sepakat ama kapulaga (bung apa mbak??)
klo kita dah mulai keblinger
inget2 lagi
apa tujuan kita diciptakan
klo gk inget???
tenang saja
pencipta kita pemurah bgt kok
ada saja penarik perhatian kita supaya kita fokus ke tujuan semula
penarik perhatian itu bs berupa cubitan kecil
atau hantaman besar
jd....
apa kita menunggu diingatkan?



kapulaga35 <[EMAIL PROTECTED]> wrote:                                  --- In 
[email protected], M Yusuf <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
 >
 > hallo sahabat sebenarnya apa yg ingin anda sampaikan, penyesalan 
 mempunyai anak atau lelah membesarkan nya, yg menentukan hidup anda 
 harus berakir dimana, seperti apa,kapan dn lain2 bukan ah urusan anda 
 apalagi harus nerkelu kesah, tugas anda hanya satu ibadah sepenuh 
 hati. itu saja.
 
 terima kasih semoga dipikir2 sampai ngerti yah.
 salam
 
 >                 Sebuah cerita yang mengharukan yang saya
 >                 dapat dari internet.
 > 
 >                 Sejak kematian Bapak, saya selalu
 >                 menyempatkan diri ke rumah Ibu. Saya tahu ini
 >                 akan susah dilakukan. Karena selain
 >                 kesibukan, saya sudah mempunyai keluarga
 >                 sendiri yang juga perlu diperhatikan. Apalagi
 >                 rumah saya yang jauh dari rumah Ibu, yakni
 >                 pinggiran kota.
 > 
 >                 Meski begitu saya memaksakan diri untuk
 >                 bertemu minimal sekali seminggu. Biasanya
 >                 saya lakukan waktu shalat Jumat. Kalau sudah
 >                 waktunya shalat Jumat, saya pergi ke rumah
 >                 Ibu langsung dari kantor. Tidak jauh sekitar
 >                 15 menit. Kemudian shalat jumat di sekitar
 >                 rumah. Setelah itu makan siang yang sudah
 >                 disiapkan oleh Ibu. Tentu saja makanan sedap
 >                 favorit saya. Meski sederhana, rasanya
 >                 nikmat. Karena saya sudah biasa dengan rasa
 >                 seperti itu.
 > 
 >                 Setelah ngobrol-ngobrol saya kembali ke
 >                 kantor. Saya tahu ini tidak lama sekitar
 >                 beberapa jam. Dan mungkin tidak berarti. Tapi
 >                 saya berniat dan berusaha untuk tetap
 >                 berkontak, berkomunikasi dan bercengkerama
 >                 langsung. Tidak sekedar telpon atau malah sms-
 >                 an saja.
 > 
 >                 Ini saya tunjukkan sebagai rasa terima kasih
 >                 dan bakti saya ke orang tua. Karena tidak
 >                 hanya materi tapi yang lebih penting
 >                 kunjungan. Jadinya saya bersyukur telah
 >                 mengambil keputusan untuk tetap bertahan di
 >                 Surabaya, meski saya terpaksa harus
 >                 mengundurkan diri dari perusahaan besar yang
 >                 keren dan terkenal di seluruh Indonesia.
 >                 Suatu keputusan yang berat. Karena di saat
 >                 krisis moneter itu, banyak perusahaan jatuh
 >                 dan penganguran tinggi, tapi saya menutuskan
 >                 untuk menganggur. Karena hanya ingin tidak
 >                 jauh dari Ibu.
 > 
 >                 Karena hanya dengan bercengkerama saya bisa
 >                 sedikit untuk menunjukkan bakti dan terima
 >                 kasih ke orang tua khususnya Ibu.
 > 
 >                 ======================
 > 
 >                 Oh Anak...
 > 
 >                 Tulisan ini bisa dikomentari dan dilihat di web:
 >                 http://www.myusuf.or.id/v20/enerlife/index.php?
 act=detail&p_id=348
 >                 Dan dapatkan artikel-artikel enerlife lainnya di:
 >                 http://www.myusuf.or.id/v20/enerlife
 > 
 > 
 >                 Satu per satu anakku, setelah menikah, pergi
 >                 meninggalkanku. Sementara aku, sejak suamiku
 >                 meninggal tiga bulan lalu, tetap tinggal di
 >                 rumah besar kami di Tebet bersama dua orang
 >                 perempuan yang sudah 22 tahun bekerja padaku,
 >                 seorang sopir sekaligus tukang kebun, serta
 >                 seorang keponakan suamiku yang kedua
 >                 orangtuanya meninggal dalam sebuah kecelakaan
 >                 pesawat terbang.
