Wah baca berita dari Pak Wing ini,
miris juga ya..... untung perjalanan rombongan STIE YKPN ke negeri "sialan" itu 
tempo hari lancar-lancar aja. Kayaknya sekali-kali perlu diboikot aja deh great 
salenya, masak yg belanja kebanyakan orang2 kite juga.
Bearrti bener juga waktu itu, Bung Karno ngajakin konfrontasi dg Malaysia. 
Ck....ckk....ckk.....ckk......


  ----- Original Message ----- 
  From: Wing Wahyu Winarno 
  To: [email protected] 
  Sent: Monday, September 03, 2007 4:38 PM
  Subject: [STIE YKPN Mailing List] Masalah di Malaysia


  Guys,

  Dapet cerita dari milis sebelah nih, semoga bermanfaat dan menambah wawasan.



  From: [EMAIL PROTECTED] ps.com [mailto: KRL- [EMAIL PROTECTED] s.com ]On 
Behalf Of alvie
  Sent: 30 Agustus 2007 13:50
  To: `rokerz`
  Subject: [Ayo!! Benahi KRL] FW: Tembak Saja Itu Indon !!!


  ----- Original Message ----- 
  Sent: Thursday, August 30, 2007 11:03 AM
  Subject: Tembak Saja Itu Indon !!!

  Nama saya Budiman Bachtiar Harsa, 37 tahun,
  WNI asal Banten, karyawan di BUMN berkantor di
  Jakarta.

  Kasus pemukulan wasit Donald Peter di Malaysia, BUKAN 
  kejadian pertama. Behubung sdr Donald adalah seorang
  "Tamu Negara" hingga kasusnya terexpose besar-besaran.
  Padahal kasus serupa sering menimpa WNI di Malaysia.
  BUKAN HANYA TKI Atau Pendatang Haram, tapi juga 
  WISATAWAN.

  Tahun 2006, bulan Juni, saya dan keluarga (istri, 2
  anak, adik ipar), pertama kalinya kami "melancong" ke
  Kuala Lumpur Malaysia. (Kami sudah pernah berwisata ke
  negara2 lain, sudah biasa dengan berbagai aturan 
  imigrasi).
  Hari pertama dan kedua tour bersama Travel agent ke 
  Genting Highland, berjalan lancar, kaluarga bahagia
  anak-anak gembira.

  Hari ketiga city tour di KL, juga berjalan normal.
  Malam harinya, kami mengunjungi KLCC yang ternyata
  sangat dekat dari Hotel Nikko, tempat kami menginap.
  Usai makan malam, berbelanja sedikit, adik ipar dan
  anak-anak saya pulang ke hotel karena kelelahan,
  menumpang shuttle service yang disediakan Nikko Hotel. 
  Saya dan istri berniat berjalan-jalan, menikmati udara
  malam seperti yg biasa kami lakukan di Orchrad
  Singapore, toh kabarnya KL cukup aman.
  Mengambil jalan memutar, pukul 22.30, di dekat HSC
  medical, lapangan dengan view cukup bagus ke arah Twin 
  Tower.

  Saat berjalan santai, tiba2 sebuah mobil Proton
  berhenti, 2 pria turun mendekati saya dan istri.
  Mereka tiba-tiba meminta identitas saya dan istri,
  saya balas bertanya apa mau mereka. Mereka bilang 
  "Polis", memperlihatkan kartu sekilas, lalu saya
  jelaskan saya Turis, menginap di Nikko hotel. Mereka
  memaksa minta passport, yang TIDAK saya bawa. (Masak
  sih di negeri tetangga, sesama melayu, speak the same 
  language, saya dan istri bisa berbahasa inggris,
  negara yg tak butuh visa, kita masih harus bawa
  passport?). Salah satu "polis" ini bicara dengan HT,
  entah apa yg mereka katakan dengan logat melayunya, 
  sementara seorang rekannya tetap memaksa saya
  mengeluarkan identitas. Perliaku mereka mulai tak
  sopan dan Istri saya mulai ketakutan. Saya buka
  dompet, keluarkan KTP. Sambil melotot, dia tanya
  :"kerja ape kau disini?" saya melongo... kan turis, 
  wisata. Ya jalan-jalan aja lah, gitu saya jawab. Pak
  polis membentak dan mendekatkan mukanya ke wajah saya:
  KAU KERJA APE? Punya Licence buat kerja?

  Wah kali dia pikir saya TKI ilegal. Saya coba tetap
  tenang, saya bilang saya bekerja di Jakarta, ke KL
  untuk wisata. Tiba-tiba salah satu dari mereka mencoba
  memegang tas istri, dan bilang: "mana kunci Hotel? 
  "... wah celakanya kunci 2 kamar kami dibawa anak dan 
  ipar saya yg pulang duluan ke hotel.

  Saya ajak mereka ke hotel yang tak jauh dari lokasi
  kami. Namun pak Polis malah makin marah, memegangi
  tangan saya, sambil bilang: Indon... dont lie to us.
  Saya kurung kalian... 

