betapa seringnya pemikiran cerdas dan kreatif dari anak bangsa disia-siakan,
wajar lah bangsa ini terpuruk :( :( :(

:nohope:

:hammer:

---------- Forwarded message ----------
From: Doddy Prabowo <[email protected]>
Date: 2010/4/14
Subject: [SkywaveOwnerClub] (OOT) Kolonel (Pur) Ir Dradjat Budiyanto MBA,
Perancang Kapal Selam Kate
To: [email protected]




*Catatan:*
*Berita ini diliris tahun 2009, atas saran Bro Agen Bis agar diposting.
Sungguh sangat ironis, hanya Rp 100 milyar dibutuhkan mewujudkan konsep ini.
Hanya 1/5 dari nilai tanah yang dimiliki seorang mantan pejabat.
Bersyukurlah dunia, Mikhail Kalashnikov dilahirkan di Uni Sovyet. Andaikan
dilahirkan di negeri tercinta ini AK-47 tak mungkin ada. *

14 Oktober 2009 -- Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI), yang kini
bernama TNI-AL, pernah punya 12 Whiskey. Bukan minuman keras, Whiskey adalah
salah satu tipe kapal selam buatan Uni Soviet.

Dua kapal selam yang pertama datang dari negara komunis yang kini sudah
bubar itu adalah KRI Tjakra dan KRI Nanggala. Dua nama tersebut memang
menggambarkan kedigdayaan. Cakra adalah senjata sakti milik Prabu Kresna,
raja Dwarawati. Nanggala adalah senjata tanpa tanding milik Prabu Baladewa,
Raja Mandura, kakak Kresna.

<http://www.jawapos.co.id/imgall/1/imgori/95171large.jpg>KRI Tjakra dan KRI
Nanggala dibawa langsung oleh prajurit TNI-AL pada 12 September 1959 setelah
belajar di Oksiwi, Polandia. Hari itulah yang lantas diperingati sebagai
hari kelahiran Korps Hiu Kencana atau satuan kapal selam.

Seiring berkembangnya teknologi, kapal selam jenis Whiskey mulai pensiun.
Terakhir, KRI Pasopati-410 (namanya diambil dari anak panah milik Arjuna
yang menewaskan raksasa jahat Niwatakaca) mengakhiri masa tugas. KRI
Pasopati lantas jadi monumen kapal selam di tepi Kalimas, samping Surabaya
Plaza.

Saat armada kapal selam masih begitu aktif, Indonesia mengirimkan
prajurit-prajurit terbaiknya untuk mengikuti pelatihan di luar negeri.
Misalnya, di Jerman Barat dan Pakistan. ''Saya merasakan keduanya. Ya di
Jerman, ya di Pakistan,'' kenang Dradjat Budiyanto.

Kakek tujuh cucu itu benar-benar dididik untuk menjadi prajurit dengan
spesialisasi alutsista (alat utama sistem persenjataan) baru, yakni kapal
selam. Memang, sejak berkarir di matra laut itu, Dradjat selalu berada di
kesatuan kapal selam.

Dia belajar di Pakistan pada 1996. Kala itu, KSAL Laksamana Arief Kushariadi
menginginkan alutsista matra laut yang terjangkau. Sebab, alokasi dana bagi
TNI-AL begitu minim. Penugasan ke Pakistan tersebut juga merupakan
''penolakan'' secara halus terhadap rencana pembelian kapal selam baru tipe
Scorpene dari Prancis. Kapal itu dibanderol USD 600 juta tanpa torpedo.
Versi lengkapnya seharga USD 700 juta (sekitar Rp 7 triliun). ''Terlalu
mahal untuk TNI-AL saat itu,'' ujar Dradjat.

Dia belajar bersama enam prajurit lainnya ke Pakistan karena negara itu
sedang membangun dua kapal selam mini di Pakistan Naval Dockyard. Di
kalangan mereka, kapal selam itu disebut midget. Itu adalah istilah untuk
sesuatu yang mini alias kuntet atau kate. Nah, kapal selam kuntet itu hanya
menghabiskan anggaran USD 13 juta. Jauh lebih murah daripada Scorpene
made-in Prancis tersebut.

''Ditambah pengetahuan dari Jerman, saya bisa menciptakan sendiri desain
midget saat kembali di Indonesia,'' jelas suami Sri Hartini tersebut.

Dradjat yang rambutnya telah memutih itu membuktikan omongannya. Dia membuka
sebuah map merah berukuran 30 x 35 sentimeter. Isinya adalah konsep midget,
kapal selam kate, yang dia ciptakan selama enam tahun sejak 1997. Kapal
rancangan Dradjat berbadan luar baja. Panjangnya 24 meter dan hanya berisi
11 orang.

Awaknya adalah empat komando atau frogman serta tujuh pelaut. Karena
berukuran kuntet, ia hanya mampu membawa empat torpedo. ''Tidak bisa
dikecilkan lagi ukurannya. Lha wong torpedonya saja delapan meter,'' tegas
pria kelahiran Madiun, 28 Januari 1943, tersebut.

Secara detail, Dradjat menjelaskan detail si kuntet tersebut. Katanya, kapal
selam itu adalah substitusi kapal selam. Rancangan kapal selam yang dinamai
Indonesia Midget Experimental 1 Baby Submarine tersebut bisa melakukan apa
pun seperti kapal selam umum. Bahkan, ukurannya yang kecil membuat kapal
selam itu susah dideteksi musuh. ''Ibarat suara truk dan sedan. Mana yang
lebih mudah didengar dari kejauhan? Truk, kan? Soalnya, lebih bising,''
ungkapnya.

Pensiunan kolonel itu tak sekadar merancang dalam gambar. Dradjat juga
berbicara khusus dengan penyedia pompa merek Lensen dan pompa pendingin
Stork. Mereka diminta membuatkan pompa khusus bagi kapal rancangannya. Dari
berbagai harga yang telah disurvei, kapal selam rancangan Dradjat tak bakal
menghabiskan lebih dari USD 10 juta.

''Kita bisa membuat kapal selam yang lebih banyak, daripada membeli,''
ujarnya.

Dalam pemikirannya, kapal selam dalam jumlah banyak -walaupun mini- tetap
ngefek untuk menjaga keamanan. ''Ibaratnya, kampung yang punya hansip
banyak. Lebih aman daripada hanya punya satu hansip yang jago kungfu
sekalipun,'' ujar pria yang menguasai bahasa Inggris, Jerman, Rusia, dan
Jepang tersebut.

Agar desain itu tidak terkesan asal-asalan dan bisa diaplikasikan, dia mulai
melakukan uji coba. Dradjat benar-benar tersenyum puas ketika sejumlah pihak
menyatakan bahwa karyanya benar-benar aplikatif.

Misalnya, pengakuan dari Laboratorium Hidrodinamika Indonesia (LHI)
BPPH/BPPT, National Ship Design Centre (NASDEC) Departemen Perindustrian,
dan komponen teknikal angkatan laut -mulai Fakultas Kelautan Hang Tuah
hingga Sekolah Tinggi Teknologi Angkatan Laut (STTAL).

Howaldtswerke Deutsche Werft AG (HDW), pembuat kapal selam asal Jerman, juga
mengakui ketepatan rancang bangun milik Dradjat. ''Bukan asal-asalan, mereka
semua menyetujui tanpa ada intervensi apa pun,'' tegas ayah tiga anak
tersebut sambil menunjukkan bukti dari HDW.

Sejak konsep itu selesai pada 2003, Dradjat mulai mempromosikan rancangannya
ke berbagai pemerintah. Mantan KSAL Laksamana Arif Kushariadi dan Laksamana
M. Arifin sebagai pencetus ide terus mendorong dirinya untuk mewujudkan
kapal yang digadang-gadang lebih lincah karena ukurannya yang kecil itu.
''Kemarin (12/10), KSAL Tedjo Edhy Purdijanto menemui saya dan meminta
proyek tersebut terus dikembangkan,'' imbuhnya.

Dradjat kembali membuka map merahnya. Kali ini, dia ingin menunjukkan semua
surat yang selalu disimpan secara rapi. Di situ ada tulisan konsep midget,
filosofi pembangunan, deskripsi teknis SUVT (special underwater vehicle for
touring) yang dikirimkan ke Menteri Pertahanan Yuwono Sudarsono, Menristek
Kusmayanto Kadiman, Menteri Perindustrian Fahmi Idris, Asrenum Panglima TNI
Marsekal Muda Rio Mendung Thaleb, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, dan
Wakil Presiden Jusuf Kalla.

Sejauh ini, instansi-instansi tersebut hanya membalas kiriman Dradjat dengan
surat-surat pendek. Intinya, Dradjat harus menguji coba lagi midget
rancangannya. Tak ada yang memberi kesempatan pembuatan satu kapal selam
pun. Meski, Dradjat sudah menggaransi bahwa biayanya pasti tak lebih dari
USD 10 juta (sekitar Rp 100 miliar). ''Padahal, kalau apa-apa beli, kita ora
pinter-pinter. Mencoba dan gagal lebih baik daripada diam saja,'' ungkap
pria yang pensiun pada 1999 itu.

Pada usianya ke-66, Dradjat merasa ''iri'' pada Letnan Angkatan Darat Israel
Uziel Gal yang menemukan senjata Uzi. Dradjat juga melihat Michael Henrik
Schmelter dari Jerman yang menemukan kapal selam mini 2Dive. Ide mereka
mendapat apresiasi tinggi dari negara masing-masing. ''Jerman berani
mewujudkan karya Michael yang seorang pemuda. Saya yang 32 tahun berkutat
dengan kapal selam tidak digunakan sama sekali,'' ujarnya.

Bagaimanapun, old soldier never die (prajurit tak akan pernah mati). Dradjat
tetap tak patah arang. Dia yakin kelak temuannya dipertimbangkan oleh
pemerintah. Pria yang mahir bermain gitar itu akan menahan diri selama
mungkin untuk tak melepas karyanya ke luar negeri. Meski, kata dia, sejumlah
tawaran mancanegara telah mampir ke rumahnya di Jalan Teluk Tomini. ''Saya
anak bangsa. Akan setia sampai akhir kepada Indonesia,'' tegasnya.

Tapi, tetap saja Dradjat berkata lirih. ''Sampai kapan kita menunggu dan
mencoba sendiri,'' katanya. Bahkan, dia mengungkapkan bahwa saat ini tak
banyak orang di pemerintahan yang punya jiwa pejuang tinggi. Kalah oleh
Saridjah Niung Bintang Soedibjo alias Ibu Soed. Dia adalah seorang wanita
yang mampu membangkitkan anak bangsa melalui lagu ciptaannya.

Perlahan, Dradjat menyenandungkan lagu ciptaan Ibu Soed yang begitu heroik.
Nenek moyangku, seorang pelaut. Gemar mengarung luas samudera. Menerjang
ombak tiada takut, menempuh badai sudah biasa.

__________________________________________________
Apakah Anda Yahoo!?
Lelah menerima spam? Surat Yahoo! memiliki perlindungan terbaik terhadap
spam
http://id.mail.yahoo.com




-- 
[email protected]
www.spinner-community.net

http://maps.google.com/maps?f=q&source=s_q&hl=en&geocode=&q=serpong&sll=-6.19039,106.845474&sspn=0.330398,0.441513&g=jakarta&ie=UTF8&ll=-6.246278,106.678276&spn=0.020136,0.055189&z=14

Kirim email ke