 > 
 >                 Suamiku sudah menyiapkan rumah untuk anak-
 >                 anak kami, yang disewakannya kepada orang-
 >                 orang. Setelah mereka menikah barulah ia
 >                 memberikan kunci rumah-rumah itu. Ia
 >                 membelinya saat memiliki jabatan tinggi di
 >                 sebuah departemen dan memperoleh 'uang lain-
 >                 lain' dari orang-orang yang mengharapkan
 >                 langkahnya tidak terhalang sebutir
 >                 kerikilpun. Ia melakukannya karena ingin anak-
 >                 anaknya mengenang dia sebagai ayah yang
 >                 bertanggung jawab.
 > 
 >                 Suamiku meninggal akibat gagal jantung
 >                 setelah 12 tahun pensiun. Sehari sebelumnya
 >                 ia sempat berbicara kepadaku, telah merasa
 >                 lengkap menjadi ayah karena melihat semua
 >                 kejadian terhadap anak-anaknya: lahir, besar,
 >                 bersekolah, menyelesaikan pendidikan hingga
 >                 perguruan tinggi, bekerja, menikah, tinggal
 >                 di rumah-rumah yang diberikannya, dan
 >                 memiliki anak. Ia dimakamkan di sebuah
 >                 pemakaman luas sesuai yang pernah ia
 >                 pesankan.
 > 
 >                 Hingga kini aku merasa ia masih ada di dalam
 >                 rumah kami. Menjelang jam tujuh pagi, lima
 >                 sore, sembilan malam, aku masih selalu pergi
 >                 ke dapur, membuatkan secangkir teh manis
 >                 untuknya. Anakku yang nomor satu rupanya
 >                 mendapat cerita ini dari keponakan suamiku
 >                 yang tinggal bersamaku. Maka tadi sore ia
 >                 datang dan meminta aku tinggal di rumah
 >                 besarnya di Ciputat.
 > 
 >                 Berkali-kali aku menolak, tentu karena aku
 >                 merasa kasihan pada mendiang suamiku, tapi ia
 >                 tetap berkeras seperti ayahnya. Ia mengatakan
 >                 akan lebih mudah baginya untuk memantau dan
 >                 mengurusku jika aku tinggal bersamanya. "Di
 >                 kamar besar yang lain Mama bisa meletakkan
 >                 semua buku milik Mama. Kalau tetap di sini
 >                 Mama akan terus bersedih. Biarlah rumah ini
 >                 Suci yang menjaga dan mengurusnya bersama
 >                 Mbak Tar, Mbak Mi dan Bang Ali." Akhirnya aku
 >                 menyetujui saja.
 > 
 >                 Malam hari aku sering menangis mengingat
 >                 suamiku. Sementara anak-anakku, selama dua
 >                 bulan aku di sini, tidak pernah ada yang
 >                 datang. Dan anakku yang nomor satu jarang
 >                 sekali bertemu denganku. Ia pergi pagi ketika
 >                 aku masih mengaji di kamar, dan pulang begitu
 >                 malam ketika aku sudah tertidur. Dalam
 >                 seminggu mungkin aku hanya bertemu dengannya
 >                 dua atau tiga kali. Bahkan bisa tidak sama
 >                 sekali.
 > 
 >                 Aku sering mengingat masa ketika mereka
 >                 kecil. Waktu itu setiap hari aku bisa bertemu
 >                 mereka. Lalu ketika mereka masuk perguruan
 >                 tinggi dan bekerja, aku pun mulai jarang
 >                 bertemu. Lalu ketika mereka menikah dan
 >                 tinggal di rumah-rumah yang diberikan
 >                 suamiku, memiliki anak dan sibuk dengan istri
 >                 atau suaminya, aku sudah tidak banyak
 >                 berharap mereka akan mudah kutemui.
 > 
 >                 Sekarang apa yang aku dapat? Sebuah senyuman
 >                 dan sapaan setiap pagi hari pun tidak.
 >                 Terlebih kata terima kasih atas jerih-payahku
 >                 melahirkan, mendidik, membesarkan, dan
 >                 menyenangkan mereka. Aku tidak bermaksud
 >                 meminta balasan. Tetapi bagaimanapun
 >                 menurutku mereka seharusnya tahu diri dan
 >                 tahu berterimakasih. Padahal sejak mereka
 >                 kecil aku dan suamiku selalu mengajarkan
 >                 untuk tidak melupakan kebaikan seseorang.
 > 
 >                 Anakku yang nomor satu, hari ini memutuskan
 >                 mengirimku ke sebuah panti jompo, setelah
 >                 istri dan ketiga anaknya sering mengeluhkan
 >                 aku yang selalu menangis tengah malam ketika
 >                 aku teringat suamiku, karena katanya
 >                 mengganggu tidur mereka. Dua minggu lalu ia
 >                 mengundang adik-adiknya datang. Ketika semua
 >                 berkumpul, kecuali anakku yang nomor empat
 >                 yang tinggal di Australia, ia memberitahukan
 >                 keinginannya. "Lagipula Mama tidak mungkin
 >                 kita biarkan kembali ke Tebet. Terlalu banyak
 >                 kenangan tentang Papa di sana yang bisa
 >                 membuat Mama sedih." Dua bulan lagi umurku 68
 >                 tahun.
 > 
 >                 Setelah satu tahun aku di tinggal sini, hanya
 >                 Lebaran lalu saja anak-anakku datang.
 >                 Sementara si Tar, si Mi, si Ali, serta
 >                 keponakan suamiku yang pernah delapan tahun
 >                 tinggal bersamaku, hampir setiap akhir pekan
 >                 menjengukku.
 > 
 >                 Hari itu semua anakku datang bersama suami,
 >                 istri, dan anak-anak mereka. Hanya yang nomor
 >                 empat tidak datang, karena katanya uang
 >                 jutaan rupiah untuk membeli tiket pesawat
 >                 bagi tiga orang ke Jakarta lebih baik
 >                 disimpannya di bank. Ia hanya mengirim kartu
 >                 Lebaran disertai tulisan dan tanda tangannya.
 > 
 >                 Sedangkan cucu pertamaku memilih pergi ke
 >                 rumah kekasihnya. Katanya karena ia segan.
 >                 Ingat, segan. Segan bertemu neneknya. Padahal
 >                 dahulu aku yang sering membersihkan
 >                 kotorannya dan mengganti popok bila ia datang
 >                 ke rumahku bersama orangtuanya. Lalu hingga
 >                 kini tidak pernah lagi mereka datang.
 > 
 >                 Hanya anakku yang nomor satu yang selalu
 >                 mengirim ini dan itu kepadaku, biasanya
 >                 berupa buku-buku terbaru psikologi, filsafat,
 >                 sejarah, sastra, agama, sosial, seni, budaya,
 >                 tentu saja, melalui sopirnya.
 > 
 >                 Setiap pukul 04.30 aku bangun, mandi dengan
 >                 air hangat yang keluar dari pancuran di bath-
 >                 tub, sholat subuh, dan mengaji. Di sini kami
 >                 seperti di rumah sendiri. Bangun jam berapa
 >                 saja kami berkeinginan. Sarapan dan makan pun
 >                 bebas memilih. Anak-anak telah membayar
 >                 sangat tinggi untuk menitipkanku di sini. Aku
 >                 jadi teringat masa ketika indekos ketika aku
 >                 belajar psikologi. Hanya kini aku tidak
 >                 tinggal bersama gadis-gadis cantik dan tidak
 >                 untuk menuntut ilmu apa-apa. Hanya menunggu
 >                 ajal.
 > 
 >                 Tepat pukul 06.00 kami yang sudah bangun
 >                 dianjurkan berkumpul di halaman depan untuk
 >                 berolahraga. Cukup tiga puluh menit sekadar
 >                 untuk meregangkan otot-otot tua kami. Setelah
 >                 itu kami diminta untuk membersihkan diri,
 >                 mandi pagi lagi kalau mau. Pukul 08.00
 >                 biasanya kami akan berkumpul di ruang makan
 >                 untuk sarapan. Mereka yang bangun terlambat
 >                 dan tidak ingin berolahraga dan tidak ingin
 >                 sarapan di ruang makan, bisa meminta petugas
 >                 mengantarkan sarapannya ke kamar.
 > 
 >                 Setelah itu hingga pukul 16.00 kami
 >                 dipersilakan melakukan kegiatan apa saja
 >                 sesuai keinginan: merajut, melukis, menulis
 >                 surat untuk anak-anak kami, bermain catur,
 >                 berkebun, membaca, menonton TV, mendengar
 >                 radio, berbincang-bincang dengan teman-teman
 >                 lain, atau tidur siang. Dan setiap pukul
 >                 16.30 kami biasanya akan duduk-duduk di teras
 >                 panti sambil menikmati secangkir teh manis
 >                 dan kue-kue kecil.
 > 
 >                 Setelah itu kami diminta untuk mandi sore.
 >                 Pukul 19.00 kami kembali berkumpul di ruang
 >                 makan. Malam ini aku menikmati segelas air
 >                 teh manis hangat, nasi putih, perkedel
 >                 kentang, dan semur ikan bandeng dengan kuah
 >                 kental kesukaanku. Hari ini tepat tiga tahun
 >                 aku masuk panti.
 > 
 >                 Aku, karena sejak muda mempunyai kegemaran
 >                 membaca, setiap hari selalu hanya membaca.
 >                 Apa saja aku baca. Majalah berita, koran
 >                 pagi, tabloid perempuan, dan majalah
 >                 perempuan yang dilanggani panti, tidak pernah
 >                 kulewatkan, juga buku-buku di perpustakaan.
 >                 Selama lima tahun di sini, aku sudah membaca
 >                 semua buku yang ada di sana, dan tentu saja
 >                 puluhan lainnya kiriman anakku yang nomor
 >                 satu.
 > 
 >                 Hari ini aku membaca sebuah buku filsafat.
 >                 Sudah dua hari aku membacanya, dan tampaknya
 >                 hari ini pun belum akan selesai. Padahal
 >                 ketika muda dahulu satu buku tebal kubaca
 >                 hanya dalam waktu satu hari, dan buku sedang
 >                 cukup setengah hari saja. Setelah tua aku
 >                 menjadi mudah letih dan mengantuk. Kemarin
 >                 aku sulit sekali meneruskan buku itu. Aku
 >                 tiba-tiba saja kembali memikirkan suamiku dan
 >                 juga umurku yang sudah semakin tua. Aku tahu
 >                 aku tidak akan lama lagi di sini. Teman-teman
 >                 sebayaku semasa di perguruan tinggi, sudah
 >                 banyak yang tiada.
 > 
 >                 Dulu aku memiliki ratusan buku yang kubeli
 >                 sejak umurku belasan tahun. Sebelum tinggal
 >                 di sini, aku ingat jumlahnya sekitar 524
 >                 buah. Tersimpan rapi di perpustakaan pribadi
 >                 di rumahku. Aku percaya anakku yang nomor
 >                 tujuh akan menjaga buku-buku itu. Kebetulan
 >                 ia mempunyai kegemaran yang sama denganku,
 >                 meski sebenarnya keenam anakku yang lain,
 >                 serta suamiku, juga memiliki kegemaran yang
 >                 sama. Hanya saja karena ia yang paling banyak
 >                 menghabiskan waktu bersamaku maka aku percaya
 >                 ia akan menjaganya. Ketika masih tinggal
 >                 bersamaku hampir setiap awal bulan ia
 >                 menemaniku pergi ke toko buku, membeli buku-
 >                 buku kegemaranku. Kebetulan aku paling
 >                 menyukai buku psikologi, karena ilmu itulah
 >                 yang mampu membuatku tertarik masuk ke sebuah
 >                 fakultas hingga menyelesaikannya.
 > 
 >                 Tetapi sudah sepuluh tahun ini aku tidak
 >                 melakukannya. Meski berkeinginan, namun
 >                 semuanya kini hanya ada di dalam angan-angan
 >                 dan kenangan-kenanganku. Untunglah anakku
 >                 yang nomor satu selalu mengirimkan buku-buku
 >                 kegemaranku terbaru. Jadi aku tidak terlalu
 >                 mengharapkan buku-buku di perpustakaan panti
 >                 yang hanya beberapa puluh saja. Ketika minggu
 >                 kedua tinggal di sini pernah kutanyakan
 >                 kepada petugas, mereka hanya menjawab, "Uang
 >                 panti tidak cukup, Nyonya."
 > 
 >                 "Bukankah anak-anak kami sudah membayar
 >                 sangat tinggi untuk menitipkan kami di sini?
 >                 Jadi bagaimana mungkin tidak cukup?"
 >                 "Saya hanya petugas, Nyonya. Urusan uang
 >                 ketua yayasan yang mengatur. Lagipula Bapak
 >                 pernah mengatakan orang-orang tua di sini
 >                 tidak terlalu suka membaca."
 >                 "Begitu? Bagaimana dia tahu?"
 >                 "Bapak memang jarang datang ke sini, Nyonya.
 >                 Maklumlah usaha Bapak tidak hanya panti ini."
 >                 "Saya punya banyak buku di rumah. Boleh saya
 >                 menyumbangkannya?"
 >                 "Dengan senang hati, Nyonya. Dengan senang
 >                 hati."
 > 
 >                 Tetapi ternyata anakku yang nomor tujuh tidak
 >                 memperbolehkannya. Di telepon ia mengatakan
 >                 buku-buku itu terlalu berharga karena ada
 >                 yang sudah berumur puluhan tahun dan sudah
 >                 tidak beredar di pasaran. Ketika kukatakan
 >                 buku-buku itu akan lebih berharga jika dibaca
 >                 orang lain, ia tetap tidak memperbolehkannya.
 >                 Katanya karena ia membaca pula buku-buku itu.
 >                 "Lagipula anggaplah sebagai warisan yang Mama
 >                 berikan untukku." Anak-anakku, mereka tidak
 >                 pernah puas hanya menerima.
 > 
 >                 Dua hari lalu umurku 79 tahun. Aku tahu tidak
 >                 akan lama lagi di sini. Hingga malam, ketujuh
 >                 anakku tidak ada satu pun datang atau sekedar
 >                 menelepon. Hanya datang si Tar, si Mi, si
 >                 Ali, serta keponakan suamiku yang pernah
 >                 delapan tahun tinggal bersamaku.
 > 
 >                 Baru hari ini anakku yang nomor satu mengirim
 >                 kado berisi selimut tebal dan kartu ucapan
 >                 buatan pabrik. Kado itu diantar seorang
 >                 sopirnya.
 > 
 >                 Ingat, sopir. Dia tidak bisa datang, kata
 >                 sopirnya, karena sibuk bekerja. Ingat, sibuk.
 >                 Sekali lagi ingat, sibuk. Padahal dahulu
 >                 ketika masih tinggal bersamaku, aku selalu
 >                 menyiapkan masakan istimewa buatanku di hari
 >                 ulang tahun mereka dan merayakannya bersama-
 >                 sama.
 > 
 >                 Bila tahu akan seperti ini, demi Tuhan, aku
 >                 tidak bersedia melahirkan mereka. Dan aku
 >                 tahu, suamiku, pasti menyesal telah
 >                 menghidupi mereka. Ya!
 > 
 >                 [kasih ibu sepanjang jalan, kasih anak
 >                 sepenggal galah... kasih ibu
 >                 sepanjang masa, kasih anak sepenggal masa...]
 > 
 > 
 >                 Sumber: Unknown (Tidak Diketahui)
 > 
 > 
 > 
 >    Terima kasih
 >    MYusuf.or.id
 >    ----------------------------------------------------------
 ----------------------------------------------------------
 ------------------------------------------------
 >    Alangkah indahnya mahkota, tetapi lebih indah jika ada di kepala 
 > seorang raja.
 >    Alangkah indahnya mutiara (perhiasan), tetapi lebih indah jika 
 ia 
 > menghias leher si gadis.
 >    Alangkah indahnya nasihat dan pelajaran,
 >    tetapi lebih indah bila disampaikan oleh seorang alim yang saleh 
 > dan bertakwa.
 >    - [Ulama] -
 >    ----------------------------------------------------------
 ----------------------------------------------------------
 ------------------------------------------------
 > 
 > 
 > [Non-text portions of this message have been removed]
 >
 
 
     
                       


::tembaklah bulan.....
meskipun meleset,
kamu akan mendapatkan bintang::
       
---------------------------------
Ahhh...imagining that irresistible "new car" smell?
 Check outnew cars at Yahoo! Autos.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke