng genaseh beu rayek that2 :)

Ini buat sharing aja ya, secara umum yakni:

1. Tentang sistem bagi hasil kontrak kerja sama migas indonesia ada beberapa 
sistem:

a. PSC (production sharing kontrak), contohnya kerja sama: exxon, chevron 
(caltex), Total E&P, Pertamina EP, Medco Energy
Sistemnya:
- Pendapatan hasil jual minyak dipotong 20% (FTP) untuk antisipasi seandainya 
setelah dipotong cost recovery pemerintah tidak mendapatkan apa2, jadi apa pun 
yg terjadi pemerintah tetap dapat pemasukan.
- Sisa 80% dipotong cost recovery (biaya operasional termasuk gaji, gedung, 
lifting minyak/gas, dll)
- sisa cost recovery baru dibagi antara pemerintah dan perusahaan pengelola, 
untuk minyak: 85% pemerintah dan 15% perusahaan  pengelola
untuk gas: 70% pemerintah dan 30% perusahaan pengelola 
- pendapatan perusahaan dipotong pajak
- pemerintah dapat pemasukan dari FTP + bagi hasil setelah cost recovery + pajak

b. JOB/JOA (joint operation body/joint operation agreement), contohnya kerja 
sama: exxon cepu - Pertamina EP, Medco - Pertamina EP, Bumi Siak Pusako - 
Pertamina EP, dll.
kerjasama ini harus antara Pertamina EP (sbg perwakilan pemerintah) dengan 
perusahaan lain, karena hak milik lapangan migas di indonesia dipegang oleh 
Pertamina EP (wakil pemerintah)
- Sistemnya sama dengan PSC
- Bedanya, setelah dipotong cost recovery:
untuk minyak: 85% pemerintah, 7,5% Pertamina, 7,5% Perusahaan pengelola
untuk gas: 70% pemerintah, 15% Pertamina, 15% Perusahaan pengelola
- pemerintah dapat pemasukan dari: FTP + bagi hasil setelah cost recovey + 
pajak + pemasukan dari pertamina

c. TAC (Technical Asistance Contract)
Sistem kontrak ini sama dengan sistem JOB/JOA, kerja samanya harus dengan 
pertamina sebagai pemegang kepemilikan lapangan migas di indonesia
bedanya pertamina tidak bekerja, yang bekerja perusahaan yang kerja sama dengan 
pertamina, di sini pertamina hanya tunggu hasil kerja perusahaan pengelola


2. Menurut saya, secara umum sistem kerjasama bagi hasil yang telah dibuat oleh 
pemerintah sudah sangat bagus, banyak negara yang meniru sistem kerja sama 
kita, termasuk malaysia, vietnam, dan negara2 di afrika, dan banyak negara lain.
permasalahannya adalah harus diperjelas lagi apa2 aja yang masuk ke dalam cost 
recovery, tidak seharusnya semua pengeluaran perusahaan dimasukkan ke dalam 
cost recovery, seperti hal2 yang terdapat pada artikel Bung Heikal.


3. Bisnis migas adalah bisnis yang sangat padat modal, padat pemasukan dan juga 
high risk sangat beresiko. orang yang kerja di lapangan minyak taruhannya 
nyawa, contohnya seperti kasus Lapindo, sumur meledak, terlebih lagi kalau di 
laut (off shore).
Apa salahnya kita mengundang pemodal2 luar untuk berinvestasi di dalam negeri, 
toh nanti hasil jual minyaknya masuk ke kas negara juga.


4. Ada sindrome enggak convidence (kurang PD) di pemerintah seandainya yang 
mengelola lapangan migas di indonesia adalah orang indonesia misalnya 
pertamina, kekurangan teknologi, dsb
Tapi enggak bisa dipungkiri bahwa perusahaan asing mempunyai cara yang bagus 
dlm pengelolaan migas, misalnya Chevron (Caltex) yg perusahaan US, sampai 
sekarang 1/2 produksi minyak indonesia dari Chevron, Chevron telah beroperasi 
dari th 70-an sampai skrg dia masih sanggup menjaga dan memaintaince sumur2 
minyak yg sudah sngt tua untuk tetap mampu berproduksi dengan bagus.

Contoh kasus th2001 block CPP di riau dilepas oleh Chevron dan dikelola oleh 
Perusahaan Pemda, hasilnya apa? produksinya langsung drop
Contoh kasus lagi Lapangan off shore dilepas oleh BP skrg dikelola oleh 
Pertamina  Region Jawa, apa yang terjadi? produksi turun,  platform (anjungan 
minyaknya) turun beberapa meter, rusak

Di sisi lain, pemerintah tidak mensupport tenaga2 ahli lokal  untuk ttp bisa 
bekerja  di dlm negri, akhirnya  jagoan2 perminyakan indonesia lbh memilih 
untuk kerja di luar negri termasuk petronas,  jagoan2  petronas isinya  org2 
indonesia semua.  perbedaan gaji yg sangat jauh  antara  ekspat (bule) dengan 
pekerja lokal sangat mempengaruhi. beda gaji dengan posisi yg sama mencapai 
puluhan juta rupiah... SAPA YANG MAU???? mending kerja di luar.

Rasanya enggak ada rumah makan padang yang mau dihargai sebungkus nasi dengan 
8000 rasa nasionalis, tapi Rp.8000, it's all about the money...urusan perut..

Dan tenaga ahli perminyakan indoensia diakui di dunia international, mereka 
senang dengan kinerja org2 indonesia, makanya berbondong-bondong lah mereka 
merekrut org2 indonesia, seperti : petronas, saudi aramco, Schlumberger 
international, dll
hilanglah aset bangsa..
pemerintah tidak berusaha apa2, hanya meminta rasa nasionalis..

rasa nasionalis tidak bisa digunakan untuk beli beras, tidak bisa digunakan 
untuk beli indomie, tidak bisa digunakan untuk beli sebungkus rokok...enggak 
bisa pak enggak bisa.....




Warm Regards,

Irfan Samalanga
MOSA GEN-V



  ----- Original Message ----
From: fathurrahman anwar <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Saturday, June 14, 2008 4:49:34 PM
Subject: Re: [smu mosa] Claims include Pinocchio DVD, golf clubs, dance class, 
charities

    
  Dear All,
   
  Bahasannya cukup menarik Irfan. Ini baru anak MOSA..:). Pantasnya Irfan ini 
dipanggil Abu Samalanga..: ). Saya nggak begitu paham dengan dunia perminyakan. 
Hanya kalau saya melihat kebocoran dana yang cuman beberapa juta dollar itu 
tidak sebanding dengan kerugian memberi konsesi pengelolaan minyak ke 
perusahaan asing. Tentu pendapat ini masih tetap bisa diperdebatkan mengingat 
saya sendiri tidak tahu sejauh mana tingkat effesiensi perusahaan minyak lokal 
dalam mengelola usaha. Saya juga tidak tahu system bagi hasil antara perusahaan 
asing dengan pemerintah kita. 
  Kesimpulan saya lebih merujuk pada kesuksesan sejumlah negara penghasil 
minyak yang berhasil meningkatkan perekonomiannya secara signifikan setelah 
mereka melakukan renogosiasi atau bahkan menasionalilasi perusahaan minyak yang 
beroperasi dinegaranya. Contoh yang paling bagus untuk hal ini tentu Rusia dan 
Venezuella. 
  Rusia yang hampir bangkrut tahun di tahun 1998, setelah dihantam krisis 
keuangan yg lebih buruk dari Indonesia, bisa kembali bangkit sebagai kekuatan 
ekonomi & politik dunia setelah tycoon minyak rusia, Mikhail Khodorkovsky, 
ditangkap dan Gaspron (perusahaan minyak milik negara) menguasai industri 
minyak Rusia. Mata uang Rubbel pun saat ini kembali menjadi mata uang kuat 
dunia. Venezuella juga bisa menjadi kekuatan ekonomi Amerika Latin dan membuat 
USA sakit gigi setelah Chavez menasionalisasi industri minyak. Ini tentu bisa 
jadi perhitungan kita dalam melihat keberadaan perusahaan asing dalam mengelola 
minyak Indonesia.
  Tentu ini bukan berarti kita ingin mengusir perusahaan asing. Karena tidak 
selamanya memberi monopoli ke perusahaan nasional akan meningkatkan 
kesejahteraan. Pengalaman Mexico bisa jadi cerminan bagi kita. Mexico yang 
selalu bangga sebagai negara yang pertama-tama melakukan nasionalisasi industri 
minya sekarang malah dihantui krisis minya. Hal ini terjaddi karena perusahaan 
negara yang dipercaya untuk mengelola minyak nasional tidak beroperasi secara 
baik. Explorasi untuk mencari sumber minyak baru tidak dilakukan secara intense 
dan korrupsi merajalela sehingga membawa pada ekonomi biaya tinggi. 
  Namun demikian sedikit melakukan bargaining dalam melakukan negosiasi bagi 
hasil dengan perusahaan asing tersebut sangat dibutuhkan. Contoh bagus dalam 
hal ini adalah khazakstan. Setelah melakukan complain ataskemungkinan terjadi 
pencemaran minyak dan menekan perusahaan minyak asing yang mengelola minyak di 
negaranya, mereka bisa memperolah bagi hasil yang lebih baik. Kalau saya tidak 
salah, kepemilikannya atas ladang minyak yg dikelola meningkat sampai 11%.
  Lembaga/ perusahaan pengelola minyak negara jelas perlu dibenahi. Namun 
demikian pemberian kuasa atas pengelolaan minyak dan sumber daya alam lainnya 
di Indonesia oleh perusahaan asing juga perlu dikaji ulang. Wallahu'alam. ..!
   
   
  Tabeq
   
  Fatur
  

Irfan Samalanga <irfan.samalanga@ yahoo.com> wrote:
          
Dear Bung Hekal,

Betul sekali seperti yang tertulis di dlm artikel,
memang banyak penghasilan dari migas yang terkuras untuk hal2 yang kurang 
penting seperti main golf, jalan2, makan2, dsb.
akan tetapi perlu dilihat juga bahwa yang main golf, jalan2, makan2 adalah org2 
yang menjadi regulator migas di indonesia (BP MIGAS) istilahnya kaum bos2 
pemerintah juga.
bukan cuma itu banyak hal2 yg enggak penting lain yang menjadikan pendapatan 
migas indonesia terkuras

kuncinya ada di BP MIGAS, 
buat informasi bagi teman2 yang baru dengar BP MIGAS:
BP MIGAS adalah badan pemerintah yang mengatur masalah keuangan pemasukan dan 
pengeluaran negara dari hasil migas, badan ini bertanggung jawab langsung ke 
presiden, badan ini dibentuk sejak tahun 2001 pada masa megawati.

sebenarnya banyak pihak yang menginginkan supaya badan tersebut dibubarkan saja 
karena pendapatan negara hasil migas banyak terkuras buat mereka, apakah itu 
jln2, makan2, main golf, ibarat kata mereka menjadi bos of the bos perminyakan 
di indonesia karena mereka yang pegang uang, perusahaan2 minyak yg beroperasi 
di indonesia tunduk di bawah BP MIGAS apa kata mereka itu yang harus 
dikerjakan..

akan tetapi karena BP MIGAS dibentuk oleh presiden berdasarkan Kepres maka yang 
bisa membubarkannya adalah presiden juga dengan Kepres..banyak pihak yg telah 
membisiki SBY supaya dibubarkan tapi..ya...mungkin bisikan dari BP MIGAS lebih 
kuat akhirnya presiden merasa BP MIGAS tetap harus ada..

kebocoran paling banyak di BP MIGAS..badan pemerintah sendiri..ini yg harus 
dibenah.

btw..pembahasannya berat juuugaaa kall..


Warm Regrads,

Irfan Samalanga


  ----- Original Message ----
From: Haekal Teuku <Teuku.Haekal@ geoservices. com>
To: [EMAIL PROTECTED] s.com
Sent: Friday, June 13, 2008 4:12:14 PM
Subject: [smu mosa] Claims include Pinocchio DVD, golf clubs, dance class, 
charities

    
  ini ada yang ringan dan menarik pan,
  tentang cost recovery yang selama ini menggerogoti uang rakyat.
  salah satu penyebab naiknya harga BBM, padahal "katanya" indonesia negara 
penghasil minyak.
   
  semoga artikel berikut bermanfaat:
   
    Claims include Pinocchio DVD, golf clubs, dance class, charities  Wed, 
06/11/2008 10:37 AM  |  Business 
   
  It's hard to directly relate oil and gas operations to a DVD of Pinocchio, 
the wooden puppet whose nose grew longer every time he told a lie. 
  But the DVD, along with other expenses for wine, parties, golf clubs, dancing 
courses, charities and even Islamic haj pilgrimages to Saudi Arabia are among 
the costs oil and gas contractors submitted for government rebates in 2005. 
   
  In an audit of the 2005 accounts of several oil and gas concessions belonging 
to Total E&P Indonesie, ExxonMobil Oil Indonesia Inc. and Chevron Indonesia, 
the Supreme Audit Agency (BPK) found around US$16 million in questionable 
claims. 
  The claims were all related to community development, training and education, 
sports and recreational activities and sponsorships. 
  "There are numerous items which should be excluded from the cost recovery 
provision. For example, costs for community development. The firms seem to be 
generous but at the end of the day they pass on the bill to the government," 
said BPK senior auditor Widodo H. Mumpuni. 
   
  In the audit of Total's Mahakam Block operation in Kalimantan, the BPK found 
some $2.62 million and Rp 9.46 billion ($1.02 million) in spending related to 
community development, training and recreation. 
   
  Aside from the Pinocchio DVD, Total filed cost recovery claims for a water 
skiing boat engine, diving, recreation, French film festival sponsorship, HIV 
campaign, dancing teachers and farewell parties. 
  Total spokeswoman Judith J. Navarro-Dipodiputro refused to comment on the 
findings, saying BPMigas was more authorized to respond. 
   
  In the BPK audit report, the firm said the expenses were aimed at employee 
development under its "macro strategy" to improve worker and family welfare.  
The company also said BPMigas had approved some of the spending. 
  "Although the amount is small compared to the billions of dollars the oil and 
gas contractors contribute to the state, there is an issue of appropriateness 
here," said analyst Firdaus Ilyas of Indonesian Corruption Watch (ICW). 
  "For the contractors, costs for the luxuries are just peanuts. But for 
millions of poor Indonesians they mean a lot. Such claims have reduced the 
government share of the oil proceeds, which could be used for building 
schools," he said. 
   
  In its audit, the BPK also found some $217,587 of questionable expenses 
claimed by ExxonMobil's B Block, NSO Block and Pase Block for community 
development, which included funds for workers to play golf, bowling and 
farewell parties. 
   
  ExxonMobil spokeswoman Deva Rachman didn't reply to The Jakarta Post's 
written requests for clarification. However, the company said in the BPK report 
that BPMigas had approved such costs.  Other BPK findings include claims for 
charitable expenses. 
   
  Chevron's operation in East Kalimantan, for example, obtained a rebate for 
$19,650 in charities for the tsunami disaster in Aceh and Nias in 2005, saying 
such claims were possible under its work contract with the government. 
  "Most of the companies brought their flags to Aceh to give away to charities. 
They made their name known, but later they asked the government to pay them 
back. So they were not contributing at all," said Widodo. 
   
  The charities were part of Chevron's $9.55 million in expenses that the BPK 
categorized as nonrecoverable as they were spent for activities not directly 
related to operations, such as for sports, training for expatriate workers and 
accounting services. 
  However, Chevron agreed to exclude from the claims only $492,430 for the 
accounting expense and $44,780 for the training. 
   
  The BPK also highlighted problems of open clauses in the contracts and in the 
regulations for benefit packages and working requirements for expatriates. 
  In 2005, Chevron spent some $1.22 million on expatriates who were no longer 
involved in its Indonesian operations, according to the BPK report. 
  Some expenses were even allocated for workers who never worked here, it said. 
   
  Not until the BPK found such irregularities did Chevron agree to exclude them 
from its cost recovery claims. 
  "If the BPK had not spotted the irregularities, the companies might have 
walked away free," said Widodo. 
  In its written statement to the Post, Chevron said it was subject to the U.S. 
Foreign Corrupt Practices Act, which functions as its internal control. 
   
  In response to all the findings, BPMigas deputy chairman Abdul Muin said the 
BPK should not make a big deal of such spending as the contributions of the oil 
firms to the state were far bigger. 
  "For some cases, I agree the expenses are not appropriate. But the BPK should 
not focus on these kinds of things, which are of course, very unpopular among 
the public. They should go for the big one instead," he said, adding that it 
was not in the interests of big oil and gas contractors to abuse the cost 
recovery mechanism. 
  Chevron also said the "issue should not be looked at in a piecemeal fashion". 
   
  Chevron said it had numerous community development initiatives that were 
funded by its parent company, Chevron Corporation, such as for environmental 
and education programs. 
  Following the 2004 tsunami, for example, Chevron provided assistance through 
the Chevron Aceh Recovery Initiative for the rehabilitation of Nanggroe Aceh 
Darussalam and Nias Island, where funding of $14.7 million was exclusively 
provided by Chevron Corporation, thus not from the government's cost recovery 
fund. 
   
  -- JP/Rendi Akhmad Witular, with additional reporting from Ika Krismantari

     
   
   
  Regards,
   
  Teuku Ahmad HAEKAL
  Mosa Gen 5

   











   
Change settings via the Web (Yahoo! ID required) 
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch format to 
Traditional 
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe 

    
    Recent Activity
    
      1
  New Members

Visit Your Group 
      Yahoo! Finance
  It's Now Personal
  Guides, news,
  advice & more.

    Curves on Yahoo!
  A group for women
  to share & discuss
  food & weight loss.

    John McEnroe
  on Yahoo! Groups
  Join him for the
  10 Day Challenge.



  .

 
                           

       

Kirim email ke