Assalamu'alaikum wr.wb


Dari milis sebelah tentang golput ....
Mudah-mudahan ada manfaatnya .....
 
Wassalam 



From: ACHMAD SOEDIRO <asoed...@yahoo. co.uk>
Subject: Re: Lagi ttg Golput
Date: Thursday, February 26, 2009, 12:02 AM




Satu lagi hal yang sangat berguna bagi kita adalah pemahaman yang baik tentang 
undang-undang pemilu kita. kalo kita baca Pasal 200 dan seterusnya dalam 
undang2 tersebut, maka sebenarnya tidak ada ruang bagi golput untuk menyebut 
diri sebagai bentuk perlawanan. 
Dalam pasal2 tersebut diterangkan bahwa seberapa persen pun suara yang masuk 
maka jumlah kursi di DPR akan tetap terisi penuh. hal ini dilakukan dengan cara 
membagi jumlah kursi yang tersisa pada partai2 yang lolos electoral trasehold 
(2,5%, bukan zakat hehe) menurut prosentase perolehan suara mereka. Dengan kata 
lain, walaupun hanya 10% dari pemilih potensial yang memberikan suara dalam 
pemilu, kursi DPR tetap saja akan terisi penuh, n gak kosong. kalo, yang menang 
dari 10% tersebut adalah orang2 yang korup, maka merekalah yang bakal memegang 
tongkat komando kebijakan negara ini. kalo yang menang dari 10% tersebut adalah 
orang2 yang anti terhadap Islam, maka sudah tentu semua kebijakan akan menjadi 
musibah bagi muslim negeri ini.
Begitu juga dalam pemilihan Presiden, yang berhak mencalonkan adalah mereka 
yang memiliki 20% perolehan suara pemilu. jadi yang dapet 20% suara dari 10% 
orang yang ikut pemilu tetap berhak mengajukan capresnya. dan capres yang 
memenangkan 51% suara dari 10% orang yang ikut pemilu tetap berhak menjadi 
Presiden RI wallaupun 90% lainnya golput.Inilah romantika demokrasi, preview 
nya adalah Mesir, Husni Mubarak memenangkan pemilu yang hanya diikuti tidak 
lebih dari 30% pemilih potensial karena calon2 legislatif dari opisisi seperti 
kelompok Ikhwanul Muslimin habis ditangkapi dan dipenjarakan, selain itu para 
pendukung kelompok ini juga dipersulit bahkan dilarang ikut menconblos di 
banyak TPS negeri itu. alhasil Husni Mubarak tetap jadi presiden seluruh Mesir 
walau cuma beberapa persen dimenangkan.
Itulah demokrasi dan kita dituntut harus tetap
 cerdik mensikapi sistem demokrasi ini, kalo dulu Anis Matta membuat buku 
Menikmati Demokrasi mungkin sekarang sudah saatnya  Modul Bagaimana Menjadi 
Matador Demokrasi yang Sukses. 
Kembali ke pokok permasalahan, pilihan golput sebagai perlawanan saat ini 
menunjukkan masih rendahnya PQ ummat ini. seperti kata Pak Mico, bahwa setiap 
pilihan akan dimintai pertanggung jawaban termasuk memilih untuk merelakan 
kepemimpinan ummat ke tangan para durjana.
Jadi alih-alih melakukan perlawanan, mereka yang golput malah harus mengikuti 
apapun kebijakan dari orang2 yang mereka biarkan untuk menang dalam pemilu 
walaupun yang mereka biarkan menang itu adalah Rahwana sekalipun. 

Saya pernah tertawa dan menangis saat membaca opini para pendukung golput dari 
sebuah blog. si penulis mengatakan bahwa semakin banyak orang yang golput maka 
Indonesia akan
 segera hancur, lalu saat itulah Khilafah islamiyah akan didirikan. dari situ 
saja kita bisa menebak nebak seberapa baik dan canggih PQ (Political Quotient) 
dari saudara2 kita.

Kalau kita telaah orang-orang yang dekat dengan isu seputar golput ada beberapa 
macam:

1.      Golput tapi tak mengkampanyekan. Golongan yang satu ini terdiri mereka 
yang bisa jadi karena kurang pengetahuan dan informasi tentang pemilu yang 
kebanyakan adalah mereka yang berada pada level bawah-bawah. Selain itu ada 
pula yang terjadi karena ke apatisan dan ketidak puasan pada kinerja 
penyelenggara pemerintahan dan wakil-wakil rakyatnya, tipe ini bisa terdapat 
mulai dari menengah bawah hingga level atas-atas. Yang menarik, level 
bawah-bawah dan menengah bawah bisa saja meninggalkan golput bila ada varian 
lain yang terjadi. Misalkan saja money politics. Maka dengan hanya beberapa 
puluh ribu rupiah menjelang hari pencoblosan atau bahkan beberapa
 saat sebelum pencoblosan, suara mereka akan terbeli dan itu yang sering kali 
terjadi.

2.      Golput sekaligus mengkampanyekan. Tipe ini bisa terdapat pada beberapa 
kelompok. Yang pertama, bisa jadi dikarenakan kekecewaan yang mendalam terhadap 
pemilu. Yang kedua adalah mereka yang bisa kita sebut ronin-ronin parpol, yang 
tersingkirkan dari partainya atau tidak mendapatkan apa yang dia inginkan di 
partainya lalu kecewa dan keluar dengan yel-yel golputnya. Contohnya kita bisa 
lihat sekarang. Yang ketiga, adalah mereka yang katanya golput ideologis 
(meminjam istilah mereka yang bangga dengan sebutan itu). Kelompok ini adalah 
mereka yang mengharamkan golput atau berpura-pura membolehkan tapi dengan 
syarat yang mereka buat buat hingga akhirnya ya haram juga katanya. Bagi saya, 
kelompok ini gak pantas disebut golput. Karena menurut saya lagi, yang namanya 
golput itu adalah keadaan tanpa afiliasi kemanapun, netral gak
 kemana-mana. Jadi jangan mimpi mau menyatukan golput, mengkoordinir dan 
mengerahkan golput, apalagi jadi pemimpin golput. Karena sejatinya golput itu 
gak mau ikut sana sini apalagi disuruh memilih pemimpin, weleh. Nah, untuk 
kelompok terakhir tadi sebutan yang paling tepat adalah golongan asing (gosing) 
mirip ET, karena pemilih bukan dan golput juga gak masuk. Tapi anehnya mereka 
sibuk kampanye golput juga.

3.      Yang pura-pura golput dan sibuk mengkampanyekan golput. Hih, kelompok 
ini yang cukup berbahaya, militansinya bisa jadi lebih hebat dari kelompok 
kedua. Karena support dana yang mereka miliki. Kelompok ini bisa jadi adalah 
pesanan parpol-parpol curang dan kelompok kepentingan. Lembaga survey, media 
massa dan kelompok masyarakat tertentu boleh jadi terkait dengan jaringan ini. 
Tentu saja, tidak semua pesannya vulgar mengajak golput. Dengan 
membesar-besarkan hasil survey dan informasi tentang golput saja, sudah
 bisa masuk dalam alam bawah sadar pemilih untuk berfikir dan menerima gagasan 
golput apalagi mereka yang timbang sana sini.


Apakah golput akan menghasilkan perbaikan? Dalam perspektif terbatas bisa saja 
itu tejadi tapi pada kondisi Indonesia sekarang, sudah seharusnya berfikir 
berkali-kali. Karena boleh jadi golput malah menguntungkan partai-partai 
curang. Mengapa demikian? Karena eh karena dengan golput parpol culas bisa:

1.      Mengurangi biaya pembelian suara. Kelompok yang golput bisa jadi 
menguntungkan parpol yang terbiasa tebar uang dan hadiah. Daerah-daerah yang 
dipetakan kurang prospektif dari segi potensi atau tidak lebih menguntungkan 
dalam jangka panjang, tidak akan terlalu serius diurusi karena keterbatasan 
dana. Bisa jadi ada namun tidak terlalu signifikan. Biarlah daerah yang kurang 
potensial tersebut dinina bobokan dengan pasukan golput saja, agar tidak banyak 
memberi pengaruh pada perolehan
 suara.

2.      Fokus pada daerah-daerah strategis dan potensial. Karena alasan budget 
juga, parpol cenderung memfokuskan pada daerah-daerah kaya potensi. Masyarakat 
daerah tersebut yang masih menengah kebawah akan menjadi sasaran money 
politics. Sedangkan yang menengah ke atas didekati dengan rekrutan menjadi 
caleg atau iming-iming proyek dimasa kemenangannya. Intinya jangan sampai ada 
golput dan pilihan partai lain di daerah tersebut karena fokus anggaran partai 
sudah ditetapkan. Oleh karena itu secara umum, parpol yang memiliki budget 
raksasa adalah mereka yang paling berpontensi memenangkan perang gaya ini.

3.      Memudahkan memupuk kekayaan dalam jangka panjang, minimal 5 tahun 
kedepan. Hasilnya tentu saja kekayaan yang berlimpah dari kesempatan 
bereksporasi dalam lima tahun kedepan, menyiapkan pemilu berikutnya. Sebagian 
kecil bisa saja dibagi agar pimilih merasakan dan mengurangi
 potensi golput masa berikutnya serta memupuk loyalitas pemilih, sebagian besar 
yang lain adalah logistik partai dan kekayaan orang-orangnya.  


Mikir-mikir lebih jauh akan ada juga keuntungan untuk partai atau kelompok 
dengan agenda deislamisasi atau islamophobi. Dengan besarnya golput terutama 
dari muslim Indonesia maka dapat:

1.      Mengurangi keterwakilan muslim dalam pengambilan kebijakan

2.      Mengurangi peran-peran muslim dalam kehidupan berbangsa secara umum

3.      Mempreteli satu demi satu regulasi bernafaskan syariah

4.      Memudahkan jalan untuk mengembalikan Pancasila sebagai azas tunggal

5.      Memudahkan jalan melemparkan Islam dari ranah publik

Hal lain yang perlu diingat adalah TNI dan Polri sudah barang tentu
 berada pada pihak yang memenangkan pemilu (itu kata undang undang). Mereka 
siap mengamankan apapun kebijakan yang berkuasa. Dan dukungan internasional 
juga akan mengalir bila lima agenda diatas mulai terformat dan bergerak. Toh, 
kata temen saya Mas Ucup, entah yang memilih itu 100% atau cuma 50%, hasilnya 
akan tetap legitimate untuk menjadi penguasa.

 
Menakar resiko muslim Indonesia bila golput sukses:

Dari 222 juta rakyat (menurut sensus 2006)  = 170 juta pemilih. Dengan 
hitung-hitungan bodoh aja maka, bila persentase muslim Indonesia adalah 86% 
maka jumlah pemilih muslim adalah 170 juta x 86% = 146 jutaan, sedangkan non 
muslim adalah 170 juta x 14% = 24 jutaan. Dengan pendekatan pessimistic non 
scientific, anggap saja 40% dari muslim itu golput. Dengan data dari persentase 
golput pilkada lalu, terlihat daerah-daerah yang mayoritas penduduknya muslim 
ternyata memiliki angka golput
 yang tinggi, rata-rata 40%, sedangkan daerah yang mayoritas non muslim seperti 
Bali, NTT, Maluku, dan Papua malah memiliki angka golput yang rendah dengan 
rata-rata 20%.

 
Maka prediksi bila golput sukses dan berdasarkan hasil rata-rata maksimal total 
suara yang didapat partai Islam dalam beberapa pemilu sebelumnya, sekitar 20%, 
yang ikut memilih di pemilu mendatang 60% karena selebihnya golput. Didapatlah 
perhitungan kotor sebagai berikut: Suara partai islam = 20% x (60%x146 juta) = 
17.52 juta atau hanya 10%. Suara muslim di partai sekuler = 80% x (60%x146 
juta) = 70.08 juta atau hanya 40%. Sisa suara adalah mereka yang golput dan non 
muslim. Nah, kalo saya tebak sih, dalam pemilu legislatif angka golput non 
muslim bakal sangat rendah atau bahkan mendekati nol persen. Hal ini terkait 
dengan isu keterwakilan mereka dan juga agenda-agenda lainnya. Dan kemungkinan 
besar bahkan bisa jadi
 pasti mereka tidak akan menjatuhkan hak pilih ke caleg muslim, ini sebuah 
misteri idealisme. Jadi anggap saja dari 24 juta pemilih itu semua memberikan 
suaranya pada wakil mereka. Jadi presentasenya adalah sekitar 14%, melampaui 
suara gabungan partai Islam.

 
Hasilnya memang sungguh mengerikan, partai Islam 10%, partai sekuler (yang 
didalamnya udah pasti ada nonI) dan partai non Islam 40%+14%, sisanya sekitar 
36% adalah suara umat Islam yang tak terpakai. Didalam 36% itu ada mereka yang 
tak kebagian money politik, ada mereka yang katanya protes dan menunjukkan 
bentuk perlawanan, ada yang katanya pemilu itu haram dan oleh karena itu tak 
ikut pemilu demi syariat Islam. Untuk yang terakhir ini tak bisa banyak 
berharap akan hadirnya Syariat, karena kondisinya saat itu sudah semakin 
membingungkan. Walaupun dengan dalih hasil sebuah survey yang mengatakan 72% 
orang Indonesia ingin syariah Islam, tetap saja faktanya akan terlihat di 
pemilu ini.
 Bila afiliasi muslim Indonesia masih pada ideology-ideologi sekuler dan 
materialistic sebagaimana sebagian dari mereka memilih partai non Islam dan 
sebagian lainnya memilih golput karena alasan materialistis, maka sudah barang 
tentu hasil survey tersebut hanya kamuflase. Bisa jadi survey dilakukan hanya 
untuk membesar-besarkan isu hingga terjadi radikalisme yang diharapkan atau 
bisa jadi sebagai alasan dana asing bisa masuk lebih banyak dengan tujuan 
deislamisasi. Atau bisa jadi ada error di survey tersebut. Siapa tau? Di pemilu 
2009 inilah hasil-hasil survey itu akan terbongkar kebenarannya atau 
kebobrokannya. Dimana kaum golput adalah tumbalnya. Bila si baik yang menang, 
maka mereka ikut menang dan menikmati hasil tanpa perjuangan. Lalu bila si 
bejat yang menang, maka mereka juga yang terlibat mengantarkan nya ke tampuk 
kemenangan tanpa perlawanan yang katanya melawan.

 
Nah, saudara saudara seiman. Kalau memang kita serius menginginkan
 akan adanya perbaikan. Mulailah mendaftar kalo belum terdaftar, urus semua 
kelengkapan pemilih kita. Lalu mulai cari daftar caleg yang ada. Lihat-lihat 
dan kenali mereka dan tawaran serta program mereka. Cari informasi lebih dalam 
tentang mereka. Kalau memang otak ini sudah mumet, serahkan ke hati-hati kita 
masing-masing. Bukankah Allah SWT akan selalu mengabulkan doa-doa kita. 
Yakinkah? Jangan lupa kesholehan lahiriyah bisa jadi sebuah parameter. Selain 
itu kita lihat juga orang-orang yang menawarkannya dan atau disekitarnya, 
apakah juga kesolehan itu tampak? Selama kampanye ikutin yang kita sreg 
dengannnya, itung-itung wisata 5 tahunan. Yang sangat penting mulailah sholat 
istikhoroh sampai hari pemilihan tiba. InsyaAllah, Allah SWT akan memberikan 
yang terbaik atas usaha kita itu. Yakinkah? Pergi ke TPS, coblos aja kalo sudah 
yakin. Kalo belum biarkan Allah SWT mengilhami, karena janji Allah SWT bagi 
mereka yang istikhoroh pasti terjadi. Kalo belum
 dapat juga, lihat aja wajah-wajah mereka, pilih yang bisa menyejukkan kita. 
Nah, kalo gak ada juga, ya udah lipat lagi tuh surat suara. Tapi pilihan 
terakhir ini amat sangat tidak disarankan, karena udah nanggung tuh hehehehe. 
Terakhir jangan lupa masukin ke kotak suara, jangan dibawa pulang. Jadi inget 
artikel yang pernah saya baca, hati yang bersih akan memuluskan jalan keluar 
sebuah masalah. Allah SWT menganugerahkan hati sebagai salah satu alat selain 
kepala yang sering hang ini. 

 

  
  
  
  
    
    


     
         
        
        








        


        
        


      

Kirim email ke