Menghargai Perbedaan

                Tulisan ini bisa dikomentari dan dilihat di web:
                
http://www.myusuf.or.id/v20/enerlife/index.php?act=detail&p_id=332
                Dan dapatkan artikel-artikel enerlife lainnya di:
                http://www.myusuf.or.id/v20/enerlife


                Oleh: Adhi Nugroho *

                Pada suatu waktu, ada seorang mahaguru yang
                ingin mengambil break dari kehidupannya
                sehari-hari sebagai akademisi. Akhirnya dia
                memutuskan untuk pergi ke sebuah pantai dan
                meminta seorang nelayan untuk membawanya
                pergi melaut sampai ke horizon.

                Seperempat perjalanan, mahaguru tersebut
                bertanya, "Wahai nelayan, apakah Anda
                mengenal ilmu geografi?"  Sang nelayan
                menjawab, "ilmu geografi yang saya ketahui
                adalah kalau di laut sudah mulai sering ombak
                pasang, maka musim hujan segera akan tiba."
                "Nelayan bodoh!" kata mahaguru tersebut.
                "Tahukah kamu bahwa dengan tidak menguasai
                ilmu geografi kamu sudah kehilangan
                seperempat kehidupanmu."

                Seperempat perjalanan berikutnya, mahaguru
                tersebut bertanya pada nelayan apakah dia
                mempelajari ilmu biologi dan sains? Sang
                nelayan menjawab bahwa ilmu biologi yang dia
                kenal hanyalah mengetahui jenis ikan apa saja
                yang dapat dimakan. "Nelayan bodoh, dengan
                tidak menguasai sains kamu sudah kehilangan
                seperempat kehidupanmu." Kemudian mahaguru
                tersebut bercerita tentang Tuhan yang
                menciptakan umat manusia dengan struktur
                tubuh, kapasitas otak yang sama, dan lain-
                lain.

                Selanjutnya mahaguru tersebut bertanya apakah
                nelayan tersebut mempelajari matematika? Sang
                nelayan menjawab bahwa matematika yang dia
                ketahui hanyalah bagaimana cara menimbang
                hasil tangkapannya, menghitung biaya yang
                sudah dikeluarkannya, dan menjual hasil
                tangkapannya agar dapat menghasilkan
                keuntungan secukupnya. Lagi-lagi mahaguru
                tersebut mengatakan betapa bodohnya sang
                nelayan dan dia sudah kehilangan lagi
                seperempat kehidupannya.

                Kemudian, di perjalanan setelah jauh dari
                pantai dan mendekati horizon, mahaguru
                tersebut bertanya, "apa artinya awan hitam
                yang menggantung di langit?" "Topan badai
                akan segera datang, dan akan membuat lautan
                menjadi sangat berbahaya." Jawab sang
                nelayan. "Apakah bapak bisa berenang?" Tanya
                sang nelayan.

                Ternyata sang mahaguru tersebut tidak bisa
                berenang. Sang nelayan kemudian berkata,
                "Saya boleh saja kehilangan tiga-perempat
                kehidupan saya dengan tidak mempelajari tiga
                subyek yang tadi diutarakan oleh mahaguru,
                tetapi mahaguru akan kehilangan seluruh
                kehidupan yang dimiliki."

                Kemudian nelayan tersebut meloncat dari
                perahu dan berenang ke pantai sedangkan
                mahaguru tersebut tenggelam.

                Demikian juga dalam kehidupan kita, baik
                dalam pekerjaan ataupun pergaulan sehari-
                hari. Kadang-kadang kita meremehkan teman,
                anak buah ataupun sesama rekan kerja. Kalimat
                "tahu apa kamu" atau "si anu tidak tahu apa-
                apa" mungkin secara tidak sadar sering kita
                ungkapkan ketika sedang membahas sebuah
                permasalahan. Padahal, ada kalanya orang lain
                lebih mengetahui dan mempunyai kemampuan
                spesifik yang dapat mengatasi masalah yang
                timbul.

                Seorang operator color mixing di pabrik
                tekstil atau cat mungkin lebih mengetahui hal-
                hal yang bersifat teknis daripada atasannya.
                Intinya, orang yang menggeluti bidangnya
                sehari-hari bisa dibilang memahami secara
                detail apa yang dia kerjakan dibandingkan
                orang 'luar' yang hanya tahu 'kulitnya' saja.

                Mengenai kondisi dan kompetisi yang terjadi
                di pasar, pengetahuan seorang marketing
                manager mungkin akan kalah dibandingkan
                dengan seorang sales person atau orang yang
                bergerak langsung di lapangan.

                Atau sebaliknya, kita sering menganggap remeh
                orang baru. Kita menganggap orang baru
                tersebut tidak mengetahui secara mendalam
                mengenai bisnis yang kita geluti. Padahal,
                orang baru tersebut mungkin saja membawa ide-
                ide baru yang dapat memberikan terobosan
                untuk kemajuan perusahaan.

                Sayangnya, kadang kita dibutakan oleh ego,
                pengalaman, pangkat dan jabatan kita sehingga
                mungkin akan menganggap remeh orang lain yang
                pengalaman, posisi atau pendidikannya di
                bawah kita. Kita jarang bertanya pada bawahan
                kita. Atau pun kalau bertanya, hanya sekedar
                basa-basi, pendapat dan masukannya sering
                dianggap sebagai angin lalu.

                Padahal, kita tidak bisa bergantung pada
                kemampuan diri kita sendiri, kita membutuhkan
                orang lain. Keberhasilan kita tergantung pada
                keberhasilan orang lain. Begitu sebuah
                masalah muncul ke permukaan, kita tidak bisa
                mengatasinya dengan hanya mengandalkan
                kemampuan yang kita miliki. Kita harus
                menggabungkan kemampuan kita dengan orang
                lain.

                Sehingga bila perahu kita tenggelam, kita
                masih akan ditolong oleh orang lain yang kita
                hargai kemampuannya. Tidak seperti mahaguru
                yang akhirnya ditinggalkan di perahu yang
                sedang dilanda topan badai dan dibiarkan mati
                tenggelam karena tidak menghargai kemampuan
                nelayan yang membawanya.

                Yang jadi pertanyaan kita sekarang, apakah
                kita masih suka bertingkah laku seperti sang
                mahaguru? Bila ya, seberapa sering?

                * Adhi Nugroho adalah praktisi dan pengamat
                pemasaran dan menjadi Program Director di
                BOULDER, yang memberikan jasa pelatihan di
                bidang teamwork building, leadership dan
                change management dengan metode experiential
                learning yang dilengkapi dengan
                games/simulasi yang menarik, full of fun dan
                tanpa membahayakan para peserta sama sekali.
                Penulis dapat dihubungi lewat telepon di 081-
                821-0334 atau email di
                [EMAIL PROTECTED]


   Terima kasih
   MYusuf.or.id
   
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
   Empat hal yang termasuk kesengsaraan:
   mata yang beku (tidak jeli dan tidak waspada),
   hati yang bengis (kejam), mengharap-harapkan sesuatu yang mustahil,
   dan sangat mencintai dunia.
   - [Ulama] -
   
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke