menyedihkan....:(

---------- Forwarded message ----------
From: Ariel Peterban <[email protected]>
Date: 2010/7/11
Subject: [Bajaj Pulsar] [OOT] FIFA - PSSI
To: bajaj_pulsar_indonesia <[email protected]>,
[email protected]




Mangap kl gak berkenan...

http://worldcup.kompas.com/read/2010/07/12/09253619/Ke.Mana.Rp.2.25.Miliar.Itu

*Ke Mana Rp 2,25 Miliar Itu?*

*KOMPAS.com *- Piala Dunia 2010 berakhir dengan digelarnya laga final
Belanda versus Spanyol di Soccer City, Johannesburg, Senin (12/7) dini hari
WIB. Pertanyaannya: apa yang bisa dipetik dari perhelatan akbar sepak bola
sebulan penuh tersebut, terutama bagi sepak bola Tanah Air? Itu pertanyaan
bagi seluruh pemangku kepentingan sepak bola nasional, terutama bagi PSSI.

Sebulan penuh sudah, publik sepak bola di Tanah Air mendapat suguhan dan
tontonan sepak bola level tinggi oleh 32 tim Piala Dunia 2010. Ada hal
negatif yang tidak perlu dicontoh, tetapi banyak hal positif yang patut
diteladani.

Sempat diragukan di awal, Afrika Selatan secara keseluruhan menjawab secara
konkret dengan sukses menggelar ajang olahraga paling digemari itu.

Suara-suara pesimistis yang dulu terdengar kini berubah menjadi pujian.
”Saya melihat sendiri, turnamen ini diselenggarakan luar biasa, atmosfernya
juga hebat. Setelah datang sendiri, harus saya katakan, Afrika Selatan pasti
bangga (dengan hal ini),” kata Angela Merkel, Kanselir Jerman, pada situs
FIFA.

Perempuan penggila sepak bola itu hadir, menonton langsung, dan menari
kegirangan di tribune saat Jerman menggilas Argentina 4-0 di perempat final.
Sabtu (10/7), Presiden Afrika Selatan Jacob Zuma berpidato yang disiarkan
stasiun-stasiun televisi lokal bahwa ”Kesuksesan Piala Dunia 2010 ini
kemenangan bagi Afrika”.

*Tonik bagi Blatter*

Kesuksesan penyelenggaraan Piala Dunia 2010 pasti mendongkrak posisi
Presiden FIFA Sepp Blatter, yang dari awal mengotot menggelar Piala Dunia di
Afrika meski ditentang sana-sini. Masa jabatan Blatter selaku Presiden FIFA
bakal berakhir 2011, dan ia secara terbuka menyatakan akan mencalonkan diri
lagi untuk empat tahun berikutnya.

Hal itu ditegaskan kembali pada Kongres FIFA di Sandton, Johannesburg,
menjelang Piala Dunia, Juni lalu. Seperti halnya presiden atau ketua
asosiasi-asosiasi sepak bola seluruh dunia dan presiden konfederasi, masa
jabatan Presiden FIFA empat tahun dan setelah habis masa jabatan itu, ia
bisa dipilih berulang-ulang tanpa batas waktu.

Waktu itu pernyataan terbuka Blatter disambut tepuk tangan meriah 208 utusan
asosiasi anggota FIFA. Namanya juga punya maksud, setelah mengumumkan
keuntungan finansial badan sepak bola dunia tahun lalu sebesar lebih dari
satu miliar dollar AS (sekitar Rp 9 triliun), Blatter pun membagi-bagikan
bonus 250.000 dollar AS (sekitar Rp 2,25 miliar) bagi setiap asosiasi
anggota FIFA dan 50 juta dollar AS bagi enam konfederasi di bawah FIFA.

PSSI juga hadir dalam kongres itu, diwakili Ketua Umum Nurdin Halid dan
pengurus lainnya. Seperti para wakil asosiasi lainnya, PSSI juga kecipratan
bonus Rp 2,25 miliar. Namun, perlu dicatat, kucuran uang FIFA itu bukanlah
bonus bagi pengurus PSSI, melainkan dana yang dimaksudkan FIFA untuk
pengembangan sepak bola.

*Pelesir pengurus PSSI*

Senin (5/7), kurang dari sebulan setelah Blatter mengumumkan pencairan bonus
Rp 2,25 miliar untuk para asosiasi, puluhan pengurus teras PSSI pusat dan
daerah terbang dan pelesir ke Afrika Selatan. Seperti dikutip *Kompas.com*,
mereka berjumlah 60 orang. Mereka dijadwalkan menyaksikan laga semifinal dan
final Piala Dunia 2010.

Setiap orang diperkirakan menghabiskan biaya sekitar Rp 75 juta, meliputi
uang saku, penginapan, tiket, dan akomodasi. Dari mana uang untuk membiayai
keberangkatan mereka ke Afrika Selatan? Seperti biasa, tidak ada keterangan
yang jelas. Sebagian dari mereka terlihat di Cape Town saat semifinal
Belanda versus Uruguay berlangsung.

Saat disinggung puluhan pengurus PSSI pusat dan daerah yang pelesir ke
Afrika Selatan itu, anggota Komite Eksekutif PSSI, Bernhard Limbong, dikutip
kantor berita *Antara*, Selasa (6/7), menyebutkan bahwa hal itu sedikit
hura-hura saja, tetapi itu juga hak mereka untuk ke sana. ”Saya memang tidak
ikut ke Afrika Selatan,” kata Limbong.

Gaya hidup pengurus PSSI itu sangat ironis jika melihat kondisi
persepakbolaan Tanah Air akhir-akhir ini. Bukan hanya paceklik prestasi di
ajang internasional, pengelolaan keuangan PSSI juga kacau dan tidak jelas.
Pelesir para pengurus PSSI itu memprihatinkan jika mengingat bahwa gaji tim
nasional futsal yang mengharumkan bangsa Indonesia sebagai juara ASEAN belum
dibayar.
Inikah pelajaran dari Piala Dunia 2010 untuk sepak bola Indonesia?
Menyedihkan! *(MH SAMSUL HADI, dari Johannesburg, Afrika Selatan)*
-- 
-Ban.-
"DENOK DEMPLON #506"
 Pulsarian Jakarta - h...@milers Crew

-D traffic light : lampu merah artinya berhenti, lampu hijau artinya boleh
jalan, dan lampu dim bikin silau.. hik.-
 

Kirim email ke