http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/0804/16/0802.htm

Asal Usul Nama Indonesia
Oleh IRFAN ANSHORY

PADA zaman purba, kepulauan tanah air kita disebut dengan aneka nama. Dalam 
catatan bangsa Tionghoa kawasan kepulauan kita dinamai Nan-hai (Kepulauan 
Laut Selatan). Berbagai catatan kuno bangsa India menamai kepulauan ini 
Dwipantara (Kepulauan Tanah Seberang), nama yang diturunkan dari kata 
Sansekerta dwipa (pulau) dan antara (luar, seberang). Kisah Ramayana karya 
pujangga Valmiki yang termasyhur itu menceritakan pencarian terhadap Sinta, 
istri Rama yang diculik Ravana, sampai ke Suwarnadwipa (Pulau Emas, yaitu 
Sumatra sekarang) yang terletak di Kepulauan Dwipantara.

Bangsa Arab menyebut tanah air kita Jaza'ir al-Jawi (Kepulauan Jawa). Nama 
Latin untuk kemenyan adalah benzoe, berasal dari bahasa Arab luban jawi 
(kemenyan Jawa), sebab para pedagang Arab memperoleh kemenyan dari batang 
pohon Styrax sumatrana yang dahulu hanya tumbuh di Sumatra. Sampai hari ini 
jemaah haji kita masih sering dipanggil "Jawa" oleh orang Arab. Bahkan orang 
Indonesia luar Jawa sekalipun. "Samathrah, Sholibis, Sundah, kulluh Jawi 
(Sumatra, Sulawesi, Sunda, semuanya Jawa)" kata seorang pedagang di Pasar 
Seng, Mekah.

Lalu tibalah zaman kedatangan orang Eropa ke Asia. Bangsa-bangsa Eropa yang 
pertama kali datang itu beranggapan bahwa Asia hanya terdiri dari Arab, 
Persia, India, dan Cina. Bagi mereka, daerah yang terbentang luas antara 
Persia dan Cina semuanya adalah "Hindia". Semenanjung Asia Selatan mereka 
sebut "Hindia Muka" dan daratan Asia Tenggara dinamai "Hindia Belakang". 
Sedangkan tanah air kita memperoleh nama "Kepulauan Hindia" (Indische 
Archipel, Indian Archipelago, l'Archipel Indien) atau "Hindia Timur" (Oost 
Indie, East Indies, Indes Orientales). Nama lain yang juga dipakai adalah 
"Kepulauan Melayu" (Maleische Archipel, Malay Archipelago, l'Archipel 
Malais).

Ketika tanah air kita terjajah oleh bangsa Belanda, nama resmi yang 
digunakan adalah Nederlandsch-Indie (Hindia Belanda), sedangkan pemerintah 
pendudukan Jepang 1942-1945 memakai istilah To-Indo (Hindia Timur). Eduard 
Douwes Dekker (1820-1887), yang dikenal dengan nama samaran Multatuli, 
pernah mengusulkan nama yang spesifik untuk menyebutkan kepulauan tanah air 
kita, yaitu Insulinde, yang artinya juga "Kepulauan Hindia" (bahasa Latin 
insula berarti pulau). Tetapi rupanya nama Insulinde ini kurang populer. 
Bagi orang Bandung, Insulinde mungkin cuma dikenal sebagai nama toko buku 
yang pernah ada di Jalan Otista.

Pada tahun 1920-an, Ernest Francois Eugene Douwes Dekker (1879-1950), yang 
kita kenal sebagai Dr. Setiabudi (beliau adalah cucu dari adik Multatuli), 
memopulerkan suatu nama untuk tanah air kita yang tidak mengandung unsur 
kata "India". Nama itu tiada lain adalah Nusantara, suatu istilah yang telah 
tenggelam berabad-abad lamanya. Setiabudi mengambil nama itu dari Pararaton, 
naskah kuno zaman Majapahit yang ditemukan di Bali pada akhir abad ke-19 
lalu diterjemahkan oleh J.L.A. Brandes dan diterbitkan oleh Nicholaas 
Johannes Krom pada tahun 1920.

Namun perlu dicatat bahwa pengertian Nusantara yang diusulkan Setiabudi jauh 
berbeda dengan pengertian, nusantara zaman Majapahit. Pada masa Majapahit 
Nusantara digunakan untuk menyebutkan pulau-pulau di luar Jawa (antara dalam 
bahasa Sansekerta artinya luar, seberang) sebagai lawan dari Jawadwipa 
(Pulau Jawa). Kita tentu pernah mendengar Sumpah Palapa dari Gajah Mada, 
"Lamun huwus kalah nusantara, isun amukti palapa" (Jika telah kalah 
pulau-pulau seberang, barulah saya menikmati istirahat). Oleh Dr. Setiabudi 
kata nusantara zaman Majapahit yang berkonotasi jahiliyah itu diberi 
pengertian yang nasionalistis. Dengan mengambil kata Melayu asli antara, 
maka Nusantara kini memiliki arti yang baru yaitu "nusa di antara dua benua 
dan dua samudra", sehingga Jawa pun termasuk dalam definisi nusantara yang 
modern. Istilah nusantara dari Setiabudi ini dengan cepat menjadi populer 
penggunaannya sebagai alternatif dari nama Hindia Belanda.

Sampai hari ini istilah nusantara tetap kita pakai untuk menyebutkan wilayah 
tanah air kita dari Sabang sampai Merauke. Tetapi nama resmi bangsa dan 
negara kita adalah Indonesia. Kini akan kita telusuri dari mana gerangan 
nama yang sukar bagi lidah Melayu ini muncul.

Nama Indonesia

Pada tahun 1847 di Singapura terbit sebuah majalah ilmiah tahunan, Journal 
of the Indian Archipelago and Eastern Asia (JIAEA), yang dikelola oleh James 
Richardson Logan (1819-1869), orang Skotlandia yang meraih sarjana hukum 
dari Universitas Edinburgh. Kemudian pada tahun 1849 seorang ahli etnologi 
bangsa Inggris, George Samuel Windsor Earl (1813-1865), menggabungkan diri 
sebagai redaksi majalah JIAEA.

Dalam JIAEA Volume IV tahun 1850, halaman 66-74, Earl menulis artikel On the 
Leading Characteristics of the Papuan, Australian and Malay-Polynesian 
Nations. Dalam artikelnya itu Earl menegaskan bahwa sudah tiba saatnya bagi 
penduduk Kepulauan Hindia atau Kepulauan Melayu untuk memiliki nama khas (a 
distinctive name), sebab nama Hindia tidaklah tepat dan sering rancu dengan 
penyebutan India yang lain. Earl mengajukan dua pilihan nama: Indunesia atau 
Malayunesia (nesos dalam bahasa Yunani berarti pulau). Pada halaman 71 
artikelnya itu tertulis: ... the inhabitants of the Indian Archipelago or 
Malayan Archipelago would become respectively Indunesians or Malayunesians.

Earl sendiri menyatakan memilih nama Malayunesia (Kepulauan Melayu) daripada 
Indunesia (Kepulauan Hindia), sebab Malayunesia sangat tepat untuk ras 
Melayu, sedangkan Indunesia bisa juga digunakan untuk Ceylon (Srilanka) dan 
Maldives (Maladewa). Lagi pula, kata Earl, bukankah bahasa Melayu dipakai di 
seluruh kepulauan ini? Dalam tulisannya itu Earl memang menggunakan istilah 
Malayunesia dan tidak memakai istilah Indunesia.

Dalam JIAEA Volume IV itu juga, halaman 252-347, James Richardson Logan 
menulis artikel The Ethnology of the Indian Archipelago. Pada awal 
tulisannya, Logan pun menyatakan perlunya nama khas bagi kepulauan tanah air 
kita, sebab istilah "Indian Archipelago" terlalu panjang dan membingungkan. 
Logan memungut nama Indunesia yang dibuang Earl, dan huruf u digantinya 
dengan huruf o agar ucapannya lebih baik. Maka lahirlah istilah Indonesia.

Untuk pertama kalinya kata Indonesia muncul di dunia dengan tercetak pada 
halaman 254 dalam tulisan Logan: Mr. Earl suggests the ethnographical term 
Indunesian, but rejects it in favour of Malayunesian. I prefer the purely 
geographical term Indonesia, which is merely a shorter synonym for the 
Indian Islands or the Indian Archipelago. Ketika mengusulkan nama 
"Indonesia" agaknya Logan tidak menyadari bahwa di kemudian hari nama itu 
akan menjadi nama bangsa dan negara yang jumlah penduduknya peringkat 
keempat terbesar di muka bumi!

Sejak saat itu Logan secara konsisten menggunakan nama "Indonesia" dalam 
tulisan-tulisan ilmiahnya, dan lambat laun pemakaian istilah ini menyebar di 
kalangan para ilmuwan bidang etnologi dan geografi. Pada tahun 1884 guru 
besar etnologi di Universitas Berlin yang bernama Adolf Bastian (1826-1905) 
menerbitkan buku Indonesien oder die Inseln des Malayischen Archipel 
sebanyak lima volume, yang memuat hasil penelitiannya ketika mengembara ke 
tanah air kita tahun 1864 sampai 1880. Buku Bastian inilah yang memopulerkan 
istilah "Indonesia" di kalangan sarjana Belanda, sehingga sempat timbul 
anggapan bahwa istilah "Indonesia" itu ciptaan Bastian. Pendapat yang tidak 
benar itu, antara lain tercantum dalam Encyclopedie van Nederlandsch-Indie 
tahun 1918. Padahal Bastian mengambil istilah "Indonesia" itu dari 
tulisan-tulisan Logan.

Putra ibu pertiwi yang mula-mula menggunakan istilah "Indonesia" adalah 
Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara). Ketika di buang ke negeri Belanda 
tahun 1913 beliau mendirikan sebuah biro pers dengan nama Indonesische 
Pers-bureau.

Makna politis

Pada dasawarsa 1920-an, nama "Indonesia" yang merupakan istilah ilmiah dalam 
etnologi dan geografi itu diambil alih oleh tokoh-tokoh pergerakan 
kemerdekaan tanah air kita, sehingga nama "Indonesia" akhirnya memiliki 
makna politis, yaitu identitas suatu bangsa yang memperjuangkan kemerdekaan! 
Akibatnya pemerintah Belanda mulai curiga dan waspada terhadap pemakaian 
kata ciptaan Logan itu.

Pada tahun 1922 atas inisiatif Mohammad Hatta, seorang mahasiswa Handels 
Hoogeschool (Sekolah Tinggi Ekonomi) di Rotterdam, organisasi pelajar dan 
mahasiswa Hindia di Negeri Belanda (yang terbentuk tahun 1908 dengan nama 
Indische Vereeniging) berubah nama menjadi Indonesische Vereeniging atau 
Perhimpoenan Indonesia. Majalah mereka, Hindia Poetra, berganti nama menjadi 
Indonesia Merdeka.

Bung Hatta menegaskan dalam tulisannya, "Negara Indonesia Merdeka yang akan 
datang (de toekomstige vrije Indonesische staat) mustahil disebut "Hindia 
Belanda". Juga tidak "Hindia" saja, sebab dapat menimbulkan kekeliruan 
dengan India yang asli. Bagi kami nama Indonesia menyatakan suatu tujuan 
politik (een politiek doel), karena melambangkan dan mencita-citakan suatu 
tanah air di masa depan, dan untuk mewujudkannya tiap orang Indonesia 
(Indonesier) akan berusaha dengan segala tenaga dan kemampuannya."

Sementara itu, di tanah air Dr. Sutomo mendirikan Indonesische Studie Club 
pada tahun 1924. Tahun itu juga Perserikatan Komunis Hindia berganti nama 
menjadi Partai Komunis Indonesia (PKI). Lalu pada tahun 1925 Jong Islamieten 
Bond membentuk kepanduan Nationaal Indonesische Padvinderij (Natipij). 
Itulah tiga organisasi di tanah air yang mula-mula menggunakan nama 
"Indonesia". Akhirnya nama "Indonesia" dinobatkan sebagai nama tanah air, 
bangsa dan bahasa kita pada Kerapatan Pemoeda-Pemoedi Indonesia tanggal 28 
Oktober 1928, yang kini kita sebut Sumpah Pemuda.

Pada bulan Agustus 1939 tiga orang anggota Volksraad (Dewan Rakyat; DPR 
zaman Belanda), Muhammad Husni Thamrin, Wiwoho Purbohadidjojo, dan Sutardjo 
Kartohadikusumo, mengajukan mosi kepada Pemerintah Belanda agar nama 
"Indonesia" diresmikan sebagai pengganti nama "Nederlandsch-Indie". Tetapi 
Belanda keras kepala sehingga mosi ini ditolak mentah-mentah.

Maka kehendak Allah pun berlaku. Dengan jatuhnya tanah air kita ke tangan 
Jepang pada tanggal 8 Maret 1942, lenyaplah nama "Hindia Belanda" untuk 
selama-lamanya. Lalu pada tanggal 17 Agustus 1945, atas berkat rahmat Allah 
Yang Mahakuasa, lahirlah Republik Indonesia.

Dirgahayu Indonesiaku!***

Penulis, Direktur Pendidikan "Ganesha Operation"


                
___________________________________________________________ 
How much free photo storage do you get? Store your holiday 
snaps for FREE with Yahoo! Photos http://uk.photos.yahoo.com


------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
<font face=arial size=-1><a 
href="http://us.ard.yahoo.com/SIG=12hb3933l/M=323294.6903898.7846636.3189767/D=groups/S=1705077624:TM/Y=YAHOO/EXP=1124431562/A=2896129/R=0/SIG=11llkm9tk/*http://www.donorschoose.org/index.php?lc=yahooemail";>DonorsChoose.
 A simple way to provide underprivileged children resources often lacking in 
public schools. Fund a student project in NYC/NC today</a>!</font>
--------------------------------------------------------------------~-> 

--
--------------------------------------------------
Berhenti (Quit):  [EMAIL PROTECTED]
Arsip milis:  http://groups.yahoo.com/group/smun65
Arsip Files:  http://groups.yahoo.com/group/smun65/files
Website: http://smun65.blogspot.com
--------------------------------------------------
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/smun65/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke