Subject: [keluarga-islami] Fw: Aku Biasa-biasa Aja!

FW : Aku Biasa-biasa Aja!Ada bingkisan dari tetangga.


----- Original Message -----
From: Andi Kuntadi
Sent: Wednesday, April 13, 2005 11:02 AM
Subject: FW : Aku Biasa-biasa Aja!




Phriends,

Terkadang kita lupa, ada hal-hal lain di luar ranking kelas dan nilai ulangan.
Semoga tulisan di bawah bisa bermanfaat dalam mendidik anak kita...:-)

Regards,
Andi.

  ______________________________________________
  Aku Biasa-biasa Aja!

  Tahukah anda, apa yang paling dibanggakan orang tua
  dari anak-anaknya? Boleh jadi adalah kecerdasan
  scholastic, seperti matematika, bahasa, menggambar
  (visual), musik (musical), dan olahraga (kinestetik).

  Tetapi, pernahkah kita membanggakan jika anak kita
  memiliki kecerdasan moral, kecerdasan intrapersonal,
  atau kecerdasan interpersonal?

  Rasanya jarang, sebab ketiga kecerdasan yang terakhir
  hampir pasti uncountable, tidak bisa dihitung, dan
  sayang sekalin tidak ada pontennya (nilainya) di
  sekolah, karena di sekolah hanya memberikan penilaian
  kuantitatif.

  Ada sebuah cerita tentang seorang anak, sebut saja
  namanya Fani (6,5 tahun), kelas I SD. Ia memiliki
  banyak sekali teman. Dan ia pun tidak bermasalah
  harus berganti teman duduk di sekolahnya. Ia juga
  bergaul dengan siapa saja dilingkungan rumahnya. Ada
  satu hal yang menarik saat ia bercerita tentang
  teman-temannya.

  "Bu, Ifa pinter sekali lho, Bu...! Pinter Matematika,
  Bahasa Indonesia, Menggambar....pokoknya pinter
  sekali....!" katanya santai. Vivi juga pintar
  sekali menggambar, gambarnya bagus ...sekali! Kalau si
  Yahya hafalannya banyaaak... sekali!"

  Ya memang fani senang sekali membanggakan
  teman-temannya. Ketika mendengar celoteh anaknya
  ibunya tersenyum dan bertanya, " Kalau mbak Fani
  pinter
  apa?" Ia menjawab dengan cengiran khasnya,"
  Hehehe...kalau aku, sih, biasa-biasa saja".
  Jawaban itu mungkin akan sangat biasa bagi anda,
  tetapi ibunya tertegun, karena pada dasarnya fani
  memang demikian. Ia biasa-biasa saja untuk ukuran
  prestasi scholastic.

  Tapi coba kita dengarkan apa cerita gurunya, bahwa
  Fani sering diminta bantuannya untuk membimbing
  temannya yang sangat lamban mengerjakan tugas sekolah,
  mendamaikan temannya yang bertengkar.

  Bahkan ketika dua orang adiknya, Farah (4,5 tahun )
  dan Fadila (2,5 tahun) bertengkar. Fani langsung turun
  tangan. "Sudah..! sudah, Dek! sama saudara
  tidak boleh bertengkar, Hayo tadi siapa yang mulai?"
  Adiknya saling tunjuk. "Hayo, jujur ...Jujur itu
  disayang Allah..! Sekarang salaman ya... saling
  memaafkan".

  Pun ketika suatu hari ia melihat baju-baju bagus di
  toko, dengarlah komentarnya! "Wah bajunya bagus-bagus
  ya Bu? Aku sebenarnya pengin, tapi bajuku dirumah
  masih bagus-bagus, nanti saja kalau sudah jelek dan
  Ibu sudah punya rezeki, aku minta dibelikan ..."
  Ibunya pun tak kuasa menahan air matanya, subhanallah
  anak sekecil itu sudah bisa menunda keinginan, sebagai
  salah satu ciri kecerdasan emosional.

  Saya sebenarnya ingin berbagi cerita tentang ini
  kepada anda, karena betapa banyak dari kita yang
  mengabaikan kecerdasan-kecerdasan emosional seperti
  itu. Padahal kita tahu dalam setiap tes penerimaan
  pegawai, yang lebih banyak diterima adalah orang yang
  mempunyai kecerdasan emosional walaupun dari sisi
  kecerdasan scholastic adalah BIASA-BIASA SAJA.

  Kadang kita merasa rendah diri manakala anak kita
  tidak mencapai ranking sepuluh besar disekolah. Tetapi
  herannya, kita tidak rendah diri manakala anak-anak
  kita tumbuh menjadi pribadi yang egois, mau menang
  sendiri, sombong, suka menipu atau tidak biasa
  bergaul.

  Maka ketika Fani mengatakan "AKU BIASA-BIASA SAJA",
  maka saat itu ibunya menjawab "Alhamdulillah, mbak
  Fani suka menolong teman-teman, tidak sombong, mau
  bergaul dengan siapa saja. Itu adalah kelebihan mbak
  Fani, diteruskan dan disyukuri ya..?" Ya... ibunya
  ingin mensupport dan memberikan reward yang positif
  bagi Fani. Karena kita tahu anak-anak kita adalah
  amanah dan
  suatu saat amanah itu akan diambil dan ditanyakan
  bagaimana kita menjaga amanah.
  Sebagaimana doa kita setiap hari agar anak-anak
  menjadi penyejuk mata dan hati.

  Sudahkah kita mencoba untuk menggali potensi-potensi
  kecerdasan emosional anak-anak kita? Kalau belum
  mulailah dari diri kita, saat ini juga.

  Source : L. Fini R.A
  Procurement Division 




------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Take a look at donorschoose.org, an excellent charitable web site for
anyone who cares about public education!
http://us.click.yahoo.com/1gzaND/8WnJAA/HwKMAA/4tWolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

--
--------------------------------------------------
Berhenti (Quit):  [EMAIL PROTECTED]
Arsip milis:  http://groups.yahoo.com/group/smun65
Arsip Files:  http://groups.yahoo.com/group/smun65/files
Website: http://smun65.blogspot.com
--------------------------------------------------
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/smun65/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke