Kiriman dari temen....

Yg notabene justru non-muslim.....

Maap bukan mau SARA, tp gw cukup salut aja sama org ini.....

 

*s2w-6xx*

Pulse Of The Maggots

TeCePe 028C

 

________________________________

From: Winnie Petrica 
Sent: 16 September 2008 13:35
To: Listiani Dewi; Marsya Ondang; Kartika Ambarwati; Swita Dewi; Fitri
Hermana; Yudi Hartono; Lukysari; Dian Hestikasari; Fanny Zulfaini; Kris
Ibnu; Siti Hadijah; Kiki D Materu; Indah M. Djoenaid; Dyah Ikawati; Dwi
Hendayanti; Sri Lestari; Tardji Soeleman; Rinaldo; Andreas Kuswardono;
Satriadi W. Yudha; Julius Wijaya; Fahmi Riansyah; Wisnu Pratama;
Syahrial; Pri Iskandar; Nurohim Rojikin; Asep Andi; Ilyas Ibrahim;
Bahroji
Subject: renungan bulan puasa..

 

Sekedar memforward-kan saja.. semoga ibadah puasa tetap berjalan
lancar..

 

Salam,

Winnie

 

 

 

BOCAH MISTERIUS

Bocah itu menjadi pembicaraan dikampung Ketapang. 
Sudah tiga hari ini ia mondar-mandir keliling kampung. 

Ia menggoda anak-anak sebayanya, menggoda anak-anak remaja diatasnya,
dan 
bahkan orang-orang tua. Hal ini bagi orang kampung sungguh menyebalkan. 

Yah, bagaimana tidak menyebalkan, anak itu menggoda dengan berjalan
kesana 
kemari sambil tangan kanannya memegang roti isi daging yang tampak
coklat 
menyala. 

Sementara tangan kirinya memegang es kelapa, lengkap dengan tetesan air 
dan 
butiran-butiran es yang melekat diplastik es tersebut. 

Pemandangan tersebut menjadi hal biasa bila orang-orang kampung
melihatnya 
bukan pada bulan puasa! 

Tapi ini justru terjadi ditengah hari pada bulan puasa! Bulan ketika 
banyak 
orang sedang menahan lapar dan haus. Es kelapa dan roti isi daging tentu

saja menggoda orang yang melihatnya. 

Pemandangan itu semakin bertambah tidak biasa, karena kebetulan selama 
tiga 
hari semenjak bocah itu ada, matahari dikampung itu lebih terik dari 
biasanya. 

Luqman mendapat laporan dari orang-orang kampong mengenai bocah itu. 
Mereka 
tidak berani melarang bocah kecil itu menyodor-nyodorkan dan
memperagakan 
bagaimana dengan nikmatnya ia mencicipi es kelapa dan roti isi daging 
tersebut. 

Pernah ada yang melarangnya, tapi orang itu kemudian dibuat mundur 
ketakutan 
sekaligus keheranan. 

Setiap dilarang, bocah itu akan mendengus dan matanya akan memberikan 
kilatan yang menyeramkan. Membuat mundur semua orang yang akan 
melarangnya. 

************ ********* ** 
Luqman memutuskan akan menunggu kehadiran bocah itu. Kata orang kampung,

belakangan ini, setiap bakda zuhur, anak itu akan muncul secara
misterius. 

Bocah itu akan muncul dengan pakaian lusuh yang sama dengan hari-hari 
kemarin dan akan muncul pula dengan es kelapa dan roti isi daging yang 
sama 
juga! 

Tidak lama Luqman menunggu, bocah itu datang lagi. Benar, ia menari-nari

dengan menyeruput es kelapa itu. Tingkah bocah itu jelas membuat orang 
lain 
menelan ludah, tanda ingin meminum es itu juga. 

Luqman pun lalu menegurnya.. Cuma,ya itu tadi,bukannya takut, bocah itu 
malah 
mendelik hebat dan melotot, seakan-akan matanya akan keluar. 

"Bismillah.. ." ucap Luqman dengan kembali mencengkeram lengan bocah
itu. 
Ia 
kuatkan mentalnya. Ia berpikir,kalau memang bocah itu bocah jadi-jadian,

ia 
akan korek keterangan apa maksud semua ini. 

Kalau memang bocah itu "bocah beneran" pun, ia juga akan cari
keterangan, 
siapa dan dari mana sesungguhnya bocah itu. 