  Jelas saya menolak dan mulai marah. Saya ajak mereka
  ke hotel Nikko, dan saya bilang akan tuntut mereka
  habis2an. sambil memegangi tangan saya, tuan polis
  meludah kesamping, dan bilang: kalian semua sama
  saja...

  Saat itu sebuah mobil polisi lainnya datang, pake logo
  polisi, seorang polisi berseragam mendekat. Di dadanya
  tertulis nama: Rasheed.

  Saya merapat ke pagar taman sambil memegang istri yang
  mulai menangis. Melawan 3 polis, tak mungkin. Mereka 
  berbicara beritga, mirip berunding. Wah, apa polis
  malaysia juga sama aja, perlu mau nyari kesalahan
  orang ujung2nya merampok?

  Petugas berseragam lalu mendekati saya, meminta kami
  untuk tetap tenang. Saya bertanya, apa 2 orang preman 
  melayu itu polisi, lalu polisi berseragam itu
  mengiyakan. Rupanya karena saya mempertanyakan
  dirinya, sang preman marah dan mendekati saya,
  mencengkram leher jaket saya, dan siap memukul, namun
  dicegah polisi berseragam. 

  Polisi berseragam mengajak saya kembali ke Hotel untuk
  membuktikan identitas diri. saya langsung setuju,
  namun keberatan bila harus menumpang mobil polisi.
  Saya minta untuk tetap berjalan kaki menuju Nikko 
  Hotel, dan mereka boleh mengiringi tapi tak boleh
  menyentuh kami. Akhirnya kami bersepakat, namun polisi
  preman yang sempat hampir memukul saya sempat berkata:
  if those indon run, just shoot them... katanya sambil 
  menunjuk istri saya. Saya cuma bisa istigfar saat itu,
  ini rupanya nasib orang Indonesia di negeri tetangga
  yang sering kita banggakan sebagai "sesama melayu".
  Diantar polisi berseragam saya tiba di Nikko Hotel. 

  Saya minta resepsionis mencocokan identitas kami, dan
  saya menelpon adik ipar untuk membawakan kunci. Pihak
  Nikko melarang adik saya, dan mengatakan kepada sang
  Polis, bahwa saya adalah tamu hotel mereka, WNI yang 
  menyewa suites family, datang ke Malaysia dengan
  Business class pada Flight Malayasia Airlines.
  Pak Polis preman mendadak ramah, mencoba menjelaskan
  bahwa di Malaysia mereka harus selalu waspada.
  Saya tak mau bicara apapun dan mengatakan bahwa saya 
  sangat tersinggung, dan akan mengadukan kasus ini, dan
  "membatalkan rencana bisnis dengan sejumlah rekan di
  malaysia" (padahal saya tak punya rekan bisnis di
  negeri sial ini).

  Polisi berseragam berusaha tersenyum semanis mungkin, 
  berusaha keras untuk akrab dan ramah, petugas Nikko
  Hotel kelimpungan dan berusaha membuat kami tersenyum.
  Setelah istri saya mulai tenang, saya mengambil HP
  P9901 saya dan merekam wajah kedua polisi ini.
  Keduanya berusaha menutupi wajah, meminta saya untuk
  tidak merekam wajah mereka.
  Istri saya minta kita mengakhiri konflik ini, dan
  sayapun lelah. Kami tinggalkan melayu-melayu keparat
  ini, tanpa berjabat tangan. 

  Sepanjang malam saya sangat gusar, dan esoknya kami
  membatalkan tur ke Johor baru, mengontak travel agent
  agar mencari seat ke Singapore. Siang usai makan
  siang, saya tinggalkan Malaysia dengan perasaan
  dongkol, dan melanjutkan liburan di Singapore.

  Mungkin saya sial? ya. Mungkin saya hanya 1 dari 1000
  WNI yang apes di Malaysia? bisa. Tapi saya catat bahwa
  bila saya pernah dihina, diancam, bahkan hampir
  dipukuli, bukan tak mungkin masih ada orang lain 
  mengalami hal yg sama.

  Jadi, kalau hendak berlibur di Malaysia, sebaiknya
  pikir masak2. Jangankan turis, Rombongan atlet saja
  bisa dihajar polisi Malaysia.
  Bayangkan bila perlakuan seperti ini dilakukan 
  dihadapan anak kita. Tentu anak akan trauma, sekaligus
  sedih. 

  Hati-hati pada PROMOSI WISATA MALAYSIA. Di Malaysia,
  WNI diperlakukan seperti Kriminal.

  

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
Anda menerima pesan ini karena berlangganan ke Grup "Sekolah Tinggi Ilmu 
Ekonomi YKPN Yogyakarta" Google Groups.
 Untuk memposting ke grup ini, kirimkan email ke [email protected]
 Untuk keluar dari grup ini, kirim email ke [EMAIL PROTECTED]
 Untuk pilihan lain, kunjungi grup ini di 
http://groups.google.com/group/stieykpn?hl=id
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke