Kalo temen2 ada waktu silahkan baca artikel ini. ilustrasi: gandjar dewa
Jakarta - Sepeda motor kini semakin merajai jalan-jalan di hampir seluruh kota di Indonesia. Hampir setiap bulan puluhan hingga ratusan ribu unit sepeda motor dari berbagai merek terjual di pasar. Meski produsen terus mengguyur pasar, tetapi tampaknya permintaan tetap tinggi. Salah satu merek sepeda motor cukup populer dan tren penjualannya lagi naik daun adalah Kanzen. PT Semesta Citra Motorindo (SCM), produsen sepeda motor merek Kanzen tak terlalu ngoyo dalam "mengejar setoran." Terutama untuk pasar Jawa yang didominasi oleh merek-merek Jepang. Walau di permukaan, pemasaran Kanzen tak agresif seperti kompetitornya, sebenarnya produsen motor itu sedang menggarap serius pasar di luar Jawa. Belakangan ini, jurus jitu ternyata cukup ampuh dalam menembus pasar motor nasional. "Koki" yang paling bertanggung jawab atas kesuksesan itu, tak lain adalah Hermawan Surya (67), Presiden Direktur SCM. Hermawan yang tampil low profile bercerita bahwa keberhasilan itu, bukan karena dia, tapi berkat kerja tim yang solid. Tak mungkin buah kesuksesan didapat dari pekerjaan seorang. Itu berlaku di mana-mana. Ini yang disadari betul oleh Hermawan sehingga tak heran jika pribadinya menjadi panutan anak buahnya yang kebanyakan adalah jebolan Astra seperti dirinya. Menilik sejarah kelahiran Kanzen, menurutnya, tak bisa dilepaskan dari peran Rini S. Suwandi (kini menjabat Menperindag-red) yang ketika masih di Astra International merupakan atasan Hermawan. "Beliau ketika sudah tidak di Astra menggagas ide untuk membuat motor nasional. Kesimpulannya pada saat itu, kita coba membuat tapi dimulai dengan multisourcing. Akhirnya, kami mengambil komponen dari Jepang, Korea dan sebagainya," urai Hermawan kepada SH saat ditemui SH di Cianjur di sela pameran pembanguan, baru-baru ini. Pada Oktober 2000, di tengah banyaknya pemain di industri sepeda motor, SCM meluncurkan produknya yakni sepeda motor Kanzen di sirkuit Sentul. Kemudian dilanjutkan pada November 2000, dilakukan tes perjalanan atas dua jenis produk barunya sejauh 1.800 km dari Jakarta ke Denpasar. Keberhasilan ini membuktikan kualitas unggul dari sepeda motor merek ini. Menurut Hermawan, sejak awal telah mempersiapkan pabrik yang tidak saja merakit, namun juga membuat komponen utama mesin dan rangka sepeda motor di Karawang Timur, Jawa Barat. Hasil produknya selain untuk pasar dalam negeri juga telah diekspor ke Laos dan negara-negara di kawasan lainnya. Semula luasnya53.000 meter persegi, kini berkembang menjadi 150.000 meter persegi dan memperkerjakan lebih dari 500 karyawan. Sepeda motor Kanzen yang dipasarkan di Indonesia terdiri dari berbagai tipe, yakni bebek (cub), skuter matic, sport, trail, dan custom. SCM, menurut Hermawan, adalah satu-satunya motor non-Jepang yang sudah mengadakan investasi komplet. Perusahaan itu sudah membangun pabrik sehingga bisa membuat blok mesin motor. Bulan lalu bahkan SCM sudah mengekspor ke Korea. Dengan adanya pabrik, diakui secara perhitungan ekonomi, profit belum besar, tapi para pendiri ingin membuktikan sebagai perusahaan nasional, sanggup membuat motor. Kanzen merupakan sepeda motor nasional dengan teknolologi dan komponen Korea. Tahun 2002 kandungan lokalnya mencapai di atas 60 persen. Ini bukti bahwa Indonesia dapat memiliki sepeda motor sendiri yang mayoritas komponennya dibuat dan dipenuhi dari industri dalam negeri. Komponen kritis lainnya yang masih diimpor berasal dari Korea tempat seluruh komponen, baik lokal maupun impor dibuat dengan menggunakan teknologi Korea. Tapi pada mulanya Kanzen memilih multisourcing, sebab pada saat itu belum ada merek yang bisa dijadikan prinsipal. Pada tahun 2000 saat Kanzen dipasarkan pertama kali, pemasarannya tersendat-sendat. Menurut Hermawan, pada saat itu ternyata kualitas komponennya banyak yang bukan nomor satu. Persoalan ini lantas didiskusikan lebih serius dan keputusannya SCM mengadakan kontak-kontak dengan perusahaan sepeda motor Korea untuk dijajaki kerja sama. Di Negeri Ginseng itu, sambung bapak satu putri itu, ada dua perusahaan sepeda motor yang sama-sama memiliki kualitas terbaik. Tapi pihaknya harus memilih salah satu. Dan pilihan jatuh pada perusahaan sepeda motor yang mengadopsi teknologi Honda. Singkat cerita setelah kerja sama terealisasi, SCM melakukan uji publik terhadap kualitas motor itu. Menurut Hermawan, hasilnya memuaskan dan tidak kalah dengan merek motor Jepang lainnya, termasuk Honda. "Maka Kanzen itu kita sebut Honda Korea. Tapi arti sebenarnya adalah pekerjaan yang sempurna," tutur alumnus UI 1962 itu. Tanggapan konsumen terhadap merek Kanzen pada awalnya memang ragu-ragu. Tapi setelah berjalan setahun konsumen baru bisa merasakan. "Ternyata nggak ada bedanya dengan motor Jepang, bahkan lebih murah Rp 2 juta - Rp 3 juta. Barangkali citra Kanzen sebagai sepeda motor sekualitas motor Jepang belum meluas ke masyarakat. Tapi ini tinggal menunggu waktu," ujar Hermawan yakin. Sebagai motor yang dibangun atas dasar rasa nasionalis para pendirinya, penjualannya sudah lumayan bagus. Menurut Hermawan, pihaknya sudah bisa melego sekitar 2.700-3.000 unit setiap bulan, belum termasuk yang fleet. Bahkan tahun 2005, harapannya penjualan akan meningkat hingga 5.000 unit per bulan. Ini angka yang menurutnya bukan hasil rekaan, tapi atas dasar tren yang terjadi berdasarkan tren penjualan selama ini. Untuk sampai pada angka itu, persiapannya sudah digodok sejak sekarang. Terutama dari sisi after sales service yang tersebar di banyak kota. Soal suku cadang, tidak masalah karena tidak ada perbedaan dengan Honda. "Hanya image yang membuat kita susah. Kalau kita mau promosi besar-besaran, ya nggak kuat. Terpaksa promosi harus disiasati secara arif," tambah mantan Presiden Direktur Astra Honda Motor itu Dari berbagai tipe sepeda motor yang diproduksi Kanzen, tipe bebek (cub) yang mendominasi penjualan yakni kontribusinya mencapai 85-90 persen. Penjualan itu sendiri terkonsentrasi dan terbesar di Sumatera. Sedangkan di Jawa tidak terlalu besar. Menurut Hermawan, pasar di luar Jawa saat ini amat potensial. Pihaknya lebih memilih "bertarung" bukan di Jawa karena basis motor Jepang ada di sini. "Buat apa melawan, lebih baik konsentrasi di daerah yang memungkinkan kita kembangkan. Tapi pasar di Jawa tetap digarap, namun strateginya tentu saja berbeda," urainya. Secara nasional, penjualan Kanzen masih di bawah motor-motor Jepang. Tapi di beberapa kota di luar Jawa, Kanzen menduduki urutan ketiga. Salah satu contoh, cerita Hermawan, di Pekanbaru merek ini terjual 1.000 unit per bulan, mengalahkan salah satu merek Jepang. (Di Indonesia ada empat merek Jepang, yakni: Susuki, Yamaha, Honda, dan Kawasaki) Menyadari posisinya masih di bawah motor Jepang, Hermawan bersama jajarannya berupaya mendongkrak ke urutan yang lebih tinggi lewat strategi yang rasional dan taktis. "Kita harus proaktif dalam memasarkan produk. Upaya yang kita lakukan adalah keliling ke berbagai daerah untuk melihat celah. Sekarang kita nggak memikirkan untung besar, asal bisa muter dan menghidupkan pabrik, itu cukup. Dengan harapan makin besar volume, depreasi pabrik kita bisa lebih banyak. Cost bisa turun sehingga lebih kompetitif," urainya. Menurutnya, kalau mau bicara jujur, industri sepeda motor itu tidak susah. Susahnya itu hanya dibuat-buat. Kuncinya ada di R&D (Riset dan Pengembangan). Inilah yang membuat orang Indonesia, tidak kuat. Motor atau mobil yang dijual 1.000, 2.000, atau 10.000 unit tak kuat membayar R&D. Yang mampu membayar hanya prinsipal. Tapi kalau berbicara soal teknologi, maka teknologi motor simpel sekali Contohnya, Cina yang memiliki kemampuan membuat motor dan sempat fenomenal. Kenapa kita tidak bisa. "Dengan dasar pemikiran itu, ternyata Indonesia bisa, bahkan kita mengekspor ke Korea," ucap Hermawan yang di usia senja masih tampak bugar. (SH/gatot irawan) ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Help save the life of a child. Support St. Jude Children's Research Hospital's 'Thanks & Giving.' http://us.click.yahoo.com/i8TXDC/5WnJAA/HwKMAA/4tWolB/TM --------------------------------------------------------------------~-> -- -------------------------------------------------- Berhenti (Quit): [EMAIL PROTECTED] Arsip milis: http://groups.yahoo.com/group/smun65 Arsip Files: http://groups.yahoo.com/group/smun65/files Website: http://smun65.blogspot.com -------------------------------------------------- Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/smun65/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