Mendengar ucapan bismillah itu, bocah tadi mendadak menuruti tarikan 
tangan 
Luqman. Luqman pun menyentak tanggannya, menyeret dengan halus bocah
itu, 
dan membawanya ke rumah. Gerakan Luqman diikuti dengan tatapan penuh
tanda 
tanya dari orang-orang yang melihatnya. 

"Ada apa Tuan melarang saya meminum es kelapa dan menyantap roti isi 
daging 
ini? Bukankah ini kepunyaan saya?" tanya bocah itu sesampainya di rumah 
Luqman, seakan-akan tahu bahwa Luqman akan bertanya tentang kelakuannya.

Matanya masih lekat menatap tajam pada Luqman. 

"Maaf ya, itu karena kamu melakukannya dibulan puasa," jawab Luqman
dengan 
halus,"apalagi kamu tahu, bukankah seharusnya kamu juga berpuasa? Kamu 
bukannya 

ikut menahan lapar dan haus, tapi malah menggoda orang dengan tingkahmu 
itu.." 

Sebenarnya Luqman masih akan mengeluarkan uneg-unegnya, mengomeli anak 
itu. 
Tapi mendadak bocah itu berdiri sebelum Luqman selesai. Ia menatap
Luqman 
lebih tajam lagi. 

"Itu kan yang kalian lakukan juga kepada kami semua! Bukankah kalian
yang 
lebih sering melakukan hal ini ketimbang saya..?! Kalian selalu 
mempertontonkan kemewahan ketika kami hidup dibawah garis kemiskinan
pada 
sebelas bulan diluar bulan puasa? 

Bukankah kalian yang lebih sering melupakan kami yang kelaparan, dengan 
menimbun harta sebanyak-banyaknya dan melupakan kami? 

Bukankah kalian juga yang selalu tertawa dan melupakan kami yang sedang 
menangis? 

Bukankah kalian yang selalu berobat mahal bila sedikit saja sakit 
menyerang, 
sementara kalian mendiamkan kami yang mengeluh kesakitan hingga kematian

menjemput ajal..?! 

Bukankah juga di bulan puasa ini hanya pergeseran waktu saja bagi kalian

untuk menahan lapar dan haus? 

Ketika bedug maghrib bertalu, ketika azan maghrib terdengar, kalian 
kembali 
pada kerakusan kalian...!?" 

Bocah itu terus saja berbicara tanpa memberi kesempatan pada Luqman
untuk 
menyela. 

Tiba-tiba suara bocah itu berubah. Kalau tadinya ia berkata begitu tegas

dan 
terdengar "sangat" menusuk, kini ia bersuara lirih, mengiba. 

"Ketahuilah Tuan.., kami ini berpuasa tanpa ujung, kami senantiasa 
berpuasa 
meski bukan waktunya bulan puasa, lantaran memang tak ada makanan yang 
bisa 
kami makan. Sementara Tuan hanya berpuasa sepanjang siang saja. 

Dan ketahuilah juga, justru Tuan dan orang-orang di sekeliling Tuan lah 
yang 
menyakiti perasaan kami dengan berpakaian yang luar biasa mewahnya, lalu

kalian sebut itu menyambut Ramadhan dan 'Idul Fithri? 

Bukankah kalian juga yang selalu berlebihan dalam mempersiapkan makanan 
yang 
luar biasa bervariasi banyaknya, segala rupa ada, lantas kalian 
menyebutnya 
dengan istilah menyambut Ramadhan dan 'Idul Fithri? 

Tuan.., sebelas bulan kalian semua tertawa di saat kami menangis, bahkan

pada bulan Ramadhan pun hanya ada kepedulian yang seadanya pula. 

Tuan.., kalianlah yang melupakan kami, kalianlah yang menggoda kami, dua

belas bulan tanpa terkecuali termasuk di bulan ramadhan ini. Apa yang 
telah 
saya lakukan adalah yang kalian lakukan juga terhadap orang-orang kecil 
seperti kami...! 

Tuan.., sadarkah Tuan akan ketidak abadian harta? 

Lalu kenapakah kalian masih saja mendekap harta secara berlebih? 

Tuan.., sadarkah apa yang terjadi bila Tuan dan orang-orang sekeliling 
Tuan 
tertawa sepanjang masa dan melupakan kami yang semestinya diingat? 

Bahkan, berlebihannya Tuan dan orang-orang di sekeliling Tuan bukan
hanya 
pada penggunaan harta, tapi juga pada dosa dan maksiat.. Tahukah Tuan
akan 
adanya azab Tuhan yang akan menimpa? 

Tuan.., jangan merasa aman lantaran kaki masih menginjak bumi. Tuan..., 
jangan merasa perut kan tetap kenyang lantaran masih tersimpan pangan
'tuk 
setahun, jangan pernah merasa matahari tidak akan pernah menyatu dengan 
bumi 
kelak...." 

************ ********* * 

Wuahh..., entahlah apa yang ada di kepala dan hati Luqman. Kalimat demi 
kalimat meluncur deras dari mulut bocah kecil itu tanpa bisa dihentikan.


Dan hebatnya, semua yang disampaikan bocah tersebut adalah benar adanya!


Hal ini menambah keyakinan Luqman, bahwa bocah ini bukanlah bocah 
sembarangan. 

Setelah berkata pedas dan tajam seperti itu, bocah itu pergi begitu saja

meninggalkan Luqman yang dibuatnya terbengong-bengong. 

Di kejauhan, Luqman melihat bocah itu menghilang bak ditelan bumi. 

Begitu sadar, Luqman berlari mengejar ke luar rumah hingga ke tepian
jalan 
raya kampung Ketapang. Ia edarkan pandangan ke seluruh sudut yang bisa 
dilihatnya, tapi ia tidak menemukan bocah itu. 

Ditengah deru nafasnya yang memburu, ia tanya semua orang di ujung
jalan, 
tapi semuanya menggeleng bingung. Bahkan, orang-orang yang menunggu 
penasaran didepan rumahnya pun mengaku tidak melihat bocah itu keluar
dari 
rumah Luqman! 

Bocah itu benar-benar misterius! Dan sekarang ia malah menghilang! 

Luqman tidak mau main-main. Segera ia putar langkah, balik ke rumah. Ia 
ambil sajadah, sujud dan bersyukur. Meski peristiwa tadi irrasional,
tidak 
masuk akal, tapi ia mau meyakini bagian yang masuk akal saja. Bahwa
memang 
betul adanya apa yang dikatakan bocah misterius tadi. Bocah tadi 
memberikan 
pelajaran yang berharga, betapa kita sering melupakan orang yang 
seharusnya 
kita ingat.. Yaitu mereka yang tidak berpakaian, mereka yang kelaparan, 
dan 
mereka yang tidak memiliki penghidupan yang layak. 

Bocah tadi juga memberikan Luqman pelajaran bahwa seharusnya mereka yang

sedang berada diatas, yang sedang mendapatkan karunia Allah, jangan 
sekali-kali menggoda orang kecil, orang bawah, dengan berjalan 
membusungkan 
dada dan mempertontonkan kemewahan yang berlebihan. 

Marilah berpikir tentang dampak sosial yang akan terjadi bila kita terus

menjejali tontonan kemewahan, sementara yang melihatnya sedang
membungkuk 
menahan lapar. 

Luqman berterima kasih kepada Allah yang telah memberikannya hikmah yang

luar biasa. Luqman tidak mau menjadi bagian yang Allah sebut mati mata 
hatinya. 

Sekarang yang ada dipikirannya sekarang , entah mau dipercaya orang atau

tidak, ia akan mengabarkan kejadian yang dialaminya bersama bocah itu 
sekaligus menjelaskan hikmah kehadiran bocah tadi kepada semua orang
yang 
dikenalnya, kepada sebanyak-banyaknya orang. 

Kejadian bersama bocah tadi begitu berharga bagi siapa saja yang 
menghendaki 
bercahayanya hati. 

Pertemuan itu menjadi pertemuan yang terakhir. Sejak itu Luqman tidak 
pernah 
lagi melihatnya, selama-lamanya. Luqman rindu kalimat-kalimat pedas dan 
tudingan-tudingan yang memang betul adanya. 

Luqman rindu akan kehadiran anak itu agar ada seseorang yang berani 
menunjuk 
hidungnya ketika ia salah. 

Selamat menjalankan ibadah puasa.....


                                      ---- D I S C L A I M E R ----

The contents of this email, together with any attachments, contain confidential 
information and are 
intended only for the individual(s) only.  If you are not the named addressee 
you should not disseminate, 
distribute, copy or otherwise use this email or any part thereof in any form 
whatsoever.  Please notify the
sender immediately by email if you have received this email by mistake and 
delete this e-mail from your system.

                                  ---- END OF DISCLAIMER ----




Kirim email ke