Info dr temen niy,..


Jakarta - Saya telah beberapa kali menggunakan AirAsia untuk bepergian, namun 
kali ini saya benar-benar saya merasa dikecewakan atas buruknya manajemen 
AirAsia.

Pada hari Minggu tanggal 13 Mei 2007, kami melakukan booking AirAsia untuk 16 
orang dengan kode booking sebagai berikut B002F4M, B002F39, B002F33, D8DHCE, 
G82GBS, P7EVCM. 3 kode di awal adalah paket GoHoliday AirAsia. Semuanya itu 
untuk penerbangan Jakarta-Denpasar dengan keberangkatan tanggal 14 Juni 2007 
jam 17:25 (QZ7514) dan pulang tanggal 17 Juni 2007 jam 23:00 (QZ7519).

Pada tanggal 13 Juni 2007, sehari sebelum keberangkatan, kami menerima SMS pada 
jam 18:08 yang menginformasikan bahwa penerbangan tersebut di-cancel dan kami 
semua dipindahkan ke penerbangan jam 19:50. 

Tentu saja kami semua terkejut dengan adanya pemberitahuan yang menurut kami 
cukup mendadak ini. Kami telah menjadwalkan acara keluarga pada jam 21:00 waktu 
Denpasar, yang pastinya tidak akan dapat terealisasi jika kami berangkat jam 
19:55.

Kami pun langsung menghubungi Call Center AirAsia dan diterima oleh Pak Okta. 
Kami mempertanyakan pemindahan mendadak tersebut dan menuntut jalan keluar agar 
kami dapat tiba di Bali sebelum acara keluarga kami. 

Saat itu Pak Okta menawarkan kami untuk ikut penerbangan sebelumnya, yaitu 
pukul 14:05, karena masih ada 20 free seats yang tentu saja kami setujui. 
Tetapi pada saat akan melakukan konfirmasi, dalam hitungan beberapa detik seat 
yang tersisa hanya tinggal 8, yang artinya tidak akan cukup untuk kami semua.

Karena acara tersebut cukup penting, maka kami mempertanyakan kebijakan AirAsia 
untuk situasi seperti ini. Oleh Pak Okta dijelaskan bahwa AirAsia tidak 
memiliki kebijakan kompensasi apapun untuk situasi seperti ini. Calon penumpang 
hanya dibantu untuk terbang pada penerbangan lainnya atau jika diinginkan 
dibantu refund sejumlah uang tiket yang telah dibayarkan. 

Terus terang opsi refund tidak akan saya ambil karena itu artinya AirAsia cuci 
tangan dan kami setuju bahwa tangannya telah bersih. Yang kami inginkan 
setidaknya adalah AirAsia membantu mendapatkan tiket penerbangan maskapai lain 
di jam yang hampir sama, yang ternyata menurut Pak Eko bahwa AirAsia juga tidak 
memiliki kebijakan flight transfer.

Saya sangat mengerti posisi Pak Okta. Tidak ada gunanya kami marah-marah karena 
tidak akan memecahkan masalah apapun. Akhirnya kami minta dihubungkan dengan 
atasan atau siapapun yang memiliki wewenang untuk menangani kejadian ini.

Sekitar jam 19:30, kami pun dihubungkan dengan Pak Eko, team leadar dari Pak 
Okta. Setelah menjelaskan kembali situasi yang sedang kami hadapi, Pak Eko 
berjanji untuk membantu kami. Akhirnya pada pukul 21:15 kami mendapat 
konfirmasi dari Pak Eko bahwa kami semua, 16 orang, bisa ikut penerbangan pukul 
16:10.

Dalam kesempatan ini kami ingin menyampaikan terima kasih kepada Pak Okta dan 
Pak Eko yang telah bersedia membantu kami sehingga acara keluarga tetap 
berjalan sesuai dengan rencana.

Perlindungan konsumen di negara ini memang masih rendah sehingga penyedia jasa 
dapat berlaku semena-mena tanpa takut adanya tuntutan hukum. 
Kebijakan-kebijakan yang ada sama sekali tidak ada yang berpihak pada konsumen. 
Penyedia jasa pun dapat mencari keuntungan yang sebesar-besarnya. 

Dalam hal ini, bisa saja AirAsia melakukan pemindahan atas dasar efisiensi 
dengan menghilangkan 1 penerbangan untuk hari tersebut. Bisa dihitung betapa 
besar keuntungan yang dinikmati AirAsia terutama dari sisi penghematan bahan 
bakar. Walau memang tidak ada bukti, namun hal tersebut sangat masuk di logika, 
mengingat semua calon penumpang sukses dipindahkan ke penerbangan lainnya.

Kepada AirAsia, kali ini kami menyatakan kekecewaan yang mendalam atas 
perlakuan yang kami terima. Pemindahan sepihak bukti AirAsia tidak menghargai 
para pelanggannya. AirAsia harusnya memikirkan bahwa kepergian calon penumpang 
pasti memiliki kepentingan dan bukan karena hanya ingin menikmati rasanya naik 
pesawat.

Seharusnya AirAsia menelepon calon penumpang dan memberikan pilihan jadwal 
terbang yang lain. Dan jika calon penumpang merasa tidak cocok dan tetap merasa 
keberatan, AirAsia harus siap mencarikan tiket penerbangan lain karena jelas 
ini bukanlah kesalahan calon penumpang.

Kami memberi dukungan agar YLKI dapat terus memperjuangkan kepentingan konsumen 
dan semoga dapat tercipta produk-produk hukum yang cukup keras untuk menghadapi 
praktek-praktek yang tidak bertanggung jawab seperti ini.
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
Anda menerima pesan ini karena berlangganan ke Grup Google "Sekolah Tinggi Ilmu 
Ekonomi YKPN Yogyakarta" grup.
 Untuk memposting ke grup ini, kirimkan email ke [email protected]
 Untuk keluar dari grup ini, kirim email ke [EMAIL PROTECTED]
 Untuk pilihan lain, kunjungi grup ini di 
http://groups.google.com/group/stieykpn?hl=id
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke