Mengenal Presiden Iran Ahmadi Nejad Sabtu, 02 Juli 2005 | 11:15 WIB TEMPO Interaktif, Qom:Mahmud Ahmadi Nejad lahir di kota Garmsar, sebelah timur Tehran 49 tahun yang lalu. Ayahnya adalah seorang tukang besi yang hidupnya pas-pasan. Baru berumur satu tahun, Ahmadi harus hijrah bersama keluarganya ke Kota Tehran dengan harapan kehidupan akan lebih baik.
Penghasilan ayahnya yang hanya seorang tukang besi mengharuskan dia untuk hidup sederhana bersama enam saudaranya. Meskipun hidup yang pas pasan, Ahmadi mempunyai prestasi yang tinggi di sekolahnya. Meskipun ayahnya bukanlah seorang ulama, namun ayah Ahmadi adalah seorang yang teguh beragama. Kepribadian inilah yang diwariskan anaknya. Maka jadilah Ahmadi tumbuh dengan menjadi pemuda yang mutadayyin (taat beragama). Minat Ahmadi Nejad dalam dunia teknik mendorong dia untuk meneruskan kuliah di Institut Teknologi Amran Tehran pada tahun 1975. Jurusan Arsitektur menjadi pilihannya. Krisis sosial dan politik di Iran pada masanya menempa menjadi mahasiswa yang aktif terlibat dalam gerakan-gerakan sosial. Diapun menjadi salah satu presidium gerakan mahasiswa di kampusnya. Kesadaran politik Ahmadi mulai berkembang setelah dia bergabung dengan gerakan mahasiswa pengikut garis Imam Khomaini yang menentang Syah Reza Pahlevi yang menjadikan Iran bonekanya Amerika di Teluk. Ahmadi ikut juga terlibat dalam gerakan mahasiwa yang mengepung dan menyandera para diplomat AS di Iran, karena dia sadar kedutaan Amerika di Iran dijadikan markas CIA di teluk. Setelah Revolusi Islam Iran (1979) di bawah Imam Khomaini menang dan Republik Islam Iran telah berdiri, Ahmadi Nejad kembali ke kampus. Tidak lama setelah itu, ketika peran Iran-Irak pecah, Ahmadi Nejad harus meninggalkan dunia kampus kembali. Ahmadi tidak ketinggalan untuk ikut panggilan jihad Imam Khomaini, pemimpin yang ia kagumi. Dia berangkat ke medan perang di bagian Barat Iran. Selain bergabung dengan kesatuan para Isinyur, dia juga sempat menjadi komandan front depan Propinsi Barat Iran. Cerita keberanian Ahadi Nejad semasa perang banyak menjadi buah bibir temen-temannya. Keinginannya untuk mati syahid adalah cita-cita tertingginya. Namun kenyataan berbicara sebaliknya, justru saat ini beban berat menjadi presiden Iran harus dipikulnya. Setelah perang usai, Ahmadi kembali ke dunia kampus. Pada tahun 1991, Ia aktif menjadi anggota (haiat-e ilmi) tim penyusun kurikulum Institut Teknologi Amran Tehran sekaligus menjadi dosen di unversitas yang sama. Tidak banyak yang menonjol dari Ahmadi kecuali dia salah satu dosen favorit mahasiswa, kuliahnya selalu dipenuhi mahasiswa. Selain itu, pada saat yang sama, dia juga menjadi staff Ahli kebudayaan dari kementrian pendidikan Tinggi Iran untuk propinsi Ardabil. Pada tahun 1995 Ahmadi Nejad dipercaya sebagai gubernur Ardabil, sebuah Propinsi di Iran Utara. Karir cemerlang sebagai gubernur membuat Ahmadi terpilih sebagai gubernur teladan Iran selama tiga tahun berturut-turut. Diantara keberhasilannya, pemerintahnya mampu merekonstruksi 7.500 unit rumah penduduk yang hancur dalam gempa Ardabil dalam tempo tujuh bulan. Setelah selasai menjabat gubernur, Ahmadi Nejad kembali kampusnya dan gelar Doktor dalam bidang transportasi dia raih dalam usianya yang ke-43. Selama aktif di kampus pun Ahmadi Nejad banyak diminta memberikan masukan dan konsultasi oleh gubernur dan walikota-walikota di Iran dalam perencanaan pembangunan kota terumatama yang berhubungan dengan urusan perencanaan transportasi. Nasib menjadi birokrat tampaknya tidak bisa pisah dari Ahmadi. Dua Mei 2004, Dewan Kota Tehran periode kedua, memilih Ahmadi Nejad sebagai Walikota Tehran. Dalam waktu singkat, tidak kurang dari dua tahun, pekerja keras ini, melakukan gebrakan-gebrakan birokrasi yang langsung bisa dirasakan masyarakat. Waktunya banyak dihabiskan di kantor dan inspeksi lapangan. Mulai pukul 06.00 pagi sampai pukul 24.00 setiap hari Ahmadi bekerja keras untuk menyelesaikan problem kota Tehran yang semakin komplek. Dalam sejarahnya, ketika memimpin Tehran, dia hanya absen sekali karena sakit, itupun setengah hari. Pada tanggal 3 Agustus nanti Ahmadi Nejad akan dilantik menjadi presiden yang ke-6 Republik Islam Iran setelah berhasil melewati pemilu putaran kedua 24 Juli lalu. Meskipun begitu dia masih malu untuk dipanggil presiden. "Saya bukanlah presiden, saya adalah pelayanan rakyat,"katanya. Penampilannya pun saat ini tidak jauh berbeda, dengan sepatu yang tidak mengkilat, dan jaket krem kesukaannya. ....(red-07) Sederhana sekali... Tuhan mencintai siapa yang merendah dalam kehidupan pribadinya! TV Fox (AS) menanyakan pada Presiden Iran Ahmedi Najad; "Saat anda melihat di cermin setiap pagi, apa yang anda katakan pada diri anda?" Jawabnya: "Saya melihat orang di cermin itu dan mengatakan padanya:"Ingat, kau tak lebih dari seorang pelayan, hari di depanmu penuh dengan tanggung jawab yang berat, yaitu melayani bangsa Iran." Berikut adalah bagaimana penyiar menggambarkan dirinya. Ahmedi Najad, adalah presiden Iran yang membuat orang ternganga, karena pada saat pertama kali menduduki kantor kepresidenan Ia menyumbangkan seluruh karpet Iran Istana yang sangat tinggi nilai maupun harganya itu kepada masjid2 di Teheran dan menggantikannya dengan karpet biasa yang mudah dibersihkan. Ia mengamati bahwa ada ruangan yang sangat besar untuk menerima dan menghormati tamu VIP, lalu ia memerintahkan untuk menutup ruang tersebut dan menanyakan pada protokoler untuk menggantinya dengan ruangan biasa dengan 2 kursi kayu, meski sederhana tetap terlihat impresive. Di banyak kesempatan ia bercengkerama dengan petugas kebersihan di sekitar rumah dan kantor kepresidenannya. Di bawah kepemimpinannya, saat ia meminta menteri2 nya untuk datang kepadanya dan menteri2 tsb akan menerima sebuah dokumen yang ditandatangani yang berisikan arahan2 darinya, arahan tersebut terutama sekali menekankan para menteri2nya untuk tetap hidup sederhana dan disebutkan bahwa rekening pribadi maupun kerabat dekatnya akan diawasi, sehingga pada saat menteri2 tsb berakhir masa jabatannya dapat meninggalkan kantornya dengan kepala tegak. Langkah pertamanya adalah ia mengumumkan kekayaan dan propertinya yang terdiri dari Peugeot 504 tahun 1977, sebuah rumah sederhana warisan ayahnya 40 tahun yang lalu di sebuah daerah kumuh di Teheran. Rekening banknya bersaldo minimum, dan satu2nya uang masuk adalah uang gaji bulanannya. Gajinya sebagai dosen di sebuah universitas hanya senilai US$ 250. Sebagai tambahan informasi, Presiden masih tinggal di rumahnya. Hanya itulah yang dimilikinyaseorang presiden dari negara yang penting baik secara strategis, ekonomis, politis, belum lagi secara minyak dan pertahanan. Bahkan ia tidak mengambil gajinya, alasannya adalah bahwa semua kesejahteraan adalah milik negara dan ia bertugas untuk menjaganya. Satu hal yang membuat kagum staf kepresidenan adalah tas yg selalu dibawa sang presiden tiap hari selalu berisikan sarapan; roti isi atau roti keju yang disiapkan istrinya dan memakannya dengan gembira, ia juga menghentikan kebiasaan menyediakan makanan yang dikhususkan untuk presiden. Hal lain yang ia ubah adalah kebijakan Pesawat Terbang Kepresidenan, ia mengubahnya menjadi pesawat kargo sehingga dapat menghemat pajak masyarakat dan untuk dirinya, ia meminta terbang dengan pesawat terbang biasa dengan kelas ekonomi. Ia kerap mengadakan rapat dengan menteri2 nya untuk mendapatkan info tentang kegiatan dan efisiensi yang sdh dilakukan, dan ia memotong protokoler istana sehingga menteri2 nya dapat masuk langsung ke ruangannya tanpa ada hambatan. Ia juga menghentikan kebiasaan upacara2 seperti karpet merah, sesi foto, atau publikasi pribadi, atau hal2 spt itu saat mengunjungi berbagai tempat di negaranya. Saat harus menginap di hotel, ia meminta diberikan kamar tanpa tempat tidur yg tidak terlalu besar karena ia tidak suka tidur di atas kasur, tetapi lebih suka tidur di lantai beralaskan karpet dan selimut. Apakah perilaku tersebut merendahkan posisi presiden? Lihat foto2 berikut yang menegaskan penjelasan di atas. Presiden Iran tidur di ruang tamu rumahnya sesudah lepas dari pengawal2nya yg selalu mengikuti kemanapun ia pergi. Menurut koran Wifaq, foto2 yg diambil oleh adiknya tersebut, kemudian dipulikasikan oleh media masa di seluruh dunia, termasuk amerika. Sepanjang sholat, anda dapat melihat bahwa ia tidak duduk di baris paling muka Dan foto terakhir memperlihatkan ruang makan dimana presiden sedang menikmati makanannya. ________________________________________________ _________________ Salah satu contoh dan panutan yg hidup untuk pengembangan kepribadian kita masing-masing. AHMADINEJAD Dan kini ada Ahmadinejad, seorang tokoh in reality! Seberapa sederhanakah beliau ini? Let me tell you. Berikut ini saya kutipkan sebagian dari yang saya baca dari buku tersebut. Konon ketika beliau sudah menjabat sebagai walikota Teheran yang memiliki populasi lebih besar daripada Jakarta ia masih tampil dengan sepatu yang bolong-bolong. Ia menyapu jalanan Teheran dan bangga dengan itu. Sampai sekarang pun ia masih tampil dengan kemeja lengan panjang sederhana sehingga jika kita tidak mengenalnya dan bertemu dengannya kita tidak akan pernah mengira bahwa beliau adalah seorang presiden. Ya presiden dari sebuah negara besar. Di Balikpapan di mana saya tinggal bahkan hampir semua guru rasanya punya jas. Sebelum menjabat sebagai presiden Iran beliau adalah walikota Teheran, periode 2003-2005. Teheran, ibukota Iran, kota dengan sejuta paradoks, memiliki populasi hampir dua kali lipat dari Jakarta, yaitu sebesar 16 juta penduduk. Untuk bisa menjadi walikota dari ibukota negara tentu sudah merupakan prestasi tersendiri mengingat betapa Iran adalah Negara yang dikuasai oleh para mullah. Ia bukanlah ulama bersorban, tokoh revolusi, dan karir birokrasinya kurang dari 10 tahun. Beliau tinggal di gang buntu, maniak bola, tak punya sofa di rumahnya, dan kemana-mana dengan mobil Peugeot tahun 1977. Penampilannya sendiri jauh dari menarik untuk dijadikan gosip, apalagi jadi selebriti. Rambutnya kusam seperti tidak pernah merasakan sampo dan sepatunya itu-itu terus, bolong disana-sini, mirip alas kaki tukang sapu jalanan di belanatara Jakarta. Nah! Kira-kira dengan modal dan penampilan begini apakah ia memiliki kemungkinan untuk menjabat sebagai walikota Depok saja, umpamanya? Dalam tempo setahun pertanyaan tentang kemampuannya memimpin terjawab. Warga Teheran menemukan bahwa walikotanya sebagai pejabat yang bangga bisa menyapu sendiri jalan-jalan kota, gatal tangannya jika ada selokan yang mampet dan turun tangan untuk membersihkannya sendiri, menyetir sendiri mobilnya ke kantor dan bekerja hingga dini hari sekedar untuk memastikan bahwa Teheran dapat mejadi lebih nyaman untuk ditinggali. "Saya bangga bisa menyapu jalanan di Teheran." Katanya tanpa berusaha untuk tampil sok sederhana. Di belahan dunia lain sosoknya mungkin dapat dijadikan reality show atau bahkan aliran kepercayaan baru. Sejak hari pertama menjabat ia langsung mengadakan kebijakan yang bersifat religius seperti memisahkan lift bagi laki-laki dan perempuan (ini tentu menarik hati para wanita di Teheran), menggandakan pinjaman lunak bagi pasangan muda yang hendak menikah dari 6 juta rial menjadi 12 juta rial, pembagian sup gratis bagi orang miskin setiap pekan, dan menjadikan rumah dinas walikota sebagai museum publik! Ia sendiri memilih tinggal di rumah pribadinya di kawasan Narmak yang miskin yang hanya berukuran luas 170 m persegi. Ia bahkan melarang pemberian sajian pisang bagi tamu walikota mengingat pisang merupakan buah yang sangat mahal dan bisa berharga 6000 rupiah per bijinya. Ia juga menunjukkan dirinya sebagai pekerja keras yang sengaja memperpanjang jam kerjanya agar dapat menerima warga kota yang ingin mengadu. Namun salah satu keberhasilannya yang dirasakan oleh warga kota Teheran adalah spesialisasinya sebagai seorang doktor di bidang manajemen transportasi dan lalu lintas perkotaan. Sekedar untuk diketahui, kemacetan kota Teheran begitu parahnya sehingga saya pernah dikirimi salah satu foto lelucon dari berbagai belahan dunia dengan judul "Only in _Equot; . salah satunya dari Teheran dengan judul "Only in Teheran" dengan foto kemacetan lalu lintasnya yang bisa bikin penduduk Jakarta menertawakan kemacetan lalu lintas di kotanya. Secara dramatis ia berhasil menekan tingkat kemacetan di Teheran dengan mencopot lampu-lampu di perempatan jalan besar dan mengubahnya menjadi jalur putar balik yang sangat efektif. Setalah menjabat dua tahun sebagai walikota Teheran ia masuk dalam finalis pemilihan walikota terbaik dunia World Mayor 2005 dari 550 walikota yang masuk nominasi. Hanya sembilan yang dari Asia, termasuk Ahamdinejad. Tapi itu baru awal cerita. Pada tangagl 24 Juni 2005 ia menjadi bahan pembicaraan seluruh dunia karena berhasil menjadi presiden Iran setelah mengkanvaskan ulama-cum-mlliter Ali Hashemi Rafsanjani dalam pemilihan umum. Bagaimana mungkin padahal pada awal kampanye namanya bahkan tidak masuk hitungan karena yang maju adalah para tokoh yang memiliki hampir segalanya dibandingkan dengannya? Dalam jajak pendapat awal kampanye dari delapan calon presiden yang bersaing, Akbar hasyemi Rafsanjani, Ali Larijani, Ahmadinejad, Mehdi Karrubi, Mohammed Bhager Galibaf, Mohsen Meharalizadeh, Mohsen Rezai, dan Mostafa Min, popularitas Ahmadinejad paling buncit. Pada masa kampanye ketika para kontestan mengorek sakunya dalam-dalam untuk menarik perhatian massa, Ahmadinejad bahkan tidak sanggup untuk mencetak foto-foto dan atributnya sebagai calon presiden. Sebagai walikota ia menyumbangkan semua gajinya dan hidup dengan gajinya sebagai dosen. Ia tidak mampu untuk mengeluarkan uang sepeser pun untuk kampanye! Sebaliknya ia justru menghantam para calon presiden yang menggunakan dana ratusan milyar untuk berkampanye atau yang bagi-bagi uang untuk menarik simpati rakyat. Pada pemilu putaran pertama keanehan terjadi, Nama Ahmadinejad menyodok ke tempat ketiga. Di atasnya dua dedengkot politik yang jauh lebih senior di atasnya, Akbar Hashemi Rafsanjani dan Mahdi Karrubi. Rafsanjani tetap menjadi favorit untuk memenangi pemilu ini mengingat reputasi dan tangguhnya mesin politiknya. Tapi rakyat Iran punya rencana dan harapan lain, Ahmadinejad memenangi pemilu dengan 61 % sedangkan Rafsanjani hanya 35%. Logika real politik dibikin jungkir balik olehnya. Ahmadinejad memang penuh dengan kontroversi. Ia presiden yang tidak berasal dari mullah yang selama puluhan tahun telah mendominasi hampir semua pos kekuasaan di Iran, status quo yang sangat dominan. Ia juga bukan berasal dari elit yang dekat dengan kekuasaan, tidak memiliki track-record sebagai politisi, dan hanya memiliki modal asketisme, yang untuk standar Iran pun sudah menyolok. Ia seorang revolusioner sejati sebagaimana halnya dengan Imam Khomeini dengan kedahsyatan aura yang berbeda. Jika Imam Khomeini tampil mistis dan sufistis, Ahamdinejad justru tampil sangat merakyat, mudah dijangkau siapapun, mudah dipahami dan diteladani. Ia adalah sosok Khomeini yang jauh lebih mudah untuk dipahami dan diteladani. Ia adalah figur idola dalam kehidupan nyata. Seorang 'satria piningit' yang mewujud dalam sosok nyata. Sebagaimana mentornya, ia tidak terpengaruh oleh kekuasaan. Kekuasaan seolah tidak menyentuh karakter-karakter terdalamnya. Ia seolah memiliki 'kepribadian ganda', di satu sisi ia bisa bertarung keras untuk merebut dan mengelola kekuasaan, dan di sisi lain ia bertarung sama kerasnya menolak segenap pengaruh kekuasaan agar tidak mempengaruhi batinnya. Tidak bisa tidak, dengan karakter yang demikian kompleks itu seorang revolusioner macam Ahmadinejad memang ditakdirkan untuk membuat banyak kejutan dan drama pada dunia. Ia memangkas semua biaya dan fasilitas kedinasan yang tidak sine-qua-non terutama dengan urusan pribadi. Dalam pandangannya, untuk mewujudkan masyarakat Islam yang maju dan sejahtera, pejabat negara haruslah memiliki standar hidup yang sama dengan rakyat kebanyakan., mencerminkan kehidupan nyata dari masyarakatnya, dan tidak hidup di menara gading. Ia menetapkan PPN baru bagi orang-orang kaya dan mengunakan dananya untuk membangun perumahan bagi rakyat miskin. Ia membawa 'uang minyak ke piring-piring orang miskin' dengan program "Reza Love Fund" (Reza adalah Imam ke delapan kaum Syiah) dengan mengalokasikan 1,3 milyar dollar untuk program bantuan bagi kalangan muda untuk menikah, memulai usaha baru, dan membeli rumah. Meski mengagumi Imam Khomeini dan hidup asketis tidak berarti ia konservatif. Ia bahkan tampil moderat. Ketika ditanya apakah ia akan mengekang penggunaan jilbab yang kurang Islami di kalangan remaja Teheran, ia menjawab,:"Orang cenderung berpikir bahwa kembali ke nilai-nilai revolusioner itu hanya urusan memakai jilbab yang baik. Masalah sejati bangsa ini adalah lapangan kerja dan perumahan untuk semua, bukan apa yang harus dipakai." Meski telah terpilih menjadi presiden ia sama sekali tidak mengubah penampilannya. Ia tetap tampil bersahaja dan jauh dari pamor kepresidenan. Pada salah satu acara dengan kalangan mahasiswa salah satu peserta menanyakan penampilannya yang tidak menunjukkan tampang presiden tersebut. Dengan lugas ia menjawab,:"Tapi saya punya tampang pelayan. Dan saya hanya ingin menjadi pelayan rakyat." Air mata saya mengalir membaca ini. Subhanallah! Alangkah rendah hatinya pemimpin satu ini. Tak salah jika ia dicintai oleh bagitu banyak mahluk Tuhan di seluruh muka bumi. Saya tidak ingin menulis lebih panjang tentang tokoh satu ini. Saya menganjurkan setiap orang untuk membeli bukunya dan membacanya sendiri dan menikmatinya sebagaimana saya menikmatinya. Belikan satu buku untuk anak Anda dan biarkan ia mengenal satu tokoh besar dunia yang masih hidup dan mudah-mudahan kelak dapat mengikuti jejaknya. Saya hanya ingin menutup tulisan ini dengan pendapatnya mengapa ia bersikeras agar Iran memiliki teknologi nuklir. katanya,:"Jika nuklir ini dinilai jelek dan kami tidak boleh menguasai dan memilikinya mengapa kalian sebagai negara adikuasa boleh memilikinya? Sebaliknya, jika teknonuklir ini baik untuk kalian, mengapa kami tidak boleh juga memakainya?" Suatu argumen sederhana yang tidak mampu dijawab oleh negara-negara Barat. Itu sebabnya Bush tidak bersedia meladeninya dalam suatu tantangan debat di PBB. Kesederhanaan Ahmadinejad Delegasi PBNU yang dipimpin ketua umumnya, KH Hasyim Muzadi, selama sepekan (13-18/4) berada di Teheran atas undangan Pemerintah Iran. Selain bertemu dengan Presiden Iran, Mahmoud Ahmadinejad, dan pejabat tinggi setempat, mereka juga bertukar pikiran dengan sejumlah ayatullah. Berikut bagian pertama catatan wartawan Republika, Ikhwanul Kiram Mashuri, yang juga menjadi anggota delegasi. Jangan bayangkan kantor Presiden Republik Islam Iran, Mahmoud Ahmadinejad, menempati gedung megah seperti Istana Merdeka atau Istana Negara di Jakarta. Kantor Ahmadinejad hanyalah sebuah bangunan kecil di kawasan padat di tengah Teheran. Bangunan itu bahkan lebih kecil dibandingkan dengan kantor-kantor departemen kita atau Balai Kota DKI Jakarta. Halamannya pun sangat sempit yang hanya cukup untuk parkir beberapa mobil. Kondisi demikian tentu sangat kontras dengan zaman Shah Iran dulu. Mendiang Shah Reza Pahlavi yang digulingkan oleh revolusi Islam pimpinan Imam Khomeini mempunyai sejumlah istana megah di berbagai kawasan elite di Teheran. Berbagai istana megah yang dilengkapi lukisan terkenal dunia dan perabotan yang didatangkan dari Eropa zaman Shah dulu, kini hanya dijadikan museum. Mereka sengaja dijadikan saksi bisu kehidupan hedonis gaya keluarga Shah Iran tempo dulu. Sejak revolusi Islam Iran menggulingkan kekuasaan absolut Shah Iran, pemerintahan baru kemudian menempati gedung-gedung yang lebih sederhana seperti ditempati oleh Presiden Ahmadinejad tadi. Di gedung seperti inilah, Ahad pekan lalu (16/4), rombongan KH Hasyim Muzadi dan Ketua MPR Dr Hidayat Nur Wahid yang disertai oleh Duta Besar Indonesia untuk Iran, Basri Hasanuddin, diterima Presiden Ahmadinejad. Delegasi Kiai Hasyim berada di Teheran untuk bertemu dan bersilaturahim dengan sejumlah ayatulah dan pejabat tinggi Iran. Delegasi beranggotakan pula Ketua PBNU, Rozy Munir; Ketua PWNU Jawa Timur, Ali Maschan Musa; dan wartawan Republika, Ikhwanul Kiram Mashuri. Hidayat datang sendirian atas undangan pemerintah Iran untuk menjadi pembicara dalam seminar internasional tentang Palestina dan Al-Quds di Teheran. Beberapa anggota DPR RI menyusul dan kemudian bergabung dengan Ketua MPR. Kesederhanaan sang tuan rumah tidak hanya terlihat dari kantornya. Kesederhanaan semakin lengkap dengan cara menerima tamu dan gaya serta kepribadian Presiden Ahmadinejad sendiri. Berbeda dengan dua presiden Iran sebelumnya--Khatami dan Rafsanjani--yang selalu memakai jubah kebesaran ala ayatullah, Ahmadinejad sehari-hari memakai jas dengan baju tanpa dasi. Tampilan seperti ini tidak pernah berubah sejak ia menjadi mahasiswa yang mendukung revolusi Islam, gubernur wilayah Maku dan Khoi, penasihat menteri kebudayaan dan pedoman Islam, gubernur Ardabil, wali kota Teheran, dan kemudian presiden. Pakaian semacam inilah yang kini dikenakan laki-laki dewasa Iran pada umumnya. Menurut staf protokol kepresidenan Iran, jas yang digunakan Ahmadinejad sehari-hari adalah bikinan dalam negeri, baik bahan maupun penjahitnya. Di toko-toko, jas semacam ini berikut celananya berharga sekitar 50-70 dolar AS. Ahmadinejad dan keluarganya pun menempati apartemen sederhana di kawasan kelas menengah bawah di Nurmagi, tenggara Teheran. Apartemen dua tingkat ini memiliki beberapa kamar. Halaman parkir cukup untuk dua mobil. Rumah ini sudah ia tempati sejak ia menjadi wali kota Teheran dan ia menolak pindah ke rumah dinas presiden. Sebelum ditemui Presiden Ahmadinejad, rombongan tamu Kiai Hasyim dan Hidayat dipersilakan menunggu di ruang tunggu kantor presiden. Ruangan ini hanya seluas sekitar 6x10 meter persegi dengan dilengkapi deretan kursi berbentuk U. Tidak ada hiasan dinding. Sebuah AC duduk berada di pojok ruangan tapi tidak difungsikan padahal ruangan cukup panas. Setelah menunggu beberapa saat, rombongan tamu dari Indonesia ini pun dipersilakan memasuki ruang tamu. Ahmadinejad dengan tangan terbuka dan senyum mengembang menyambut tamu satu per satu dengan salam tempel pipi kanan dan kiri sebanyak tiga kali. Ahmadinejad lalu duduk di depan. Di samping kanannya, dengan dibatasi meja kecil, duduk Hidayat dan Kiai Hasyim. Sedangkan anggota delegasi di kursi deretan kanan dan staf presiden di deretan kiri. Di sini juga hanya ada AC duduk yang tidak difungsikan di pojok depan. Di dinding depan terdapat foto Imam Khomeini di kiri dan di kanan foto Khamanei. Di antara dua foto besar terdapat peta Iran. Ketika sedang asyik tanya-jawab antara Ahmadinejad dan Hidayat serta Kiai Hasyim, seorang pelayan dengan nampan berisi beberapa gelas minum sirup berkeliling menawarkan minuman. Karena tidak ada meja, sejumlah tamu lalu meletakkan minumannya di bawah kursi. Kepada Ahmadinejad, Hidayat dan Kiai Hasyim menyampaikan dukungan mereka pada sikap tegas pemerintah Iran. Termasuk, hak Iran untuk mengembangkan teknologi nuklir untuk perdamaian. Juga dukungan penuh Iran terhadap perjuangan bangsa Palestina mendapatkan kemerdekaannya. ''Kami mendukung seminar internasional untuk mendukung perjuangan bangsa Palestina dan merebut Al-Quds,'' kata Hidayat. ''Kami juga berterima kasih telah diundang untuk ikut dalam seminar ini.'' Kiai Hasyim menambahkan, selain mendukung hak Iran untuk mengembangkan teknologi nuklir untuk perdamaian, pihaknya juga berupaya mendekatkan kelompok-kelompok Islam. Termasuk di dalamnya antara Sunni dan Syiah. Untuk itu, katanya, ia telah melayangkan undangan kepada tiga ulama Syiah untuk menjadi peserta seminar internasional yang diselenggarakan PBNU di Jakarta pada Juni nanti. Ketika disebut salah seorang ulama Syiah itu bernama Ayatullah Tadzkiri, Ahmadinejad pun mengangguk-anggukkan kepalanya sembari menyatakan ia kenal baik dengan Ayatullah Tadzkiri. ''Beliau sangat pas untuk berbicara dalam seminar itu,'' katanya. Pada awalnya, tanya jawab menggunakan penerjemah Indonesia-Parsi dari mahasiswa Indonesia di Qom yang disediakan Kedubes Indonesia. Namun, ketika giliran Ahmadinejad berbicara, ia lebih memilih penerjemah Arab-Parsi yang disediakan istana presiden. ''Saya senang mendengarkan bahasa Indonesia kalian. Tapi sebagai Muslim, akan lebih baik bila kita menggunakan penerjemah bahasa Arab, apalagi kalian pandai bahasa Arab,'' ujarnya menunjuk Kiai Hasyim dan Hidayat. Menurut Ahmadinejad, antarnegara-negara Islam dan kelompok-kelompok Islam harus dijalin hubungan dan kerja sama yang lebih erat. Namun, katanya, faktanya sekarang ini banyak negara Islam yang justru lebih senang bekerja sama dengan negara-negara Barat. ''Padahal tabiat Barat dari dulu hingga sekarang ingin menguasai dunia dan menjadikan banyak negara sebagai jajahan.'' Ahmadinejad menegaskan, demokrasi dan hak asasi manusia yang digembar-gemborkan pihak Barat tidak lain hanyalah alat atau alasan untuk menekan negara-negara Islam. ''Kita bisa lihat banyak negara diktator, tapi karena mereka kawan, Barat dan Amerika tetap saja mendukungnya. Bahkan mereka menganggapnya sudah menerapkan demokrasi.'' Dengan alasan itu, ia menegaskan, sekarang ini, melebihi dari sebelum-sebelumnya, ''Kita membutuhkan persatuan dan persaudaraan. Dunia Islam memiliki segala potensi untuk maju. Kekayaan alam dan sumber daya manusia sangat tersedia di negara-negara Islam.''.. Mungkinkah Indonesia Mempunyai Pemimpin Layaknya Seperti Ahmadinejad..???? best regard Are Sampono Sati ,SE PT. BOGOWONTO PRIMALARAS ANDALAN GROUP Tel 0282 538207 fax 0282 532818 email : [EMAIL PROTECTED] --------------------------------------------------------------------------- Dapatkan Colocation 10 Mbps Rp 1.250.000,- hanya di http://telkomhosting.com. --------------------------------------------------------------------------- --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ Anda menerima pesan ini karena berlangganan ke Grup "Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi YKPN Yogyakarta" Google Groups. Untuk memposting ke grup ini, kirimkan email ke [email protected] Untuk keluar dari grup ini, kirim email ke [EMAIL PROTECTED] Untuk pilihan lain, kunjungi grup ini di http://groups.google.com/group/stieykpn?hl=id -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
